
_Belajar mencintai memang mudah, tapi belajar untuk melupakan sungguh sulit dilakukan_.
*
*
*
"Bang, aku pergi dulu" ijin Tiara pada Gilang.
Gilang menganggukkan kepalanya. "Hati hati, kita berharap sama kamu aja Ra, semua persiapan udah beres tinggal persetujuan dari pihak Waren".
"Aku pergi".
"Semangat kak, semangat Ra" ucap semua anggota Tiara bersamaan menyemangatinya yang mau tak mau dibalas Tiara dengan mengepal tangan bersemangat.
*****
Janji temu disebuah cafe membuat Tiara sedikit lebih santai. Sambil menikmati jus alpukat, ia kembali memeriksa berkas yang akan diberikannya nanti pada pihak Waren. Atau mungkin pria itu sendiri yang menemuinya untuk menjawab tawaran kerjasamanya.
"ADC Corp?" sapa seseorang.
Tiara langsung berdiri dari kursinya, menyambut. "Ya".
"Ah, saya Roy, asisten Waren" pria tinggi itu memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan. Tiara sempat terdiam karena mengira seorang manager Waren ada pria bule yang berbahasa inggris. Tapi sepertinya blasteran yang fasih bahasa indonesia.
"Saya Tiara, PA team produksi" Tiara menerima perkenalan dengan saling berjabat tangan.
"Silahkan duduk".
"Mohon maaf, kita hanya bertemu berdua karena Waren sedang ada urusan pribadi, tidak papa kan?" ucap Roy menyesal. Harusnya mereka bertemu bertiga.
"Tak masalah, karena ini baru tahap perkenalan, untuk persetujuan dan tanda tangan kontrak bisa dilakukan nanti setelah Waren menyetujui" jawab Tiara dengan sedikit senyumnya. Tapi dalam hatinya berharap dengan pertemuan ini saja Waren segera menyetujuinya.
"Baiklah kalau begitu bisa kita mulai" tambah Tiara yang diangguki Roy.
Setelah pertemuan itu Tiara tak kembali kekantornya. Ia tak menyangka jika semua anggota team nya sudah menunggu diruangan mereka pagi ini setibanya dirinya.
"Gimana kak, berhasil?" tanya Ayu orang pertama yang menghampiri Tiara saat wanita itu baru masuk kedalam ruangannya.
Awalnya Tiara berwajah datar bersamaan dengan helaan napas berat membuat semua orang yang bersemangat jadi lesu seketika. "Ditolak yah?" tanya Tias bernada lemah tak seperti sebelumnya.
Bersamaan dengan Gilang yang juga memasuki ruangan. Mendapati wajah lesu anggotanya juga wajah datar Tiara, dia bisa menebak jika nantinya dia harus keruangan Direktur Utama untuk membujuknya mengganti artis pengisi acara.
"Tidak papa, bukan salah kita, karena Waren memang bukan artis biasa kita tak boleh patah semangat, masih ada artis yang terkenal disini, aku akan bicara dengan Pak Aditya nanti" ucap Gilang menenangkan anggotanya.
Gilang pun berjalan ke meja kerjanya dengan raut pikiran menyusun kata kata, apa yang diucapkan pada sang Direktur Utama. Diikuti Tiara setelah menaruh tas dimejanya.
"Bang, ini jadwal kerja kita senin nanti, semua kru juga sudah siap, tempat juga sudah aku atur, semua pihak sudah aku hubungi" ucap Tiara menyerahkan berkas diatas meja Gilang.
Pria itupun mendongak menatap Tiara tak terbaca. "Maksud kamu?" tanyanya tak mengerti.
"Besok jam dua siang, tanda tangan kontrak dikantor ini" jawab Tiara misteri sekali, wanita itu tanpa berkata lagi meninggalkan meja Gilang untuk kembali berpacaran dengan komputernya.
Perlu waktu sedikit lebih lama untuk Gilang mencerna kalimat Tiara, karena memang pagi tadi hanya sarapan bakwan saja. Dan saat ia sadar pergerakan yang pertama kali dilakukannya adalah reflek berdiri, hingga kursi yang didudukinya terjengkal kebelakang. Semua mata tertuju padanya tentu saja tidak dengan Tiara, sang pelaku keterkejutannya.
Tiara berdecih. "Sejak kapan aku berganti profesi jadi pelawak".
"Ja..., Jadi serius?". Tiara menganggukkan kepala dengan tangan masih menari diatas keyboardnya. Ia terkesiap saat Gilang berteriak senang disampingnya.
"Abang yakin, acara kita nanti ratingnya naik berkali kali lipat, kamu hebat Ra, hebat".
Sedang semua anggota yang sedari tadi hanya memperhatikan keanehan sikap Gilang jadi mengerti kenapa sang produser mendadak kesurupan begitu. Mereka pun langsung menghambur memeluk Tiara yang menanggapi dengan memutar bola mata malas.
*****
Kemarin.
Erik kini tengah berkeliling mall menemani si gadis yang setia bergelayut manja dilengannya. Saat ia menjemput wanita itu dirumah orang tuanya, rengekan terus saja ia dengar.
"Kak, temenin aku ke mall, aku pengen belanja, bajuku udah pada kecil semua".
Hingga terpaksa seorang Erik yang malas sekali ketempat ramai itu, mau tak mau menurutinya. Jika tidak gadis manja itu akan merengek seharian.
"Sil, udah ya belanjaanmu juga udah banyak kan, kalau kurang besok besok beli lagi atau pesan online, ya" rayu Erik lelah mengikuti Sisil.
Walaupun mereka tak membawa belanjaan apapun, karena semua barang sudah dipacking dan siap kirim kealamat yang diberikan Sisil. Berhubung belanjaannya gadis itu hampir menyaingi isi satu toko pakaian.
Sisil pun merajuk, melepas pegangannya pada lengan pria bertopi hitam, kacamata dan pakaian serba hitam. Saat pria itu menjemputnya pun Sisil bahkan sempat berfikir ini orang atau grim reaper. Untung cakep kalau serem mending kabur daripada ditemenin keliling mall lanjut alam barzah.
"Iiish, kakak tuh nyebelin, kan jarang jarang kakak bisa nemenin aku belanja, lagian kalau pesan online yang datang sering nggak sesuai ekspetasi aku".
"Tapi, Sil"
"Aku sebel sama kakak!"
Erik menghela napas berat, lalu mengejar sang tuan putri yang tengah kabur darinya. Sampai.
Brukk!!!.
"Ma..., Maaf saya tidak sengaja" ucap seorang pria yang bertubrukan dengan Sisil, si gadis manja berumur dua puluh dua tahun itu.
Walaupun nyatanya Sisil yang menabraknya tapi tetap saja sebagai seorang pria ia harus meminta maaf. Untung saja pria itu mengerti arti kata pria selalu salah. Eh bukan itu pepatahnya, tapi Wanita selalu benar.
Sisil pun mendongak melihat dada bidang siapa yang ia tabrak barusan. Dari suaranya sih kayanya cakep, dan benar saja sekarang tengah berdiri pria tinggi berahang tegas didepannya.
"Eh, iya kak nggak papa" jawab Sisil berwajah malu malu sambil menyelipkan anak rambut kebelakang telinganya. Udah macam cabe cabean liat terong masak dianya.
"Nggak ada yang lu...".
"Ridan".
"E..., Erik".
Sisil jadi bingung melihat ekpresi kedua pria yang hampir sama tampannya itu, saling menatap dengan sorot tak terbaca. Malah terkesan seperti pasangan yang baru bertemu.
"Ish, jangan bilang kalian belok" ucap Sisil kecewa. Kedua pria itupun menatap Sisil dengan tawa yang mereka tahan.