
_I'm not perfect, I know that. I'm make mistake, I know i do. And i do know that i will always love you_.
*
*
*
Lamborghini abu metalic itu melaju kencang diatas aspal diikuti Ferrari merah dibelakangnya. Melewati beberapa kendaraan yang mungkin pengemudinya tengah mengumpat pada mereka.
Dua puluh menit perjalanan mobil sport yang saat ini dikendarai Joker juga Ridan itu mulai memasuki area pelabuhan mati. Yang mungkin tak diketahui orang umum jika tempat itu adalah markas kelompok mafia kelas teri, setidaknya begitu bagi Joker sang Mafia kelas atas sekaligus sang casanova.
Tempat yang sedikit jauh dari ibu kota itu bukan hanya markas mafia tapi salah satu pasar gelap. Pembelian minuman keras, narkoba, senjata dan wanita. Ya begitulah cara para mafia mafia baru mencari uang.
Sampai didekat susunan kontainer tak terpakai keduanya memarkirkan mobil disana. "Cuih", Joker membuang ludahnya kasar. Baginya menginjakkan kaki ditempat ini adalah hal yang menjijikan.
Walaupun dirinya juga seorang mafia tapi mainan kecil seperti ini bukanlah kesukaannya. Dia lebih suka bermain dengan lahan, kekuasaan, kedudukan dan permainan kelas atas lainnya.
Erik, Aril dan Ridan biasa saja saat mereka turun dari mobil hampir seratus orang mendekat kearah mereka. Siapa lagi kalau bukan anak buah Joker.
Pria itu mengedarkan pandang. "Terlalu banyak, kalau begini hanya lima menit semua yang didalam akan mati" ucapnya enteng.
"Ma..., Maaf Tuan" ucap Gerald takut takut.
"Hmmm, sebagian masuk denganku sebagian lagi berjaga saja disini" perintah Joker tak terelakkan.
"Mereka ada didalam?" tanya Ridan pada Joker. Pria itu mengangguk sebagai jawaban. "Ayo".
Keempat pria tampan namun kini berwajah sangar dan mengeluarkan aura mencekam itu berjalan lebih dulu masuk kedalam sebuah bangunan, diikuti puluhan anak buah yang siap menyerbu markas geng Kobra itu. Walau tak beringingan agak jauh di belakang mereka.
Saat masuk kedalamnya tercium bau menyengat minuman keras, Joker sampai menggosok hidungnya. Begitu membuka salah satu pintu dalam bangunan itu, ia berdecih tertawa remeh melihat anggota geng itu tengah berpesta. Pantas saja tak ada yang berjaga didepan ternyata mereka tengah bersenang senang.
Joker bertepuk tangan keras sambil terus melangkah maju, bibirnya tertawa kecil. Sadar akan kehadiran orang lain dalam ruangan itu beberapa anggota yang masih sadar memberitahu yang lain jika mereka kedatangan tamu.
"Wah, apa kalian sedang bersenang senang?" tanya Joker.
"Siapa kalian?!" tanya salah satu anggota geng Kobra itu.
"Siapa kami?" beo Joker tertawa keras. "Kalian tak perlu tau karena sebelum kalian tau malaikat maut sudah mencabut nyawa kalian" tambahnya.
"Berengsek, serang mereka!!!". Anggota geng Kobra berjumlah belasan orang itupun bergerak cepat ingin mengepung keempat pria tersebut.
Tapi gerakan mereka tiba tiba terhenti dan nyaris berbalik saat banyak pria muncul dibelakang keempatnya. Dan tentu saja langkah seribu mereka tak berjalan lancar dibuatnya, anak buah Joker lebih dulu mendapatkan mereka dan segera menghabisi mereka.
"Tinggalkan yang satu itu" titah Joker pada satu anak buahnya.
Dengan kasar Joker menarik rambut pria yang sudah babak belur didepannya sampai kepala pria itu menghadap keatas. "Dimana Haikal dan ketuamu?" tanyanya dingin.
Pria itu menggeleng menandakan jika ia tak tahu. "Benarkah?" tanya Joker lagi.
"Benar saya tidak tau" ucap pria itu. Joker tertawa sarkas melirik salah satu anak buahnya lalu menerima sebuah pisau darinya.
Joker memainkan memutar mutar pisau itu ditangannya. "Yakin kau tidak mau menjawab?" tanyanya sekali lagi.
Pria itu menelan ludahnya yang sudah sekeras batu, melirik pada pisau ditangan Joker. Ia kemudian mengangguk ragu. "Oke, karena aku tak mendapatkan informasi apapun lebih baik aku mencongkel kedua matamu sebagai gantinya"
Joker sudah mendekatkan ujung pisaunya pada mata pria itu, sampai teriakan ketakutan terdengar jelas darinya. "Aku tau, aku tau" pekiknya.
"Mereka ada dibangunan ini juga, dibagian belakang" ucapnya.
"Lambat" ucap Joker yang tak dapat dimengerti pria itu. Apalagi setelah Joker melepaskannya begitu saja berjalan pergi bersama ketiga pria lainnya. Sedang nasibnya bagaimana.
Dia tersentak saat seorang pria lainnya sudah berdiri disamping memegang pistol dan siap menarik pelatuknya. "Tu...., Tuan ampuni saya, Tuan.....". Dorr!.
Sedangkan yang dicari cari tengah berpesta pora merayakan berhasilnya rencana mereka yaitu melukai Tiara dan tahap selanjutnya adalah membunuh wanita itu. Mungkin dalam beberapa hari lagi.
Haikal meletakkan kasar gelas minumannya. "Belum, sampai dia mati aku tak akan puas" jawabnya dengan suara yang kurang jelas sebab bibirnya yang habis di kuliti Tiara.
"Tenang saja kita biarkan dia bernafas dulu, beberapa hari lagi nafas itu akan terhenti" ucap sang Ketua.
Bughh!!!, Prank!!!!.
Anak buah Ketua itu langsung kalang kabut saat kepala sang ketua terluka karena lemparan botol kaca. Siapa pelakunya yang berani main main dengan sang ketua.
"Berengsek!!!!!, Siapa yang berani melukai ketua hah!!!!"
"Ckck melukai, gue malah pengennya dia bisa langsung mati" ucap Joker yang membuat semua orang menatapnya. Tak terkecuali sang Ketua.
"Kau Ketua Naga emas, untuk apa kau kesini, kami tak pernah menyinggungmu kan" tanya Ketua geng Kobra sambil terus memegang dahinya yang terluka akibat lemparan botol dari Joker.
Jujur saja dari pada marah, saat melihat Joker perasaannya lebih mengarah ke takut, karena sang Mafia kelas elit itu menyambanginya sendiri. Di dunia hitam Joker dan gengnya adalah salah satu Mafia besar yang terkenal kuat, disegani dan ditakuti.
"Kau tak sadar, bukan hanya menyinggungku, kau berani bermain main denganku" jawab Joker geram.
Ketua geng Kobra itu mengernyit tak mengerti, menurutnya selama ini dia tak pernah berurusan dengan anggota geng Naga Emas.
"Dia" tunjuk Joker. "Karena dia kau berani menyelakai Tiara, wanita itu adalah kekasih sahabatku kau tau itu hah!!!" bentak Joker tak dapat menahan kekesalannya saat melihat wajah Haikal yang terlihat santai santai saja.
Baru saat Joker berteriak ia sadar sudah berurusan dengan singa kelaparan. Sang Ketua Kobra beralih pada kaki tangannya itu. "Dan kau juga harus menerima akibatnya karena sudah membantunya" tambah Joker tersenyum iblis.
Tanpa hitungan lama lagi, anak buah Joker langsung menyerang anak buah Kobra. Saling baku hantam sampai anggota Kobra lainnya dari tempat lain masuk untuk membantu, tapi tetap saja tak berarti apapun. Anggota Naga Emas yang memang sudah terlatih bela diri juga pandai menggunakan senjata dengan mudah menghabisi semua anggota Kobra.
Bahkan Joker, Ridan, Aril dan Erik yang sedari tadi matanya menyorot nyalang pada Haikal pun tak tersentuh oleh mereka.
Ditengah perkelahian itu Erik berjalan mengeluarkan aura hitam pembunuh dari tubuhnya, mata merah menyalang itu tak kuasa lagi menahan hasrat menghabisi lawannya. Begitu dekat dengan Haikal yang berusaha ingin kabur, langsung saja dengan kaki kanannya Erik menendang punggung pria keparat itu.
Haikal tersungkur akibat tendangan keras dari Erik itu. Ia berbalik menatap sang Lucifer yang siap mencabut nyawanya untuk dibawa keneraka, begitulah penglihatannya saat ini. Hanya saja Lucifer ini berparas tampan dan tak memunculkan kedua tanduknya.
"Ampun...., Ampuni aku" pinta Haikal ketakutan. Untuk melawan ia sadar takkan bisa karena pria didepannya terlihat sangat murka dan sudah seperti kerasukan malaikat pencabut nyawa.
"Ckck, Ampun?" hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Erik. Mengucapkannya pun di barengi gemertak gigi yang terdengar nyaring.
Sudah sedari tadi dia menahan diri untuk tak menembak mati Haikal dengan pistol yang ada disaku jaketnya. Teringat dengan permintaan Anita yang ingin Haikal disiksa sebelum menjemput ajalnya.
Erik menjambak rambut Haikal, menyeretnya lalu membenturkan kepala pria itu ketembok dengan keras. Ia bagai tak bisa lagi mengontrol diri mengabaikan rasa manusiawi, karena baginya Haikal bukanlah manusia melainkan binatang.
Sekali, dua kali, tiga kali. Sampai Haikal merasakan nyawanya akan melayang seketika itu juga, kepalanya sudah sakit tak terkira. Darah pun mengalir deras dari puncak kepalanya.
Tapi dengan sisa kekuatan dan tinggi rasa harga dirinya Haikal menepis tangan Erik kuat. Ia pun terlepas dari amukan Erik walau hanya sementara, dengan sekuat tenaga ia membuka mata Haikal mencoba ingin melawan sang pencabut nyawa.
Erik tertawa iblis melihat Haikal yang mencoba melawannya. Pria itu berdiri terhuyung huyung didepannya. Saat Erik hanya melihat lihat Haikal salah satu anak buah Kobra yang tersisa mencoba menyerangnya dengan sebilah pisau.
Untung saja Erik melihat gerakan pria itu dari ekor matanya, sigap ia menahan dengan mencengkram kuat pergelangan tangan pria itu. Memelintirnya hingga pisau itu terjatuh, Erik langsung menarik tubuh pria itu hingga berdiri didepannya. Dan,
Krek!!!!!.
Haikal membulatkan mata saat dengan jelas Erik mematahkan leher temannya dengan sangat mudah seperti mematahkan sebilah kayu. Apalagi dengan ekpresi yang datar sekali, Erik langsung mendorong asal tubuh tak bernyawa itu.
Erik berjalan maju, Haikal berjalan mundur ragu. Ingin menghindar tapi ingin melawan juga rasanya karena jika pasrah mungkin nyawanya hanya sisa sedetik lagi.
Ia mulai bergetar saat Erik mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. "Pistol!" Haikal meneguk kasar salivanya.
Dan tanpa pikir panjang lagi Haikal berlari ingin menerjang Erik, namun pria itu langsung mencengkram lehernya dengan tangan kirinya.
Sang Ketua geng Kobra melihat kesulitan Haikal, pria berkulit gelap itu langsung mengangkat pistolnya.
Dor!!!!!.