Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.73



*Terkadang pilihan terbaik datang saat kamu mulai pasrah dengan keadaan, tapi untuk memilih ya atau tidak juga terkadang perlu berpikir berkali kali lipat. Agar tak salah dalam mengambil keputusan*


*


*


*


*


Sebelum kedua pria berumur hampir kepala lima itu memutuskan untuk bicara pada Aditya dan Tiara, keduanya sudah sama sama berunding.


Melihat sang Putra amat mencintai Tiara dan setia dari SMA, Andi ingin menyatukan keduanya walau dengan sedikit memaksa. Begitupun dengan Hendri walau dia tau cinta sang putri untuk siapa tapi dengan masalah itu tak mungkin mereka bersama. Dan Aditya selalu ada untuk Tiara membuatnya setuju agar putri satu satunya itu bisa move on dan bahagia. Istri mereka pun menyetujuinya.


Dan disinilah saat mereka tengah makan bersama, permintaan atau tepatnya keinginan keduanya terlontar.


"Papa dan Om Hendri berencana ingin menjodohkan kalian, dan bulan depan acara pertunangan kalian akan dilaksanakan, apakah kalian bersedia?".


Aditya terpaku Tiara pun sama terkejutnya, keduanya terdiam tanpa bisa menjawab sepatah kata pun.


"Mama harap kalian setuju, Mama sudah pengen menimang cucu sebelum umur Mama habis" celetukan Nurmi membuat sang putri menoleh dengan tatapan sendu.


Pelan namun pasti Aditya yang duduk disamping Tiara menoleh pada wanita itu yang melakukan hal serupa. Sesaat keduanya bicara lewat mata.


"Sejujurnya aku setuju dengan perjodohan ini, aku sudah lama memimpikan menikah dengannya, tapi apakah dia menerimanya karena kutahu hatinya hanya untuk Erik saja, aku tak ingin pernikahan ini menyakiti dirinya sendiri, biarlah aku mengalah demi kebahagiannya" kata hati Aditya berbicara nyata dia akan menolak perjodohannya.


"Keputusanku adalah pilihanku".


Keduanya sama sama memutuskan pandangan dan mulai menjawab perlahan, yang lebih dulu Aditya. "Pa...Om..., Adit......",


"Aku mau menikah dengan kak Adit".


Seketika Aditya menolehkan kepala tak percaya bahkan tanpa mengedipkan mata menatap Tiara yang menjawab dengan tegasnya. Beda halnya dengan para Ibu yang sudah terharu begitu pula para Ayah yang mendesah lega. Semua orang bahagia.


Terkecuali seorang pria yang duduk tak jauh dari meja keluarga itu. Mendengar kata perjodohan saja sudah membuat petir saling bersahutan dalam pikirannya, apalagi saat Tiara menjawab, Ya. Seribu anak panah meluncur cepat kejantungnya.


Erik reflek memecahkan gelas yang ada ditangannya sampai Sisil gelapan dibuatnya mengambil tisue untuk menutup luka ditangan pria itu.


Ternyata kebetulan Sisil, Ridan dan Erik makan malam ditempat yang sama. Karena tak ingin sang kakak pergi ke bar Sisil pun membawa Erik ikut makan bersamanya setelah pulang dari syuting.


Tak tahunya keluarga Aditya dan Tiara datang saat mereka mereka memesan makanan. Tapi ketiganya hanya diam tak menyapa walau tahu kedua keluarga itu ada. Terlalu ambigu jika mereka saling sapa dengan masalah yang ada.


Aditya dan Tiara pun tak melihat mereka karena tempat duduk mereka saling membelakangi dan agak sedikit berjarak juga.


Awalnya Ridan dan Sisil berusaha cuek begitupun Erik, bahkan mereka sibuk mengobrol masalah pernikahan keduanya. Tapi saat meja sebrang membahas masalah yang sama membuat telinga Erik menajam tiba tiba.


Melihat tangan sang kakak mengeluarkan banyak darah walau sudah ia tutup dengan tisu bahkan sapu tangan Ridan, Sisil berdiri membawa Erik yang terdiam dengan wajah tak terbaca pergi. Sedang dimejanya keluarga Aditya dan Tiara saling menukar kebahagian.


*****


"Kalau mau nanya nanya aja, nggak usah ngelirik lirik gitu" ucap Tiara tiba tiba saat dalam mobil Aditya perjalanan pulang ke apartemen pria itu. Sedangkan orang tua mereka sudah kembali kemansion Prakasa, Nurmi dan Hendri menginap disana. Kenapa Aditya dan Tiara tak menginap disana juga, sebab besok pagi pagi sekali harus bekerja. Hari ini mereka sudah bolos bersama, tak mungkin besok begitu juga. Apartemen Aditya juga lebih dekat kearah kantor ADC Corp soalnya.


Aditya berdehem sungkan kedapatan mencuri lirikan, menggaruk leher belakang pun ia lakukan untuk melunturkan kecanggungan. "Iya" jawabnya pelan.


"Kakak mau nanya," ucap Aditya kemudian terdiam sesaat, "kenapa kamu menerima perjodohan itu?". tambahnya bertanya.


Tiara menolehkan kepala bertatapan langsung dengan Aditya, pertanyaan ini memang sudah diterkanya sebelumnya. Tapi mendengar langsung dari Aditya kenapa hatinya terasa berbeda.


"Kita sudah lama banget kenal kak, masalah perasaan kak Adit ke aku pun udah bukan rahasia lagi," Aditya menoleh melirik Tiara yang bicara dengan kepala masih menunduj itu.


"aku aja yang bodoh karena selama ini selalu mengabaikan kakak, kak Adit yang selalu perhatian sama aku, yang selalu ada untukku, maaf membuat kakak lama menunggu, kini aku siap berada disisimu" tambah wanita itu mendongak lalu tersenyum padanya, Aditya terpana.


Hatinya saat ini berdegup dengan kencangnya, mendapat pengakuan dan penerimaan dari Tiara benar benar membuatnya bahagia. Tapi bukannya tak sadar ia tahu semua perkatan Tiara benar tapi tidak dengan 'aku siap berada disisimu'. Wanita itu mengatakannya dengan hati terpaksa terluka karena seorang Erik Wijaya.


Aditya tertawa kecil, Tiara mengernyit. Pria itu mengelus kepalanya. "Aku bukan sehari dua mengenalmu Tiara, aku sudah tahu bagaimana dirimu sepenuhnya, jika kamu terpaksa aku bisa bicara dengan Papa untuk membatalkannya saja, aku tak mau kau terluka".


Mendengar itu Tiara cepat menggelengkan kepala. "Aku tulus menerima perjodohan itu, aku tak selemah dulu kak menjadikan kakak sekongkolan untuk menjauhi pria itu, kali ini aku serius aku ingin berada disampingmu".


Lagi lagi Aditya tercengang tak percaya bahkan sampai mengerem mendadak mobilnya. Pria itu menarik tangan Tiara untuk dia tempelkan kepipinya sendiri, berharap ini bukan mimpi. "Ka..., Kamu serius Ra?" tanyanya memastikan sekali lagi.


Tiara menganggukkan kepalanya. "Kalau sudah begini aku tak bisa mundur lagi, mengalahpun aku tak mau" ucap Aditya. "Iya kak" jawab wanita itu membuat Aditya menariknya kedalam pelukan. Berterima kasih berkali kali.


"Maafkan aku kak, tapi hanya kau yang bisa mengalihkanku dari rasa kehilangannya, maaf telah memanfaatkanmu".


*****


"Arggghhhhhh..........".


Bruak!!!!.


Prank!!!.


"Kenapa...., Kenapa!!!!!".


"Kak Erik...., tolong berhenti...., sudah kak sudah....." Sisil menangis di luar pintu kamar Erik yang terkunci itu.


Pria yang saat dimobil sudah beraura kelam itu langsung masuk kekamarnya dan sepertinya tengah mengamuk disana. Tak membukakan pintu untuk siapa pun yang mengetuknya. Membuat semua orang termasuk Ayah dan Ibu sambungnya panik, Ridan pun sama bahkan pria itu sampai menelpon Joker dan Aril sangking bingungnya.


"Ini tidak adil....., Aku benci aku benci padamu Tuhan!!!!".


Erik terdengar semakin mengamuk saja dalam kamarnya. Suara pecahan, lemparan dan barang barang yang dihancurkan pria itu semakin menjadi saja, tak ayal membuat Sisil menangis histeris dipelukan Ridan. Ibu sambung Erik pun melakukan hal yang sama pada sang suami, taku terjadi apa apa pada putra sahabatnya ini.


Tak lama Joker dan Aril datang dengan panik bersamaan dengan Roy yang juga sudah dipanggil oleh Wijaya. "Ada apa?" tanya Joker pada Ridan.


"Tiara" jawab pria yang setia menenangkan tunangannya itu.


Joker mendesah lalu mengetuk pintu Erik kuat. "Rik lo nggak bisa gini Rik, lo bakal ngelukain diri lo sendiri" teriaknya.


"Rik jangan begini Ayah mohon" tambah sang Ayah.


"Biar saja..., Biar aku mati sekalian aku lelah dengan semua ini aku lelah!!!" teriak Erik dari dalam kamarnya membuat semua orang semakin panik saja.


Setelah mengatakan itu tak ada suara apapun lagi dari dalam kamar Erik, hening. Tapi keheningan itu malah semakin membuat semuanya khawatir.


"Kita coba dobrak pintu ini" usul Joker. Aril menyetujui Ridan pun sama melepaskan sebentar Sisil untuk membantu sahabat sahabatnya itu. Dab setelah meminta ijin pada Ayah Erik, mereka pun bersamaan mendobrak pintu kamar pria itu.


"1, 2," dua kali percobaan dan berhasil.


Yang lebih dulu berlari adalah Sisil melihat banyak darah dilantai kamar, ia cepat menuju Erik yang terduduk disisi ranjang yang sudah hancur itu.


Gadis itu semakin jadi tangisnya saat melihat sang kakak terdiam dengan banyak darah ditubuhnya.


"Erik!!!".