Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.5



* Entah, aku merasa begitu kejam bila aku memaksamu untuk tetap bersamaku *.


*


*


*


*


*


Suara alunan musik dari Dj dan hingar bingar dalam klub menjadi latar percakapan antar dua pria yang sudah lama tak bersua. Sambil menikmati segelas minuman masing masing mereka mengenang masa lalu.


Ridan berdecih mendengar jawaban Erik. "Adek ketemu besar maksud lo?".


Mereka tengah membicarakan wanita yang bersama Erik dimall tadi, yang disuruh kakak tak bertanggung jawab itu untuk pulang naik taxi. Hingga Sisil mencak mencak sangking kesalnya.


Erik meletakkan kembali gelas vodka yang disesapnya tadi. "Beneran ade gue elah".


"Gue kenal lo dari sd Rik, nggak pernah tuh lo punya adek begitu bentukannya, dan sekarang abis ngilang berabad abad lo muncul sama barbie idup itu, terus gue harus percaya gitu?".


Erik memutar bola matanya. "Serah kalo lo nggak percaya".


Setelah mengatakan kalimat itu Erik begitu terkejut saat seseorang menariknya kasar dan langsung memberikan tinjuan keras keperutnya, membuatnya sedikit meringis menahan sakit.


Melihat kejadian mengejutkan didepannya tak membuat Ridan menolong sahabat lamanya itu, ia hanya menonton sambil menikmati minuman yang sama.


"Bangun lo, berengsek!!" bentak pria yang memberi pukulan pada Erik.


Mendengar ada keributan beberapa orang pun berusaha mendekat mencari tahu ada apa. Tapi Ridan dan salah satu pria yang baru datang tadi menghalau mereka. Sebelum semua orang sadar dan acara pertemuan mereka kacau.


Erik pun mendongak masih dengan memegang perutnya yang sudah lama tak mendapatkan kekerasan. Namun bukannya balas memukul atau marah Erik malah terkekeh.


"Lo kangen boleh, tapi jangan nonjok juga dong, sakit beneran nih".


"Lo!!" pekik Aril kesal sekesal kesalnya. Ingin sekali ia memukuli pria tampan didepannya ini sampai sekarat kalau perlu. Tapi otak dan tubuhnya melakukan hal berbeda, dia malah menarik dan memeluk Erik erat.


Ia benar benar marah saat mengetahui kepergian Erik yang tak berpamitan, atau menitipkan pesan. Pria itu menghilang tanpa jejak sampai dia, Ridan dan Joker kalang kabut mencarinya selama berhari hari. Dan sekarang sahabat yang dicarinya itu muncul tiba tiba seperti jelangkung saja.


"Nggak kek gini juga, gue ogah dituduh belok dua kali ni hari" tukas Erik dan berhasil membuat Aril melepaskan pelukannya lalu menatapnya tak terbaca.


"Lo udah lupa, kita kan dulu pernah belok sama sama" ucapnya yang membuat tiga tinjuan mendarat dilengannya.


"Jan, nurunin pamor kita disini ******" protes Joker tak terima.


Setelah detik pertemuan penuh keharuan juga tinjuan dilengan antar empat sahabat itu, mereka pun berpindah keruang VIP yang dipesan Joker. Tanpa memesan wanita wanita penghibur seperti biasa yang dilakukannya.


"Kalian keluar saja, ini acara pribadi jangan menganggu" ucap Joker mengusir beberapa wanita yang langsung masuk dalam ruangannya tanpa diminta, tak lupa ia memberi beberapa lembar ratusan untuk membuat para wanita berpakaian sexy itu tak kembali lagi.


"Jadi?" tanya Joker.


"Maaf" jawab Erik dengan wajah amat menyesal.


Aril berdecih. "Lo nggak cocok ngucapin kalimat itu, kami perlu alasan bukan sekedar kata maaf".


"Apa alasan lo pergi waktu itu, Aril sampai mendatangi Ayahmu dikantornya dan bertanya tapi beliau juga tak mengatakan apapun" sambung Ridan.


"Emmm gue yang mau, kalau kepergian gue nggak ada yang boleh tau termasuk kalian".


Erik pun menceritakan lebih detail kepergiannya, dan alasannya pergi malam itu juga. Sedang Aril, Ridan dan Joker hanya mendengarkan dengan sesekali saling menatap ingin sekali mereka meralat tapi tak kuasa. Erik juga menceritakan kehidupannya selama ini yang selalu diliputi rasa rindu dan penasaran dihatinya.


"Kemarin gue kerumahnya, tapi dia udah nggak tinggal disana" ucap Erik bernada amat kecewa. Ia mengambil segelas minuman diatas meja, setelah menenggaknya ia kembali berkata.


"Apa kalian masih berhubungan dengannya?" tanya Erik bersemangat.


Ketiga pria tampan itupun saling pandang entah harus menjawab apa mereka bingung juga. Dan saat Aril ingin mengatakan sesuatu, Erik mendapat sebuah panggilan.


"Aku tidak akan melakukannya, sudah berapa kali aku mengatakannya!!".


"Tolak mereka".


Erik mematikan panggilannya lalu mengerang kesal, ketiga temannya hanya bisa memperhatikannya saja. Ponsel Erik kembali berbunyi lagi.


"Udah gue bilang, to...".


"Baiklah tapi bantu aku memberi alasan pada PA mereka, aku tak tega pada wanita cantik itu, dia tipeku" ucap seorang pria disebrang sambungan telfonnya.


"Cari saja sendiri, itu urusanmu jangan melibatkanku" bentak Erik membuang ponselnya kesamping. Dia sudah benar benar kesal jika bicaranya mulai formal.


Erik tersenyum miring. "Melelahkan".


"Kenapa kalian nggak jawab, kalian masih berhubungan dengan Tiara?" tambahnya kembali bertanya sembari mengambil snack diatas meja, tiba tiba saja ia ingin mengemil.


"Sebenarnya.."


"Aish" Erik mengerang saat ponselnya terus berdering. Ia pun membuka pesan beruntun yang dikirimkan sang manager sambil mendengarkan Aril berbicara.


"Kita masih sering ketemu sama Tiara, tapi....".


"Aku menemukannya".


Ridan, Joker dan terutama Aril yang sedang merangkai kata terbaik untuk memberitahukan sesuatu pada Erik tak jadi bicara, malah menatapnya bertanya.


"Apa, siapa?".


"Keongku, Tiara" jawab Erik semangat menatap lekat foto wanita yang dikirimkan managernya barusan. "Gue pergi." tambahnya lalu meninggalkan ketiga temannya yang dalam kebingungan atau tepatnya ketakutan.


"Gawat".


Sedangkan diluar, Erik sudah memasuki mobilnya ingin menancap gas secepat mungkin. Namun tiba tiba senyum yang sejak tadi terpatri diwajahnya hingga beberapa wanita yang berpapasan dengannya terpesona, tiba tiba hilang dalam sekejap. Ia mengambil ponsel disaku jaketnya lalu mengetikkan sesuatu.


Jangan mendekatinya, kalau kau tak ingin mati ditanganku!


send.


*****


ADC Corp menjadi amat ramai hari ini karena terdengar kabar jika Artis mancanegara yang populer dan digandrungi para wanita akan datang ke perusahaan yang bergerak dibidang pertelevisian itu.


Terkecuali Tiara, pegawai yang paling berjasa dan berpengaruh besar dalam perekrutan Penyanyi bersuara berat itu. Tak seperti wanita lainnya yang memperbaiki riasan agar bisa nampak cantik dimata sang Artis, dia malah sibuk dengan komputernya.


Sikapnya berbeda seratus delapan puluh derajat dibandingkan saat ia menerima telfon dari Roy, sang manager Waren Royse itu.


Flashback On.


Tiara terus mengecek ponselnya, sejak bangun tidur, ingin mandi, dan berganti pakaian. "Sudah berapa jam terlewat, tapi nggak ada kabar sama sekali" gumamnya.


Ya, sejak pertemuannya dengan Roy usai, Tiara sungguh berharap jika ia segera dihubungi dengan jawaban yang sesuai ekspetasinya. Tapi sampai sekarang apa yang diharapkannya tak kunjung memanggil.


Tiara sempat berfikir jika Waren tak ingin bekerjasama dengan acaranya. Yah, sudah pastilah. Waren itu artis terkenal, bisa dipastikan seleranya juga tinggi. Sikapnya juga sudah pasti tak bersahabat, rada songong gitulah pokoknya. Atau parahnya malah semena mena. Seperti artis terakhir yang bekerjasama dengan mereka, padahal baru dikenal didalam negeri saja. Songong banget dah.


Saat kepasrahan sudah meliputi pikiran Tiara, ponsel yang terletak disamping piring sarapannya berdering pelan. Tapi Tiara hanya meliriknya sekilas sambil mengambil sandwich dipiring itu, dan menggigitnya sedikit.


Sesaat mata Tiara membelalak, roti isi yang masih digigitnya pun sampai terjatuh. Ia kembali melirik ponselnya dan dengan cepat mengambil benda yang masih berdering itu.


"Halo" jawabnya mencoba sesantai mungkin.


"Ah maaf sudah menganggu pagi anda" ucap pria disebrang panggilannya.


"Tidak, tidak apa".


"Saya ingin memberitahu jika Waren menerima tawaran anda, dia cukup tertarik dengan programnya".


Tiara sedikit mengulas senyum. "Baguslah, dia takkan menyesal telah menerima tawaran kami".


"Kalau begitu kapan kami bisa segera tanda tangan kontrak".


"Besok, dikantor ADC kami akan menyambut kalian".


"Emmm, baiklah kebetulan shcedule kami juga belum padat, besok kami akan datang".


"Saya akan mengirimkan alamat dan waktunya, terimakasih sebelumnya".


"......".


Tiara meletakkan ponsel keatas meja dengan wajah datarnya. Dan.


"Arrrggggghhhhhh, aku berhasil, wah leganya!". Ia memekik senang dan bangga, sampai meloncat loncat sangking tak percayanya.


Inilah yang ia suka dari pekerjaannya ada rasa bangga dan kesenangan tersendiri saat apa yang diusahakan dan diperjuangkannya sesuai harapannya. Terlebih lagi saat semua berjalan dengan lancar sampai selesai.


Setidaknya itu adalah salah satu cara agar ia tak merasa rindu ataupun sedih yang dirasakannya terus menghantui hari harinya, yang ia sendiri tak tahu karena alasan apa semua itu ada.


Flashback Off.


👩‍💻 lanjut nggak?