Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.71



* Sekalipun kenyataan itu berbeda, tapi jika keyakinanmu tetap sama, aku bisa apa *.


*


*


*


*


*


"Tidak ada alasan" jawab Tiara santai tapi tak sesantai detak jantungnya yang bergemuruh sama dengan langit saat ini.


Aditya tertawa mendengus mendengarnya masih tak habis pikir dengan jawaban Tiara. "Aku salah menilaimu Ra..., Selama ini kukira kau malaikat untukku tapi ternyata kau iblis berwajah bidadari" ucapnya dingin.


Dan kali ini Tiara yang tercengang tapi menerima karena sudah dibayangkannya bagaimana sikap Erik saat tau kenyataannya walau tak semuanya. Dia sudah siap menghadapinya.


Wanita itu tersenyum smirk. "Bukannya kau sudah tau aku seorang syco, kau saja yang terlalu buta akan cintamu dan sepertinya sekarang kau sudah sadar" balasnya.


Erik menghapus kasar bekas air matanya. "Kau benar, aku yang buta mencintai pembunuh adikku sendiri".


Keduanya terdiam setelahnya mengatur nafas masing masing hanya sebentar mungkin beberapa detik sampai. "Aku takkan melanjutkan balas dendamku, bahkan untuk membawamu kepenjara sekalipun, tapi...".


Tiara yang awalnya mengarahkan wajah kesamping menoleh menatapnya. "Aku tak ingin melihat wajahmu lagi, aku membencimu Tiara membencimu!".


Deg!!.


"Ini yang terakhir kita bertemu, terima kasih karena sudah membawa cinta dan luka terdalam dalam hidupku Tiara, terima kasih!" tambah Erik menatap Tiara tak terbaca lalu berbalik pergi meninggalkan wanita itu sendiri.


"Hiks..., Hiks...".


Bruk!!!


Kaki Tiara seketika lemas ia terlutut di dinginnya lantai rofftop itu setelah Erik pergi menghilang bahkan bayangannya pun tak lagi tertinggal. Hati wanita itu amat sakit saat ini bukan karena kepergian Erik tapi karena kata benci yang dikeluarkan pria itu, walau ia sudah menduga hal itu. Tapi entah mengapa perasaannya amat tersakiti.


"Huahhhhh......, argggghhhhh......, hiks....., hiks.....,hiks".


Bersamaan dengan tetes hujan yang semakin deras pun tak membuat air mata Tiara tersamarkan. Ia menangis sejadinya jadinya menyentuh dada yang teramat sakit bagai ditusuk seribu anak panah. Kenapa harus sesakit ini padahal ia sudah bersiap dengan apa yang terjadi bahkan dengan dugaan terberat sedikitpun.


Tapi hanya dengan melihat wajahnya yang amat terluka dan mata berkaca juga kata benci darinya, sukses membuat wanita itu jatuh berkali kali kedalam dasar jurang yang dalam.


***


Aditya panik mencari Tiara yang tak ada dimanapun dalam apartemennya, bahkan pria itu sudah mengelilingi apartemennya dua kali untuk memastikan tapi wanita itu tetap tak ada.


Pria itu khawatir terjadi apa apa pada Tiara sebab emosinya yang belum stabil dan bisa melakukan apa saja yang membuatnya terluka.


Tut.... Tut.... Tut.


Aditya membanting ponsel keatas sofa saat Tiara tak kunjung menjawab panggilannya mana diluar hujan lebat pula. "Dimana kau Tiara??" tanyanya prustasi menjambak rambut klimisnya sendiri.


Ting, tong.


Bagaimana tidak jika saat membuka pintu dia melihat Tiara berdiri sambil memeluk diri sendiri yang sudah basah kuyup, tubuhnya pun gemetar.


"Tiara kau kenapa, kenapa basah kuyup begini?" tanya pria itu panik memegang lengan Tiara.


Namun bukannya menjawab wanita itu malah menutup mata dan langsung terjatuh di pelukan Aditya. "Tiara!!!" panik pria itu.


*****


Bugh!!, Bugh!!, Bugh!!.


Erik memukul keras stir mobil amat kecewa dengan pertemuannya dan Tiara yang nyatanya adalah yang terakhir sesuai ucapannya beberapa menit lalu.


Teramat kecewa sampai air mata pun tak lagi bisa menetes. Kecewa karena Tiara tak menjelaskan apapun apalagi menyangkal semua ucapannya. Sebab awalnya niatnya bertemu adalah Tiara menjelaskan bahwa bukan dia pembunuh Erina, setidaknya sedikit membela dirinya sendiri agar Erik melonggarkan hati dan mempercayai. Tapi dari semua jawabannya yang iya iya saja saat Erik bertanya membuat pria itu amat kecewa.


"Kenapa tak ada pengelakan sama sekali darimu Tiara kenapa???".


"Jika kau mengelak mungkin aku akan mencoba percaya bahwa bukan kau pelakunya, tapi dari sikapmu itu membuatku mau tak mau percaya". Setidaknya begitulah otak Erik berpikir. "Bahkan penyesalan pun tak ada dimatamu" tambahnya.


Namun hatinya berkata lain. "Tapi kenapa hatiku tak percaya kalau kau pelakunya, bukan kau tapi itu kau??". Erik dilema.


"Arggghhhhhhhhh!!!!!!!" Erik berteriak sangking prustasinya harus memilik otak atau hatinya. Tapi mengingat ucapannya pada Tiara karena emosi tadi membuatnya mau tak mau memilih otaknya.


*****


Setelah hari itu dengan berjalan majunya waktu Erik dan Tiara benar benar tak lagi bertemu, sudah sebulan lamanya. Bukan pergi lagi seperti sebelumnya Erik masih didalam negri masih sibuk sebagai penyanyi, begitupun Tiara yang sibuk dengan pekerjaannya dikantor Aditya. Hanya saja ada berbeda.


Terutama Erik, pria itu jadi sering minum minum walau tak sekalipun mau didekati perempuan manapun. Hampir setiap malam dia berada di bar milik Joker sampai sang sahabat itu hanya bisa geleng kepala dibuatnya. Pria itu juga gampang emosi hingga citranya sebagai penyanyi baik dan lembut hancur sudah. Haters pun semakin banyak mencelanya atas perubahannya.


Sedangkan Tiara jadi semakin dingin dari sebelumnya, tak ada lagi senyum sedikitpun terlihat diwajahnya. Bicara dengan orang lain pun jarang, hingga rekan kerjanya segan untuk sekedar bertanya ingin makan apa. Yang berani mendekatinya hanya Aditya.


Ridan, Joker dan Aril pun tak lagi diperdulikannya. Tiara lebih sering menghindar dengan langsung pulang ke Apartemen Aditya bersama dengan pria itu juga setiap harinya, walau ketiga pria sahabat Erik itu sering kali menungguinya dikantor hanya untuk bicara sesaat saja.


Tak usah mereka, Mala saja tak bisa mengobrol lama dengan Tiara karena wanita itu hanya menjawab pertanyaan yang penting penting saja jika menjenguknya diapartemen sang kakak.


"Dia sudah tidur?".


Aditya mengangguk setelah menutup pintu kamar Tiara. Mala melakukan hal yang sama, lalu memainkan ponselnya. "Mereka sebentar lagi naik, nggak papa emangnya disini kak, nanti Tiara dengar dan marah?" tanya Mala khawatir.


"Tiara sekarang selalu meminum obat sebelum tidur supaya tidurnya nyenyak, jadi seribut apapun kita dia nggak bakal bangun" jawab Aditya yang membuat Mala semakin sedih saja.


Ya, selama sebulan ini Tiara memang bergantung pada obat obattan, terlebih disaat akan tidur dan jika dia sudah menangis tanpa sebab. Kembali seperti dulu dan mungkin lebih parah, wanita itu sudah bagai mayat hidup. Manusia yang tak punya gairah untuk hidup lagi. Tububnya pun mengurus sekali.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Ridan saat mereka tengah berkumpul di ruang tamu Aditya, sedikit jauh dari kamar Tiara.


"Masih seperti itu saja" jawab Aditya lemah. "Erik sendiri bagaimana?" tanyanya balik.


Ridan, Joker dan Aril saling pandang sesaat lalu bersamaan menghela napas panjang. Joker mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Aditya. "Sama parahnya".


Aditya menggelengkan kepala melihat rekaman video yang memperlihatkan Erik duduk disofa bertemankan minuman beralkohol dan banyak puntung rokok.


Setelahnya mereka pun terdiam saja bingung juga harus melakukan apa, karena kedua manusia itu sama sama kekeh pada pendiriannya walau hati mereka sama sama sakit juga. Untuk memperbaiki hubungan keduanya mereka belum ada cara, begitupun Aditya yang kurang lebih tau kenyataannya. Dia masih harus mencari bukti untuk itu semua dan tak tau sampai berapa lama.