Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.11



* Cinta tulus itu bukan 'Mencintaimu karena......


Tapi


'Mencintaimu meskipun......*


*


*


*


*


*


Sungguh bernasib sial Tiara kali ini harus berhadapan dengan penyanyi tak tahu diri ini. Mana pria bajingan ini pake peluk peluk pinggang lagi cari kesempatan dalam kesempitan emang.


Paksaan dari sang fotografer sebuah majalah terkenal yang tengah memakai Erik untuk sampul majalah mereka membuat Tiara harus menjadi model wanitanya. Heran juga Tiara pria itu kan penyanyi bukan model tapi kenapa jadwalnya hampir penuh dengan pemotretan, harusnya kan konser kek, nyanyi distasiun tv kek. Aneh, nggak beda sama Artisnya.


Dan sialnya keterpaksaanya bergaya didepan kamera bersama pria yang paling dibencinya itu adalah sang sahabat Mala. Model wanita harusnya diperankan oleh adik Aditya itu, tapi saat pemotretan sebentar lagi dimulai dia malah pergi seenaknya sendiri. Hingga menumbalkannya sebagai pengganti, karena katanya ia saja cocok.


Cocok dari mana coba, dari tinggi badannya sudah pasti agensi permodelan sudah menolaknya mentah mentah. Cantik???, standart aja sih. Jadi dimana cocoknya?.


Tapi tak tahu saja Tiara bagi semua orang yang menatapnya. Dia itu sosok wanita imut imut menggemaskan, pengen noel dikit tapi takut khilaf. Terlebih lagi untuk Erik, jika ia bisa mendefenisikan kata sempurna untuk seorang wanita itulah Tiara, satu satunya.


Oke kembali kekesalan Tiara.


"Lepas," geram Tiara sampai gertakan giginya terdengar ditelinga Erik. Karena posisi mereka sangat dekat dan romantis. Keduanya tengah duduk disebuah sofa dengan Erik menyudutkan tubuh mungil Tiara kesalah satu sisinya, pria itu juga memeluk pinggangnya dan merebahkan kepala pada bahu wanita itu.


"Sorry, I cant do it". Erik menjauhkan wajahnya bersamaan dengan tarikan pria itu pada pinggang Tiara yang sukses menubruk dada bidangnya.


"Kau!!!" Tiara coba melepaskan diri tapi ditahan Erik dengan santainya.


"Ra, senyum dong, liat kamera wajahmu terlalu kaku" pekik sang fotografer mulai kesal dengan gaya Tiara.


Tiara meniup poni tipisnya, menandakan dirinya benar benar kesal. Ia mendorong tubuh Erik lalu dengan cepat berdiri. "Kalian cari saja model lain aku lelah" ucapnya berani. Untung saja syuting untuk acaranya tengah istirahat jika tidak, bersikap begitu sudah dimaki maki dia oleh sang sutradara.


Tentu saja perbuatannya membuat sang fotografer kalang kabut sebab tak ada model wanita lagi. Tapi tidak dengan Erik, pria itu malah menikmati kekesalan Tiara dengan merentangkan kedua tangannya bersandar pada sofa yang didudukinya.


"Ah maaf, kamu pasti belum terbiasa yah maaf, tapi jangan pergi kita tak punya model lain lagi." mohon si fotografer melunak.


Tiara berdecih. "Itu urusan kalian, minggir".


Grep!!!!.


Mata Tiara reflek tertutup karena gerakan cepat yang terjadi barusan. Saat dia hendak melangkahkan kaki Erik dengan cepat menarik tangannya, hingga ia yang sedang memakai hels hilang keseimbangan. Terduduk manis dipangkuan pria tersebut.


"Jangan membuat mereka kesulitan, tinggal tersenyum saja apa susahnya sih?".


Tiara membuka mata, ini sudah kedua kalinya ia menikmati pangkuan pria gila ini. Ah bukan menikmati juga terpaksalah pokoknya, tapi kok males bangun yah. Ishh bego, umpat Tiara dalam hati.


Erik mengkode agar sang fotografer pergi memotret mereka kembali. Biar wanita keras kepala ini ia yang tangani.


"Senyum kau bilang?" Tiara berdecak sebal. "Aku benci melakukannya".


"Benarkah?".


Cup.


"Wah, Waren mencium wanita itu".


"Apa dia menyukai wanita itu?".


"Tidak itu hanya sebatas pekerjaaan, Waren terlalu baik untuknya".


Semua orang berbisik mengucapkan kalimat yang ada dipikiran mereka masing masing setelah melihat adegan mesra didepan mereka. Dan sang fotografer malah sibuk memotret pelaku adegan dengan senyum mengembang posenya benar benar akan menaikkan peminat majalah mereka nantinya, pikir pria berjenggot itu.


Sedangkan Tiara yang dicium dikeningnya lama oleh Erik malah menutup matanya, menikmati. Bukan lebih tepatnya ia seperti pernah mengalami hal ini, tapi....


Tiara mengerjap saat Erik melepas kecupannya, menatapnya tak terbaca tapi tersirat sebuah kerinduan disana. Wanita itu menyadarinya tapi tak tahu rindu itu tertuju pada siapa.


"Kau!!!" pekik Tiara tersadar menyentuh kening tertutupi poni tipisnya.


"Apa, mau lagi?" tawar Erik dengan senyum jahilnya.


Tiara tak lagi bisa menjawab, seluruh wajahnya memanas sejak tadi pria itu menyentuhkan bibir dikeningnya. Wanita itu cepat berdiri, dan sebelum pergi dia memberikan pembalasan untuk pria yang duduk manis didepannya ini.


Brukkk!!!!.


"Shhhhhh". Erik mendesis kesakitan saat Tiara dengan kuat menendang tepat ditulang kering betisnya. Sampai semua orang pun ikut berseru seolah ikut merasakan sakitnya.


"Rasakan!!".


"Are you ok, War?" tanya Jeje panik mendekat dan langsung mengularkan sebuah salep dari tasnya.


Erik hanya menjawabnya dengan gumaman, matanya masih melihat kepergian Tiara hingga wanita itu lenyap dibalik tembok sana.


*****


"Dasar kurang ajar, ngeselin, harusnya kusayat saja tangannya sejak kemarin, didiamkan dia malah semakin melunjak, lihat saja jika dia melakukannya lagi akan kubuat tangannya tak memiliki jari lagi!!!!".


Tiara mengomel didalam taxi online yang ditumpanginya, dengan tangan sibuk mengetikkan sebuah pesan permohonan maaf pada sang sutradara karena telah meninggalkan syuting yang belum selesai. Alasannya ada pekerjaan dikantor, padahal kesal pada Erik.


Berada satu lokasi dengan pria itu membuat darah Tiara naik, dan memilih pergi.


"Haishhh". Tiara menghentakkan kaki kesal. Kesal karena tak bisa apa apa. Jika dirinya seperti yang dulu sudah pasti pria itu sekarat ditangannya.


Entah kenapa baginya pria ini amat menjengkelkan, padahal Artis sebelumnya semenjengkelkan apapun dia bisa tahan. Bahkan dirinya pernah basah kuyup karena harus berenang mengambil benda yang dijatuhkan Artisnya dulu. Tapi tak sekesal ini juga ia bisa tahan, namun dengan Erik entah mengapa kekesalannya tak dapat ia tahan.


Rasanya kesal didalam hatinya sudah menggunung pada pria itu.


"Arrgghhhh".


"Maaf, saya lancang tapi anda kenapa Nona?" tanya sang driver dengan wajah khawatir.


"Jangan hiraukan aku, fokus saja pada jalan, tenang saja aku bukan orang gila" jawab Tiara acuh.


Sang driver berdehem takjub, kenapa penumpangnya ini tahu isi hatinya. Memilih percaya pada ucapan Tiara walau ragu dengan sikap gadis itu yang marah marah tak jelas membuat sang driver pria berumur sekitar empat puluhan tahun itu memilih fokus saja pada jalan didepannya. Kalau tiba tiba wanita dibelakangnya mengamuk kan tinggal telpon rumah sakit jiwa.


Tiba dikantor Tiara menaikkan sebelah alisnya heran, suasana tempat kerjanya ini kenapa jadi menakutkan. Wajah rekan rekannya juga amat serius terlebih lagi Gilang sang PD itu ekpresinya seperti akan menelan seseorang.


Tiara pun menaruh tas nya dimeja kemudian mendekati Ayu. "Ada apa?" tanyanya pelan.


Sebelum menjawab Ayu melirik kekanan kiri, menghela napas panjang. "Jo nggak sengaja menghapus semua file dikomputer, bang Gilang marah besar".


Tiara melirikkan mata kearah Jo yang tertunduk amat bersalah. "File apa memangnya?".


"File program acara lama yang tayang minggu ini".


"Kehapus semua?".


Ayu mengangguk lemah. Tiara mendesah panjang, dengan otak memikirkan jalan keluarnya. Ia mencoba mendekati Jo pegawai yang beda satu tahun dengannya itu.


"Kamu ada mentahannya?" Tiara tanpa basa basi bertanya menepuk pundak Jo yang langsung menolehkan kepala.


"Ada, tapi mustahil kalau harus diedit ulang lagi, waktu kita sampai lusa aja" jawab Jo pesimis, karena sebelumnya ia mengerjakan semuanya butuh waktu seminggu lebih.


"Tak apa berikan padaku, aku yang akan mengerjakannya".


Jo pun membulatkan mata atas ucapan Tiara. "Tapi, Mba Ara kan harus turun kelokasi syuting, belum lagi....."


"Jangan kamu pikirin, cepat berikan padaku" sela Tiara membuat mata Jo berkaca.


Setelah Jo mengirikan semua Video, rekaman, dan lain lain pada Tiara yang masih ori. Wanita itupun mendekati Gilang yang duduk memejamkan mata sambil bersandar dikursinya.


"Abang tidur, nggak tanggung jawab banget sama kerjaan, noh anak buah sampe keriting rambutnya stres semua".


Tegur Tiara, ya hanya dirinya saja yang berani mengawali percakapan pada sang PD yang jika marah sudah seperti menusukkan pisau kedada semua orang yang ditatapnya.


Gilang membuka mata. "Udah balik, syuting belum kelar kan?" pria itu malah mengalihkan pembicaraan.


Tiara melengos. "Udah jangan pusing, siapin aja buat hasil akhir lusa".


"Ra, kamu....".


"Ah udahlah, males aku liat muka abang begitu, mending ajak mereka makan makan dulu deh biar pada semangat kerjanya" Tiara berucap seenaknya lalu pergi kemejanya bersiap dengan kacamata dan menyalakan komputernya.


*****


Erik tersenyum senyum sendiri di ruang tengah penthousenya, sambil menikmati sekaleng soda ditangannya. Mengingat kembali kejadian siang tadi, bisa mengecup kening sang pujaan hati membuat hatinya berbunga sampai malam ini. Walaupun betisnya masih terasa nyeri.


"Wah gila gue rasa ni bocah" sindir Joker. Pria itu langsung duduk menempati sofa tunggal disamping kanan Erik.


"Puber kedua dia, nggak usah digangguin" tukas Ridan.


Erik melirikkan mata tajam. "Kenapa lo nggak kerumah sakit, Sisil nanyain Lo mulu".


Pertanyaan Erik pun membuat Aril dan Joker menatap Ridan bertanya. "Siapa Sisil?".


Keduanya memang belum tahu perihal wanita bernama Sisil adik Erik yang bertemu Ridan dimall waktu itu. Mereka tak pernah membahasnya didepan Aril juga Joker, bertemu pun apalagi.


"Peliharaan Ridan". Erik yang menjawabnya.


"Simpenan lo Kampret" elak Ridan tak terima.