
_Bukannya hati ini tak merasakan SAKIT, bukan pula hati ini tak HANCUR, bukan juga hati ini tak merasakan PERIH. Namun KEPASRAHANLAH yang selalu mengiringi_.
*
*
*
Beberapa hari setelah kegiatan romantis diruang pribadi Erik, Tiara seolah menghindar dari pria tersebut. Bukan menghindar yang ekstrem sampai tak ingin bertemu tapi lebih ke jika berdua Tiara tak mau bertatap mata, lebih banyak diam dan lebih sering mencari alasan yang tidak tidak jika Erik mendekat.
Dan dengan sikap Tiara itu alhasil membuat Erik berfikir ada apa dengan wanitanya. Apa karena kejadian diruang musik, tapi apa salahnya jika mereka melakukannya bukankah mereka sepasang kekasih. Itu hal lazim bukan terlepas dari ajaran agama.
Tapi Erik tak sekalipun bertanya sebagai seorang kekasih dia harus memberi ruang untuk Tiara berfikir entah apapun itu yang tengah dipikirkannya. Jika wanita itu memang ingin mengatakannya dia akan bicara sekalipun ia tak bertanya.
Saat ini Erik hanya ingin berfikir positif.
*****
Malam ini Erik kembali menjemput Tiara seperti biasa dikantornya, jadwal yang tak begitu lagi padat setelah menyelesaikan satu album membuatnya leluasa bergerak diluar. Terutama dalam hal jemput menjemput sang kekasih.
Setelah menghentikan mobilnya tepat didepan gedung ADC, Erik mengambil ponsel disaku jasnya. Kebetulan hari ini tadi dia ada pertemuan penting yang mewajibkannya bersetelan ala CEO.
"Sayang, aku sudah dibawah" kirim Erik pada Tiara lewat sebuah chat.
Sesaat Erik menunggu usai mengirimkan pesan itu. Ia mengembangkan senyum melihat Tiara yang muncul bersama rekan rekan kerjanya tapi saat melihat ada Aditya juga disana seketika lunturlah senyum Erik.
"Kenapa dia selalu berada disekitar Tiara sih" rutuk Erik.
Hello...., tak sadarkah kau Erik Wijaya jika kekasihmu itu bekerja diperusahaan milik keluarga Prakasa. Dan Aditya termasuk dalam keluarga konglomerat itu.
Melihat Tiara sudah mulai mendekat Erik segera keluar dari mobilnya, melangkah menghampiri wanitanya. Seketika itu pula rekan kerja Tiara dan beberapa orang terutama wanita memekik tak percaya melihat seorang Waren Royse berada disana.
Terlebih lagi dengan setelannya yang tak biasa. Karena Erik terkenal dengan kemalasannya menggunakan jas, bahkan bila itu untuk konser. Malah jika sedang pemotretan saja Erik akan segera melepas jasnya bila pekerjaannya sudah selesai. Dan sekarang karena waktunya yang sempit Erik tak berganti pakaian dan langsung menjempt Tiara.
"Bukankah dia Waren Royse?" bisik seorang wanita.
"Dia semakin tampan dengan jas itu".
"Dia sudah seperti CEO dalam cerita novel".
Mereka semakin terperangah kala Erik sudah berdiri berhadapan dengan Aditya yang berdiri disamping Tiara. Mata para wanita semakin dimanjakan dengan pemandangan tersebut.
Aditya, CEO tampan bertubuh tinggi dibarengi sikapnya yang selalu ramah, calon suami impian para wanita. Sedang Erik, penyanyi idola berwajah dingin tapi amat tampan dengan mata monolid abunya selalu membuat para fans nya bermimpi menjadi istrinya.
"Mataku tak bisa berkedip" celetuk rekan kerja Tiara.
"Apakah ini surga orang tampan?".
Tiara memutar bola mata jengah mendengar ungkapan hati beberapa teman kerjanya yang menurutnya berlebihan itu. Biasa aja bisa nggak sih, toh mereka nggak ganteng ganteng amat.
Oh, Tiara please.
"Kau disini?" sapa Aditya basa basi.
"Hmmm, aku ingin menjemput kekasihku" jawab Erik sekenanya.
Tapi membuat mata Tiara melotot tajam sedang yang lain tercengang nyaris menjatuhkan mulutnya kebawah lantai jika ini cerita sebuah komik. Dan seorang Aditya hanya bisa tersenyum kecut.
"Kekasih?, apa?, Siapa?" pertanyaan itu saling bergantian keluar dari bibir orang orang yang disana.
Tiara masih menajamkan sorot matanya tapi Erik menatapnya tanpa berdosa. "Ayolah, Erik kenapa kau harus mengatakan hal itu disini?!!!".
Tiara mengedipkan mata mengkode agar Erik mengalihkan perhatian dengan melakukan apa saja, tapi seorang Erik malah salah menangkapnya.
Dengan santainya dan tak perduli akan tatapan semua orang Erik menggenggam tangan Tiara lalu menariknya kesampingnya. Lantas merangkulnya untuk memamerkan jika wanita ini adalah kekasihnya, bukan pada semua orang tapi pada Aditya.
Tiara memejamkan matanya sangking kesalnya sedang Erik tersenyum manis menatap Aditya. Dan orang orang yang ada disana tentu saja menatap tak percaya bahkan takut untuk berkedip karena tak mau kehilangan momen langka tersebut.
"Dia kekasih Waren?".
Erik mengernyit menahan sakit lalu menoleh menatap sang kekasih yang ternyata sudah melancarkan cubitan maut kepinggangnya. "What?" ucapnya berbisik.
Tiara melambaikan tangan menyuruh Erik menunduk sedikit dan pria itu menurutinya. Melihat itu membuat Aditya membuang wajahnya asal.
"Kau ingin membuat berita besar, lihat saja besok berita ini akan jadi pencarian nomor pertama disosmed" ucap Tiara geram.
Dan jawaban Erik semakin membuat Tiara ingin meninggalkan bumi ini sekarang juga. "Biarkan saja".
Erik terkikik mendapati tatapan permusuhan yang ditujukan Tiara, dia malah mengacak puncak kepala wanita itu sangking gemasnya.
Karena tak ingin berlama lama dengan alibi tak ingin mengganggu ketiganya yang entah ada ketegangan apa, rekan rekan kerja Tiara akhirnya memutuskan pergi setelah berpamitan kepada ketiganya.
"Oh iya, kita jadi pergi kan Ra?" tanya Aditya yang membuat Erik reflek menatapnya dengan kening berkerut.
Pria itu lalu beralih pada Tiara yang mengangguk dibarengi senyuman tipisnya. "Kalau nggak pergi aku takut dikutuk jadi alas bedak sama tu anak" jawab Tiara yang membuat keduanya tertawa. Erik memutar bola mata.
Perihal akan pergi kemana Erik sudah tau arahnya, karena siang tadi dia dan Tiara sudah membahasnya. Tapi yang tak ia duga Aditya juga mengajak Tiara.
"Bukannya kamu pergi denganku?" tanya Erik.
Tiara menoleh lalu mengangguk. "Iya, kita pergi bertiga" jawabnya tanpa dosa.
Erik dan Aditya seketika saling pandang bagai memancarkan aliran listrik dari sorot mata mereka. "Tidak" ucap kedua pria itu bersamaan.
"Begitu ya......".
*****
Erik dan Aditya yang duduk berdampingan di kursi belakang saling membuang wajah mereka. Tangan yang bersidekap dada, jarak duduk yang berjauhan juga ekpresi kekesalan menandakan keduanya tak suka dengan keputusan Tiara, tapi terpaksa melakukannya.
Sedang Tiara yang duduk dikursi samping pengemudi taxi online yang dipesannya malah menahan tawa melihat aura permusuhan dibelakangnya.
Ya, karena perdebatan Erik dan Aditya yang memintanya untuk memilih pergi dengan siapa dan menaiki mobil siapa. Tiara lebih memilih memesan taxi online saat keduanya terus beradu keegoisan.
Dia bahkan sempat pergi begitu saja meninggalkan kedua pria yang asik beradu mulut macam gadis SMA saja. Karena sadar Tiara tak ada disamping mereka Erik dan Aditya langsung mengejar Tiara yang sudah memasuki mobil. Alhasil disanalah mereka berada kursi belakang taxi online tersebut.
Tak ada obrolan dalam mobil itu Erik sibuk memandangi lampu jalan sedang Aditya sibuk memandangi gedung gedung yang berbaris. Dan Tiara sibuk untuk memahami keduanya yang entah mengapa selalu saja bertengkar seperti kucing dan anjing jika bertemu.
"Sudah sampai Nona" ucap sang pengemudi taxi online.
Tiara yang seolah baru tersadar dari lamunannya mengedar pandang dan benar saja mereka sudah sampai. Dia langsung membuka sefbelt yang masih mengurung tubuhnya, lalu berterima kasih pada sang supir setelah membayar jasanya. Tiara pun keluar dari mobil tanpa menegur atau melihat lagi kedua pria dibelakangnya.
Saat ia sudah keluar dan ingin melangkah maju Tiara melirik kekanan dan kiri, kenapa begini. Ia pun berbalik dan menepuk dahi minta ampun karena ternyata Erik dan Aditya masih berada dalam mobil, apa yang mereka pikirkan sampai sudah tiba pun mereka tak sadar.
"Pak, tolong buka kaca belakangnya" pinta Tiara pada sang supir.
Sang supir pun membuka kaca belakang. Seketika itu juga Tiara melotot tak percaya. Demi apa, mereka tertidur mana gayanya mesra banget lagi. Aditya bersandar dibahu Erik sedang pria itu sendiri menyandarkan kepala dikepala Aditya.
"Bangun kalian berdua!!!!" teriak Tiara.
Erik dan Aditya nyaris membenturkan kepala mereka karena terkejut dengan teriakan Tiara. "Su...., Sudah sampai ya?" tanya mereka dengan bodohnya dan wajah bantal namun tak mengurangi kadar ketampanan keduanya.
Masih mengumpulkan nyawa, mereka berdua pun keluar dari mobil dan langsung menghampiri Tiara yang sudah bersidekap dada kesal.
"Sudah sampai ya" tanya keduanya lagi dengan mengucek mata mereka masing masing.
Sebenarnya karena pekerjaan yang teramat banyak menguras energi otak dan fisik membuat keduanya tak sadar tertidur saat asyik genjatan senjata.
"Ya, sudah sampai dineraka!!" jawab Tiara ketus.
Erik melirik pada Tiara yang tengah menahan kekesalannya. "Benarkah, aku tak tau jika di neraka ada bidadari secantik ini" godanya.
Mendengar godaan pria yng sepertinya sudah seratus persen nyawanya kembali itu Tiara hanya memutar bola mata. Sedangkan Aditya bergaya akan muntah.
Ketiganya pun berjalan masuk kedalam halaman sebuah mansion yang lumayan besar itu. Saat tiba didepan pintu Mala sudah menyambut dengan wajahnya yang sumringah.
"Selamat datang di mansion Aril dan Mala" serunya.