
_Ketika kamu mencintai seseorang, kamu akan mencintai semua tentang dirinya. Tidak hanya sisi baiknya tapi sisi buruknya sekalipun_.
*
*
*
"Lo nggak punya kerjaan, ngapain pagi pagi sudah kesini?" tanya Aditya ketus.
Saat tiba didepan ruangannya tadi, sang sekertaris berkata sudah ada orang menunggunya padahal jam baru menunjukkan pukul sembilan. Seingatnya dia tak ada janji pagi dengan siapapun. Dan saat masuk ke dalamnya dilihatnya Erik sudah duduk santai disofa.
Erik berdecak sebal. "Gue kesini karena mau minta ijin, Tiara nggak bakal masuk kerja hari ini".
Aditya terpaku sesaat. "Tiara, ada apa dengannya, apa dia sakit lagi?" tanya pria itu khawatir pantas saja ia tak melihat wanita itu diruangannya tadi.
"Sekarang lo baru khawatir terlambat, Tiara sudah mengalami kejadian buruk semalam, karena lo yang nggak meriksa dulu latar belakang pria bajingan itu!" sindir Erik sebal. Baginya itu semua salah Aditya selaku atasan yang tak memeriksa lebih lanjut pekerjaan bawahannya.
Aditya segera mendekati Erik ingin meminta penjelasan lebih lengkap lagi. "Maksud lo?".
Erik pun dengan masih tersisa rasa sedikit kesal menceritakan apa yang dialami Tiara dengan sedikit memotong dibagian wanita itu tengah melakukan hobinya. Erik menggantinya dengan bercerita jika Tiara lolos karena kedua pria itu mabuk berat. Aditya yang mendengarkan pun sempat terbawa emosi karenanya. "Bajingan!!" erangnya.
"Tenang aja gue udah ngasih Rimba pelajaran, hanya tinggal Haikal karena bajingan itu menghilang dari rumah sakit!" terang Erik sedikit kesal karena kaburnya pria tersebut.
Aditya mengernyit. "Bagaimana bisa?".
Erik mengedikkan bahu. "Anak buah Joker masih mencarinya".
Aditya mengangguk. "Gue bakal bicara sama Gilang masalah itu dan program mereka gue hentikan sementara".
"Gue balik masih banyak kerjaan" pamit Erik.
"Balik sono nggak guna juga lo lama lama disini".
Erik berdecak sebal lalu keluar dari ruangan Aditya dengan sedikit membanting pintunya. Didalamnya Aditya duduk dikursi dengan ekpresi kesal juga kecewa, ia lalu mengangkat gagang telfon dimejanya.
"Kemari sebentar saya ingin bicara".
*****
Tin, tin, tin.
Erik memasukkan kode sandi pintu penthousenya. Setelah dari kantor Aditya tadi dia pergi ke kantor Agensinya sebentar dan sekarang ia pulang ingin melihat keadaan Tiara yang sedari subuh tadi ditinggalnya.
Ia mengernyit melihat keadaan rumah yang nampak sepi tak berpenghuni, biasanya Tiara selalu didepan Tv pada jam begini. Kemana wanita mungil itu, pikirnya.
Erik berlalu kekamar, disana juga dia tak mendapati Tiara. Ia lalu pergi ke arah dapur. Karena memang penthousenya benar benar luas.
Pria itu tersenyum melihat Tiara sedang sibuk didapur dengan apron melekat pada tubuhnya, wanita itu berdiri membelakanginya. "Kamu sedang apa?".
Erik tercekat kemudian tertawa geli saat Tiara berbalik menghadapnya. Pria itu mendekat masih dengan tawanya. "Ada apa dengan wajahmu ini, kau sudah seperti moci saja" oloknya.
Tiara menggembungkan pipinya sebal, wajah yang awalnya sudah terpolesi tepung jadi semakin tebal lagi karena dia mencoba menghapus dengan tangannya yang penuh tepung.
Erik mengambil handuk kecil yang tersusun rapi dirak samping lemari pendingin, lalu menyapukannya lembut ke pipi cabi Tiara yang sudah bagai moci katanya. "Kau sedang apa hmmm?" tanyanya.
"Mau bikin cheese cake tapi gagal terus" jawab Tiara sedih.
Erik mengernyit, mengintip kebelakang tubuh Tiara dan benar saja sudah dua loyang kue gagal disana. Yang satu bukan lagi berwarna kuning tapi coklat kehitaman yang satunya lagi hancur tak berbentuk.
"Hhhmmmm untuk sekarang gimana kalau kita pesan antar aja, lain kali kita buat sama sama" tawar Erik.
Tiara sesaat terdiam seperti berpikir tapi tak lama menganggukkan kepala. "Sekarang kamu pergi mandi saja biar aku yang membersihkan ini semua".
Tiara pun pergi ke kamar setelah melepas apronnya. Erik hanya mengamatinya dengan rasa sedikit berbeda. "Kenapa sejak semalam dia jadi penurut, menggemaskan" gumamnya tersenyum.
Ting tong.
Erik berdiri berjalan menuju pintu lalu membukanya. Pesanannya sudah tiba, setelah membayar dan memberi tanda tangan untuk sang kurir yang mengenalnya ia pun masuk kembali.
"Sudah datang?" tanya Tiara yang sudah memakai kaus oblong juga celana panjang. Terlihat kebesaran tapi dimata Erik terlalu menggemaskan.
Erik mengangguk. "Aku ambil minuman dulu" ucap Tiara berbalik kedapur.
Erik kembali keruang tengah, meletakkan kotak kue itu diatas meja. Ia duduk dilantai lesehan sembari menunggu Tiara. Tak lama wanita itupun datang membawa dua gelas minuman berwarna juga set alat makanan penutup.
Tiara duduk lalu membuka kotak kue tersebut, matanya berbinar melihat cheese cake yang sangat diinginkannya setelah melihatnya di TV tadi siang. Dengan sigap ia memotongnya.
Erik hanya memperhatikan sambil tersenyum melihat Tiara yang antusias dengan kue pesanannya.
"Ini" ucap Tiara memberikan sepotong kue diatas piring kecil itu untuk dinikmati Erik.
Tiara lalu fokus dengan sepotong cheese cake miliknya. Begitu melahapnya satu suapan matanya terpejam merasakan lumernya kue itu dimulutnya, bibirnya menerbitkan senyuman.
"Enak?" tanya Erik. Tiara membuka mata menoleh lalu mengangguk senang.
Erik terkikik menyapu sisa kue disudut bibir Tiara dengan ibu jarinya. "Syukurlah, makan yang banyak" ucapnya yang diangguki cepat Tiara.
Jika wanita lain akan terpaku sekejap dihadapkan dengan momen romantis itu, tidak dengan Tiara dia biasa saja. Bukannya tak berdebar hatinya, malah sekarang bagian dalam dirinya itu sudah marathon dibuatnya. Tapi dia pandai mengendalikan emosinya agar tak terlihat lawan bicaranya. Dan sekarang dia dengan lahap menikmati cheese cakenya.
Saat sedang menikmati makanan itu.
"Dikabarkan aktor yang tengah naik daun bernama Rimba Andreas telah meninggal dunia, setelah semalam dilarikan kerumah sakit dan dirawat beberapa jam. Pagi tadi ia menghembuskan nafas terakhirnya, belum diketahui penyebab meninggalnya dan pihak Agensi belum mengkonfirmasi......".
Gerakan Tiara ingin menusukkan garpu ke kue nya terhenti saat mendengar kabar tersebut. Ia mendongak fokus pada Tv yang menampilkan wajah pria itu. Bukannya merasa bersalah Tiara malah berdecih, ia yakin pria itu meninggal bukan karenanya. Luka luka yang diberikannya pada pria itu tak fatal dan bukan area vital. Dia tak tahu jika pria disampingnya lah yang menghabisi Rimba tanpa ampun.
"Lemah banget baru juga digores gores dikit udah K.O".
"Dia pantas menerima hukumannya" tambah Erik juga sama tak bersalahnya. Keduanya masih santai menikmati cheese cake didepannya.
*****
Hari ini ADC CORP terdengar sangat ramai tak seperti biasanya. Kabar bahwa Rimba telah meninggal dunia jadi perbincangan hangatnya. Tak terkecuali di team Tiara, semua anggota team nya tengah berwajah bingung dan tak percaya.
Tapi Tiara sendiri, dia masuk dengan santai dalam ruangan itu seperti tak terjadi apa apa. Wajahnya pun berekspresi seperti biasanya, datar juga dingin. Melihatnya masuk Ayu langsung mendekat.
"Mba Ara, tau nggak berita Rimba meninggal?" tanyanya.
Tiara sedikit melirik lawan bicara lalu kembali fokus menyalakan komputernya. "Tau" jawabnya sekenanya.
"Ayu heran deh kenapa Rimba bisa tiba tiba meregang nyawa padahal kan sebelumnya dia sehat sehat aja, Mba nggak penasaran?" tanya Ayu lagi.
"Nggak" jawab Tiara asal membuat Ayu sedikit sebal. "Aish Mba Ara nggak asik" selorohnya.
Tiara menghela napas lalu duduk menghadap Ayu. "Coba kamu pikir pantas kah jika kita membicarakan orang yang sudah masuk kedalam liang lahat, haruskah kita mencari alasan kenapa ia meninggal, itu semua urusan keluarganya kita hanya bisa sebatas berbela sungkawa bukan untuk mengomentarinya, jadi sekarang kembali fokus dengan pekerjaanmu saja" ucapnya panjang lebar.
Mendengar kalimat panjang dari senior didepannya Ayu mengerjap, menelan salivanya berat. Kepalanya mengangguk pelan. "Maaf" ucapnya sesal lalu kembali kekursinya. Sedang yang mendengarkan obrolan mereka berdua pun tercekat kemudian mengikuti langkah Ayu.
"Tiara kau dipanggil Pak Aditya" salah seorang karyawan masuk kedalam ruang kerja itu.
Tiara mendongak lalu mengangguk. "Baiklah sebentar lagi aku kesana" jawabnya. Setelah sebentar melihat pekerjaannya dikomputer, ia menoleh. "Yu, kalau Bang Gilang mencariku bilang saja aku diruangan Pak Aditya" pesannya. Ayu mengangguk mantap.
Tiara pun pergi keruangan Aditya dilantai yang sama tapi berbeda lorongnya. Ia sedikit mengangguk saat beradu tatap dengan sekertaris Aditya sebelum masuk keruangan Ceo itu.
Tiara membuka pintu di lihatnya Aditya tengah mondar mandir didalamnya, kemudian menutup pintu itu lagi. "Apa Pak Aditya mencari sa.....".
Grep.
Tiara mengerjap dengan tubuh memaku terkejut dengan Aditya yang tiba tiba langsung memeluknya erat. "Kak Adit kenapa?" tanya Tiara tak lagi memandang status pekerjaan.