
_Jangan pernah menjadikan seseorang prioritas, ketika bagi orang itu kau adalah pilihan_.
*
*
*
Sepeninggalan Aril dan Erik membuat Joker berdecih bukan karena ditinggalkan kedua sahabatnya, tapi karena harus mengurusi satu wanita yang dikenalnya sejak SMA.
"Rin," panggilnya.
Rin pun berbalik karena mendengar namanya dipanggil, ia mengernyit menatap pria tampan dan tinggi didepannya. Sepertinya pernah liat tapi dimana, pikirnya.
"Dimana alamatmu, aku antar kamu pulang".
Rin semakin memicingkan mata kala mendengar inisiatif pria didepannya, lalu ia berkata dengan kaki yang sudah tak seimbang lagi berdiri. Menunjuk tepat kewajah Joker. "Siapa Lo?".
Dan ucapannya itu membuat Joker berdecak. Lalu tanpa babibu lagi ia langsung menggendong Rin ala bridal style, mengabaikan rontaan dari wanita itu ia berjalan maju.
Joker memasukkan Rin kedalam mobilnya lalu memakaikan sefbelt untuk mengikat tubuh wanita itu agar tak terjatuh, karena sepertinya dari ketiga wanita tadi Rin lah yang mabuk parah.
Setelah itu Joker memutar setengah dan juga masuk kedalam mobilnya. Didalamnya ia bertanya lagi pada Rin akan diantarkan kemana tapi wanita itu malah terus mengoceh entah apa, Joker sampai pusing mendengarnya.
Sahabat Erik itupun memilih lebih dulu melajukan mobilnya setelah memberikan sebotol air mineral dimobilnya pada Rin. Joker kembali bertanya saat mobil sudah setengah jalan dan suara ocehan Rin tak lagi terdengar. Tapi belum bersuara ketika menoleh ia tercengang mendapati Rin tertidur nyenyak.
Akhirnya karena tak tahu harus dibawa kemana Joker membawa Rin keapartemen miliknya. Membaringkan tubuh lemah itu diranjang kamarnya.
Saat merebahkan tubuh Rin diatas kasur, Joker salah fokus melihat paha dan pundak Rin yang terekspos. Tanpa sadar ia menelan kasar salivanya, tubuh Rin yang nampak putih dan mulus layaknya porselin membuat desiran darah sang casanova menggebu.
Tapi Joker masih dalam kewarasan dan kesadaran normal. Sepenjahat kelaminnya dirinya tak akan menggagahi wanita baik baik, apalagi tanpa persetujuan sang wanita. Karena jatuhnya itu pemerkosaan dan akan berurusan dengan hukum. Joker tak ingin terlibat dengan hukum apalagi harus menodai gadis baik baik.
Joker lalu menutup seluruh tubuh Rin dengan selimut, tak ingin melihat sedikitpun lagi. Karena ia juga tak yakin akan sekuat apa iman ceteknya menahan godaan. Ia memilih pergi kekamar sebelah untuk tidur dan menuntaskan sesuatu yang tanpa diperintah sudah bangun dari tidurnya hanya karena melihat kulit mulus.
"Gara gara mereka aku harus bermain solo, sial!!!".
*****
Aril terus melajukan mobilnya dengan tatapan fokus kejalan raya, mengabaikan Mala yang mengoceh entah apa disampingnya.
Sejak ditarik pulang oleh Aril, Mala tak ubahnya berhenti mengoceh. Tapi saat tiba tiba terdengar isakan darinya reflek Aril menepikan mendadak mobilnya.
"Sayang, kenapa?" tanya Aril panik, memegangi kedua lengan Mala agar menghadapnya.
Mala tak kunjung menjawab ia hanya terisak sambil tangannya mengusap kasar wajahnya. "Hiks...., Hiks....,".
"Hey sayang, ada apa, kenapa menangis apa salah satu pria tadi menyentuhmu, biar kuberi pelajaran mereka!!".
Aril mengerutkan kening bingung saat Mala menggeleng. "Terus kenapa?" tanya Aril lagi.
"Aku menangis karenamu!!". Seketika tangis Mala terhenti, nada bicaranya meninggi disertai tatapan tajamnya pada Aril yang terkejut setengah mati.
"Aku?" beonya lirih.
"Iya kamu, kenapa kamu nggak jawab telfonku, kenapa nggak balas chatku, kenapa nggak menjengukku, kenapa kamu menghindar dariku!!!".
Aril bingung harus menjawab apa pada pertanyaan beruntun yang diberikan Mala. Jika dia menjawab karena ingin menenangkan diri sebab frustasi dengan pilihan sang gagal bakal istri ini, Mala pasti kecewa. Dia hanya bisa membeku.
"Kamu marah sama aku, iya!!!" ucap Mala kesal tapi air matanya tak berhenti keluar.
"Iya kamu pasti marah kan karena aku ngambil keputusan tanpa bilang dulu sama kamu, iya kan kamu marah kan!!!" tambahnya.
"Kalau mau ngangguk, ngangguk aja jangan pake geleng segala, nggak konsisten!!!" cerca Mala.
"Iya maaf semua memang salahku, aku yang egois nggak pernah ngertiin perasaanmu".
Aril menggeleng, membelai rambut panjang sang kekasih. "Jangan bilang gitu, bukan salahmu".
"Iya tapi salahmu!!!!". Mala bagai termakan omongannya sendiri, berkata Aril tak konsisten dia sendiri sama tak konsistennya. Tadi bilang semua salahnya, tapi sekarang salah Aril.
Jadi sebenarnya siapa yang salah, masa authornya sih. Iya juga sih kayanya karena authornya lambat update kan yahπππ.
Oke, oke kembali ke cerita.
"Iya aku salah" Aril mengalah. Meladeni seorang yang sedang mabuk sama saja meladeni orang gila, nyambung nggak pusing iya.
Mala bersidekap dada. "Iya emang!!".
"Terus kamu maunya gimana?".
Mala kembali sedih ekpresinya, tersirat luka dimata merahnya. "Aku tau aku egois, aku punya cita cita yang ingin kuwujudkan, tapi menikah denganmu adalah hal yang kuimpikan, seandainya kamu memaksa untuk menikah mungkin aku akan menerimamu dan membatalkan kontraknya, tapi kamu tidak pernah bertindak dan membiarkanku saja, sebenarnya kamu mau kita menikah atau tidak?".
Aril tercengang mendengar kalimat panjang lebar yang keluar dari hati Mala. Ia menyadari jika kalimat itu adalah kejujuran dari hati Mala, orang mabuk selalu mengeluarkan isi hatinya bukan.
"Aku kira kamu hanya mengulur waktu karena tak ingin menikah denganku".
Mala mendengus, memukul dada Aril sambil menyerukan kata bodoh untuk kekasih yang amat dicintainya itu. "Iya iya maafkan aku, kalau begitu secepatnya kita akan menikah". Aril membawa Mala dalam pelukannya menenangkan wanita itu sebentar sampai ia sadar jika Mala tertidur dalam pelukannya.
*****
Sedangkan ditempat berbeda tapi waktu yang sama Tiara mengeluarkan kepalanya dengan telunjuk menunjuk kearah langit. Ia menghitung bintang yang nyatanya tak ada sama sekali. Bahkan bulan pun tak nampak, malam ini langit benar benar gelap gulita tak sedikitpun memperlihatkan gemerlapnya.
"1 hug, 2 hug, 3 hug, 4 hug,.....li".
Hitungan disertai cegukan Tiara terhenti saat Erik menarik paksa tubuh mungilnya masuk kedalam mobil, dan menutup kaca jendelanya.
"Apa yang kau lakukan, kau mau kepalamu itu tertabrak mobil hah!?" tanya Erik kesal kembali mengendarai mobilnya.
Bukan kesal karena sikap Tiara tapi karena wanita itu tak menunggunya dan malah pergi keklub dengan pakaian yang membuat Erik geram sedari tadi. Apalagi semua mata pria diklub sudah melihat kemolekkan tubuhnya, Erik kesal setengah mati mengingat itu.
Tak kalah kesal Tiara juga membentak Erik. "Aku ingin menghitung bintang, kenapa kau mengangguku, lagi pula jalanan juga sepikan!!!". Jalanan memang sepi karena sudah lewat tengah malam.
"Berapa banyak kamu minum sampai tak melihat kalau tak ada satupun bintang yang muncul dilangit malam ini!!".
Tiara sesaat melirik keatas langit lalu menurunkan pandangannya, mengangkat jari dengan kening berkerut. "1, 2, 3, hug". Kemudian tertawa kecil. "Nggak tau, banyak pokoknya aku lupa" tambahnya.
Erik meremas kuat setir mobilnya, Tiara benar benar sudah mabuk. Sebenarnya berapa banyak minuman yang diminum wanita ini. Erik melirik sesaat pada wajah merona yang masih setia menghitung jari tangannya.
Erik tiba tiba menepikan mobilnya, membalikkan tubuh Tiara agar menghadapnya. Dia benar benar geram dengan keadaan wanita dihadapannya ini. "Kenapa kamu tak menungguku, kenapa kamu malah berpesta diklub itu?!". cercanya emosi.
Sesaat kedua mata itu beradu, netra abu gelap dan hitam itu seakan menyiratkan perasaan masing masing. Erik memandang Tiara dengan kesal dan kecewa sedang Tiara sendiri entah terbaca bagaimana sorot mata yang ditunjukkannya, Erik pun tak bisa menangkapnya.
"Karena aku tau menunggumu adalah satu keputusan yang akan membuatku menyesal" jawab Tiara tajam dan datar membuat Erik seketika terpaku.
*****
Maaf atas keterlambatan yang sangat sangat sangat ini.
Untuk semua para pembaca saya meminta maaf apabila disengaja atau tidak sudah menyakiti dan menyinggung kalian. Mohon maaf lahir batin semuanyaππππ
Kalau mau next banyakin jempol dan komennya yah, jangan lupa juga share ketemen temennya.