
*Yang kutakutkan bukan kau tak mencintaiku lagi, tapi ketika kau tau kenyataan pahit yang kusimpan selama ini*.
*
*
*
*
*
Aditya menyandarkan punggung pada sandaran kursi yang didudukinya tak tahu harus berkata apa, mendengar cerita panjang lebar Tiara sejak sejam lalu itu. Bahkan menyela sebentar untuk bertanya pun tidak, dia hanya mendengarkan dengan seksama mencermati isi cerita gadis yang berkisah sambil menitikan air mata dihadapannya.
Dan kenyataan bahwa Tiara seorang syco pun tak lagi dihiraukannya entah karena ia cinta atau tak lagi bisa berpikir lurus saat ini.
Usai bercerita Tiara melirik pada Aditya ia tersenyum menyedihkan. "Bahkan Kak Adit pun akan menjauhiku jika tahu kenyataan ini, pergilah kak, biarkan aku sendiri aku memang pantas untuk itu". imbuh Tiara pasrah dengan keadaan ini.
Tapi yang tidak di tahu Tiara, seorang Aditya sudah buta karena cinta tak memandang wanita itu seburuk apapun dia tetap menyukainya. Buta sebuta butanya.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu seperti ini sendirian, lagi pula kejadian itu bukan salahmu sepenuhnya" ucap Aditya menggenggam tangan dingin Tiara.
Tiara tertawa meringis. "Bagaimana itu bukan salahku, aku yang memegang pisaunya, aku yang.....".
Kalimat Tiara terhenti saat Aditya menarik tubuh lemasnya kedalam pelukan hangat pria itu. "Tidak bukan kamu, aku yang bilang, itu bukan salahmu" elaknya keras.
"Tapi...., Erik tak berpendapat sama, buktinya dia sekarang pergi, pergi lagi dariku" sanggah Tiara kembali menangis pilu, mengingat beberapa saat lalu ketika Erik meninggalkannya dengan kemarahannya.
Aditya terdiam sesaat namun kemudian membelai lembut kepala Tiara. "Jika dia pergi aku bersedia, bersedia menjadi tempat bersandarmu, bersedia menjadi penggantinya, hiduplah bersamaku Tiara" ucapnya serius.
Biar saja jika gadis itu menganggap dia modus, mengambil kesempitan dalam kesedihannya. Tapi memang inilah saat yang tepat untuknya, usaha dulu saja hasil kemudian bisa dipikirkan.
*****
Joker dan Ridan saling bersidekap dada memperhatikan tingkah kawannya yang duduk bersenang senang dengan dua wanita dikiri dan kanannya, tak lupa minuman yang terus ditenggaknya.
Sejak beberapa menit mereka datang Erik memang sudah seperti itu keadaannya, bahkan mereka datang pun tak disambutnya. Pria itu hanya sibuk dengan wanita dan minumannya.
Muak dengan sikap sang sahabat dan banyaknya botol yang sudah di habiskannya, Joker mengeluarkan beberapa lembar mata uang berwarna merah. Memberikannya pada dua wanita tersebut dan menyuruh mereka pergi. Ridan sendiri mendekat dan merebut gelas minuman yang akan ditenggak isinya oleh Erik dari tangannya.
"Sialan!!!" bentak Erik kesal minumannya direbut mendongak dan ingin memukul wajah Ridan, tapi untungnya otaknya masih sedikit bekerja bisa mengingat bahwa yang ada didepannya itu sang sahabat, lalu melirik ke arah Joker yang juga menatapnya.
Pria itupun kembali duduk bersamaan dengan helaan napas panjangnya. "Ngapain kalian disini?" tanyanya terusik karena menurutnya dia tak memanggil siapa pun kesini. Dia ingin sendiri.
Ridan ikut menghela napas duduk disamping Erik setelah menepuk pundak pria itu. "Gue tau lo prustasi, tapi bukan begini juga jadinya" ucapnya.
"Kata anak buah gue, Tiara udah ketemu terus ngapain lo disini?!" tanya Joker. Ridan menatapnya bertanya serius.
"Kalau emang Tiara udah ketemu, lo disini mabok nggak jelas ngapain be*o!!!" umpat Ridan yang memang belum tahu semuanya, Joker pun sama. Mereka bisa tahu Erik disini pun dari anak buah Joker.
Tapi yang ditanya diam saja hanya memejamkan mata dengan punggung tersandar di kursi, Ridan dan Joker pun tak ayal sedikit emosi melihat sikap Erik. Keduanya mengomel sudah seperti emak emak komplek tetangga.
Keduanya baru terdiam saat melihat kristal bening dari ujung mata Erik, pria itu terisak pelan terdengar lirih dan menyakitkan.
Ridan tercengang tak percaya. "Lo nangis Rik?" tanyanya.
"Karena Tiara atau karena omelan kita?" tambah Joker merasa bersalah.
"Tiara...," lirih Erik disela isakannya.
"Tiara kenapa?" tanya Joker semakin bingung.
Erik membuka mata lalu duduk tegap sembari mengusap kasar wajahnya. "Tiara yang membunuh Erina" lanjutnya dengan tangan perlahan terkepal.
Ridan dan Joker kembali tercengang sampai mata mereka takut untuk berkedip, tak percaya dengan apa yang dikatakan Erik barusan.
Dan yang pertama mengelak percaya adalah Joker, pria itu menggelengkan kepala kuat. "Nggak, nggak mungkin, Tiara????" ia tertawa mendengus.
"Sesycopat apapun Tiara, gadis itu tak mungkin melakukannya" tambah Ridan sama mengelaknya.
"Lo tau dari mana Rik, jangan percaya omongan orang lain kalau belum ada buktinya" Joker mencoba memberitahu.
"Lo pikir gue orang yang mudah dihasut?!" Erik malah membentak emosi. "Tiara sendiri yang mengungkapkannya, dia sendiri yang bilang sudah menusuk Erina dengan pisaunya!!" tambahnya.
Ridan dan Joker masih dilema. "Gue nggak pernah sekalipun menceritakan tentang Erina sama dia, bahkan gue punya adik selain Sisil pun dia nggak tau" terang Erik.
"Tapi waktu gue maksa nanya kenapa dia kembali jauhin gue, dia bilang dia yang bunuh Erina dia yang menusuk Erina".
"Dia sudah membunuh Erina dan untuk mencintai gue dia merasa bersalah, dia nggak bisa sama gue nggak bisa" tambah Erik.
"Lo udah pastiin Rik, bukan alasan Tiara aja kan?" tanya Ridan pelan.
"Matanya nggak bisa boong Rid, gue tau" jawab Erik.
"Karena itu gue...., bingung harus gimana, gue cinta banget sama dia, tapi dengan pembunuh Erina gue berjanji untuk membalaskan dendamnya, gue nggak tau harus apa sekarang".
"Kenapa harus Tiara, kenapa harus cewek yang gue cinta, Rid, kenapa??!!!!!" Erik kembali prustasi mengambil sebotol minuman dan langsung menenggaknya dari sana. Air mata pun tak kunjung berhenti dari matanya. Dia benar benar terluka, sampai....,
"Erik!!!!!".
Ridan dan Joker panik saat tiba tiba botol yang dipegang Erik terjatuh pecah, sedangkan pria itu sendiri melemah tak sadarkan diri.
*****
"Apa??!, Rumah sakit??, Kenapa ada apa dengannya?" tanya Tiara panik saat Aditya memberi kabar jika Erik masuk rumah sakit.
Ini adalah ekpresi Tiara yang pertama setelah kejadian dua hari lalu di villa. Sejak saat itu di Apartemen Aditya, Tiara hanya berdiam diri dikamarnya tak melakukan apa apa hanya tertidur dan sesekali bangun ditengah malam, memandang gelapnya langit dibalkonnya. Bahkan untuk makan pun Aditya harus sedikit memaksa.
Kenapa Apartemen Aditya, karena pria itu enggan meninggalkan Tiara di villa sendirian. Takut terjadi satu hal yang tak diinginkan, jadi dia membawa gadis itu ke apartemennya.
Tiara memegang kuat kedua lengan atas Aditya. "Kenapa Kak, Erik kenapa?" tanyanya lagi saat pria didepannya diam saja. Entah mengapa tanggapan Tiara atas pernyataannya membuatnya sedikit tak terima.
"Dia terlalu banyak minum minuman beralkohol" jawabnya seadanya, karena memang itulah kabar yang diterimanya dari Mala. Tapi kenapa pria itu sampai melakukan itu Aditya tahu, tapi tak menjelaskannya pada Tiara.
Mendengar kabar itu Tiara terduduk dipinggir kasurnya, merasa bersalah karena sudah membuat pria yang dicintainya menderita. Dan mungkin sudah menyimpan dendam untuknya.
"Semua ini salahku, salahku sudah membuatnya seperti itu, salahku, salahku!!" Tiara membenci dirinya bahkan memukuli kepalanya sendiri seperti orang gila. Yang terang saja Aditya menahan dengan memegang tangannya.
"Bukan salahmu Ra, ingat semua ini bukan salahmu, jangan menyalahkan dirimu sendiri" tenangnya.
Aditya berhasil menghentikan amukan Tiara sebab gadis itu mulai kembali diam, tapi yang tak ia tahu dalam hati Tiara amukannya semakin besar saja.