Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.29



_Bebanmu tak banyak. Hanya kau yang lemah. Semakin kau lemah bebanmu akan semakin berat_.


*


*


*


Erik dengan langkah seribu berlari masuk kedalam gedung ADC CORP, setelah turun dari metalic roda empatnya. Tanpa menghiraukan semua orang yang menatapnya dia fokus menuju salah satu ruangan team produksi.


Dengan nafas sedikit tersengal, Erik akhirnya sampai ditempat tujuannya. Alisnya bertaut saat tak mendapati sosok kekasih hati yang sudah dibuatnya menunggu.


Erik menahan seseorang yang akan berjalan melewatinya. "Dimana Tiara?".


Sejenak wanita yang ditanyainya itu terpana. "Mba Tiara?" beonya.


"Dimana dia?!" tanya Erik geram karena wanita yang ditanyainya tak fokus.


Wanita itupun menggeleng cepat menyadarkan diri. "Mba Tiara sudah pulang dari dua jam yang lalu".


"Shit!!". Erik kembali berjalan cepat keluar dari ADC CORP sampai tak menyapa Aditya terlebih dahulu, untuk menanyakan posisi Tiara sekarang. Nggak kepikiran dia.


Karena setaunya wanita itu tak mungkin kembali keapartemen kecilnya, mengingat semua barang barang Tiara disana sudah dipindahkan Erik ke penthousenya.


Erik memasuki mobilnya sambil mengomel merutuk dirinya sendiri yang terlambat menjemput Tiara, padahal dia sudah janji bahkan menyuruhnya untuk menunggu. Pikirnya sudah pasti wanita itu kesal menunggunya berjam jam. Jadi memilih kembali lebih dulu.


Erik melajukan mobilnya kepenthouse, berpikir jika Tiara ada disana. Tapi sesampainya di tempat itu, lampu tak menyala seperti tak ada penghuninya. Berarti sudah jelas Tiara tak ada disini.


"Apa Tiara kembali ke apartemennya, argghhh sial!!".


Erik kembali berlari seolah tak lelah ia terus berkelana mencari sang pujaan hati yang hilang entah kemana. Ponselnya pake nggak aktif pula, mungkin sudah ke lima puluh kalinya Erik mencoba menelpon tapi tak tersambung juga. Ia mulai khawatir.


Terlebih lagi saat ia tiba di Apartemen Tiara, wanita itu tak ada juga disana. Panik, Erik menghubungi Aditya, tapi malah diceramahi oleh pria yang tengah lembur dikantornya itu. Bertambahlah kekhawatiran Erik, ditengah malam begini kemana lagi Tiara, pikirnya.


Drtttt, drtttt.


"Halo, Ra kamu kemana aja sih, aku mencarimu, katakan dimana kamu sekarang aku jemput". Erik langsung bicara panjang lebar, sebelum melihat siapa yang menelfon atau bertanya.


"Wow wow wow, ada apa ini, Tiara kabur?" suara disebrang telfon tampak meledek.


"Ngapain lo nelpon gue setan, matiin nggak penting, gue lagi nyari Tiara nih".


"Emang Tiara kemana sampe lo panik begitu?".


"Kalau gue tau, nggak bakal panik gue oon".


"Lo kesini aja deh dulu biar kita cari bareng, ada Aril juga disini" ucap Joker mengusulkan.


Bener juga pikir Erik, tiga lebih baik dari pada dia sendiri. Lagi pula dengan dirinya yang terkenal sebagai penyanyi nggak mungkin tengah malam begini kesana kemari cari si calon istri, bakal heboh lagi entar dunia pergosipan.


"Dimana lo?".


"Torra Cafe".


Erik mengernyit saat tiba dicafe tempatnya bertemu dengan Joker dan katanya ada Aril juga. Melihat salah satu sohibnya nampak kacau dengan kemeja berantakan dan dasi kendor, membuatnya berpikir wah ada masalah nih kek nya.


Erik mengangkat tangan bertos ria dengan Joker yang mengetahui kedatangannya. Lalu ikut duduk satu meja bersama kedua sahabatnya itu. "Cuman kalian berdua, Ridan kemana?".


"Sibuk dia persiapan pembukaan cabang baru".


"Emmm, terus kenapa ni bocah?" tanya Erik pada Joker melirik Aril yang masih termenung menatap ponselnya.


"Masih dengan masalah yang sama " jawab Joker sekenanya.


"Sudah dibilangin lanjutin aja rencanamu, soal dia terima apa nggak itu udah jadi keputusannya, kalau pilihannya buat kamu kecewa yah lepaskan, hidup ini punya pilihan dan batasan, sebagai laki laki kamu harus tau resikonya" ucap Erik yang entah didengar Aril atau tidak yang jelas dia sudah katakan isi pikirannya.


"Terus Tiara gimana udah ketemu?" tanya Joker yang seketika membuat wajah Erik berubah seratus delapan puluh derajat ekpresinya.


Ia memegang kepalanya pusing lalu menggeleng. "Kenapa bisa sih dia ngilang gitu?" tanya Joker lagi.


Erik mendesah pasrah lalu menceritakan apa yang terjadi, Joker setia mendengarkan sedang Aril masih kalut dengan pikirannya sendiri. Sampai.....,


Joker membuka ponselnya yang sedari tadi bergetar. Matanya terbelalak terkejut saat melihat beberapa gambar yang dikirimkan anak buahnya. "Bro, kita harus keklub sekarang".


"Lo mau bantu cari Tiara nggak, gue lagi pusing malah diajak ke klub" protes Erik.


"Tau ni bocah bisanya ngajak maksiat mulu" tambah Aril yang sedari tadi diam.


Joker mendesah jengkel mendapati sindiran kedua temannya. Dia memang terkenal casanova tapi untuk mencebloskan sahabat untuk bersamanya dia masih takut durhaka, biar dirinya yang berdosa orang lain jangan.


Joker pun membanting ponsel berlayar hampir tujuh inci itu dimeja. "Liat!!!".


Erik melirik kearah benda itu baru satu gambar yang dilihatnya reflek pria itu berdiri sambil menggebrak meja. Sampai beberapa pengunjung cafe yang buka selama dua puluh empat jam itu menatap ketiganya.


Terganggu dengan aksi Erik, Aril pun melirik dan sikap yang sama ditunjukkannya. "Mereka ini benar benar!!!!" geram Aril.


"Kita pergi sekarang!!!!".


*****


Erik membalap laju mobilnya diikuti Joker juga Aril dengan sama cepatnya. Mereka membawa mobil masing masing menuju klub kepunyaan Joker. Karena dicafe tadi sang casanova itu menerima info dari anak buahnya jika diklubnya ada tiga wanita cantik dan salah satunya ia tahu adalah tunangan sahabat sang bos.


Dan melihat Tiara, Mala juga Rin yang nampak asik berjoget dari gambar diponsel Joker. Erik dan Aril murka mereka langsung melesat menuju tempat perkara.


Sesampainya didepan klub Erik dan Aril bergegas turun dari mobil yang diparkirkannya sembarang. Sedang Joker hanya menggeleng melihat kemurkaan dua sahabatnya itu.


Mereka bertiga langsung masuk kedalam klub dengan tatapan dingin, kesal dan kemarahan. Semua orang terutama wanita sampai takjub dibuatnya, bahkan tak sempat lagi mengenali sang penyanyi idola. Ketampanan ketiganya membuat semua orang terpana sekaligus membeku.


Tangan Erik mengepal saat dari kejauhan saja sudah terlihat bagaimana asiknya Tiara berjoget ria. Sedang Aril menggertakkan giginya geram melihat pakaian yang dipakai sang tunangan. Tapi Joker bukannya khawatir dia malah tersenyum smirk melihat Rin.


Kemarahan mereka memuncak saat pasangan mereka dikelilingi pria pria hidung belang, walau tak ada yang berani menyentuh. Tetap saja membuat Erik dan Aril menahan emosi setengah mati.


Semakin dekat Erik mencekal tangan seorang pria yang berani ingin membelai rambut Tiara. Memelintirnya lalu mendorongnya keras. "Menjauh dari wanitaku, berani sekali kau menyentuhnya hah!!!!". Pria tadi pun berdiri dan langsung bergegas menjauh ketakutan dengan sorot menyalang sang lucifer.


Joker juga mengkode dengan tatapan tajamnya pada beberapa pria yang masih berdiri ditempatnya.


Kini Erik dan Aril berdiri tepat di depan wanitanya masing masing yang masih asik bergoyang tanpa menghiraukan aura mencekam disekitarnya.


Aril bersidekap dada menatap tajam tunangannya. Ia tersenyum menyeramkan saat Mala kebetulan berbalik kearahnya, wajah wanita itu seketika pias. Walaupun dia tak sepenuhnya sadar karena mabuk, tapi untuk mengenali wajah tunangannya ia masih bisa.


Tapi keterkejutannya tak berlangsung lama. Mala mengembangkan senyum sambil menggandeng lengan Aril. Wanita itu menempelkan kepalanya dibahu Aril. "Sayang kemana aja sih, aku telpon nggak diangkat, sms nggak dibales, kemana aja aku kan kangen" ucapnya.


Aril melirik sesaat lalu menghela napas panjang. Ia melepas rangkulan Mala, melepas jas kerjanya lalu memakaikannya pada sang tunangan. "Iya maaf, kita pulang dulu mau?" tanyanya lembut.


Joker berdecih melihat sikap sang sahabat yang terlalu lembek pada tunangannya, sayang sih boleh tapi tegas dikit dong jadi cowok.


Mala yang sudah dirangkul Aril pun melambaikan tangan pada Tiara. "Ra aku duluan yah, itu dibelakangmu ada si gila" serunya.


Sedangkan Tiara yang masih asik menganggukkan kepala mengikuti alunan musik, mengernyit setelah membalas lambaian tangan Mala. Ia berbalik tapi tak terkejut sama sekali melihat Erik berdiri tegap didepannya dengan tangan dimasukkan kekantong celana tak lupa tatapan tajamnya.


"Hug, kamu disini?" tanya Tiara sekenanya pake cegukan pula. "Ngapain?" tambahnya.


"Menjemputmu" jawab Erik dingin.


Tiara terkikik dengan melambaikan tangan. "Ngapain jemput aku hug...., aku bisa pulang sendiri hug.....,".


Erik memutar bola mata jengah. "Aku sudah disini jadi pulang bersamaku!". Ia menggenggam tangan Tiara tapi langsung ditepis kasar oleh wanita itu.


"Nggak!!!!, aku nggak mau pulang sama kamu hug....,".


"Ra...., pulang sekarang!!!" geram Erik sampai giginya terdengar gemertak.


"Nggak!!!".


Tiara yang kesal pun berbalik kemudian kembali berjoget ria. Tapi tak lama ia memekik saat Erik dengan tanpa persetujuannya menggendongnya seperti memangkul karung beras.


"Cowok gila, lepasin aku, lepasin!!!" ronta Tiara.


Tapi Erik tak memperdulikannya, pria itu dengan santai berjalan menuju keluar klub meninggalkan Joker tanpa ucapan perpisahan dan menatap tajam pada siapa saja yang memperhatikan mereka.