
_Disaat satu pertanyaan menghampiriku, aku ingin jawabannya adalah dirimu_.
*
*
*
"Benarkah, oke kau yang bilang sendiri, jadi ketika aku membawa penghulu kerumahmu besok, kata tidak haram untuk kamu ucapkan".
Suara berat itu membuat Mala yang ketakutan dan panik reflek mendongak bersamaan dengan seluruh lampu yang menyala. Sedikit membuat matanya terkejut dengan cahaya itu ia beberapa kali mengerjap. Dan saat pandangannya mulai menangkap wajah tampan didepannya, ia membulatkan mata dengan pekikannya.
"Arilllll!!!!!!"
Aril tersenyum tampan. "I'm" jawabnya sekenanya.
"Kau!!!!!" geram Mala. Marah, sedih, bahagia entah apa yang dirasakannya saat melihat pria itu. Ia melayangkan pukulan tak berarti kearah dada Aril dibarengi isakan tipis.
"Kenapa kamu mempermainkanku" isaknya.
"Hey, hey, hey" tegur Aril menangkup wajah memerah dengan mata sembab itu. Mala menatapnya sayu.
Aril memperbaiki rambut berantakan Mala karena rontaannya tadi. Lalu menyapu bekas air mata dipipi sang kekasih. "Justru aku serius denganmu, jika aku mempermainkanmu untuk apa aku menyiapkan ini semua" ucapnya menenangkan.
Mala mengernyit bingung. Sebenarnya kata mempermainkan yang dimaksud Aril untuk kejadian menyebalkan ini atau hubungan mereka. Karena kata mempermainkan yang dimaksudkannya sendiri adalah kenapa Aril tega mengerjainya sampai ketakutan begitu. Tapi tidak dengan kata itu, Mala lebih penasaran dengan kata menyiapkan.
"Menyiapkan apa maksudmu?" tanya Mala.
Aril terkikik, lalu menoleh kekanan dan kiri hingga Mala pun mengikuti. Lantas saja matanya membelalak tak percaya, bibirnya terbuka lebar tak menyangka.
Dilihatnya balroom yang tadinya gelap sekarang malah seperti ruangan pesta pernikahan. Dilengkapi bunga bunga dan dekorasi yang indah juga meja meja yang sudah tertata rapi ditempatnya. Mala melirik kebawah, ia baru sadar jika berdiri diatas karpet merah yang terhampar sepanjang ia berjalan tadi.
Disisi kirinya bahkan sudah ada panggung bernuansa putih nan elegan. "I..., Ini".
Belum habis dengan keterkejutannya dan masih kelu untuk melanjutkan ucapannya. Sebuah lantunan musik juga suara berat khas seorang pria mendominasi ruangan itu.
Mala melihat Erik keluar dari balik panggung sambil menyanyikan lagu berjudul Marry You. Ia mulai terharu terbawa suasana hingga matanya kembali berkaca.
Tak disadarinya Aril sudah melepaskan pelukan mundur dua langkah, lalu berlutut dengan gentlenya. Mengeluarkan sepasang buku bergambar garuda dari saku jasnya.
Jika seseorang melamar dengan sebuah cincin, Aril malah memilih sepasang buku nikah. Cincin terlalu biasa menurutnya lagi pula benda mungil itu sudah tak mengejutkan lagi untuk Mala. Jadi buku nikah adalah pilihannya.
"Maaf aku tak pandai merangkai kata, aku hanya ingin memilikimu semata, Disini sudah tercetak nama kita berdua tinggal butuh tanda tangan saja, So Will you marry me Mala......".
Aril mengucapkan kalimat lamarannya dengan penuh percaya diri dan harapan penuh lewat sorot matanya. Sedang Mala masih terpaku ditempatnya tak percaya ia berada diantara mimpi atau realita.
Sampai seruan banyak orang mulai menyeruak ketelinganya. Diliriknya beberapa orang mulai keluar dari persembunyian mereka. Mulai dari teman, kerabat, keluarga bahkan orang tua keduanya. Termasuk sang tersangka yang membawanya kemari, siapa lagi kalau bukan Tiara.
Disebelah sana wanita itu tengah bersidekap dada sambil mengkode Mala agar menerima lamaran sang kekasih. Mala pun tersenyum kecil, lalu menatap dalam mata pria didepannya.
"Yes, I do" ucapnya yang membuat Aril memekik senang sampai berloncat riang. Pria itu memeluk sang bakal istri erat.
Walaupun sebenarnya dia sudah tahu pasti jawaban yang akan diberikan wanita itu, tapi tetap saja sebuah kata yang keluar dari Mala dapat membuat hatinya berubah jadi taman bunga.
"Kamu tak boleh menundanya lagi kali ini, besok aku benar benar akan membawa penghulu kerumahmu". Mala mengangguk haru, Aril mengecup keningnya sayang. Akhirnya kejutan yang dirancangnya bersama ketiga sahabatnya terlaksana sudah.
Tinggal satu lagi, kejutan yang ditolak setengah mati oleh Ridan, Joker juga Erik. Tapi karena ia memohon dengan sangat terpaksa mereka menyetujui dan inilah saatnya. Setelah meminta restu pada kedua orang tua, juga berbincang beberapa saat mengenai denda yang harus dibayarkan Aril pada pihak A dalam kontrak yang ditandatangani Mala.
Kini Mala dengan rasa penasarannya tengah berdiri ditengah tengah tamunya. Menghadap panggung yang temaramkan cahayanya. Sampai sebuah instrumen awal musik yang amat dikenalnya itu terdengar.
Aril dan para sahabatnya pun keluar. Mala menutup mulut tak percaya melihat keempat pria itu dilengkapi oleh dancer kini tengah memperaktekkan dance ala boyband korea kesukaannya. Siapa lagi kalau bukan BTS dengan lagu Boy With Love.
Mala sampai terkikik dan bertepuk tangan saat dengan terampil juga lihai mereka menari. Walau raut wajah mereka nyata dibuat buat. Terutama Erik, Ridan juga Joker. Bukan apa, malu mereka harus menari didepan banyak orang.
"Mending gua nyanyi keliling satu dunia, dari pada nari ginian, encok pinggang" gumam Erik dalam hati.
Sedang Ridan dan Joker jangan ditanya lagi, mereka tengah mengumpat dalam hati dibalik senyum mereka yang menawan untuk para ukhti.
Rentetan kejutan yang diberikan Aril untuk sang kekasih pun akhirnya berakhir. Dan kini semuanya bebas untuk menikmati hidangan dan saling mengobrol.
"Ckckck, jangankan nari, bikin kamu jatuh hati aja aku bisa" balasnya. Tiara berdecih.
"Pulang yuk, capek" ajak Erik seenaknya. "Pulang?, cepet banget entar dulu lah, tarik napas aja dulu pasti capek kan abis jingkrak jingkrak" jawab Tiara.
"Dirumah aja tarik napasnya, butuh pasokan oksigen soalnya".
"Emang di penthouse ada tabung oksigen?" tanya Tiara bingung.
"Nggak ada".
"Terus".
"Lewat kamulah".
Tiara mengangguk tak sadar dengan bibirnya yang membentuk huruf o. Tapi beberapa detik kemudian ia langung melayangkan pukulan kelengan Erik yang sudah tertawa. Dan sepasang mata melihat kedekatan mereka dengan penuh luka, siapa lagi kalau bukan Aditya.
*****
Hukuman yang direncanakan Erik nyatanya tak berlangsung selama tiga hari, karena baik dia maupun Tiara punya pekerjaan masing masing yang tak bisa mereka tinggalkan.
Erik sampai merutuk dalam hati saat harus mengerjakan rutinitasnya tanpa Tiara disampingnya. Tapi tidak dengan Tiara, wanita itu malah merasa bebas sebebas bebasnya dari sang predator perjanjian itu.
"Ra, sudah siap?" tanya Gilang, Tiara menganggukkan kepala mantap. "Aku pergi dulu bang" balasnya.
Seperti biasa Tiara memulai pekerjaannya hari ini. Mengomandoi kru programnya untuk mengikuti kemana Artis yang bekerja sama kali ini melakukan aktivitasnya.
Dan disinilah Tiara berada sebuah rumah dikawasan elit. Katanya sih sang Artis yaitu Rimba tengah syuting untuk sebuah sinetron kejar tayang.
Tiara dengan serius memperhatikan jalannya syuting. Karena harus terkesan natural kameramennya terus mengambil gambar walau Rimba tak fokus dengan mereka. Seperti saat mengikuti Erik tempo hari lah pokoknya.
Tiara juga sering memberi masukan apa dan bagaimana bagusnya gambar diambil agar saat pengeditan tak banyak yang dipotong.
Drrrt, drrrt. Tiara mengecek ponsel yang bergetar didalam kantong long coatnya. Ia reflek memutar bola mata jengah saat nomor Erik yang diberinya nama pria menyebalkan itu terpampang nyata dibenda persegi empat itu. Tapi kemudian ia tersenyum tanpa sadar.
Tiara tak menjawabnya hanya membiarkannya walau benda itu masih dipegangnya. Dia lebih memilih fokus pada jalannya syuting. Alhasil benda itu pun terus bergetar tanpa henti, membuatnya sedikit kesal juga pada manusia satu ini.
"Paan?" jawab Tiara malas.
"Kamu!!!" bentak Erik disebrang sana membuat Tiara menjauhkan ponsel dari telinganya. "Dari mana aja sih, kenapa baru dijawab!!" omel pria itu semakin lama semakin rendah nada bicaranya.
"Kenapa kamu marah marah!!!" balas Tiara kesal. Tapi terlintas kembali sekelibat ingatan jika sepertinya mereka juga pernah bertengkar dengan mengatakan kata yang sama, Dejavu kah pikirnya. "Aku juga punya pekerjaan tau, bukan hanya harus menjawab panggilanmu" tambahnya lagi.
"Maaf kupikir kamu kenapa napa, aku khawatir" jawab Erik lemah. Jujur dia memang benar benar panik saat Tiara tak menjawab panggilannya.
"Aku sedang bekerja, kenapa kamu harus khawatir?".
"Ra dengar, untuk beberapa hari kedepan mungkin aku tak bisa kembali kerumah karena jadwalku sangat padat dan harus keluar kota, jadi tolong jaga dirimu baik baik, kalau ada apa apa segera hubungi aku oke" pesan Erik.
"Ckckck, asal kamu tau aku bukan anak kecil lagi, aku bisa menjaga diriku sendiri dan nggak ada kamu aku malah lebih senang, aku akan kembali ke apartemenku" jawab Tiara.
"Aku serius Ra, jaga dirimu dan jangan kembali ke Apartemenmu, tetaplah dipenthouse ku mengerti".
"Cih, terserah aku".
"Tiara!!" suara Erik tegas mengancam kali ini.
"Iya, iya sudah deh aku sibuk bye!" Tiara menutup panggilannya tanpa mendengarkan lagi balasan dari Erik. Hatinya bersungut karena pesan pria itu.
Tiara menolak panggilan Erik saat pria itu kembali menghubunginya. Dan akhirnya Erik mengirim chat yang berisi kalimat pesan seperti apa yang diucapkannya tadi.
"Dasar posesif" gumam Tiara. Kemudian memasukkan kembali ponselnya kesaku longcoatnya.
Yang tanpa disadarinya kegiatannya sedari tadi diperhatikan oleh Rimba yang tengah diperbaiki sedikit penampilannya oleh sang Asisten juga juru tata riasnya.
Mata pria itu tajam memperhatikan Tiara mulai dari ekpresinya, gerak geriknya semuanya dari Tiara. Senyuman misterius pun ditunjukkannya.