
* Kehilangan sudah pasti milik setiap manusia, namun jika semuanya terjadi tiba tiba, kesiapan tak pernah menjadi milik siapa siapa *.
*
*
*
*
*
Tatapan dari orang orang dijalan tak lagi dihiraukan Tiara, saat ini dalam pikirannya hanya bertemu dengan Erik saja. Bahkan apapun yang terjadi setelahnya dia pasrah, terima apapun keputusannya.
Begitu sampai dibandara, Tiara memarkirkan asal motornya. Masih dengan kebaya pengantin dengan rok yang sudah robek wanita itu berlari masuk.
Menoleh kesana kemari berlari kesana kemari dia mencari sang pengisi hati. Berharap pria itu belum naik kepesawat. Yang tentu saja membuatnya mendapat perhatian orang orang disana.
Terlebih lagi saat masuk keterminal penerbangan internasional, semua mata tertuju padanya.
Tiara langsung bertanya pada petugas disana, apakah pesawat tujuan Erik sudah lepas landas atau belum. Dan saat petuga menjawab sudah, Tiara terjatuh sudah.
Sempat tertawa tak percaya dia telah kehilang pria yang dicintainya untuk kedua kalinya. Kemudian menangis pedih mengingat surat yang diberikan pria itu tadi.
"Kenapa Rik, kenapa" isaknya. "Kenapa kamu ninggalin aku lagi, kenapa?".
Tiara menangis sejadi jadinya walau tak histeris, dia hanya terduduk memeluk lutut dilantai licin bandara itu. Mengabaikan bahwa dia sudah jadi pusat perhatian orang orang disana.
Bahkan beberapa orang menghampiri dan bertanya tapi Tiara tak kuasa menjawabnya. Hatinya terlalu sakit karena keegoisannya sendiri.
"Hey, bodoh kenapa kamu menangis disini, kau tak malu semua orang melihatmu?!!".
Tiara reflek mendongak saat mendengar suara berat, dan melihat sosok pria yang dicarinya sedari tadi itu sudah dihadapannya. Langsung saja,
Grep.
"Jangan pergi lagi, kumohon jangan pergi lagi Rik, jangan tinggalkan aku" histerisnya memeluk Erik erat kalau bisa tak ingin lagi dilepasnya.
"Maafkan aku, maafkan aku". Hanya itu kalimat yang bisa diucapkannya setelahnya.
Sulit untuknya mengeluarkan kata kata yang sudah disusunya sedemikian rupa saat mengendarai motor tadi. Bahkan sebuah penjelasan singkat agar Erik percaya bukan dia pembunuh Erina, buyar sudah.
Dirinya terlalu bahagia mengetahui Erik belum meninggalkannya.
Tiara masih terisak saat Erik melepas pelukan dengan mendorong bahunya mundur, wanita itu mendongak menatap pria tinggi dihadapannya itu.
Erik menghapus jejak air mata dipipi merah Tiara dengan ibu jarinya.
"Hiks, hiks, maafkan aku Rik, maaf" isak Tiara.
"Kenapa kamu harus minta maaf?" Erik malah bertanya.
Tiara sesenggukan. "Bukan aku pelakunya, bukan aku yang membunuh Erina, aku bilang begitu karena tak terima gadis itu kehilangan nyawa oleh pisauku, aku....aku".
Erik menarik Tiara kembali dalam pelukannya, mengelus kepalanya sayang tak tahan melihat orang yang dicintainya menangis dengan sorot mata menyesal.
"Iya, aku sudah tau semuanya".
Tiara mendongak. "Kau tau?" beonya bingung.
*****
Flasback On.
Siang di musim semi ini membuat kedua gadis berbeda usia itu lebih senang pulang dari sekolah kerumah dengan berjalan kaki, menyusuri jalan sambil melihat lihat bunga yang mulai bermekaran.
Berhubung arah jalan kerumah mereka memang banyak lahan terbuka dan taman bunga. Keduanya bergandengan tangan dengan senyum lebar menatap keindahan didepan mata.
"Liat Sil, bunga itu cantik deh" seru salah satunya menunjuk bunga disebelah kanan mereka.
Masih seru menengok kanan dan kiri, keduanya mengernyit kala satu buah mobil jeep berhenti didekat mereka dan keluarlah beberapa pemuda dari dalamnya.
Kejadiannya begitu cepat hingga keduanya kini sudah berada didalam mobil itu dalam keadaan tak sadarkan diri. Mereka diculik.
Erina mengerang kecil mencoba menyadarkan diri dari tidurnya, merasa ada yang berbeda ia mengernyit. Gadis itu mencoba menggerakkan tubuhnya dan seketika matanya terbelalak tak percaya.
"Kenapa aku diikat seperti ini?" gumamnya sendiri.
Ia menoleh kekanan kiri dan mendapati Sisil juga dalam kondisi sama, ia membelalakkan mata. Dengan kakinya gadis kecil itu mencoba menyadarkan adik sambungnya.
"Sil.., Sisil bangun".
Sisil mengerang menyadarkan diri dan langsung panik saat sadar tangannya sudab terikat kebelakang.
"Kakak, kita dimana, kita kenapa?" tanyanya histeris.
"Ssssttt diam, sepertinya kita diculik".
"Diculik?" beo Sisil. "Ah...., Nggak mau aku takut Kak, aku takut" rengek gadis itu.
"Iya kakak juga takut, tapi kakak akan coba membebaskan kita dari sini, kamu tenang dulu ya" ucap Erina mencoba menenangkan sang adik padahal dia sendiri sama takutnya.
Bayangkan saja, mereka diculik orang yang tak dikenal saat tengah pulang sekolah dan sepi. Sekarang sudah dalam keadaan seperti ini, takut pasti.
Keduanya tambah ketakutkan saat pintu ruangan kosong itu terbuka, memperdengarkan suara tawa juga sosoknya.
"Wah mereka sudah bangun rupanya" ucap salah satu dari empat pemuda yang muncul.
Sisil semakin takut saja dibuatnya, gadis itu bahkan langsung bergeser menempel pada sang kakak.
Melihat pemuda yang sepertinya tengah mabuk itu membuatnya ketakutan setengah mati. Apalagi salah satu dari mereka mulai mendekati.
Erina mengelak jijik saat seorang pemuda mengangkat dagu lancipnya dengan telunjuk. "Yang ini cantik juga" ucapnya tertawa.
"Tapi yang kecil lebih menggoda, pasti mengigit" ucap lainnya menatap Sisil mesum.
Tidak bisa dibayangkan lagi saat ini Erina dan Sisil ketakutan setengah mati sampai tubuh mereka gemetar hebat.
"Sudah jangan banyak bicara kita nikmati mereka sekarang, aku sudah tidak sabar" ucap lainnya.
Mereka pun mulai mendekati dua gadis kecil yang ketakutan itu, bahkan sudah menggerayangi kaki keduanya.
"Jangan, tidak, tolong". Hanya rontaan itu yang dapat diteriakkan keduanya.
Salah satu dari mereka mulai menyibak rok yang dipakai Sisil hingga gadis itu berteriak kencang ketakutan. Berontak kuat bahkan sampai tangisnya tak lagi terdengar.
Namun Erina yang mengalami keadaan sama tak tega melihat adik kecilnya itu ketakutan. "Jangan sentuh adikku!!!!" bentaknya kuat. Tapi berhasil membuat dua pria yang menggerayangi Sisil menghentikan perbuatannya.
Keduanya tertawa. "Masih ingin menyelamatkan adikmu ini, Nona muda".
"Jangan sentuh adikku" ancam Erina marah ekspresinya saja benar benar menantang. "Jika kalian ingin melepaskan nafsu kalian, jangan dengannya tapi gunakan aku saja".
"Hahahahaha, berani sekali nona ini".
"Baiklah jika itu maumu"
Alhasil terjadilah pemerkosaan bergilir terhadap Erina yang hanya bisa menangis saja menahan sakit. Yang juga dilihat secara langsung oleh Sisil, gadis itu taj bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan kakaknya.
Begitu terus hingga empat hari berlalu, ketika para pemuda itu tengah mabuk atau sadar sekalipun mereka melampiaskan nafsunya pada Erina. Bergiliran ataupun tidak, sampai baju yang dipakai gadis itupun tak berbentuk lagi. Apalagi kewarasannya saat ini.
Karena yang terpenting bagi Erina saat itu adalah, Sisil tak disentuh mereka seidkitpun. Dia rela menjadi korban kebuasan empat pemuda bajingan itu.
Namun setelah empat hari mereka disekap dan dilecehkan, seorang gadis lainnya datang menyelamatkan keduanya walau dengan korban Erina.
Kejadiannya sama persis dengan apa yang diceritakan Tiara pada Aditya, tak kurang satu apapun atau lebih.
*****