Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.46



_Pria butuh waktu cepat untuk pergi tapi pada akhirnya akan kembali. Sedang wanita butuh waktu lama untuk pergi tapi sekali pergi takkan ada niat kembali_.


*


*


*


Tiara terkekeh di dalam mobil, ia merasa terhibur sekali sampai tak bisa lagi menahan tawanya. Sampai sampai ekor matanya mengeluarkan kristal kristal kecil.


Erik yang sedari tadi memperhatikan pun sampai tak fokus menyetir. Bukan apa takut saja jika wanitanya menjadi gila sebelum waktunya.


"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Erik.


Tiara menoleh mengerem tawanya, lalu menjawab. "Kamu nggak liat gimana ekspresi Gabriela tadi, sudah seperti orang menahan Bab aja" lanjutnya tertawa.


"Dia benar benar marah waktu kamu abaikan, dan saat kamu berakting menjadikanku calon istrimu" tambahnya.


Erik yang awalnya ikut terbawa tawa Tiara langsung berwajah datar akibat kalimat terakhir wanita itu barusan. "Siapa yang berakting?" tanyanya dingin.


Seketika tawa Tiara terhenti, ia merasa hawa dingin mulai merasuki. "Kamu, kamu hanya mau memanas manasi Gabriela saja kan tadi" jawabnya pelan.


Ckkkiiiit!!!!!!.


Jantung Tiara berpacu cepat saat mobil yang tengah melaju sedikit kencang itu tiba tiba direm mendadak oleh Erik. Tubuhnya sampai terhuyung kedepan sangking tiba tibanya, jika tak ada seftbelt telingkar ditubuhnya sudah bisa dipastikan kepala Tiara akan membentur dashboard mobil.


"KAU GILA HAH!!!!" bentak Tiara kesal.


"Ya, aku memang gila itu karenamu".


Tiara terpaku kuat di kursi mobilnya dan tercekat saat dengan cepat Erik sudah mengikis jarak diantara mereka. Bibir sensual pria itu juga sudah menempel dibibirnya, berawal sebuah kecupan kini menjadi ******* ******* kecil.


Sama seperti sebelumnya tak ada nafsu didalamnya hanya ada rasa ingin pengakuan saja. Erik terus memberikan gigitan gigitan kecil dibibir Tiara sampai wanita itu merasa bibirnya mulai kebas dibuatnya.


Terbuai dengan gerakan lembut yang dibuat Erik membuat Tiara mulai membalas ******* ******* itu. Tak ada yang berniat menjelajah lebih jauh kedalamnya, Erik masih berpikiran waras untuk tidak menulusuri setiap sisi mulut Tiara. Karena jika sudah melewatinya bukan disini lagi tempatnya kamar adalah jawabannya.


Sebut saja dia bukan seorang pria dewasa karena hanya bermain dibibir saja. Tapi baginya pria bukanlah seorang pria jika merusak wanitanya sebelum menghalalkannya. Walaupun sekarang ia juga sudah berdosa karena tak bisa menahan hawa nafsunya.


Erik menghentikkan kegiatannya saat dirasa bibir mereka sudah sama sama kebas, ia menempelkan keningnya dikening Tiara sembari menghirup oksigen untuk mengisi paru parunya.


Tangan Erik membelai pipi Tiara. "Apakah ini juga masih sebuah akting untukmu?" tanyanya.


Tiara terdiam tak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya ia percaya jika Erik mencintainya tapi jika harus menjadikan dirinya seorang istri apa tak terlalu berlebihan. Dia saja belum ingat jelas bagaimana hubungan mereka, bukan karena apa Tiara takut saja pada kenyataan. Kenyataan yang entah baik atau buruk.


Jika nyatanya ada suatu hal atau apapun itu yang membuat mereka berpisah dan membuatnya melupakan segalanya. Tiara tak yakin bisa menjalani kisah cinta dengan Erik apalagi menjadi seorang istri tak terpikirkan olehnya saat ini.


Erik menjauhkan diri tapi tangannya masih membelai pipi Tiara yang kini terdiam saja. Erik menatap mata Tiara dalam.


"Dengar Ra, jangan pertanyakan lagi aku mencintaimu atau tidak kamu pasti tau jawabannya, sebesar apa cinta itu mungkin takkan bisa diukur karena tak ada batasnya, dan untuk itu aku pasti pria bodoh jika hanya menjadikanmu kekasih bukannya seorang istri" ucap Erik.


"Asal kamu tau menyanyi adalah pelampiasanku jika merindukanmu, impianku sebenarnya adalah menjadikanmu istriku dan ibu dari anak anakku" tambahnya.


Mendengar itu Tiara tak bisa berkata kata, hatinya sudah terlanjur terbawa suasana apalagi dengan kalimat itu membuatnya terbang kelangit tertinggi. Ia berdoa agar tak jatuh dihempaskan kebumi setelah ini.


"Jadi tolong peka lah sedikit dan balas perasaanku ini".


Erik terus menatap kedalam mata Tiara sedangkan wanita itu tanpa sadar memutuskannya dengan sengaja. Ia mulai salah tingkah jadinya, bibirnya terbuka seperti ingin menjawab perkataan Erik. Tapi entah kenapa sulit sekali mengeluarkan kalimat yang sudah dirangkainya dalam hati tadi.


"A...., Aku".


Erik menunggu.


"A...., Aku....., Aku mengantuk cepat bawa aku pulang" Tiara malah mengatakan kalimat alihan itu dia juga tak berani berhadapan dengan Erik. Tubuh dan wajahnya langsung ia lemparkan kesisi pintu mobil.


Erik mendesah pasrah sedikit kecewa tapi ia mengerti jika Tiara butuh waktu sedikit lagi. Dengan ingatan yang belum kembali juga kemunculannya yang tiba tiba terang saja jika Tiara bersikap waspada. Dulu saja wanita itu tak mudah memberi hatinya apalagi sekarang. Dengan sikapnya yang tiba tiba juga tergesa gesa.


"Baiklah ayo kita pulang" ucap Erik lemah.


Erik tersenyum lembut, ia keluar dari mobil setengah memutar lalu membuka pintu dikursi penumpang. Tanpa merasa ada beban berarti ia menggendong Tiara ala bridal style. Setelah menutup pintu mobil dengan kaki dan mengunci dengan alat otomatisnya ia pun melangkah menuju lift.


Erik menahan napas saat dalam gendongannya Tiara menggeliat menyembunyikan tubuhnya kepelukan pria itu. Erik tersenyum pikirnya wanita ini kedinginan dan amat kelelahan.


Sampai tiba di penthousenya Erik segera masuk kedalam kamar merebahkan Tiara diatas kasur dengan amat perlahan. Lalu diselimutinya tubuh mungil itu setelah melepaskan long coat yang dipakainya. Erik duduk ditepi ranjang memandang puas wajah damai itu, kalau sudah tertidur begini seperti bidadari. Tapi jika terbangun sudah seperti macan peliharaan yang ingin melarikan diri.


Tangannya terus membelai rambut Tiara, setelah puas Erik mengecup keningnya. "Have a nice dream, baby" ucapnya lalu beranjak untuk membersihkan diri.


Sedang yang ditinggalkan membuka sedikit matanya, sebenarnya Tiara sudah bangun dari tidurnya sejak Erik menggendongnya di mobil. Tapi tak munafik, Tiara masih ingin berada dalam pelukan hangat pria itu makanya ia tak mau membuka mata.


"Maafkan aku yang belum bisa menjawab perasaanmu, karena aku harus mencari tau dulu apakah yang kurasakan ini benar cinta atau hanya sebatas ketergantungan saja, aku juga harus mengingat dulu siapa dirimu dalam hidupku, sampai aku tau aku akan mulai bersikap lembut padamu".


*****


"Sepertinya hari ini aku tak bisa menjemputmu, jadwal ku penuh sampai malam" ucap Erik didalam mobil sebelum keduanya berpisah untuk bekerja.


Tiara menganggukkan kepala lemah. "Iya nggak papa, aku bisa pulang sendiri".


"Tidak, harus ada yang menemanimu atau suruh saja Aditya mengantarmu".


Tiara terdiam sedikit berpikir. "Lihat saja nanti" jawabnya. "Aku pergi dulu" ucapnya hendak pergi tapi dicekal Erik lagi.


Pria itu mengecup keningnya lembut. "Semangat kerjanya" ucap Erik melepas genggamannya ditangan Tiara.


Lalu merapatkan diri lagi dibalik kursi kemudi dan,


Cup.


Erik tercekat tubuhnya mematung saat Tiara mengecup kilas pipinya. Hanya sedetik tapi bisa membuatnya menjadi kembaran batu begini. "Kamu juga" ucap wanita itu pelan lalu keluar dari mobil dan bergegas pergi.


Pelan pelan Erik menyentuh pipinya yang dikecup Tiara, masih terasa hangatnya. "Woooooooo, yes yes yes". Ia berteriak kegirangan sembari meninju ninju udara. Mimpi apa dia semalam sampai pagi ini ia bisa merasakan kecupan manis dari Tiara.


Ini pertama kalinya bahkan saat mereka masih SMA tak pernah terjadi, Tiara mengecup dirinya lebih dulu tanpa paksaan, godaan atau perintah.


Tapi tunggu dulu, Erik menyentuh bibirnya. "Bukankah seharusnya disini?". Erik menggeleng. "Pelan pelan saja".


Ia kembali menatap kepergian Tiara. "Entah apapun jawaban yang akan kamu berikan, tapi dengan bahasa tubuhmu aku tau kamu sudah menerimaku".


Dengan rasa bahagia Erik pun kembali melajukan mobilnya sambil bersenandung dan sesekali tersenyum sendiri. Wah pagi ini benar benar menjadi pagi yang tak terlupakan untuknya.


Sedang pelaku sang kebahagiaan malah jadi salting sendiri dan menyesali kenapa bisa seagresif tadi. Wajahnya pun merona akibat kelakuannya sendiri.


"Apa kau bilang semalam, akan bersikap lebih lembut?, terus kenapa malah pake kecup kecup?" ucap Anita menggoda sang empunya tubuh.


"Cih, aku juga menyesal, atau mungkin kamu yang mengambil alih tubuhku ya" tuduh Tiara.


"Ckckck, maaf Nona tapi itu atas kesedaranmu sendiri ya" balas Anita tak terima atas tuduhan Tiara.


"Kamu kenapa Ra sakit, wajahmu memerah" tegur Gilang mengembalikan Tiara pada kenyataan.


Tiara tercengang memegang pipinya yang ternyata memang terasa hangat. "Nggak Bang, mungkin karena habis minum kopi tadi" jawabnya.


Gilang pun menganggukkan kepala. "Oia semua kru sudah stand by dilokasi, kali ini lokasinya berbeda, Faris sudah tau kamu berangkat dengannya saja".


"Oke bang".


*****


"Disini Ris?" tanya Tiara pada Faris sembari membuka sefbeltnya. "Iya Mba".


Tiara dan Faris pun keluar dari mobil mengedarkan pandang melihat lokasi yang mungkin cerita sinetronnya Gabriela sebagai tokoh wanita utama akan diculik. Karena sebuah gedung belum jadi dan mungkin tak terpakai adalah yang terpampang jelas saat ini.


"Itu Mba, semua kru disana" ucap Faris menunjuk kearah beberapa orang. Mereka pun berjalan kesana.