
_Aku selalu berusaha tak menangis untukmu, karena setiap tetes air mata yang jatuh hanya semakin mengingatkan betapa aku tak bisa melepasmu_.
*
*
*
Tiara perlahan membuka matanya, ia mengerjap beberapa kali sebab cahaya matahari terlalu menyilaukannya. Ah, atau tidak bukan matahari tapi....., Erik?.
Mata Tiara membulat sempurna saat didepannya terpampang nyata wajah tampan berahang tegas itu tengah tersenyum padanya. Erik duduk disisi ranjang tengah menatapnya puas, sepertinya pria itu baru selesai mandi. Aroma mint dari sampo pria itu menguar hebat masuk keindra penciuman Tiara.
Tampan, manis, dan....., Rambut basah yang masih belum disisir itu membuat Erik bertambah...., Sexy.
Ah, tidak pikiran macam apa ini. Sejak kapan dirinya menganggap Erik adalah seorang pria tampan, dia itu kan pria gila.
"Sadarlah Tiara, sadar" hati Tiara berdialog. Ia mencoba menyadarkan diri kembali menatap Erik.
"Morning sayang" sapa Erik lembut sambil membelai rambutnya membuat semburat dipipi Tiara mulai menunjukkan warnanya perlahan.
"Morning" jawabnya tanpa sadar tapi sedetik kemudian. Tiara menepis tangan Erik kemudian segera duduk, matanya beralih kesana kemari asal tak pada wajah pria didepannya ini.
Erik tersenyum senang dalam hati Tiara sudah mulai sering merona karenanya, sudah sering salah tingkah dibuatnya dan sering moody jika berdua. Sungguh menggemaskan.
"Ka....., kamu, kapan kamu pulang?" tanya Tiara mengalihkan keadaan. Dia memang tak tahu jam berapa Erik pulang semalam, karena kesibukannya akhir akhir ini pria itu sering pulang larut atau menjelang pagi. Bahkan tak pulang sama sekali.
"Sekitar jam dua pagi" jawab Erik. Sambil ibu jarinya menyapu sekitaran ekor mata lalu kesudut bibir Tiara.
"Kenapa?" tanya Tiara aneh dengan sapuan Erik. Pria itupun tersenyum kemudian menggelengkan kepala.
"Pergilah bersiap lalu kita sarapan bersama, setelah itu aku akan mengantarmu bekerja" ucap Erik yang langsung diangguki Tiara.
Wanita itu pun beranjak dari tempat tidurnya berjalan ke kamar mandi tanpa ada protes dari bibir ranumnya. Tak seperti pertama kali dia disini, sekarang Tiara semakin jadi wanita yang penurut.
Dengan sifat barunya itu, Erik jadi semakin menyayanginya. Bahkan saat bekerja Erik jadi sering merindukannya. Kelelahan akibat pekerjaan tak lagi ia rasakan jika sudah dirumah melihat Tiara tertidur dengan lelapnya.
Dia sudah seperti mempunyai seorang istri yang menunggui suaminya pulang bekerja. Tak pernah disangkanya jika saat saat ini akan dirasakannya juga.
Ia bersyukur walaupun Tiara tak mengingatnya tapi wanita itu mengingat cinta mereka yang dulu sempat gugur sebelum berbunga. Dan walaupun Tiara belum menerimanya sepenuhnya tapi setidaknya wanita itu mulai melunak padanya.
"Kau membuat apa?" tanya Tiara saat melihat Erik tengah menata piring di meja makan dapurnya.
"Hanya sarapan ringan, sandwich dan susu hangat" jawab Erik.
Pria itu menarik kursi untuk diduduki Tiara, wanita itupun duduk disana setelah berterima kasih padanya. Sarapan pagi ala pasangan itupun dimulai tak ada yang istimewa atau seperti pasangan lainnya yang terkadang saling menyuapi. Mereka telihat menikmati hidangannya sendiri sendiri.
"Hmmm, kamu sudah tau kalau Gabriela bergabung dengan programku?" tanya Tiara basa basi tapi ingin juga melihat reaksi Erik.
"Iya, Roy sudah menceritakannya" jawab Erik jujur.
"Kau juga tau kalau wanita itu tergila gila padamu?".
Erik seketika mendongak menatap Tiara yang raut wajahnya sedikit berbeda. "Iya aku tau".
"Kamu tau!!" kaget Tiara suaranya tak sadar meninggi.
Erik mengangguk. "Dari pertama kali kami bertemu aku sudah tau kalau dia menyukaiku" jawabnya sekenanya. Karena memang itulah kenyataannya. Lagi pula tak hanya Gabriela, banyak wanita wanita sebelumnya yang mengincar dirinya. Tapi hatinya tetap tertuju pada satu wanita yaitu, Tiara.
Tiara melengos dalam hati lali berdiri cepat. "Aku sudah kenyang, ayo berangkat" ucapnya ketus.
Erik mendongak lalu melirik kearah piring Tiara yang makanannya tak berkurang banyak, bahkan mungkin hanya dua kali suapan yang sudah ditelannya. "Tapi makananmu masih banyak".
"Aku bilang aku sudah kenyang!!" sela Tiara lalu pergi dengan kaki menghentak.
Melihat kepergian wanita itu Erik yang semula berwajah bias terkikik geli karenanya. "Dia cemburu, imutnya" gumamnya lucu.
Sampai didalam mobil wajah Tiara masih juga seperti pakaian belum disetrika, lipatan tiga lapis terlihat jelas disana. Tangannya yang bersidekap dan tatapan yang selalu tertuju keluar kaca mobil membuat Erik menyadari jika sang pujaan hati benar benar kesal kali ini.
Tapi bukannya berniat minta maaf atau menjelaskan sesuatu, Erik malah memilih berdiam diri. Toh apa yang harus dijelaskannya, kenyataan jika ia tahu Gabriela menyukainya itu sudah jujur bukan. Lalu apa yang harus dijelaskan lagi.
Dengan sebelah tangannya Erik akhirnya membelai kepala Tiara. "Kau kenapa?" tanyanya pura pura tak peka.
Tiara menoleh, memicing lalu menepis tangan Erik dari kepalanya. "Memangnya aku kenapa?".
Tiara melengos. "Nggak tuh" jawabnya ketus.
"Oh kalau begitu baiklah" balas Erik lalu fokus kembali pada kemudinya. Tiara menoleh dan kembali sangat kesal karena sikap santai Erik.
Tapi tunggu dulu, Tiara menaikkan sebelah alisnya. Kenapa dia jadi begini, ada apa dengan kekesalan juga amarahnya pada pria itu. Kenapa saat ia tahu Erik dan Gabriela pernah bertemu mendadak hatinya terasa seperti terbakar.
"Kau cemburu bodoh" sargah Anita yang mulai kesal karena si pemilik tubuh bodoh sekali.
Tiara berdecih. "What, aku cemburu, mustahil" elaknya. Mereka bicara dari hati kehati.
"Kau sudah menyukainya, jadi untuk cemburu adalah tahap selanjutnya" tambah Anita.
"Hahaha, mustahil!!" elak telak Tiara.
"Hahaha, Tiara cemburu, cie cewek syco cemburu" ledek Anita.
"Diam kau!!!!" bentak Tiara tanpa sadar karena kesal digoda Anita. Dia seketika melirik kearah Erik yang nampak santai dan terkejut sama sekali dengan teriakan mendadaknya barusan.
"Kamu kenapa nggak kaget?" tanya Tiara heran.
Erik melirik dengan senyum tipis. "Untuk apa, aku sudah biasa melihatmu begitu, kamu pasti sedang bertengkar dengan Anita kan" tebaknya yang membuat Tiara tercengang.
Ternyata pria ini benar benar mengetahui semua kelebihan dan kekurangannya. Sampai ketitik kegilaannya sekalipun. "Kenapa kamu bisa tau?".
"Pokoknya aku tau" sela Erik dan Tiara terdiam.
"Sudah sampai" ucap Erik yang membuat Tiara sadar dari lamunannya.
Wanita itupun sigap memakai tasnya ingin segera keluar dari mobil, tapi Erik menahannya. Pria itu mengambil paperbag dijok belakang mobilnya lalu memberikannya pada Tiara.
"Ini apa?" tanya Tiara heran saat menerimanya.
"Bekal buatmu, tadi kau tak menghabiskan sarapanmu kan jadi bawa ini" jawab Erik.
Tiara terdiam sesaat berpikir dalam hati jika Erik benar benar memperhatikannya tapi mengingat sarapan, ia kembali mengingat Gabriela. Ah, sial seketika kesenangannya berubah hanya karena mengingat wanita menjengkelkan itu.
Cup.
Tiara tertegun dan kekesalannya kembali melayang ketika mendapat kecupan di kening dari Erik. Setelah mengecup agak lama pria itu memperbaiki helai poni depannya.
"Jangan berpikir macam macam, walaupun diluar sana ada banyak wanita cantik yang menyukaiku, aku takkan goyah karena hatiku akan tetap tertuju padamu, karena kau Keong menggemaskanku hanya milikku" ucap Erik tulus.
Tiara tercekat kalimat panjang Erik sudah menjelaskan semuanya dan sedikit membuat hatinya tenang. Tapi untuk apa dia merasa sebahagia ini, apa ini yang dinamakan jatuh cinta.
"Cih, untuk apa kamu menjelaskan itu padaku, aku tak butuh penjelasanmu, sudah aku mau pergi aku jadi terlambat karena kau!" Tiara salah tingkah keluar langsung dari mobilnya. Tanpa sedikitpun berbalik lagi wanita itu berjalan cepat masuk kedalam gedung.
Erik tersenyum lebar didalam mobilnya, mendesah panjang dibuatnya. "Aku juga mencintaimu, sangat" gumamnya.
*****
Tiara tak langsung menuju ruangannya melainkan berbelok ketoilet. Didalamnya ia berkaca menatap wajahnya yang sudah merona bukan karena blush on tapi karena perkataan Erik dimobil tadi. Dia kesal baru di ucapkan kalimat begitu saja semburat merah itu lancang menguasai wajahnya.
Tiara menepuk nepuk pipinya. "Hey hey pipi, kenapa kau jadi berwarna begini, sudah hentikan buat malu saja" gumamnya bodoh.
Setelah membasuh mukanya sejenak karena tak berhenti merona juga sedikit panas, Tiara keluar dari toilet dan langsung menuju ruangannya.
"Mba Ara dari tadi aku tungguin, ayo kita sudah terlambat" serobot Faris yang sudah gelapan sendirian sejak tadi.
Tiara yang baru sampai pun sedikit terkejut, sebelah alis dinaikkannya heran. "Kau kenapa memangnya kita mau kemana?" tanyanya.
Faris pun menarik nafas dalam lalu menjelaskan jika Gabriela mau bergabung dengan program mereka tapi mereka harus syuting tiap hari tanpa libur dari pagi hingga malam. Karena dia juga menjalankan harinya seperti itu, dia ingin program catatan hariannya selama sepuluh hari itu sempurna tanpa kekurangan.
Tak seperti artis biasanya yang terkadang tak ingin di tatap kamera dari hari kehari Gabriela malah menekannkan jika dia ingin setiap hari dan setiap kegiatannya.
Oh, ayolah apa kau tak punya privasi Gabriela.
Tiara menutup mata menghembuskan nafas panjang lalu memijat pelipisnya pusing. Untuk ini sudah hari ketiga jadi mereka akan menyelesaikan syuting segera. "Sekarang dia syuting dimana?".
"Di perumahan xxx, kru kita sudah menunggu disana" jawab Faris. "Ya sudah ayo berangkat" ucap Tiara tegas.