Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.48



_Meski hujan turun dan hanya kamu yang tidak memakai payung, tidak apa apa. Jika berlari sedikit saja, kamu akan segera sampai dirumah_.


\*MYUL MANG\*


*


*


*


"Oke, kerja bagus Waren" puji sang produser saat Erik menyelesaikan rekaman lagunya hanya dengan dua kali pengulangan.


Erik tersenyum tipis, melepas earphone dari telinganya lalu keluar dari bilik rekaman. Mood nya yang bagus karena kecupan singkat Tiara tadi pagi membuatnya senang mengerjakan apapun. Diluar sudah ada produser dengan wajah berbinar menyambutnya, mereka bertos ria setelahnya.


Mereka kemudian duduk disofa. "Setelah lagu ini hanya tinggal dua lagu lagi dan albummu siap diterbitkan" ucap produser Erik.


Mereka memang tengah bekerja sama untuk menyelesaikan satu album berisi delapan buah lagu yang dinyanyikan Erik. Yang kali ini dalam album itu satu lagu menggunakan bahasa indonesia full.


Erik mengangguk. "Semoga proyek kita berhasil dan diterima pendengar" harapnya.


"Pasti" jawab sang produser.


"Astaga" kejut Jeje melihat siaran langsung medsos diponselnya.


"Was ist falsch?" Erik bertanya.


"Gudang dilokasi Nona Gabriela syuting kebakaran" jawab Jeje.


Erik yang mendengar jelas terkejut, lokasi syuting Gabriela?, bukankah disana pasti ada Tiara juga. Tanpa banyak berpikir dia langsung berdiri dan berlari keluar ruangan itu meninggalkan tiga orang disana tanpa pamit.


Tin, tin, tin!!!!!!!!". Erik terus membunyikan klakson mobilnya membabi buta agar pengendara didepannya memberikan jalan. Persetan dengan makian dan kemarahan mereka, yang ada dipikiran Erik hanya untuk segera sampai dilokasi itu.


Sambil terus merapalkan kalimat jika tidak akan terjadi apa apa pada Tiara, Erik terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sebenarnya dia sudah punya filling jelek tadi pagi tapi karena sikap langka Tiara dia menepis itu semua.


Sesampainya di lokasi Erik memarkirkan sembarang mobilnya, ia langsung berlari mendekat kegudang yang mengeluarkan bumbungan asap juga kobaran api.


Erik mengedar pandang mencari Tiara dikerumunan orang yang ada didekat gudang itu, tapi tak ditemukannya Tiara. Sampai dilihatnya Faris dengan wajah sepanik paniknya. Pria itu memegang kain besar tapi tak sama sekali bergerak.


"Dimana Tiara" tanyanya tanpa basa basi.


Yang ditanya tak menjawab hanya menatap Erik sebentar lalu beralih melihat kearah gudang. Erik membelalak. "Shit!!!!".


Dia pun merampas kain yang di pegang Faris tanpa ragu masuk kedalam gudang penuh api itu. Menulikan telinga dari teriakan orang orang agar tak memasuki gudang itu.


Tak ia sangka perasaan buruknya menjadi kenyataan.


*****


Aditya berdiri tak jauh dari Erik dan Tiara. Memandangi kedua orang itu dengan perasaan lega juga sedikit kecewa. Kenapa lagi lagi dia kalah telak dengan Erik, kenapa pria itu selalu selangkah maju didepannya. Tapi sekarang bukan saatnya memikirkan itu, keadaan Tiara adalah yang terpenting saat ini.


Dengan langkah pelan Aditya mendekat dan sudah berdiri tepat disamping Erik. "Kalian berdua tak terluka?".


Tapi pertanyaan itu tak dijawab oleh Erik, pria itu masih terus memandang wajah Tiara yang tak kunjung membuka matanya. Padahal sudah diberi pasokan oksigen karena paru parunya dimasuki banyak asap. Erik terus menggenggam erat tangan itu.


Melihat Tiara masih tak ada perubahan Erik yang khawatir berubah emosi. "Kenapa dia belum juga membuka matanya, bagaimana cara kerja kalian hah!!!" bentaknya pada perawat dan Dokter yang tengah mengecek denyut nadi Tiara.


Karena bentakan itu semua orang yang didekatnya terkejut tak hanya Dokter dan perawat. Kecuali Aditya, dia tak terkejut sama sekali karena ia mengerti bagaimana perasaan Erik saat ini. Dia pun sama, jika dia mempunyai hubungan yang nyata dengan Tiara mungkin dia akan berteriak seperti Erik saat ini.


"Tenanglah Tiara pasti akan sadar" ucapnya pada Erik yang mendesah frustasi.


"Terlalu banyak asap diparu parunya, dan dia juga mengalami serangan syok itu yang menyebabkan dia belum juga sadar" terang Dokter sabar.


Tak lama lewat beberapa menit dengan kedua pria itu masih setia disampingnya, Tiara akhirnya membuka mata. Erik yang menundukkan kepala mendongak saat mendengar geraman Tiara. Aditya juga sudah bisa menghembuskan nafas lega.


Erik reflek memeluk tubuh Tiara. "Syukurlah, syukurlah" ucapnya.


Tiara yang sedikit terkejut sempat terdiam tapi tak lama juga membalas pelukan Erik. Dia ingat pria itulah yang menyelamatkannya tapi, Tiara meraba punggung dan kepala Erik.


"Kau tadi kejatuhan kayu kan, apa kau terluka?" tanyanya masih dengan nada yang lemah.


Melihat keduanya membuat Aditya berpaling. Entahlah hatinya terasa amat sakit melihat moment haru itu.


Erik melerai pelukan untuk melihat wajah Tiara, tapi wajah itu bukan terkesan lemah tapi malah terkejut dengan mata membulat sempurna dan berkaca.


"Kau....., Kepalamu berdarah".


Erik mengernyit lalu memegang bagian belakang kepalanya dan benar saja ada darah disana. Aditya yang mendengar ucapan Tiara pun berbalik dan baru sadar jika Erik terluka.


"Hey, kepalamu".


Erik tersenyum tipis, "Ah.., ini.....". Ia tak melanjutkan ucapannya karena tiba tiba merasa kepalanya amat pusing, darah juga mengalir keluar dari hidungnya dan akhirnya brukkk.


"Erik!!!!!".


*****


Dua wanita dan tiga pria berpenampilan bak foto model dengan damage yang tak main main tengah berjalan cepat di lantai rumah sakit. Bahkan terlihat bukan berjalan tapi berlari kecil, wajah datar dan tersimpan sedikit kepanikan yang mereka perlihatkan bukannya membuat semua orang yang menjadi iba malah terkagum kagum jadinya.


"Wah apa mereka model?" tebak beberapa orang yang melihat.


"Apa sedang ada syuting disini?" tanya beberapa yang lain.


Mereka adalah Mala, Aril, Joker, Ridan dan Sisil yang bertemu didepan gedung rumah sakit karena mendengar kabar tentang keadaan Tiara juga Erik. Setelah dikabari mereka langsung melesat kerumah sakit dari tempat masing masing.


"Gimana keadaan mereka" tanya Aril pada Joker atau siapapun yang mau menjawabnya. Saat dikabari tadi dia tengah bersama Mala fitting pakaian pengantin mereka.


"Tiara baik baik saja, tapi Erik harus dilarikan kerumah sakit karena tertimpa balok kayu" jawab Ridan yang menggenggam erat tangan dingin Sisil.


"Gue masih meriksa cctv di sana, gue rasa ada yang janggal dari kebakaran itu" sahut Joker.


Setelah mereka berjalan cepat mencari dimana Tiara berada, akhirnya mereka menemukan wanita itu tengah duduk dikursi tunggu depan pintu ruang operasi seorang diri.


Karena hasil pemeriksaan mengatakan luka dikepala Erik cukup parah karena hantaman keras balok itu. Sebab pingsannya dicurigai karena luka tersebut menyebabkan terjadinya pendarahan otak. Hingga Dokter memutuskan untuk melakukan operasi.


Yang paling pertama berlari mendekat adalah Mala. Calon istri Aril itu duduk disamping Tiara, sedang yang lain mengintip lewat kaca kecil dipintu ruang operasi.


"Kamu nggak papa Ra, ada luka nggak?" tanya Mala tapi Tiara tetap pada posisinya tak bergeming sedikitpun apalagi menjawab.


Dia masih duduk dengan menatap kosong telapak tangan kanannya yang masih melekat darah Erik disana. Mala melirik tangan sang sahabat, dia tahu bagaimana perasaan Tiara saat ini.


Aril mencoba mendekat berjongkok didepan Tiara, menatap wajah itu. "Tidak apa apa, Erik bakal baik baik aja" ucapnya lembut.


Tiara akhinya mendongak menatap Aril dengan tatapan sulit diartikan. Dan tak lama mata itu menampung air yang siap meluncur bebas, wajahnya juga mulai memerah dengan kening mengernyit.


"Hiks" runtuhlah pertahanan kokoh nan dingin dari seorang Tiara. Prinsipnya yang tak pernah akan menangis dihadapan semua orang dilanggarnya sudah, hanya karena satu kalimat dari Aril yang menyangkut nama pria pengisi hatinya.


"Hiks, dia bodoh!, Bodoh!, kenapa dia mau mengorbankan nyawa dan terluka demi aku, kenapa??!!". Tiara terisak, air yang semula ditampung sampai penuh dipelupuk matanya sukses mengalir deras.


Mala langsung memeluk erat Tiara sampai ikut menangis juga. Sudah lama ia tak melihat Tiara histeris begini, terakhir saat Tiara ingin sekali melupakan Erik. Dan sekarang juga karena pria itu lagi. Ya, hanya Erik yang bisa membuat Tiara begini.


"Dia begini karena aku La, karena mau menyelamatkanku, dia terluka karena aku" ucap Tiara menyalahkan dirinya sendiri.


Mala membelai rambut Tiara. "Nggak bukan salahmu, ini semua bukan salahmu".


Sisil yang sedari tadi hanya melihat juga ikut mendekat duduk disamping Tiara. "Jangan salahkan diri kakak sendiri, Kak Erik sudah memilihnya dan memikirkan segala kemungkinannya, dia pasti bisa melewatinya kak tenanglah" ucap kekasih Ridan itu menenangkan.


Disaat semua orang menunggu selesainya operasi, terlihat Aditya berlari dari kejauhan mendekat.


"Tiara kau ini!!!" serobotnya kesal membuat yang lain terkejut bahkan Mala sudah menatap sang kakak tajam. "Kak Adit apa apan sih?!!!" bentaknya. Sedang Tiara menunduk merasa bersalah.


"Kamu itu seharusnya sekarang dirawat, paru parumu masih bermasalah Ra, kenapa kamu malah disini!!!".


Ya, bukan hanya Erik tapi sebenarnya Tiara juga harus dirawat sesuai perkataan Aditya barusan. Dia tahu nasib Erik sangat penting tapi kesehatan Tiara juga tak kalah penting. Dan lihat wanita itu malah duduk disini dengan mata sembab tanpa sepengetahuan Aditya. Padahal pria itu hanya meninggalkannya sebentar untuk menerima panggilan telefon saja.


Semua orang pun beralih menatap Tiara, pantas saja sejak tadi wanita itu terus batuk. Mala segera berdiri dan menarik tangan Tiara. "Ayo, aku tak terima penolakan" ucapnya penuh ancaman.


Sebelum berdiri Tiara menatap pintu ruang operasi. "Tenanglah ada kami disini" ucap Aril menenangkan. Karena tak ingin dimarahi lagi akhirnya Tiara mengikuti Aditya dan Mala walau dalam keadaan terpaksa.