Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.33



_ Memperjuangkan itu mudah, tapi mempertahankan butuh kekuatan yang besar_


*


*


*


Tok, tok, tok.


"Masuk" ucap Roy saat suara ketukan terdengar dari luar ruangan. Tak lama seorang wanita berpakaian formal muncul dari baliknya.


"Nona Gabriela sudah datang Pak" ucapnya memberi kabar.


Roy mengangguk. "Suruh dia masuk dan juga suruh Ob membawakan minuman" perintahnya.


"Baik Pak". Setelah sekertaris Roy itu pergi, seorang wanita bertubuh tinggi standart model dengan dress mini pas body pun masuk kedalam ruangan Erik, diikuti asistennya.


Wanita berparas cantik dengan kacamata bertengger dihidung mancungnya itupun tersenyum saat sudah melihat dua pria tampan didepannya.


"Selamat datang Nona Gabriela di agensi kami" sambut Roy ramah yang langsung menghampiri dan mempersilahkan wanita bersurai panjang itu duduk disofa dalam ruangan tersebut.


"Terima kasih, sambutannya" jawab Gabriela dengan nada lembutnya. Ia pun duduk diikuti sang Asisten.


Roy ikut duduk disofa tunggal, mengobrol basa basi dengan Gabriela. "Panggil iel saja" sela Gabriela saat Roy terus memanggilnya dengan sebutan Nona.


Roy tersenyum miring bukan karena ucapan nan lemah lembut dari Gabriela tapi karena mata wanita itu sedari tadi tertuju pada Erik, yang masih sibuk dengan ponselnya.


Roy menoleh, berdehem mengkode Erik agar menatapnya. Tapi Erik mengabaikannya. "War, bisakah kau lepaskan ponselmu sebentar, kita sedang ada tamu" ucap Roy lembut tapi tersimpan nada geram didalamnya Erik yang mendengar tahu itu.


Erik melirik sesaat pada Roy, lalu kearah Gabriela yang tersenyum amat manis padanya. Tapi Erik tetap saja dengan wajah datarnya, tak terpesona sedikit pun malah kembali memainkan ponselnya sambil berkata. "Dia tamumu bukan tamuku" katanya ketus.


Gabriela tertawa kecil, saat Roy melirik tak enak hati padanya. "Maafkan Waren, dia sedang badmood"


"Tidak apa, dia pasti lelah karena jadwal yang sibuk, aku bisa mengerti" jawab Gabriela. Padahal dalam hatinya. "Sialan dia mengabaikanku, tapi aku semakin menyukainya".


Erik berdecih dalam hati. Sedang Roy malah makin terpesona dengan sikap manis sang Aktris. "Wah, kau ternyata pengertian sekali" pujinya.


"Ah, biasa saja" jawab Gabriela malu malu sambil menyelipkan helai rambut kebelakang telinganya.


"Akting yang bagus" ucap Erik dalam hati.


Selanjutnya obrolan mengenai pekerjaan pun berlangsung lancar antar Roy dan Gabriela tanpa ada suara sedikitpun dari Erik. Sampai beberapa jam berlalu.


"Sudah pulang, keong?".


"Kau kira aku binatang, lima menit lagi". Erik tersenyum mendapat balasan dari Tiara setelah menunggu beberapa menit saja. Dan senyum tampan itu terlihat amat jelas oleh Gabriela yang semakin terpesona dengannya.


"Oke, aku akan menjemputmu, ingat tunggu aku baby".


"Aku bukan binatang apalagi babi, cepatlah sepuluh menit kau belum juga sampai akan kupenggal kepalamu!!!".


"86, my beautiful syco".


Erik segera berdiri dari kursinya berjalan kearah pintu tanpa menghiraukan Roy juga dua tamunya. "War, mau kemana?" tanya Roy bingung.


"Menjemput wanitaku" jawab Erik santai.


"Tapi tamu...".


Erik berbalik. "Sudah kubilang dia tamumu, bukan tamuku, jadi kau saja yang urus, aku pergi" selanya, kemudian pergi begitu saja tanpa mendengarkan teriakan Roy.


Roy mendesah kesal didalam ruangan. "Anak itu".


"Apa Waren sudah punya kekasih?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir tipis Gabriela yang terkejut mendengar jawaban Erik barusan. Sedikit rasa kecewa menghampiri hatinya.


Roy tertawa lemah. "Iya" jawabnya jujur. Sedangkan Gabriela bersumpah dalam hatinya. "Aku akan merebutmu dari kekasihmu, bagaimanapun caranya hanya aku yang akan menjadi kekasihmu" ucapnya dengan tangan terkepal.


*****


"Mba Ara, kita duluan yah" pamit Ayu dengan rekannya yang lain.


Tiara menoleh sebentar mengalihkan fokusnya dari komputer, tersenyum kecil sesaat sambil menganggukkan kepala. "Hati hati".


Setelah itu Tiara kembali fokus dengan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Mengetik beberapa kalimat dan mencetaknya. Menyusun beberapa lembaran kertas, ia pun bersiap pulang.


Sesaat ia memeriksa ponselnya, membaca ulang pesannya beberapa menit lalu dengan pria pengganggu kehidupan tenangnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Erik.


"Dasar pria gila" umpatnya memasukkan ponsel kedalam tas ranselnya, tanpa melepaskan kacamata yang masih dipakainya.


Setelah mematikan komputer juga memeriksa mejanya, siapa tahu ada yang tertinggal disana. Tiara berjalan keluar dari ruang kerjanya, menuju lorong dan memasuki lift karyawan.


Sesampainya dilantai satu loby, Tiara keluar dari lift dan berjalan keluar gedung.


"Kamu mau pulang?". Tiara berbalik kemudian tersenyum cantik pada Aditya yang melangkah kearahnya.


"Iya, Kak Adit juga mau pulang?" tanya Tiara saat kakak Mala itu sudah berada disampingnya.


Aditya menggeleng. "Kakak ada pertemuan dihotel dengan rekan bisnis" jawabnya. Tiara mengangguk.


Mereka berjalan keluar loby bersama. Aditya mengecek jam tangannya sebentar, sambil berkata. "Kamu mau pulang, kakak bisa mengantarmu sebentar" tawarnya.


"Eh, anu kak....".


"Dia pulang bersamaku". Tiara dan Aditya menoleh saat suara berat seorang pria menyela perkataan Tiara.


Dejavu, pikir ketiganya saat itu.


Erik berjalan dengan tangan ia masukkan ke saku long coatnya. Tiara memutar bola matanya jengah, sedang Aditya melirik pada Tiara. "Kukira tadi kamu pulang sendiri, ternyata sudah ada yang menjemput" ucapnya.


Mendengar kata kata Aditya, Tiara menoleh dengan tatapan merasa bersalah. "Maaf ya Kak".


Aditya tersenyum mengacak pelan puncak kepala Tiara. "Kenapa harus minta maaf, aku malah bersyukur karena ada yang menjemputmu, kalau begitu kakak duluan ya".


Tiara menganggukkan kepalanya. "Jaga dia" pesan Aditya pada Erik yang sudah berdiri tepat disamping Tiara. Sorot matanya nampak setajam elang.


"Tak usah kau suruh aku pasti menjaganya".


Aditya pun melangkah pergi setelah tersenyum sebentar pada Tiara. "Hati hati kak" seru wanita itu saat Aditya memasuki mobilnya.


Setelah mobil Aditya menjauh pergi. Tiara menoleh dan memicingkan matanya saat Erik menyapu kepalanya dengan telapak tangan besarnya. "Huft, huft" bibir sexy nya meniup niup kepala Tiara.


Saat melihat Aditya mengacak rambut Tiara tadi, Erik merasa kesal sekali.


"Apa yang kamu lakukan?".


"Menghapus jejak seseorang" jawab Erik sekenanya.


Tiara menepis tangan Erik. "Kenapa harus dihapus?".


"Masih bertanya, tentu saja karena dia berani menyentuhmu, hanya aku yang boleh menyentuhmu" jawab Erik kesal.


Tiara memutar bola matanya. "Hanya kau, kau bilang, memangnya kau siapaku, posesif sekali".


Erik mendesah tak percaya dengan perkataan Tiara. Lagi lagi ucapannya yang seperti itu bisa membuat Erik diam membeku, tidak dulu dan sekarang.


"Kenapa dia terus mempertanyakan status diantara kami, apa sikapku selama ini belum cukup untuk menunjukkan hal itu?".


"Hey pengamen, mau pulang tidak" teriak Tiara yang tiba tiba sudah berada dalam mobil. Erik berdecak sebal dibuatnya.


Disaat hampir semua wanita didunia ini mengidolakan dan menjadikannya sebagai kriteria calon suami mereka. Tapi Tiara malah menganggapnya pengamen, dan sekarang wanita itu menganggapnya sebagai supir.


"Cepat jalan, aku mau istirahat hari ini aku lelah sekali". titah sang majikan tak tahu diri.


Erik mendesah tak percaya. "Kau beruntung aku tak mengikuti emosiku, jika tidak sudah ku lahap bibir cerewetmu itu".


*****


Tiara mengernyit, menoleh kekanan kiri saat dirasanya mobil Erik tak menuju gedung Apartemennya. Dan malah masuk kekawasan pusat perbelanjaan.


Tiara masih enggan bertanya saat Erik memarkirkan mobilnya, lalu memakai masker hitam, kacamata, juga topi dengan warna yang senada. Erik keluar dari mobil, setengah memutar lalu membukakan pintu untuk Tiara. Tapi wanita itu masih diam saja didalamnya menatap Erik bertanya.


Erik mengulurkan tangannya. "Ayo" ajaknya.


Tiara memicing. "Mau kemana?" tanyanya.


Erik melengos. "Belanja" jawabnya sekenanya.


Tiara mengernyit. "Belanja apa, untuk siapa, dan untuk apa?".


Erik mendesah, lalu menarik tangan Tiara. "Jangan banyak tanya, ikut aja apa susahnya".


Dijalan masuk kedalam mall Erik terus menggenggam tangan Tiara yang sibuk menoleh kekanan dan kiri. Sudah lama dia tak berjalan ke mall seperti ini atau belum pernah sama sekali ya, dalam sepuluh tahun belakangan ini. Pikirnya.


Mereka berjalan sudah seperti sepasang kekasih atau malah sudah seperti pasutri, karena sekarang sebelah tangan Tiara menggenggam kuat lengan long coat Erik.


Bukan karena apa, Tiara tak suka berada dikeramaian selain kantornya. Apalagi semua mata seperti tertuju pada mereka. Dan Erik menyadari perubahan sikap wanita disampingnya.


"Kenapa?" tanya Erik lembut dari balik maskernya.


"Aku tak suka diperhatikan" jawab Tiara sekenanya. "Aku merasa diintimidasi" tambahnya jujur.


Erik melirik keberbagai arah, benar mereka tengah diperhatikan. Ia tersenyum dari balik maskernya, tangannya langsung merangkul tubuh mungil Tiara agar menempel padanya. Pria itupun berbisik ditelinga Tiara.


"Kamu ingat jika sedang bersama seorang penyanyi terkenal, jadi biasakan dirimu mulai sekarang".


Tiara menoleh berdecih. "Memang mereka mengenalimu dengan masker dan kacamatamu itu, bukannya penyanyi mereka malah menganggapmu orang gila" oloknya.


Erik tertawa. "Jika kubuka penyamaranku, bukan aku yang gila tapi mereka semua karena penyanyi idola mereka ada disini" jawabnya penuh percaya diri. Tiara hanya memutar bola matanya jengah.