Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.61



_Aku pergi bukan karena cintaku juga pergi, tapi karna kita harus berhenti saling menyakiti_


*


*


*


Walaupun awalnya Arsya masih kelihatan takut tapi kelamaan karena Erik menenangkan dengan ucapan yang menenangkannya, akhirnya Arsya memberanikan diri untuk terjun ke kolam bola itu. Saat ia tenggelam diantara tumpukan bola yang hanya menyisakan kepalanya saja. Dengan sigap Erik mengangkatnya lalu menerbangkannya keudara. Membuat Arsya melupakan traumanya dan tertawa dengan bahagia. Melihatnya Tiara menghela nafas lega.


Karena sudah tak lagi merasa tak nyaman Arsya pun bermain dengan gembiranya, menaiki perosotan dan akan ditangkap Erik yang menunggu sabar dibawahnya. Keduanya bermain tanpa kenal llelah sedang Tiara hany melihat dari balik jaring penghalang. Sesekali ia melambai pada keduanya.


"Apakah akan sebahagia ini nanti jika kami memiliki seorang putra?" pikir Tiara dalam hatinya.


"Udah ngayalin anak aja, nikah dulu woy". Tiara terkejut saat Anita menyentak dalam dirinya.


"Berandai andai boleh kali" belanya.


"Perandaian mu itu kejauhan pea" sindir Anita. Tiara mendengus karenanya.


Keduanya asik beradu sindiran didalam hati, sedangkan Erik dan Arsya semakin asyik bermain ratusan bola bersama anak lainnya. Tapi tiba tiba sebuah gerakan yang dilakukan keduanya membuat Tiara melebarkan mata.


"Woy keong, cepetan dikit dong kita mau jogging bukan jalan santai!" teriak Erik sambil berjalan mundur.


Tiara memutar bola mata jengah, melambaikan tangan mengode agar Erik berjalan lebih dulu. Tapi Erik malah berlari maju menghampirinya yang reflek mundur saat pemuda itu sangat dekat dengannya. "Atau mau aku gendong sambil lari?" godanya.


Tiara yang kesal dengan godaan Erik menepis tubuh pria itu lalu bersiap melangkah maju untuk berlari, tapi saat melihat tali sepatunya yang terlepas ia jadi berjongkok memperbaiki. Ia tak sadar bila dibelakangnya Erik tengah tersenyum iblis kemudian mengambil ancang ancang.


Tiara terkejut saat sadar Erik sudah melompati tubuhnya seenaknya, untung saja ia belum berdiri jika tidak habis sudah. "Dasar kodok, sialan!!!, Kemari kau biar kusobek dagingmu itu!!!" erangnya kesal.


Dan pada akhirnya bukannya jogging mereka malah bermain kejar kejaran. "Kejar lagi lah segitu doang capek, dasar keong!!." olok Erik saat Tiara mulai kehabisan nafas.


Tiara terpaku ingatan apa itu tadi sepertinya kedua abg itu adalah dirinya dan Erik. Kenapa melihat Arsya yang melompati punggung Erik membuat ingatan tak dikenalnya itu terputar jelas dipikirannya. Dalam ingatan itu Erik melakukan hal yang sama pada dirinya, karena itu ia memaki.


"Kodok?, Keong?" Beonya.


Lamunan panjang Tiara sirna seketika saat pekikan seorang wanita dengan isakannya menggelegar tak jauh darinya.


"Arsya!!!!".


"Mommy" balas Arsya yang ada dipelukan Erik setelah puas bermain trampolin.


Melihat Arsya mengenali wanita yang sudah menatap mereka dengan wajah sembab juga penampilan kacaunya, Erik pun keluar dari wahana bola untuk menghampiri wanita itu.


Dan langsung saja begitu keluar wanita itu mengambil Arsya dari pelukan Erik untuk didekapnya seerat mungkin, diciumnya bertubi tubi wajah putranya itu. Sedang Erik tersenyum walau dalam hati ada rasa sedikit tak rela, tapi ia punya hak apa untuk melarang momen haru ini. Biarlah jika dia punya putra sendiri dia akan membalas dendam dengan terus menciuminya kelak. Kelak, tapi kapan.


Saat momen haru biru antara anak dan ibu itu, Tiara mendekat ketika sadar jika Arsya sudah menemukan orang tuanya bersamaan dengan pria bertubuh tinggi besar berwajah tampan, namun tak setampan Erik dimata Tiara. Pria itu langsung berdiri disamoing Mommy Arsya dan mengecup kepala putranya sambil menghela napas lega.


"Kamu kemana saja Nak, Mommy cari kamu kemana mana sayang" ucap Mommy Arsya.


"Mommy tadi kemana, Arsya juga cari Mommy tapi nggak ketemu, tapi Arsya ketemu sama Uncle dan Aunty baik" jawab Arsya menatap Tiara dan Erik dengan senyuman.


Mommy Arsya dan sang Daddy pun menatap Erik dan Tiara dengan senyuman. "Tadi Arsya main permainan banyak banget, Arsya juga dibeliin eskim sama uncle baik, terus Arsya kesini, Arsya udah nggak takut lagi sama bola Mommy, Arsya hebat kan" oceh Arsya menceritakan pengalamannya ketika terpisah dari sang Mommy dan Daddy. Membuat semua orang tertawa ikut merasakan kebahagiaannya.


"Terima kasih sudah menjaga putra kami" ucap pria bersuara bariton itu. Mengulurkan tangan di depan Erik yang menyambutnya dengan suka cita.


"Menjaga anak semenggemaskan Arsya kami tak menyesal" ucap Erik.


"Kami lega Arsya menemukan kalian suami istri yang baik hati" Mommy Arsya yang berujar, Tiara dan Erik saling pandang saling menyembunyikan senyuman.


"Kalau begitu kami pamit pergi" ucap Daddy Arsya yang wajahnya dingin dan datar seperti karakter Presdir terkaya disebuah komik.


"Terima kasih sekali lagi, Arsya ucapin terima kasih sama Uncle dan Auntynya" ucao Mommy Arsya pada Tiara dan Erik lalu beralih pada putranya yang sudah dalam gendongan sang Daddy.


"Uncle, Aunty thank you" ucap Arsya menggemaskan dengan matanya yang mengerjap erjap.


"Sama sama pria kecil" jawab Tiara.


Setelah saling bertukar ucapan salam perpisahan, Erik dan Tiara hanya bisa melihat tangan Arsya yang melambai dari balik tubuh sang Daddy.


"Hah, menggemaskan sekali anak itu" ucap Tiara.


Erik tersenyum jahil sambil merangkul bahu Tiara ia berkata. "Mau kaya gitu?" tanyanya.


Tiara mendelik tajam. "Kita bikin satu, yang mirip kamu" tambah Erik yang langsung mendapatkan hadiah bogem mentah diperutnya.


"Mimpi!!!!, belum juga sah udah mau bikin bikin aja, gila" sentak Tiara.


"Makanya besok kita nikah ya, ssshhhh" ucap Erik sambil meringis sakit.


Tiara berdecak. "Dasar Gila!!". Ia berjalan kedepan dengan bibir bersungut tanoa menghiraukan pria dibelakang yang terus melamarnya secara tak sah itu.


*****


Denting jam dinding seolah menemani lamunan Tiara seorang diri didalam kamarnya. Sejak kilasan ingatan ditaman bermain itu membuat Tiara semakin penasaran saja dengan masa lalunya.


Tiara mencoba menyambungkan semua ingatan ingatan yang selama ini sering muncul seperti pazel yang harus disusun menjadi satu. Tapi seolah belum lengkap atau hilang beberapa potongannya membuat Tiara tak bisa menebak atau menyimpulkan keadaannya.


Tak ingin pusing sendiri Tiara sudah menanyakan pada Aditya, Mala bahkan ke tiga pria sahabat Erik. Tapi jawaban mereka sama seperti sudah dirapatkan sebelumnya.


"Aku tak bisa menceritakannya, lebih baik kau cari tau sendiri karena kuncinya semua itu ada pada dirimu sendiri".


Apalagi bertanya pada pemeran utama prianya yang juga menjawab dengan ucapan yang sama. Semakin membuat Tiara pusing kepala.


"Nggak ada, aku lagi ngobrol sama Anita" jawab Tiara berdalih karena jika ia membahas tentang masa lalu hanya akan semakin membuatnya berpikir keras dengan jawaban misteri yang diberikan Erik.


Erik hanya beroh ria mendengar jawaban Tiara. "Mau ikut aku sebentar?" ajaknya.


Tiara mengernyit. "Kemana?" tanyanya.


"Ikut saja".


Tiara terus saja mengikuti langkah Erik yang entah kemana arah tujuannya ini. Sampai tiba disalah satu ruangan yang selama Tiara tinggal di penthouse Erik ini belum pernah memasukinya.


Pintu lebar berwarna abu abu itu terbuka saat Erik menggesernya. Tiara yang berada dibepakangnya hanya mengintip kedalamnya sebelum sang empunya menyuruhnya untuk masuk.


"Apa kau akan menyuruhku membersihkan ruangan ini?" tanya Tiara tiba tiba membuat Erik tercengang lalu tergelak.


"Kamu itu calon istriku bukan Art, untuk apa aku menyuruhmu melakukan pekerjaan Art" sanggah Erik.


"Yah siapa tau" balas Tiara.


"Ayo masuk" ajak Erik yang lebih dulu masuk diikuti Tiara, pria itu lalu menekan tombol lampu. Hingga memperlihatkan isi seluruh ruangan tersebut.


Tiara terperangah dibuatnya saat melihat isi ruangan tersebut. Piano, gitar, drum, biola dan satu set alat rekaman tersusun rapi disana dengan latar dinding berwarna biru malam. Dirinya tak menyangka jika dipenthouse Erik ada ruangan seperti ini, tapi wajar sih bukankah pria ini seorang penyanyi.


"Ini ruangan favoritku, disini aku bisa melampiaskan perasaanku tanpa gangguan apapun" terang Erik.


Tara menganggukkan kepala dengan mulut berbentuk o nya. "Kamu bisa memainkan semua alat musik ini?" tanyanya sungguh penasaran.


"Menurutmu untuk apa aku menaruh mereka semua disini?" Erik malah balik bertanya dengan tampang menjengkelkannya.


Tiara memutar bola matanya malas. "Siapa tau kau membelinya hanya untuk memamerkannya pada para wanita yang kamu bawa kemari".


Setelah mengatakan kalimat itu Tiara terkejut saat sadar Erik sudah sangat dekat dengannya bahkan sudah membelitkan tangan dipinggangnya.


"Apa apaan kau?!" tanya Tiara tercekat.


"Selain dirimu tak pernah sekalipun aku membawa wanita lain kemari bahkan melirik pun aku malas, camkan" ucap Erik tegas lalu mendorong pelan dahi Tiara dengan telunjuknya. Kemudian melepaskan tubuh mungil itu yang pemiliknya sudah bersungut sebal.


Erik berjalan menuju salah satu alat musiknya yaitu piano, ia duduk dikursi kecilnya lalu menekan satu papan nada. Ia menoleh, "Kemari" panggilnya pada Tiara.


Tiara pun mendekat namun hanya berdiri disamping piano. Erik mendengus, "Duduk disini" ujarnya menepuk kursi yang ia duduki.


Karena dilihat Tiara kursi itu memang cukup untuk diduduki dua orang, ia pun menurutinya. Tapi betapa terkejutnya dirinya saat sudah ingin duduk Erik malah menarik tangannya hingga ia terduduk dipangkuan pria itu.


"Kau!!!" pekik Tiara geram.


"Diamlah, dipangkuanku bukannya lebih nyaman".


Tiara berusaha turun dari pangkuan Erik tapi mustahil, walaupun ia sudah berontak tapi Erik seolah bertenaga besar. Pria itu mengurungnya hanya dengan kedua tangannya, ataukah tubuh Tiara yang begitu jujur. Merasa nyaman dipangkuan pria tersebut, penghianat!.


Tiara mendesah pasrah saat tubuhnya mulai tak bertenaga sedang Erik dengan santainya memainkan sebuah nada menekan papan papan piano didepannya.


Namun lama kelamaan didengar Tiara seperti mengenal nada ini. "Nada ini" ucapnya pelan.


Erik tersenyum. "Here's your perfect".


"Jamie miller" sambung Tiara antusias karena memang dia sangat menyukai lagu itu.


"Hapal sekali".


"Tentu saja, ini lagu kesukaanku, penyanyi juga tampan" jawab Tiara semangat.


Tapi Erik malah berwajah muram, salah lagu pikirnya. Harusnya ia memainkan lagu miliknya sendiri bukan milik orang lain, tapi karena pernah melihat ada lagu ini didaftar musik favorit Tiara, Erik pun mencoba memainkannya.


"Cih, masih tampan aku" sanggah Erik.


Tiara tertawa mendengar pengakuan Erik itu. "Kau?, Tampan?" beonya kemudian kembali tertawa.


"Memang benar dan lagi pula dia hanya menafsirkan perasaannya pada sebuah lagu, tapi aku langsung menafsirkannya padamu, You are perfect My Keong".


Mendengar ucapan panjang lebar Erik itu seketika membuat Tiara mematung, terharu?. Bukan tapi karena sebutan Erik untuknya.


Dan anehnya tanpa sadar dengan gerakan perlahan Tiara mengecup bibir sexy Erik, walau sesaat tapi amat terasa. Erik yang mendapatkan serangan mendadak saja terkejut bukan main, ini pertama kalinya Tiara berinisiatif lebih dulu.


Terlebih lagi Tiara dia amat terkejut dengan gerakan tububnya sendiri, dia memaki dalam hati yang didengar Anita lalu menertawakannya.


"Ma....., Maaf" ucapnya gagu.


Tiara mencoba ingin bangkit dari pangkuan Erik untuk melarikan diri karena wajahnya sudah semerah tomat busuk. Namun Erik menahan dengan memeluk pinggangnya.


"Rik".


Sial!!. Tiara terjebak dengan netra abu gelap menghanyutkan ini yang tak sengaja dilihatnya saat ingin memohon untuk dilepaskan. Akhirnya pandangan mereka pun beradu netra hitam dengan abu mencoba saling mencari celah diantara garis garis penghalang.


Saat semua garis penghalang sudah mereka tembus, perlahan tapi pasti Erik mulai mengikis jarang diantara keduanya. Semakin lama semain dekat sampai nafas masing masing dapat mereka rasakan.


Dan, Cup!!!!!.


Alat musik dalam ruangan itu menjadi saksi atas rasa cinta diantara keduanya. Sesapan demi sesapan di lancarkan keduanya sampai tanpa terasa nafas mulai habis terlepas lalu kembali memagut mengeluarkan perasaan yang selama ini terpendam.


Seandainya waktu bisa terhenti aku ingin terus seperti ini bersamamu, tak ingin kulepas pergi apalagi kembali meninggalkanku sendiri. Karena aku terlalu mencintaimu.


Akankah masa ini akan terus terulang, masa indah ini selalu membuatku takut untuk berada disampingmu.