
_Apa yang harus kupertahankan saat ini. Cinta, keadilan atau keegoisan?_.
*
*
*
Jadwal yang ia kosongkan untuk satu bulan kedepan sudah Erik ajukan sesuai prosedur walaupun dia adalah pemilik agensi itu. Dan selesai peluncuran album yang di resmikan lewat sebuah konser kecil juga berjalan sukses. Dua hari setelahnya Erik segera meluncur ke desa dimana Tiara berada.
Bukan karena rindu ataupun terburu buru tapi karena khawatir sebab wanita itu tak sekalipun memberinya kabar atau mengangkat panggilan darinya setelah mereka terakhir adu bicara lewat video call.
Erik sempat berfikir apa sang kekasih marah karena dia terlalu sibuk dihari peluncuran sampai tak sempat menghubunginya. Atau karena dia yang lambat kembali kedesa, mengingat memang sudah hampir seminggu lamanya. Sebab itu Tiara tak menjawab sekalipun panggilannya, padahal jika dihitung Erik menghubunginya ratusan kali dan sekarang pun masih, di mobil ini.
"Ra, jawab...., Kamu kemana sih?" gumam Erik.
Frustasi karena tak ada jawaban sedari tadi Erik melemparkan ponselnya ke kursi samping, memukul mukul stir melampiaskan kekesalannya. Kesal pada dirinya yang mungkin telah membuat Tiara kecewa sampai mendiamkannya.
Dengan kecepatan diatas rata rata Erik menjalankan mobil sport kesayangannya agar segera bertemu Tiara. Melewati jalan yang untungnya sudah teraspal mulus itu mobil Erik jadi tontonan warga desa tersebut.
Saat tiba di depan rumah orang tua Tiara, Erik bergegas turun dari mobilnya.
Tok, tok, tok. "Tiara......., sayang....." panggil Erik terus mengetuk pintu rumah yang sepertinya tak berpenghuni itu. Apakah dia dirumah sakit, pikir Erik positif.
"Cari siapa Tuan?" tanya seorang Ibu yang lewat padanya.
Erik berbalik tersenyum samar. "Saya mencari putri Dokter Hendri" jawabnya.
Kening Ibu itu bertaut seperti tengah mengingat ingat. "Oh neng Tiara ya".
Erik mengangguk dua kali. "Iya" jawabnya cepat.
"Seingat Ibu, neng Tiara sudah dua hari nggak pulang kesini Tuan" terang Ibu itu yang membuat Erik mengepalkan tangannya.
"Mungkin dia dirumah sakit nemenin Ibu Dokter, Tuan coba hubungi kesana saja" tambah si Ibu.
"Iya Bu terima kasih informasinya, saya langsung kerumah sakit saja" pamit Erik sopan lalu menaiki mobil pergi dari sana.
"Kamu dimana sih Ra" gumam Erik frustasi. Mungkin untuk sebagian orang kepanikan Erik terkesan berlebihan, tapi coba saja kau alami. Kehilangan kabar dan kontak dari kekasih, apalagi kalian pernah terpisah tanpa penyebab pasti. Panik gak?.
Dan bodohnya kenapa Erik lupa meminta nomer ponsel Papa Tiara saat dirumah sakit waktu itu.
Erik memarkirkan mobilnya disembarang tempat lalu meninggalkannya masuk kedalam gedung bercat putih itu. Langkahnya lancar menuju kamar rawat Mama Tiara.
"Loh Erik kamu disini?" tanya Nurmi terkejut melihat Erik masuk. Kebetulan dia sedang bersama sang suami yang baru membantunya minum obat.
Hendri tersenyum. "Gimana pekerjaanmu dikota lancar?" tanyanya.
Erik yang masih panik pun mendekat. "Lancar Om, emmm tante gimana kabarnya sudah sehatan?" tanyanya sopan.
Nurmi tersenyum simpul. "Beginilah Nak" jawabnya sendu.
"Oia kamu kesini sama Tiara, mana dia tante mau omelin pulang kekota kok nggak bilang bilang, nggak liat tante dulu disini" lanjut Nurmi kesal.
Deg.
Seketika Erik mematung dengan tatapan kosong mendengar aduan Nurmi. Hendri memicing menatap Erik yang bersikap aneh itu.
"Anu Tante, Tiara masih di kota kerjaannya lumayan banyak, dia titip salam untuk Tante katanya jangan menyerah kita semua akan berusaha untuk kesembuhan tante" ucap Erik berusaha tenang.
Nurmi melengos. "Dia yang bilang atau kamu yang bilang".
Erik menganggaruk tengkuknya. "Kami berdua".
Selanjutnya lama ketiganya bercerita termasuk menanyakan pada Erik apakah hubungannya dengan sang putri, berlanjut atau terhenti. Mereka juga sudah membahas amnesia mandiri Tiara yang diinginkannya untuk melupakan Erik, tapi keduanya tak menjawab pasti saat Erik bertanya alasan kuat Tiara sampai ingin membuangnya dari hidup wanita itu.
Erik masih melayani obrolan sepasang pasutri itu dengan rasa khawatir dihati, kemana dan dimanakah Tiara saat ini.
Erik berbalik saat merasa ada tepukan dipundaknya. Hendri tersenyum lalu duduk disampingnya yang tengah termenung dikursi tunggu depan kamar rawat Mama Tiara.
"Kamu nggak tau dimana Tiara?" tanya Hendri tenang.
Erik tertegun sesaat lalu menatap Hendri tak terbaca. "Om tau kamu kesini pasti baru mau jemput Tiara kan, tapi anak itu sudah nggak ada disini, kenapa dia tak bisa dihubungi?" tambah Hendri.
Erik menunduk sambil menggelengkan kepala. "Aku sudah khawatir karena setelah pergi dari sini Tiara hanya menjawab sekali panggilanku setelah itu dia hilang seperti ditelan kedalam batu" terangnya.
"Tapi saat itu Tiara baik baik saja Om, bahkan masih bisa tertawa" tambahnya.
Hendri menghela napas beratnya lalu mengeluarkan sebuah sobekan kertas juga foto dari saku jas putih kebanggaannya. Yang didapatnya saat pulang sebentar kerumah setelah dapat pesan dari putrinya.
"Mungkin dia sudah mengingat semuanya terutama alasannya dan sekarang dia tengah merenung disuatu tempat". Hendri menyodorkan sobekan kertas dan foto itu pada Erik.
Dengan perasaan yang campur aduk, Erik mengambilnya dari tangan Hendri. Ia membaca tulisan dari sobekan kertas yang sepertinya adalah isi diary Tiara. Dia sangat tau tulisan tangan wanita itu dan kebiasaannya menulis diary. Lalu beralih pada foto mereka berdua yang tengah memegang bunga.
"Om yakin kalian bisa melewatinya".
"Terima kasih Om, kalau gitu Erik pergi sekarang".
Erik pergi setelah berpamitan pada Hendri dan menitip salam untuk Nurmi yang pulas tertidur. Entah tujuannya kemana yang ia tahu hanya ingin mencari Tiara, dia benar benar ingin sekali melihat wajah menggemaskan kekasihnya itu.
Karena jika benar Tiara sudah mengingat semuanya, Erik takut. Takut jika kejadian sepuluh tahun lalu terulang lagi. Saat ini mustahil jika dia kembali kekota, wanita itu pasti menghilang entah kemana.
Didalam mobil Erik menghubungi Joker. "Gue perlu bantuan semua orang".
*****
Sedangkan yang dicari tengah duduk dipinggir tebing berpagar, menatap lurus kedepan melihat luasnya hamparan kebun teh, barisan rumah yang tersusun rapi dan pegunungan yang menampilkan indahnya matahari terbenam. Sudah dua minggu dia disini tenggelam dalam sepi sendiri.
Walaupun berat mata bengkaknya untuk terbuka tapi Tiara masih ingin menikmati indahnya sunset senja. Untuk mengobati luka lebar yang berada dihati meski hanya sedikit setidaknya bisa tertutupi.
Beberapa hari lalu setelah mengingat semuanya Tiara tak hentinya menangis sampai dadanya terasa amat sesak dan kepalanya pun pusing. Alhasil ia meminum obat yang sudah lama ia tinggalkan, untuk menenangkan diri.
Berfikir jika ia tak akan kuat bila bertemu dengan Erik, Tiara memilih pergi dari desa dengan hanya mengirimkan pesan pada sang Papa meminta maaf karena harus kembali kekota dan salam untuk Mama.
Tapi bukannya ke kota Tiara membelokkan tujuannya, ia pergi ke puncak dimana dulu sepuluh tahun yang lalu harusnya malam itu menjadi malam terindah untuknya dan Erik.
Sampai dipuncak Tiara menyewa sebuah Villa kecil untuk ia tinggali, merenungkan dan merutuk dirinya sendiri. Disana ia terus menangis bahkan sangking menyesalnya sampai membenturkan kepala ketembok.
Bagaimana bisa, bagaimana bisa dan bodohnya dia jatuh lagi dan lagi dalam pelukan Erik. Sekuat tenaga dan batin dia mencoba melupakan semuanya bahkan rela melepaskannya, tapi kenapa dia kembali lagi dan membuatnya jatuh hati.
"Kau memang bodoh Tiara, bodoh!!!" gumam Tiara merutuk dirinya dengan wajah datar. Jika dilihat sudah seperti psycopat yang ingin tobat tapi dosanya udah kelewat. Tapi bukannya dia memang syco?, Syco berhati baik.
Tiara tertegun saat air mata yang dikiranya sudah mengering itu kembali menetes. Di sekanya dengan ibu jarinya, tak lama dia menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Kali ini apa, apa yang harus kulakukan, aku tak sanggup bersama dengannya tapi aku tak bisa melupakannya, apa yang harus ku perbuat???". Tiara kembali terisak tubuhnya gemetar.
Sampai pelukan hangat dia rasakan ditubuhnya. "Aku menemukanmu, akhirnya aku menemukanmu". Tiara terpaku tak bisa berkata atau bergerak, tubuhnya menerima tapi hatinya meronta. Dia tahu pelukan ini pelukan siapa.
"Jangan pernah meninggalkanku lagi Ra" ucap Erik bergetar.
Tiara tersadar dari lamunannya saat kecupan dipuncak kepala dia rasakan, wanita itu langsung melepaskan diri dari pelukan sang kekasih lalu berdiri berhadapan dengannya.
"Pergi" ucapnya datar tanpa berani menatap Erik.
Diusir seperti itu Erik terdiam, apa Tiara benar benar sudah mengingat semuanya. Dan wajah itu, mata bengkak, wajah sembab dan terlihat kurus.
"Sepertinya benar" Erik membatin.
"Tidak" tolaknya dengan nada yang sama. Dia bertekad kali ini dia tak akan pergi lagi sekalipun Tiara memaksanya. Dia harus menyelesaikan masalah yang belum ia tahu pasti itu.
Tiara terhenyak, menatap Erik dengan tatapan tak terbaca dingin tapi penuh cinta. "Aku bilang pergi dari sini, aku mau sendiri!!" bentaknya. Matanya sudah berkaca siap meloloskan bening bening kristalnya.
"Apa kamu ingat semuanya Ra, masa lalu dan alasanmu melepaskanku?"
Belum menjawab tapi bening kristal itu ternyata didahului dengan rintik hujan yang menyerang bumi.
Erik bergegas mendekat dan menarik Tiara untuk berteduh bersama, tapi wanita itu menepis kasar tangannya. "Ra, hujan kita berteduh dulu baru bicara".
"Nggak ada yang perlu dibicarakan".
Keduanya sudah mulai kebahasan bahkan bibir Tiara nyaris membiru karena dinginnya hujan juga cuaca puncak yang memang sedingin es.
"Ra, ayolah". Erik mencoba membujuk terus ingin memegang tangan Tiara tapi wanita itu mengelak.
"Nggak!!, pergi dari sini aku nggak butuh kamu!!!" bentak Tiara lagi.
Dan akhirnya Erik terbawa emosi. "Ada apa sebenarnya denganmu?!!!!" bentaknya. Tapi Tiara hanya diam saja menggantikan sifat bunglon, menyamarkan air mata lewat tetesan hujan.
Erik memegang kedua bahu Tiara. "Apakah aku salah, kalau ia katakan akan kuperbaiki semua kesalahanku, jangan seperti ini Ra, jangan menyiksa dirimu sendiri katakan padaku ada apa sebenarnya?" tambahnya kembali melembut.
Erik tercengang saat merasa bahu Tiara bergetar tiba tiba wanita itu tertawa keras. Ia mendongak, "Kamu nggak salah, aku yang salah, aku yang tak mencintaimu sedikitpun hanya memperalatmu untuk melindungku" ucapnya bernada dingin tatapannya berubah tajam.
"Kau bohong" balas Erik.
Tiara berdecih. "Terserah" ucapnya menepis tangan Erik dari bahunya. Ia ingin pergi tapi dengan gerakan cepat Erik menarik tangannya hingga tubuhnya terhuyung menempel pada tubuh Erik. Saat itu pula Erik menyerang, menempelkan bibir mereka, ******* bibir tipis manis itu. Dan kali ini memaksa masuk menjelajahi segala isi didalamnya, mengabaikan Tiara yang terus meronta.
Tak seperti biasanya yang penuh kelembutan tanpa kelanjutan, kali ini Erik terlihat kasar dan tak ingin melepaskan walau sudah kehabisan napas.
Sekuat tenaga Tiara mendorong dada Erik sampai ciuman keduanya terlepas. Dan, plak!!!!!!.
Reflek Tiara menampar kuat Erik, dia pun sampai terkejut dengan sikapnya tapi mencoba menutupi agar Erik tak sadar jika dia sebenarnya mencintai. "Kau menjijikan" ucapnya dingin.
Erik menyentuh bekas tamparan Tiara yang terasa amat panas dipipinya, pria itu tertawa iblis. Sorot matanya berubah menyalang.
"Aku yakin kau mencintaiku dan aku takkan melepasmu!".