Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.81



*Aku hanya berusaha terlihat utuh, walau nyatanya hancur separuh*.


*


*


*


*


*


"Aku tau" jawab Erik saat Nurmi berucap bahwa wanita yang tadi ada didepannya itu Anita, bukan Tiara.


"Kamu tau?" beo Nurmi.


"Iya" jawab Erik santai sembari melirik pada Tiara yang tadi pingsan dan sekarang tengah terbaring dikasurnya. Pria itu duduk tepat disebelahnya.


"Aku sudah beberapa kali bertemu dengan Anita, karena itu aku bisa membedakan keduanya" terang Erik lalu kembali menatap lawan bicaranya. "Karena itu aku juga tau yang membukakan pintu tadi Anita, tapi yang pingsan adalah Tiara".


Nurmi tercengang tak percaya bagaimana Tiara tiba tiba hadir begitu saja. "Tiara kembali menguasai tubuhnya saat aku menyapanya, aku kenal sekali sorot mata itu" tambah Erik.


Cerita Erik memang benar karena saat wanita itu menatapnya bahkan mendengar suaranya tiba tiba hanya selang beberapa detik, sorot mata itu berubah. Yang awalnya ceria berubah sendu berkaca, bahkan raut wajahnya jauh berbeda.


Nurmi melirik pada sang putri. "Putriku" ibanya.


Selang beberapa jam. Nurmi dan sang suami melihat dari ambang pintu dua insan dalam kamar itu. "Dia dari tadi disitu Pah, mungkin sudah tiga jam" Nurmi berucap.


Setelah suaminya pulang beberapa menit yang lalu, Mama Tiara itu langsung menarik Hendri dengan bercerita sedikit jika sang putri pingsan lagi.


"Sudah Mama buatkan minum belum?" Hendri malah bertanya.


"Belum" jawab polos sang istri.


"Ya, kasih gih masa ada tamu nggak dibuatin minum". Hendri berbalik pergi tanpa berniat masuk mengintrogasi.


Nurmi yang bingung dengan sikap suaminya pun ikut pergi. "Papa kok nggak marah sih Tiara dibuat pingsan lagi sama Erik, putri kita kasihan Pah" protes wanita itu saat sang suami menggantung tas kerjanya.


"Tiara itu baik baik aja, Ma".


"Baik baik gimana, dia baru aja bangun itupun karena Anita dan sekarang harus pingsan lagi, Papa nggak kasian sama anak sendiri" omel Nurmi merajuk dan duduk disofa sendiri.


Hendri menghela napas panjangnya, dia pun ikut duduk disofa menarik tangan sang istri untuk digenggamnya.


"Dengar kata Papa, Tiara putri kita itu baik baik saja, percayalah sebentar lagi atau mungkin beberapa menit lagi dia pasti sadar".


"Tapi....".


"Percaya sama Papa".


Nurmi menghela napas beratnya. "Aditya juga kenapa beberapa hari ini dia nggak pernah muncul, malah Erik yang muncul".


Dengan Erik memang Nurmi sedikit sensitif sebab pria itulah sang putri jadi seperti ini. Bahkan dengan mendatangkan sahabatnya dari luar negeri untuk mengobatinya pun tak membuat Nurmi mengurangkan rasa kesalnya. Dan Aditya, dia mulai jatuh sayang. Berniat menjadikannya menantu.


"Terkadang ada sebuah alasan kenapa satu keadaan itu berubah, entah karena sebuah pilihan atau kenyataan". ucap Hendri lalu berdiri meninggalkan Nurmi yang tak mengerti arti ucapannya.


Sedangkan dikamar Tiara, Erik masih terus duduk disamping ranjang wanita itu, menatap wajahnya lama. Bahkan mungkin tanpa bisa mengedipkan mata. Sesekali tangannya menyentuh helai poni dan membelai pipi tirus Tiara.


"Kenapa tubuhmu jadi kecil sekali?" gumamnya bertanya melihat tubuh Tiara yang semakin kecil saja.


"Apa karena kau terlalu memikirkan masalah kita ini?" tambahnya lagi.


Erik menggenggam tangan Tiara, tangan yang serasa mengecil digenggamannya itu. "Maaf, maafkan aku yang sudah membuatmu seperti ini".


"Aku berjanji akan terus disampingmu, walau kenyataan buruk itu terjadi, aku tetap memcintaimu Tiara".


Erik reflek mendongak menatap wajah Tiara saat tangan wanita itu terlepas dari genggamannya. Yang kini mata Tiara sudah terbuka bertemu dengan mata abu milik Erik Wijaya.


"Kau sadar?" Erik bertanya senang mengelus kepala Tiara sayang.


Namun wanita itu menepis dengan wajah sinis. "Ngapain kamu disini, pergi!!" usirnya.


Setelah mengusir Tiara pun bergerak membelakangi Erik.


"Nggak ada yang perlu diperbaiki, Rik".


"Ada, itu hubungan kita, aku berjanji akan menerimamu apapun yang sudah terjadi, kalau mungkin kita cari sama sama bukti bahwa kau bukan pelakunya".


Erik mengernyit karena bahu Tiara bergerak, wanita itu tertawa sinis lalu duduk dan berbalik menatapnya.


"Untuk apa lagi mencari bukti, aku adalah pelakunya, kenapa kau harus mengelak sekuat itu, tidak kita memang tak ditakdirkan bersama Rik, lagi pula sekarang aku sudah bertunangan dengan Aditya, sebentar lagi kami menikah, dan kuharap kau bisa mencari wanita yang cocok denganmu".


Erik menggeleng cepat. "Tidak, aku takkan mencari wanita lain, hanya kamu yang ku mau, hanya kamu Tiara".


Pria itu menarik tangan Tiara. "Batalkan pernikahan kalian, aku yang akan menikahimu Tiara, aku".


Tiara menepis kasar tangan Erik. "Kau gila?!!".


"Kau mengabaikan perasaan dendam adikmu dan menikahiku?".


"Terserah, itu urusanku dengan Erina, aku sangat mencintaimu Tiara tolong lupakan masalalu dan kembalilah padaku" mohon Erik.


"Tidak" jawab Tiara cepat dengan sempoyongan berusaha bangun berdiri bahkan dibantu oleh Erik tapi Tiara kembaki menepisnya. Wanita itu berjalan kearah pintu kamarnya yang terbuka.


"Kau sendiri takkan bisa melupakan masa lalu Erik Wijaya, dimatamu itu masih tersimpan keraguan padaku".


"Sekarang pergi" usir Tiara lagi menunjuk keluar kamarnya.


Erik berusaha menolaknya tapi wanita itu memaksa bahkan membentaknya.


"Kubilang pergi, keluar dari kamarku!!!!!" teriaknya tak terelakkan lagi. Matanya sampai berkaca kaca kali ini.


"Oke, baiklah jika itu maumu" jawab Erik pasrah.


Dengan pelan pria itu melangkahkan kaki dengan Tiara yang tak ingin menatap wajahnya, wanita itu memalingkan muka. Namun sampai didepan pintu tepat disamping Tiara, Erik dengan gerakan cepat menarik wanita itu kedalam pelukannya mencuri kecupan bibir manisnya.


Jangan kira, Tiara menolak setengah mati bahkan sampai dada Erik dia pukuli. Tapi wanita itu tetap saja tak terlepas dari pelukan sang lucifer.


Wanita itu baru terdiam tertegun saat setetes cairan mengenai pipinya, Erik menangis.


"Maaf" ucap pria itu saat melepaskan dirinya yang dia sendiri tak rela sebenarnya.


Erik menyapu kasar wajahnya kemudian tersenyum seperti sebelumnya. "Sampai jumpa, aku pergi ya" ucapnya dan kali ini pria itu benar benar pergi menghilang ditelan tembok pemisah.


Dan Tiara sudah berlutut dilantai terisak amat perih. Nyatanya baginya perpisahan sepuluh tahun lalu tak lebih menyakitkan dari perpisahannya saat ini. Sungguh hatinya hancur bukan berkeping keping lagi tapi sudah bagai partikel debu.


*****


"Tiara, makan dulu nak yah sudah dua hari kamu belum makan" bujuk Nurmi sang Mama pada putrinya Tiara.


Ini sudah kesekian kalinya wanita paruh baya itu menyuruh sang putri makan, tapi tak kunjung dikabulkan. Tiara masih saja terbaring dengan tatapan kosong kelangit langit kamarnya.


"Tiara belum lapar, Ma" selalu jawaban itu sebagai alasannya.


Nurmi menghela napas tetap mencoba sabar menghadapi putrinya itu. "Tapi kamu sudah dua hari belum makan sedikitpun". Tiara tak menjawab asik dengan lamunannya sendiri.


Putus asa Nurmi mengambil ponselnya menghubungi seseorang yang sudah berhari hari tak mengunjui rumahnya ini. Berniat meminta tolong sekalian bertanya.


Tapi, tuuttttt, tuutttttt, tutttt.


"Kenapa anak ini jadi menghilang begini?!". Lama kelamaan Nurmi jadi kesal sendiri, pria yang dianggapnya akan membahagiakan sang putri mendadak melarikan diri. Tanpa kabar bahkan keluarganya pun tak tau dimana pria itu.


"Aditya?".


Nurmi mendongak ketika sang putri berkata. "Dia nggak bakal datang, Ma bahkan mungkin akan membatalkan pernikahan kami" lanjutnya.


Ya, perihal isi hati pria itu yang ditebak tepat oleh Anita dia sudah tahu. Sang sisi lain dirinya itu sudah menceritakan sedetail mungkin. Hal itulah juga yang membuat Tiara banyak berpikir nyaris depresi. Setidaknya itulah diagnosa dari sang Papa.


"Tapi kenapa, terakhir kali bukankah kalian baik baik saja?" tanya sang Mama.


"Ada hal yang tak perlu dijelaskan untuk mengambil satu keputusan, kalau memang dia mengambil keputusan itu Tiara terima dari pada kami sakit hati setelahnya". Entah mengapa Tiara lebih bisa merelakan sang Tunangan membatalkan pernikahan dari pada Erik yang ingin kembali padanya.


"Tidak aku tidak sepengecut itu, aku akan memajukan pernikahan kita, lusa kita menikah".


Nurmi dan Tiara menoleh seketika mendengar suara berat seorang pria yang terang saja membuat keduanya tercengang tak percaya.