
_Cinta tak pernah gagal panen, tapi bahagia sedih dan kecewa itulah hasil permanen_.
*
*
*
Seperti hari hari sebelumnya proses pengambilan gambar selalu dilakukan bersama dengan syuting Gabriela. Dia hanya sesekali saja menyapa dikamera kru Tiara, lebih banyak disibukkan dengan perannya.
Mungkin kali ini penonton akan bosan menyaksikan program mereka karena hari hari Artisnya hanya bekerja dan bekerja. Tak ada yang istimewa apalagi bisa menjadi pengingat.
Saat semua sedang beristirahat makan siang, Tiara melihat jika lagi lagi salah satu kru nya dimanfaatkan Gabriela. Wanita itu memerintah dengan sesuka hatinya.
Tiara meninggalkan makanannya mendekat kearah keduanya. "Kemana dayang dayangmu, kenapa harus kru ku yang kamu perbudak".
"Terus siapa lagi dong, semua lagi istirahat, asistenku juga sedang membeli makanan untukku" jawab Gabriela songong.
Tiara melengos, menyuruh sang kru untuk beristirahat. "Apa yang kamu perlukan?".
"Charger ponselku tertinggal diruang make up" jawab Gabriela.
Tiara langsung berbalik, sebenarnya ia malas menuruti kemauan wanita menyebalkan itu. Tapi karena ia tak ingin berdebat untuk saat ini, terpaksa ia mengikuti.
Setelah Tiara pergi senyum licik diterbitkan Gabriela di wajahnya dengan tangan yang memutar mutar kabel charger dia terkikik menatap kepergian Tiara.
Dan tanpa perasaan janggal sedikitpun Tiara menuju sebuah gudang kosong besar yang disulap menjadi ruang make up, ruang ganti, dan ruang istirahat untuk para Artis dan staf. Hanya diset seperti bilik bilik dengan pembatas papan terples.
Tiara membuka pintu besar gudang itu hanya sedikit dan segera memasukinya mencari dimana ruang make up berada. Tapi saat sudah masuk belum juga melihat charger nya terdengar seperti suara pintu tertutup.
Wanita itupun keluar dari ruang make up dan mendekati pintu besar gudang itu tapi, sial. Pintunya tertutup dan sepertinya dikunci dari luar.
"Sial, siapa yang berani mempermainkanku begini" umpat Tiara emosi.
"Heiii, siapa diluar cepat buka pintunya!!!" teriaknya menggedor gedor pintu.
Tapi samar samar Tiara mencium bau yang sedikit menyengat ia mencoba mengingat bau apa ini. "Bensin!".
Tiara mengedarkan pandang mencari asal bau bensin itu tapi belum menemukan, tiba tiba api sudah menyambar entah dari mana. Dan terang saja dengan tanpa halangan api mulai menyebar diruangan itu. Bahan bahan mudah terbakar didalamnya membuat api dengan cepat membesar dan sepertinya gudang ini sudah disiram bensin sebelumnya.
Melihat api sudah tak bisa menjadi kawan lagi Tiara mencoba mencari jalan keluar dari ruangan ini. Awalnya ia mencari jendela atau fentilasi tapi di bekas gudang ini tak ada satupun terlihat yang ia cari.
Satu satunya jalan terakhir, Tiara mencoba membuka pintu secara paksa dengan segala cara sambil berteriak meminta pertolongan.
Ia berlari kesana kemari mencari apa yang bisa dipaai untuk mendobrak pintu atau menghancurkan tembok jika perlu. Tapi tak ada yang ditemukannya semua barang disini hanya keperluan untuk syuting saja.
Api semakin besar dan mulai menyebabkan udara terasa sesak karena asap yang berkumpul. Membuat Tiara terbatuk batuk walau sudah menutup hidungnya.
Tiara teringat jika dia membawa ponsel disaku longcoatnya, ia mencoba mencari sudut dimana api belum menyebar. Ia mencoba menghubungi seseorang tapi saat baru menekan tombol panggil ponselnya mati kehabisan daya.
Oh Tuhan apa ini, jangan bercanda ini dunia nyata bukan sinetron ciptaan sutdara. Kenapa kejadian yang dihadapinya saat ini sama persis dengan sinetron yang bertahun tahun lalu ditontonnya.
Tiara kembali mencoba menggedor pintu besar gudang setelah berkeliling mencari jalan keluar berkejar kejaran dengan api yang mulai memakan semua yang ia hinggapi.
Brak, brak, brak!!!!. "Tolong!!!!" teriak Tiara beberapa kali jika dihitung mungkin sudah puluhan kali sampai dadanya mulai terasa sesak karena asap, suaranya pun mulai memelan.
Sedangkan diluar semua orang panik melihat bumbungan asap keluar dari gudang itu, mereka yakin tengah terjadi kebakaran. Salah satu dari mereka sigap memanggil pemadam dan yang lain hanya berteriak meminta pertolongan tanpa ada yang berinisiatif memadamkan dengan cara apapun.
Dan beberapa lagi ada yang malah mengangkat ponsel, merekam dan mensharenya dimedsos. Miris.
Faris yang tak melihat dimana sang senior mencoba mencari ingin memberitahu jika gudang kebakaran, tapi tak kunjung mendapatinya. Saat mencari Faris melihat Gabriela berwajah syok ketakutan entah karena kebakaran atau hal yang ia sembunyikan.
Faris berusaha melewatinya tak berniat bertanya tapi wanita itu menghentikkannya. "Ada apa, ini bukan saat yang bagus untuk menjadikanku pesuruhmu!" gertaknya kesal. Sebenarnya sudah jauh jauh hari ia menahan emosi.
"Bu..., Bukan itu".
"Lalu?".
"Ti....., Tiara, Tiara ada didalam gudang itu" ucap Gabriela takut dan nyaris membuat Faris membelalakkan mata.
Ia menoleh melihat gudang yang mengeluarkan asap tebal itu. "Mba Ara!!!".
*****
"Kau tidak lihat kami sedang rapat, ada apa denganmu hah!!" bentak seseorang yang sedang presentasi.
Namun Gilang tak menggubrisnya, pria itu mendekat ke Aditya. "Gudang dilokasi syuting Gabriela kebakaran" ucapnya dengan napas satu dua.
Aditya terkejut dibuatnya tapi tak ada gerakan berarti darinya. "Apa kru kita aman?" tanyanya.
Gilang mengangguk. "Tapi....., Tiara ada didalam gudang terbakar itu sendirian".
Brak!!!!!. Aditya reflek bangkit sampai kursi yang di dudukinya terjungkal kebelakang. Matanya membulat sempurna dengan wajah merah padam. Beberapa orang disana pun terkejut dibuatnya.
"Tiara masih didalam gudang itu tak ada yang berani masuk untuk menyelamatkannya, orang orang disana berharap pada pemadam yang katanya belum datang" tambah Gilang.
Aditya melirik pada Gilang dengan tatapan sulit diartikan, ia menggeser kasar tubuh pria itu lalu berlari kencang meninggalkan semua orang yang tercengang.
"Tiara kumohon bertahanlah" gumam Aditya khawatir.
*****
Digudang.
Tiara sudah tak bisa berpikir lagi saat ini ia hanya bisa mencari sudut aman untuk dirinya menunggu. Menunggu seseorang yang akan datang menolongnya, tapi siapa entahlah. Mungkin takkan ada sepertinya.
Dada Tiara semakin sesak nafasnya mulai tak bisa dia atur, pandangannya pun mulai mengabur karena asap. Dilihatnya api sudah membakar semua yang menghalangi kobarannya.
"Tiara sadarlah jangan pingsan!" bentak Anita yang takut jika Tiara mulai kehilangan kesadarannya.
Tiara memang sosok wanita syco dan pemberani tapi menghadapi api yang tak sekalipun bisa dia lawan dengan sebuah pisau membuatnya tak berdaya.
"Tolong...". Niat ingin berteriak tapi nyatanya suaranya tak lagi bisa keluar, mata Tiara pun mulai tak kuat terbuka lagi.
Disaat kesadarannya mulai menipis dengan pandangan pun tak lagi bisa jelas, Tiara masih sedikit bisa mengenali ada sosok pria yang mendekati. Pria itu terlihat menghindari api dan beberapa benda yang terbakar juga kayu penyangga atap yang mulai berjatuhan karena segera akan menjadi arang. Pria itu juga terdengar seperti memanggil namanya.
Tiara mencoba mengangkat tangan sembari mengeluarkan suara memberitahu pria itu jika ia ada disana, tengah bertahan ditengah api yang mengililingi. Tapi nyatanya tak ada satupun gerakan dari tubuhnya.
Akhirnya mata Tiara tertutup sempurna saat pria itu sudah berdiri didepannya dan mencoba menyadarkan dengan menepuk pipinya.
"Ra bangun, bangunlah".
Pria itu menutupi tubuh Tiara dengan kain yang dibawanya dari luar, lalu menggendongnya ala bridal style. Mengedar pandang mencari jalan keluar yang paling aman sebelum api melahap habis tempat ini dan mereka berdua.
Begitu ada jalan pria itu mencoba melangkah sembari terus menghindari beberapa puing puing kayu yang sudah terbakar api dan berjatuhan. Juga menjaga tubuh mungil yang dibawanya agar tak terluka sedikitpun.
Tapi saat sudah mendekati pintu keluar karena kurang waspada, kayu besar penyangga atap jatuh dan,
Bugg!!!.
Pria itu sempat berjongkok dan melindungi Tiara dengan tubuhnya. Alhasil kayu itu menimpa tubuh belakangnya dan juga sebagian kepalanya. Untung saja dia sempat melihat kayu itu akan jatuh tapi untuk menghindar dia tak punya kesempatan. Sebab api sudah mengelilinginya, dia tak bisa berpindah ketempat aman.
Tiara juga saat itu bisa membuka sedikit matanya dan melihat apa yang terjadi, tapi hanya sekilas sampai ia menutup mata kembali.
"Shhhhh" pria itu sempat berdesis menahan rasa perih dibelakangnya setelah balok kayu itu terpantul dari tubuhnya dan
Tapi tak ada waktu kesakitan lagi, ia harus cepat segera keluar dari sini. Masih menahan rasa sakit dan juga sedikit limbung, pria itu sekuat tenaga kembali berdiri dengan menggendong Tiara.
Setelah perjuangan menghindari api, reruntuhan dan halangan akhirnya mereka bisa keluar. Dan langsung dihampiri orang orang.
"Oh ya Tuhan, akhirnya mereka keluar" seru seseorang.
Petugas kesehatan yang baru datang pun mendekat membawa ranjang dorong. Pria itu langsung meletakkan Tiara disana, saat Tiara diberikan pertolongan oksigen pun Pria itu masih berdiri disampingnya setia memegang tangannya.
Sedang pemadam yang datang bersamaan mengerjakan tugasnya, menyemprot gudang itu agar api tak lagi membara.
Dari jauh seorang pria berlari wajah paniknya terpampang nyata sekali. Menerobos kerumunan manusia yang melihat peristiwa kebakaran itu.
Dia tercekat menghela napas panjang saat melihat Tiara sudah ditangani dan pria yang ada disampingnya. Pasti pria itu yang sudah menyelamatkan Tiara.
Dia mendekat. "Erik, kalian tak terluka?" tanya Aditya khawatir.