Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.75



*Dari pada kamu menanyakan alasan kepergian seseorang lebih baik kamu menahannya untuk tak pergi*


*


*


*


*


*


Aditya yang terlihat tampan dengan setelan jas berwarna hitam metalic kini terpana melihat calon tunangannya datang dari pintu ganda balroom diapit oleh Ibunya dan juga Mama Aditya.


Sampai tiba tepat didepannya pun pria itu tak mengalihkan pandangan bahkan nyaris lupa untuk berkedip. Tiara sungguh cantik malam ini.


"Hey!!!" seru sang Mama tertawa melihat putranya begitu terpesona pada calon menantunya. Aditya terkejut dan langsung salah tingkah.


"Lihat Kak Aditmu ini Tiara, dia terpesona dengan kecantikanmu malam ini" goda Mama Aditya pada Tiara yang tersenyum malu.


"Mama" protes Aditya kesal sang Mama tertawa begitu juga Ibu Tiara.


Setelahnya Aditya dan Tiara berdiri berdampingan ikut mendengarkan beberapa kalimat terima kasih atas datangnya tamu undangan dari Andi Prakasa dan Dr. Hendriwan.


"Mala dan yang lain kemana?" bisik Tiara pada Aditya melihag dari banyaknya tamu undangan tak ada wajah sang sahabat juga sahabat Erik. Karena dirinya yakin pria itu tak mungkin datang atau bahkan tak tahu dia akan bertunangan.


Aditya sesaat terdiam lalu berdehem pelan. "Masih dijalan mungkin kena macet" jawabnya memberi alasan. Karena memang Tiara tak tahu menahu tentang penolakan Mala juga sahabat suaminya itu. Beberapa minggu ini mereka memang tak pernah bertemu.


Padahal Aditya sebenarnya tahu ketidakdatangan sang Adik ke pertunangannya bukan karena pekerjaan tapi karena Mala tak menyetujui ikrar tersebut. Jangankan Mala, Aril, Ridan dan Joker yang turut diundang pun tak ada yang datang sama sekali.


Acara ini pun masuk kepada bagian intinya. "Sekarang tinggal Nona Tiara yang memasangkan cincinnya ke jari manis Tuan Aditya" ujar pembawa acara setelah Aditya memasangkan cincin kejari manis Tiara.


Tiara mengambil cincin yang diberikan sang Mama padanya, sesaat memandang Aditya yang pria itu tak tahu Anita kembali bertanya pada Tiara atas keyakinannya menerima ini semua.


"Ra" tegur sang Mama saat Tiara terus terdiam sembari memegang cincinnya.


Tiara menoleh sekilas pada sang Mama kembali pada Aditya yang setia tersenyum. Wanita itu menarik nafas kemudian membuangnya, lalu mengambil jemari Aditya untuk dipasangkannya cincin pertunangan mereka dijari manis pria itu.


Bersamaan dengan ikrar itu para tamu undangan bertepuk tangan ikut senang. Aditya pun sama senangnya memeluk Tiara dengan eratnya.


Saat keduanya mendapatkan ucapan selamat dari tamu undangan tiba tiba pembawa acara mengucapkan sesuatu dari arah panggung band.


"Wah, tidak disangka kita kedatangan penyanyi terkenal Waren Royse" hebohnya membuat semua orang berfokus kearah panggung tak terkecuali Aditya dan Tiara yang membelalakkan mata tak menyangka.


"Jadi anda ingin menyanyikan sebuah lagu di pertunangan Tuan Aditya dan Nona Tiara?" tanya pembawa acara pada Erik yang sudah berdiri disampingnya yang berpakaian casual padahal semua orang berpakaian formal dengan jas dan gaun.


"Ya, saya ingin memberikan hadiah kepada pasangan spesial kita malam ini" jawab Erik dengan tatapan mengarah pada Tiara, bukan tatapan amarah seperti sebelumnya tapi tatapan sendu.


Aditya melirik kesamping bawah melihat tangan Tiara yang menggenggam tangannya terlalu erat, dia sadar wanita itu tengah syok. Dia pun melepas genggaman itu dan malah merangkul bahu Tiara untuk menenangkannya tanpa berkata.


Erik melihat itu semua reflek tangannya terkepal kuat, ingin sekali ia memisahkan keduanya tapi apalah daya itu sudah pilihan Tiara. Berharap dia datang ke pertunangan mereka untuk meredam sakit dihati dan menerima walau terpaksa, nyatanya malah semakin sakit saja hatinya.


"Kalau begitu kita dengarkan saja persembahan dari Waren Royce" seru pembawa acara mengundang tepuk tangan dari semua tamu undangan.


Tiara sudah seperti tak sanggup berdiri menghadapi keadaan ini, melihat orang tuanya yang juga sama terkejutnya dengan kedatangan putra wijaya itu.


"Kak Adit..." lenguhnya pada Aditya jika saja pria itu tak menahan tubuhnya dirinya pasti ambruk ditempat.


"Bertahanlah sebentar lagi setelah ini kita pergi" jawab Aditya mencoba menguasai keadaan. Tiara menganggukkan kepala.


Alunan piano dan melodi mulai saling bersahutan Erik juga sudah siap menyanyikan lagunya, yang katanya kali ini berbahasa indonesia bukan seperti biasanya inggris atau jerman.


Aku terdampar disini tersudut menunggu mati


Aku tak percaya lagi akan guna matahari


Yang dulu mampu terangi sudut gelap hati ini


Aku berhenti berharap dan menunggu datang gelap


Sampai nanti suatu saat tak ada cinta kudapat


Kenapa ada derita bila bahagia tercipta?


Kenapa ada sang hitam bila putih menyenangkan?


Aku pulang tanpa dendam


Kuterima kekalahanku


Aku pulang tanpa dendam


Kusalutkan kemenanganmu, woo


Kau ajarkan aku bahagia


Kau ajarkan aku derita


Kau tunjukkan aku bahagia


Kau tunjukkan aku derita


Kau berikan aku bahagia


Kau berikan aku derita


Tiara sudah tak sanggup lagi menahannya kristal bening yang dari tadi sudah memupuk dimatanya terlepas sudah berhamburan dipipi bersemburat merah miliknya.


Semakin menghayati Erik bernyanyi tangis Tiara semakin jadi untung tak ada yang memperhatikannya. Karena semua orang larut dalam nyanyian Erik, tak sedikit pula yang menanyakan kenapa pria itu menyanyikan lagu menyedihkan di acara pertunangan.


Terkecuali Aditya yang sigap melihat sang tunangan menangis dia mengambil sapu tangan dikantung jasnya, mengusapkan pada wajah Tiara.


"Aduh aduh aduh, sungguh menyayat hati sekali lagunya, untuk yang patah hati bisa nih dengarkan dirumah ya, tersedia di JUUKS ya.... Hahaha malah promosi" ucap pembawa acara setelah Erik menyelesaikan lagunya.


"Ngomong ngomong terima kasih kepada Waren Royse sudah membuat kita baper malam ini" tambahnya lagi. Erik hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan panggung berjalan kearah pasangan tunangan disebrangnya.


"Selamat atas pertunangan kalian" ucap Erik tulus.


"Terima kasih" jawab Aditya.


Erik tak ambil pusing dengan tanggapan Aditya dia beralih pada Tiara. "Terkadang Tuhan memang tidak adil, aku yang berjuang tapi orang lain yang menuai" ucapnya. Aditya melirik tajam sedang Tiara tertunduk dalam.


"Boleh aku memeluk Tiara untuk yang terakhir kalinya?" tanya Erik coba coba tak kuasa juga melihat bekas air mata dipipi wanita yang sialnya amat cantik dimatanya. Sempat berfikir juga seandainya Tiara bertunangan dengan dirinya, tidak langsung menikah saja. Tapi hanya khayalan saja sialnya.


Aditya yang ditanya tak menjawab hanya mengangguk dua kali setelah sekilas melihat Tiara. Erik pun tak melepas kesempatannya ditariknya tubuh Tiara untuk ia peluk seperti katanya, yang terakhir kalinya.


"Kita takkan bisa satu, akhirnya aku mengerti makna kata itu" ucap pria itu singkat sesingkat ia memeluk Tiara.


"Berbahagialah kalian" ucapnya tulus setelah meninggalkan keduanya dengan senyum menghiasi wajahnya. Tanpa ada yang tahu sejatinya hatinya tengah menangis didalam sana.


Dan setelah sosok itu menghilang dibalik pintu ganda, Tiara yang sudah tak bisa lagi menahan perih tak sadarkan diri dipelukan Aditya.