
_Karena hatiku hanya tertuju padamu, hanya kamu_.
*
*
*
Dari dalam mobil, Tiara menaikkan sebelah alisnya melihat pemandangan penuh manusia didepan sana. Banyak segerombolan orang yang didominasi para kaum hawa sedang berdiri didepan gedung aula dimana konser mini Waren Royse berlangsung.
"Ngapain mereka, kenapa nggak langsung masuk?" tanya Tiara polos.
Bukan tanpa alasan, dimusim dingin ini mereka rela berkumpul diudara yang cukup menusuk hingga ketulang. Untung saja dalam ramalan cuaca, salju takkan turun hari ini dan matahari terlihat diatas sana walau terkesan malu malu dibalik awan. Namun tetap saja dingin ditubuh masih terasa.
Aditya terkekeh. "Kamu tau sendiri Waren itu artis internasional dan dia ngadain konser begini pasti banyak sekali yang datang, dan mereka hanya segelintir dari fans yang kehabisan tiket" terangnya.
Tiara menoleh. "Habis?, tapi aula sebesar itukan pasti bisa menampung banyak orang".
Aditya mengedikkan bahunya, lalu memutar kemudi menuju pintu lain gedung itu. "Setenar itulah dia". Tiara tertawa takjub karenanya, ternyata pria gila itu banyak juga fansnya.
"Ingat jangan sampai terlalu lelah, kamu baru sehat, kalau ada pekerjaan berat suruh saja yang lain, mengerti" pesan Aditya yang masih terlihat cemas. Mereka sudah berada dipintu masuk khusus staf.
Tiara terkekeh dan mengangguk. "Iya iya, kamu sudah mengucapkannya sepuluh kali sejak dirumah tadi".
"Emmm, maaf aku tak bisa menemanimu masih banyak pekerjaan dikantor".
"Nggak papa".
Aditya tersenyum sedikit mengacak poni tipis milik Tiara. "Masuk sana, diluar dingin". Tiara mengangguk berbalik dan melangkah masuk meninggalkan Aditya yang hilang senyumnya berganti dengan desahan napas pasrah.
*****
Hampir semua mata penonton yang menunggu acara dimulai, teralihkan pada sepasang insan yang datang. Dikeramaian mereka entah mengapa keduanya terlihat begitu mencolok.
Hingga Aril dan Joker saling menatap bingung melihatnya. Ridan datang digandeng dengan seorang wanita muda bertubuh tinggi semampai bak barbie dengan rambut panjang berwarna pirang yang dikuncir kudanya.
Terlihat sangat cocok tapi membuat kedua pria yang sudah duduk dikursi VIP depan panggung itu tak bisa menyembunyikan tawanya. Karena seingat mereka tipe Ridan adalah yang seperti gitar spanyol, dan ini malah seperti..., kurang dibentuk mungkin.
"Kalian sudah datang, cepet banget" sapa Ridan bertos ria dengan kedua sahabatnya. Sisil hanya memperhatikan dengan setia memasang senyuman.
"Iyanih terlalu eksited kita mau ngelemparin tu pengamen pake botol aqua, apaan pake konser segala mana tiketnya mahal amat, nggak dikasih harga temen pula" jawab Joker.
"Awas aja kalau suaranya entar kaya kaleng rombengan, gue balikin dia ke Jerman" tambah Aril.
Dan yang tertawa bukan Ridan tapi Sisil, sampai terbahak bahak. Membuat ketiga pria yang dikiranya bercanda padahal amat serius itu menatapnya bingung.
"Lah ni cewek kenapa?" bisik Aril.
"Kesambet penunggu disini kali" jawab Joker balas berbisik. "Siapa, mangsa baru?" tanyanya pada Ridan menunjuk Sisil dengan dagu, wanita itupun mengernyit.
Sisil menengok, menatap Ridan. "Mangsa, emang aku makanan dan kakak singanya?" tanyanya dengan mata polos membuat Ridan semakin gemas pada adik sahabatnya itu.
Ridan tersenyum tapi tangannya menoyor dahi Joker. "Jangan dengerin dia, pake bahasa alien dia, dan jangan percaya sama dia musyrik".
Sisil mengangguk. "Aku nggak nyangka kakak punya temen dukun juga" ucapnya menatap Joker lucu, lalu duduk dikursi penonton.
Aril dan Ridan tertawa terbahak, sedang Joker menatap kesal kedua sahabatnya.
Ketiganya ikut duduk dikursi masing masing. "Dia Sisil adeknya si pengamen" jawab Ridan memperkenalkan wanita disampingnya.
"Beneran punya adek tu kampret" ujar Joker tak percaya dan Ridan mengangguk saja. Karena ia sendiri menjemput wanita itu dirumah besar milik Wijaya.
"Terus kenapa bisa dia bareng lo?".
"Kita bahas itu nanti".
*****
Jeje memakaikan jas berwarna gelap ketubuh tegap Waren alias Erik. Dengan setelan itu membuatnya terlihat sangat berkharisma, terkesan cool dan berwibawa. Apalagi lagu pertama yang dibawakannya nanti bergendre melow, yang biasanya membuat pendengar nyaris menangis.
Sang MUA pun sudah merapikan rambut klimisnya membuat pria itu semakin tampan saja. Cocok dijadikan calon mantu lah pokoknya.
"Waren, kau sudah siap?" tanya seorang pria saat pintu ruangan dibukanya.
Erik menganggukkan kepala, lalu keluar dari ruangannya. Berjalan kearah backstage dengan perasaan gundahnya, akankah Tiara datang melihatnya. Itulah yang sedari tadi bersemayam dipikirannya, bukan tentang keberhasilan konsernya. Yang pastinya pasti luar biasa seperti sebelumnya.
Erik menoleh kekanan dan kiri sambil mendengarkan arahan dari penyusun acara. Kru Tiara ada disudut sana sedang menyuting orang orang yang datang, tapi tak terlihat Tiara disana.
"Waren jangan lupa pakai ....." seru dari penyusun acara.
Erik berbalik mencari alat yang akan dipakainya, tapi tak dilihatnya. Jeje pun tak ada disampingnya, bisa bisanya dalam keadaan penting begini Asistennya itu menghilang.
Ia baru hendak melangkah mencari saat cekalan tangan mungil hangat menggenggam pergelangan tangannya. Melihat siapa pelakunya, senyum mengembang seketika terbit diwajah Erik. Hingga beberapa orang disekitar mereka takjub karena ketampanan penyanyi itu naik berlipat ganda.
"Kamu....".
"Menunduk".
"Hah?" Erik tak mengerti apa yang diucapkan wanita yang tubuhnya hanya setinggi dadanya itu.
Tiara mendengus, lalu menarik kerah baju Erik sampai wajah mereka saling berhadapan. Seketika pacuan salah satu jantung dari keduanya terhenti sejenak kemudian berdetak tak seperti biasanya.
Erik meneguk salivanya kasar. Tiara mengangkat tangannya melewati kepala Erik yang manik abunya mengikuti pergerakan wanita itu.
Tiara tengah memakaikan earphone ketelinga Erik, sesuai perintah penyusun acara tadi. "Sudah" ucap Tiara saat pekerjaannya selesai.
Namun Erik tak bergerak sedikitpun, masih dengan wajah berhadapan dan mencetak senyuman. Tiara memutar bola matanya jengah.
Pletak!!!!!.
Shhhhhh!!!!.
"Kau sudah sadar?" tanya Tiara bersidekap dada dengan santainya sesudah menyentil dahi Erik.
Wajah Erik berubah cemberut. "Kita baru bertemu, udah kdrt aja". Tiara melengos.
Erik menunjuk dahinya. "Ini buat dicium bukan disentil, tau" tambahnya.
Tiara berdecih. "Nggak sudi".
"Ya sudah kalau begitu aku saja". Tiara mematung saat Erik menangkup wajahnya dan mengecup keningnya sedikit lebih lama.
"Aku sangat merindukanmu" ucap Erik sambil memperbaiki helai panjang rambut Tiara.
Sedang Tiara menggerakkan matanya kesembarang arah, merutuk dirinya sendiri kenapa malah jadi gugup begini. Padahal Aditya sering bersikap seperti Erik, walau nggak pakai cium cium juga. "Ni jantung pemilih amat".
"Waren sudah waktunya" seru seorang pria yang nampak paling sibuk diantara semuanya. Erik melirik kemudian mengangguk mengerti.
Roy pun mendekat menghancurkan momen romantis Erik. Pria itu menepuk pundak sang adik angkat sekaligus Artisnya tersebut. "Eh, kau disini Tiara, bagaimana keadaanmu, lebih baik?" tanya Roy pada Tiara yang sedikit menjauh dari Erik, pria itupun mengernyit tak rela.
"Ehmmm, kalau begitu aku permisi dulu, aku akan kembali ke teamku".
Roy mengangguk, namun Erik menatap Tiara tak suka lalu mencekal lengan wanita itu. "Mau kemana?" tanyanya datar. Dan lagi lagi Tiara mematung, nada datar ini pernah ia dengar sebelumnya.
"Kamu disini bukan untuk bekerja, tapi untuk melihatku tampil".
Tiara dengan cepat merubah raut wajahnya. "Kalau begitu aku harus membeli tiket, dan kabar buruknya tiket konsermu sudah terjual habis, jadi aku akan bersama team ku saja". Ia menepis tangan Erik.
"Tiara". Langkah kecil Tiara terhenti saat Erik memanggilnya dengan nada rendah. Ia tahu pria itu tengah menahan rasa kesal tapi tahu dari mana dia, apakah mereka sudah sedekat itu. Ini aneh.
Tiara memberanikan diri berbalik. "Apa?!".
Tapi kemudian ia terkejut saat Erik berjalan dan menarik tangannya, membawanya keluar dari backstage menuju kursi penonton. Tentu saja dengan Roy yang berteriak kencang memanggil pengawal untuk mengamankan keduanya dari antusias orang orang yang melihat idolanya dari dekat.
"Bocah ini kebiasaan sekali, bersikap seenaknya saja!!" kesal Roy memandangi Erik yang dengan sifat ngebossy nya menarik Tiara.
Sesuai prediksi Roy, penonton yang sudah memenuhi tempatnya pun berhamburan mendekat kearah Erik dan Tiara yang berjalan kearah deretan kursi VIP.
Tiara melihat tak jauh dari mereka, ada tiga pria tampan yang sudah bosan dilihatnya dan satu wanita yang pernah ditemuinya dirumah sakit.
Erik menghentikan langkahnya, memposisikan Tiara berdiri dihadapannya. Lalu mendudukkan wanita itu kekursi dibelakangnya, tepat disamping Aril.
"Jaga dia, kalau kabur ikat saja tangannya dikursi ini" pesan Erik yang disanggupi Aril dengan yakin. Tiara mendelik.
Tanpa berkata apapun lagi Erik kembali pergi, namun berbalik kembali. "Terima kasih sudah datang." ucapnya dengan senyuman tampan yang membuat semua wanita berteriak histeris terkecuali Tiara dia mendesah kesal.
"Cie, cie yang diantar pangerannya" sindir Joker dan Aril.
Tiara menoleh menatap keduanya tajam. "Diam, atau kupatahkan tangan kalian!!".
Keduanya pun menutup mulut dengan tangan secepat yang mereka bisa. Membuat Ridan tertawa sedang Sisil menatap Tiara dengan sorot tak terbaca.
"Dia????????".