Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.28



_Aku mengutamakannya dan dia mengutamakanku. Dan karenanya kami saling menyakiti_.


*


*


*


"Kamu bodoh atau apa, kenapa malam malam keluar dengan pakaian kurang bahan begitu hah!!!" bentak Tiara geram dengan kelakuan sang sahabat.


Mala yang memang keluar hanya mengenakan rok mini dan atasan super ketat pun memanyunkan bibirnya. "Maaf" ucapnya tau atas kesalahan yang dibuatnya. Karena sebagai seorang model pun tak pernah sekalipun Mala berpakaian begitu didepan umum.


"Maaf maaf, kamu itu sudah dewasa kenapa masih seperti anak abg sih??" omel Tiara. "Dengan pakaianmu itu, kau bisa mati beku kau tau!!!".


"Iya iya, aku tau aku salah, jangan omeli aku disini, kita masuk mobil aja yah". Mala mendorong tubuh Tiara yang masih nampak kesal masuk kedalam mobil. Lalu dia sendiri kembali setengah memutar dan masuk juga kedalamnya.


Setelahnya Mala mulai menjalankan mobilnya. "Kalau tadi kak Adit liat, bisa bisa kau dikurung dikamar".


Mala tertawa miris mendengar omelan Tiara. "Aku malah sudah mengurung diri selama tiga hari didalam kamar" akunya.


Tiara menoleh. "Ada apa, matamu tadi juga terlihat bengkak, apa yang terjadi?".


"Kuceritakan nanti, sekarang kita kesuatu tempat dulu".


"Kemana?".


Mala tersenyum jahil. "Tempat kita bisa berpesta".


*****


Tiara mendesah pasrah saat kakinya mulai menapak pada lantai dingin berwarna gelap dibawahnya. Mata juga mencoba mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya remang warna warni yang menghalau iris hitamnya.


Dengan sebelah tangan yang masih terus mencoba menurunkan ujung pakaiannya, Tiara mendelik sebal kearah wanita yang tersenyum senang disampingnya. Siapa lagi kalau bukan sang sahabat Mala.


Setengah jam yang lalu wanita itu membawanya ketoko pakaian, mengganti pakaian hangat Tiara dengan pakaian kurang bahan seperti kata syco cantik itu padanya. Tiara sempat menolak keras tapi air mata buaya dan rengekan yang ditunjukkan Mala membuatnya lemah tak berdaya dan akhirnya mengikutinya.


Dan prasangkanya saat mencoba dress mini selutut itu ternyata benar, Mala akan membawanya kesuatu tempat gemerlap dengan musik memekakkan telinga. Apalagi kalau bukan klub malam, atau biasa disebut juga diskotik. Hanya saja ini tempatnya orang orang berduit, sekelas sultan lah pokoknya.


Saat keduanya mulai masuk lebih dalam, Mala sudah mulai menganggukkan kepala serta menggoyangkan tubuhnya. Tak tahan mendengar racikan musik yang dipersembahkan seorang DJ terkenal.


Sedang Tiara yang masih risih dengan pakaiannya mulai kesal dengan tingkah sang sahabat. Wanita itu menarik bahu Mala agar sahabatnya itu menyamai tinggi mungilnya.


"Kamu nggak punya tempat lain untuk pesta selain disini hah!!!". Tiara bertanya dengan nada geram.


Masih dengan senyum dan anggukkan kepala Mala menjawab. "Ini tempat satu satunya yang kutahu". Tiara memutar bola matanya.


"Ayo" ajak Mala menarik tangan Tiara untuk pergi kearah salah satu bilik yang tersedia disetiap sudut ruangan. Melewati pandangan nakal dari pria pria yang mereka lewati.


Tiara duduk dengan rasa kesal dihati dan malah menyalahkan Erik yang tak kunjung menjemputnya sampai Mala datang dan membawanya ketempat menyebalkan ini. Tapi kalau tak begitu bisa bisa Mala pergi sendiri dan tak ada yang menjaganya, serba salah juga dirinya. Harus menyalahkan siapa.


Sedang Mala masih asik menganggukkan kepala sambil mengedar pandang mencari entah apa. Ia tersentak saat Tiara menggenggam tangannya dan menariknya.


"Jangan banyak alasan lagi sekarang cerita apa yang bikin kamu jadi stres begini?" tanya Tiara serius.


Dia bukan tak tahu kenapa sang sahabat yang tak pernah sekalipun menginjak tempat hiburan malam ini, sekarang malah mengajaknya segala. Pasti ada satu alasan kuat yang membuatnya harus menenangkan dan menghibur diri, hingga harus kemari.


Sebelum menjawab pertanyaan Tiara, Mala sempat terdiam matanya berkaca lalu terisak tanpa sebab membuat Tiara panik walau masih bisa bersikap santai. "Loh bukannya jawab, malah nangis dia, kenapa sih La, cerita sama aku". Tiara menepuk pelan punggung si sahabat.


"Hiks..., Hiks...., Ra...." panggil Mala. "Iya cerita aja".


"Hiks..., Aril Ra".


Tiara mengernyit, jadi sahabatnya menangis karena Aril teman si gila Erik. Ternyata mereka semua sama aja, pikir Tiara sudah naik darah lebih dulu.


"Kenapa Aril, dia selingkuh, dia apakan kamu, jawab!!!, Biar aku habisi anak itu!!!!".


Mala menggeleng cepat. "Bukan" jawabnya sesenggukan.


"Terus kenapa?!!!".


Tiara sempat ternganga, hanya itu pikirnya. "Dia sibuk kali, kamu kan tau sendiri sekarang jabatannya presdir perusahaan".


Mala kembali menggeleng, lalu dia bercerita bagaimana kisah cinta yang mereka jalani. Sampai tahap rencana nikah tapi gagal lagi, gagal lagi. Dan semua itu sebab dirinya.


Tiara menggaruk pelipisnya. "Bukannya ngebela Aril nih La, tapi kalau aku jadi dia aku juga pasti kesel lah, udah nungguin kamu bertahun tahun, umur udah mateng rencana apalagi, ujung ujungnya begini".


"Iya memang semua salahku, aku yang terlalu terobsesi dengan cita citaku, tapi kalau nggak sekarang kapan lagi aku bisa gapai semua itu".


Tiara menghela napas panjang. "Terus kamu mau ngorbanin cowok sebaik Aril untuk cita citamu itu, masih banyak cara buat wujudtin cita citamu La sekalipun kalian udah menikah, tapi cowok sebaik dia belum tentu kamu bisa dapetin dilain hari".


Mala merenungkan diri, menyadari jika dirinya benar benar sudah egois. "Sekarang tinggal kamu pikirin baik baik, masa depan kalian ada ditanganmu".


"Tapi aku sudah terlanjur tanda tangan kontrak Ra". Mala masih saja memikirkan pekerjaannya.


Plak!!!.


"Kamu pikir calon lakimu miskin, bayar penalti kontrak untuk sultan kaya dia mah urusan kecil".


Mala terdiam mencerna lalu tertawa dengan bodohnya. "Masalah kecil digede gedein, lebay emang kalian tuh" sindir Tiara. Keduanya pun tertawa dengan kebodohan Mala.


"Permisi, mau minum apa?". Seorang pegawai wanita berpakaian sexy menawarkan minuman pada Tiara dan Mala.


"Jus jambu aja" jawab Mala.


Pegawai itupun mengernyit. "Maaf Nona kami tak menyediakan jus disini".


Mala dan Tiara pun bingung sendiri, untuk memesan kopi pun sudah pasti nggak ada ditempat begini. Emangnya warteg.


"Tequila saja" terdengar jawaban seorang wanita yang membuat Mala juga Tiara menoleh dan sedikit terkejut. Pegawai itupun pergi mengambilkan pesanan.


"Rin" ucap keduanya bersamaan.


"Hay" Rin melambaikan tangan lalu ikut duduk dengan keduanya. Setelah saling memeluk.


"Lama nggak ketemu Ra" sapa Rin pada Tiara. "Hem, kamu sudah lama kembali?".


"Baru sebulan ini" jawab Rin.


"Kerjaanmu sudah selesai di Amrik?" tanya Mala karena memang mereka seprofesi.


Sejak kejadian waktu SMA itu, Rin dan Tiara menjadi teman walaupun tak seakrab dengan Mala. Mereka juga sesekali saling bertukar kabar lewat media sosial.


"Hem, oia kalian ngapain kesini, setauku kalian bukan tipe anak klub".


Tiara mendelik pada Mala. "Gara gara sioon nih, galau bukannya berdoa malah ngajak kesini, setan emang".


"Yah namanya pengen bebas sebentar dari kegalauan, tempat ini aja yang kutahu asik" bela Mala.


Tiara berdecih lalu beralih pada Rin yang terkikik. "Kamu sendiri ngapain kesini?".


"Nemanin teman, biasa orang Amrik suka dugem" Rin menunjuk dengan dagunya kearah beberapa teman bulenya disudut berbeda. "Nggak sengaja liat kalian yah jadi kesini deh" tambahnya.


Ketiganya pun larut dalam obrolan sampai tak sadar jika sudah menghabiskan beberapa gelas tequila yang mereka pesan. Minuman yang awalnya terasa pahit dilidah tapi lama kelamaan menunjukkan manisnya membuat ketiganya ketagihan. Sampai membuat mereka yang awam minum pun mulai keliengan.


Alunan musik dari DJ yang semakin memeriahkan malam ini pun membuat ketiganya terlena untuk turun kelantai dansa. Mala, Tiara dan Rin asik berjoget disana dan terang saja dilingkari oleh pria pria yang sedari tadi mengincar mereka.


Disaat mereka asik berjoget ria, belahan manusia tercipta karena ketiga orang pria berwajah dingin yang berjalan dengan angkuhnya, menuju kearah tiga wanita itu. Mereka pun tanpa segan menarik kasar pria pria yang ikut berjoget disebelah Tiara, Mala dan Rin.


"Menjauh dari wanitaku!!!". Para pria tadi pun menghindar ketakutan.


Sampai didepan ketiga wanita yang masih asik berjoget itu, mereka berdiri tegap menatap garang kearahnya.


Erik dan Aril bersamaan menarik tangan wanita masing masing. Sampai tubuh sexy itu bertubrukan dengan dada kekar mereka.


"PULANG SEKARANG!!!!!".