Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.77



*Aku pamit sebentar, mau mengistirahatkan perasaan. Jangan khawatir, aku tidak hilang. Tapi tidak menutup kemungkinan*


*


*


*


*


*


Seminggu akhirnya berlalu........


"Bagaimana keadaannya?" tanya Roy pada Sisil saat gadis itu membukakan pintu untuk sang kakak sepupu masuk. Sisil mendesah lalu menggelengkan kepala.


Keduanya pun menaiki tangga berniat melihat seseorang dikamarnya sambil terus bertanya jawab tentang keseharian orang itu.


Kret.


Sisil perlahan membuka pintu berwarna hitam itu didalamnya nampak gelap, hanya ada cahaya dari pintu lain yang terbuka. Gadis itu menyalakan lampu kamar, lalu mengedar pandang diikuti Roy.


"Dia tak ada disini?" tanya pria itu heran melihat tak ada sipenghuni kamar.


Tapi Sisil menjawab. "Ada" jawab gadis itu sendu berjalan kearah pintu lainnya diikuti sang sepupu.


Roy berdecak melihat si pemilik kamar ada dibalkonnya, duduk dikursi santai menghadapkan pandangan keatas. Orang itu terlihat sangat berantakan dengan rambut acak acakkan dan wajah yang dipenuhi bulu halus tubuhnya pun mengurus seperti tak terurus.


"Aku yakin jika para fans melihat keadaanmu begini, bisa dipastikan setengah dari mereka berubah jadi haters".


"Kak Erik hampir setiap hari begini, kadang sampai nggak makan sama sekali, hanya melamun saja disini tanpa bicara atau apapun" terang Sisil.


"Yah, seenggaknya lebih baik dia begini dari pada dia mabuk mabukkan atau menghancurkan isi kamarnya lagi".


"Tapi aku khawatir kalau kakak terus begini, nanti....".


"Tenang saja, Erik bukan orang yang lemah, dia hanya perlu waktu untuk menata perasaannya, beberapa hari lagi dia akan membaik" ucap Roy menenangkan karena memang ini bukan pertama kalinya ia melihat sang adik sepupu seperti itu.


"Hanya perhatikan makanan dan periksa keadaannya setiap saat".


"Pasti kak".


*****


"Apa masih ada pasien lagi sus?" tanya seorang pria bersnely putih yang setia duduk dikursinya.


"Tadi yang terakhir, Dok" jawab sang suster.


"Ok, terima kasih untuk hari ini".


Hendri menghela napas panjang setelah sang suster keluar dari ruangannya, pria yang masih tampan dan berkharisma diumur hampir setengah abadnya itu meregangkan otot ototnya yang lelah.


Kembali menjalani rutinitas dirumah sakit yang menjadi tempat kerjanya belasan tahun silam itu, membuat pasien pasien setianya kembali mengantri untuk diperiksa. Bahkan dia tak menerima tugas berat seperti operasi hanya demi para pasiennya. Itupun atas perintah direktur rumah sakit.


"Kenapa sus ada yang tertinggal atau masih ada pasien?".


Hendri tercengang saat membuka mata, sangkanya sang suster yang kembali karena terdengar bunyi pintu terbuka tapi ternyata seseorang yang lama tak pernah ditemuinya.


"Apa kabar Dr.Hendri?"


Hendri berdiri dari kursinya tak percaya. "Wijaya".


Saat putra generasi ketiga grup Wijaya itu tersenyum, Hendri pun mendekat keduanya berpelukan hangat.


Setelahnya mereka berbicang tentang kehidupan masing masing setelah Hendri pindah kedesa kecil, lalu entah sejauh mana sekarang keduanya tengah membicarakan hubungan anak mereka.


"Aku dengar kau sudah menjodohkan Tiara dengan putra pertama Prakasa". Entah tengah bertanya atau mengeluarkan pernyataan Wijaya saat ini.


Hendri meletakkan cangkir kopi yang baru disesap isinya, beberapa menit sebelumnya memang dia sudah memesan minuman itu dari suster jaga.


"Iya benar" jawabnya santai.


"Kau yakin dengan perjodohan itu?".


"Kenapa tidak?".


"Kau bukannya tak tau bukan, Erik dan Tiara takkan bisa bersatu walau mereka punya perasaan yang sama sekalipun, banyak hal yang membuat mereka tak bisa bersama" lanjut Hendri.


"Apa kau sedang membahas kejadian belasan tahun lalu?". Wijaya dan Hendri saling bertatapan.


"Aku masih mengingat bagaimana ekpresi Tiara saat dia melihat Erina yang sudah tak bernyawa diranjang rumah sakit, Hen" Wijaya bicara. "Aku yakin bukan dia pelakunya" tambahnya lagi.


"Aku pun juga sudah mengatakan jika Tiara menganggap dialah pembunuh putrimu" jawab Hendri. Wijaya mendesah berat.


"Aku ingin putriku bahagia Wijaya, sudah terlalu lama dia menderita".


"Dengan membuatnya menikahi pria yang tidak dia cintai?".


"Cinta bisa datang kapanpun".


Wijaya mendengus sebal. "Bulsyit,". Pria itu berdiri. "Aku ingin kita tak ikut campur dengan masalah mereka, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri dengan cara mereka sendiri, karena aku yakin Tiara dan Erik akan kembali bersatu, mereka saling mencintai kau tau itu"


Hendri terdiam entah apa yang tengah dipikirkannya dengan ucapan Wijaya. Sampai sang sahabat itu melangkah pergi dan bersiap membuka pintu.


"Tolong kosongkan jadwalmu besok, ada pasien yang harus kamu lihat dirumahku, aku tunggu kau disana" ucap Wijaya kemudian pergi meninggalkan Hendri seorang diri berfikir apakah dia akan memenuhi panggilan sang sahabat itu.


*****


Ting, tong, ting, tong.


Kret.


"Ku kira kau takkan datang" sarkas Wijaya tapi ekpresinya senang juga.


Hendri melengos lalu masuk tanpa dipersilahkan lebih dulu oleh sang Tuan rumah. "Nada bicaramu tidak sesuai dengan ekpresi wajahmu" sindirnya.


"Cih".


Hendri berbalik setelah mengedar pandang sebentar melihat besarnya rumah Wijaya itu. "Kenapa kau yang membukakan pintu, aku jafi curiga ini rumahmu atau rumah majikanmu".


"Sialan".


Hendri tertawa senang bisa menggoda sahabatnya. Keduanya lalu berjalan kearah ruang keluarga, setelah memanggil salah satu Artnya untuk membuat minuman mereka mengobrol.


"Kemana semua orang?" tanya Hendri sadar jika rumah ini nampak sepi.


Wajah Wijaya berubah murung. "Mereka semua diatas" jawabnya pelan.


"Tunggu dulu" Hendri berwajah curiga. "Kau masih bersama dengan Sintia kan atau sudah ada yang ketiga?".


Hendri tertawa saat lemparan bantalan sofa mendarat didadanya. "Ada apa denganmu hari ini ceria sekali, padahal kemarin kau serius sekali" tanya Wijaya.


"Kita berteman sudah lama, kalau kau sudah begini pasti ada masalah kan" lanjutnya.


Seketika itu juga wajah Hendri berubah murung, pria itu menghela napas panjangnya. "Ini sudah hari ke delapan putriku tertidur".


"Maksudmu" Wijaya terdengar terkejut sekali. Karena definisi tidur menurutnya adalah mengistirahatkan diri dari segala aktivitas, ya seperti yang kita tahu. Tidur dimalam hari selama delapan jam. Bukan sampai delapan hari begitu.


"Setelah Erik hadir diacara pertunangan putriku, dia pingsan dan sampai sekarang belum terbangun juga".


"Ta..., Tapi bagaimana bisa".


"Aku sudah pernah menceritakannya padamu kalau putriku itu istimewa, dia syco kau juga sudah tau bukan, karena itu kita meragukan Tiara pelaku pembunuhan itu atau bukan".


Wijaya masih nampak serius mendengarkan tanpa menyela. "Dan tidur itu adalah bentuk pertahanan dari alter ego yang dimiliki Tiara, yang akan reflek bekerja jika dia tengah terluka dan tak bisa menanggunggnya lagi".


Hendri sesaat terdiam. "Sama seperti ketika Erik meninggalkannya sepuluh tahun lalu, sampai sampai bayangan tentangnya pun otomatis terhapus dari ingatannya".


Wijaya mendesah tak percaya gadis sekecil Tiara bisa mengalami itu semua. "Ternyata bukan putraku saja yang menderita" ucapnya.


#####


Mohon maaf menjelang beberapa episode akhir, FYRL bakal hiatus (tidak update) selama beberapa hariπŸ™πŸ™πŸ™. Dikarenakan kondisi author, bagi penggemar dan pembaca harap maklumi yah dan sabar menunggu. Trims.


Enjoy Reading.


Auliya Rizky