Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.43



_Takkan pernah satu, tapi tetap menjadi candu bagiku_.


*


*


*


Beberapa hari setelah berita menggemparkan tentang meninggalnya Rimba, polisi memutuskan untuk menghentikkan penyelidikkan. Hasil visum yang keluar juga mengatakan jika Rimba meninggal karena over dosis obat obattan bukan karena kekerasan. Luka goresan ditangannya pun dicurigai ia melukainya sendiri. Dan juga pihak keluarga pun sudah menerima apapun yang terjadi.


Sedang Haikal sang manager yang tak tahu dimana rimbanya itu masih terus dicari, bukan oleh polisi tapi suruhan Erik. Ia masih menaruh kekesalan pada pria tersebut dan takut Haikal tiba tiba muncul dan membalas dendam pada Tiara.


Dalam beberapa hari itu juga Erik dan Tiara kembali disibukkan dengan pekerjaan masing masing. Erik menyelesaikan album kesekiannya, Tiara sibuk mencari artis yang mau bekerja sama dengan programnya. Karena setelah sepeninggalan Rimba, mereka harus mencari Artis pengganti untuk kelanjutan program mereka.


Dan disinilah Tiara juga Faris rekan kerjanya berada. Sebuah lokasi dimana mereka tengah menunggu seorang artis selesai dari proses syutingnya.


Setelah prosesi syuting selesai, Tiara yang melihat sang Artis kini tengah duduk santai sedang dilayani asistennya dibawah payung besar itu, Tiara sigap mendekat tak lupa mengajak Faris bersamanya.


"Ekhm, permisi Nona Gabriela bisa kita bicara sebentar?". Adalah Faris yang menyapa sedang Tiara berdiri dengan wajah datarnya.


Walaupun dia sangat bertanggup jawab dengan pekerjaan tapi untuk hal basa basi begini bukan keahliaannya. Karena itu untuk merekrut seorang Artis, Faris lah yang akan memulai pembicaraan lebih dulu.


Gabriela yang merasa disapa pun mengernyit saat melihat kedua orang itu sudah berada didepannya. Ia melirikkan mata pada sang Asisten yang paham dengan sorotnya. Wanita yang sebelumnya tengah berlutut memperbaiki rok yang dipakai sang Artis itupun sigap berdiri.


"Maaf tapi kalian siapa ya?" tanyanya sopan.


Tiara langsung memutar bola matanya jengah. Inilah yang ia tidak sukai saat mencari seorang Artis. Kalau sifat Artis itu humble dan ramah sih nggak papa, tapi jika acuh dan terkesan sombong seperti Gabriela saat ini bisa membuat mood nya hancur seketika.


Lihat saja sudah disapa baik baik bukannya menjawab wanita dengan wajah jutek itu malah menyuruh Asistennya yang menanggapi. Sedang dia sendiri sibuk dengan ponselnya.


Faris tersadar ia langsung mengeluarkan sebuah kartu nama dan menunjukkannya pada Asisten Gabriela. "Kami dari ADC CORP" jawabnya.


Asisten Gabriela langsung mengamati kartu nama yang diberikan Faris lalu memperlihatkannya pada Gabriela. "Kami ingin mengajak Nona Gabriela untuk bergabung dengan program kami, jika Nona berkenan" tambah Faris.


Gabriela hanya meliriknya saja entah berbisik apa dengan sang Asisten sesaat lalu ia kembali sibuk dengan ponselnya. Asistennya pun tersenyum pada Faris. "Kalau boleh tau program apa Tuan?" tanyanya lagi.


"Sepuluh hari bersama, jadi kami hanya mengikuti keseharian Nona Gabriela selama sepuluh hari, setelah itu akan dilakukan pengeditan setelah semuanya selesai akan ditayangkan" jelas Faris sabar.


Wanita berambut pendek itupun berbalik saling berbisik lagi dengan Gabriela yang ada tepat dibelakangnya. Tak lama Asisten itu berbalik lagi dengan senyum yang getir. "Apa akan ada....".


"Bisakah Nona anda saja yang menjawab, kami ingin bicara dengannya bukan dengan anda, apa dia tak punya mulut untuk bicara sampai harus anda yang menjawab setiap pertanyaan kami" larat Tiara tegas sekaligus kesal. Nadanya yang sedikit tinggi membuat Asisten Gabriela menghilangkan senyumnya sampai berubah tegang.


Melihat tanya jawab Faris dengan dua wanita didepannya membuat Tiara kesal seperti ucapannya barusan. Tiara bukan tipe yang bisa menyembunyikan rasa kesalnya walaupun saat tengah bekerja, sekalipun itu dengan Artis yang bekerja sama.


Tapi entah mengapa sifatnya yang jujur, keras serta dingin itu malah membuat Gilang menyukai cara kerjanya. Mungkin Tiara adalah jembatannya untuk melihat keseriusan Artis tersebut dalam bekerja sama dengan program mereka, agar nanti tak banyak mengedit dan menyembunyikan kenyataan.


Tiara melirik kearah Gabriela. "Hey kau Nona Gabriela yang terhormat bisakah langsung bicara pada kami saja kami tak ingin bicara dengan juru bicaramu itu!" tambahnya. Faris yang terkejut dengan kata kata sang senior pun langsung memegang tangan Tiara mengkode agar dapat menahan emosinya.


Sedang Gabriela yang masih duduk santai dikursinya menatap tajam pada Tiara, ia berdecih kesal karenanya. "Kalian punya karyawan yang tak sopan begini, apa aku bisa bekerja sama dengan kalian?" tanyanya remeh.


Tiara tersenyum miring, dengan tangan bersidekap. "Kau bicara tentang kesopanan, apakah anda yang tak menjawab pertanyaan kami secara langsung dan malah berbisik pada Asisten anda itu sopan!!".


Gabriela emosi ia langsung bangkit dengan tatapan tajam mengarah pada Tiara. Tapi Tiara hanya membalas dengan senyum mengejek.


"Ayo Ris, kita cari Artis lain saja, aku malas berurusan dengan Artis sombong sepertinya" ucap Tiara ingin pergi dengan Faris setia mengikuti. Jika sudah Tiara berucap ia akan menuruti. Tapi,


"Tiara tunggu".


Tiara menghentikan langkah saat suara seseorang yang dikenalinya memanggil. Ia pun berbalik, memicing melihat seorang pria yang mendekat kearahnya.


"Lama tidak bertemu apa kabar?" tanya pria itu mengulurkan tangannya. Faris, Gabriela dan Asistennya menatap keduanya heran.


"Kau...., Roy?" ucap Tiara mencoba mengingat. Roy tersenyum tampan. "Ternyata kau ingat" ucapnya dan Tiara tanpa segan menyambut uluran tangannya.


"Ada apa kemari?" tanya Roy menatap Tiara dengan mata berbinarnya. Jika saja Tiara bukan kekasih sang adik sepupu dia sudah melancarkan aksi rayu seribu. Karena nyatanya ia juga menyukai tipe wanita seperti Tiara.


"Tadinya ingin merekrut seseorang tapi aku tak tahan dengan sikap sombongnya, jadi aku ingin pergi" jawab Tiara panjang lebar dengan lirikan mata tertuju pada Gabriela. Wanita itu sudah salting saja, takut sifat aslinya diketahui Roy. Selama ini kan image nya didepan pria itu seperti malaikat tanpa sayap.


Mendengar itu Roy langsung saja menatap Gabriela yang tersenyum manis padanya, Tiara berdecih dibuatnya. "Kamu saja Gabriela, Waren juga dulu bekerja sama dengan mereka, program mereka sangat bagus bisa menaikkan karir keartisan mu" Roy tanpa tahu apa apa malah menawarkan pada Gabriela.


Belum Gabriela menjawab Roy beralih oada Tiara dan berkata. "Gabriela saja Ra, kebetulan dia sudah dibawah naungan Agensiku".


"Ahhh begitu, terserah saja asal dia mau aku oke saja, tapi ingat program kami tak menampilkan kesombongan" sindir Tiara.


Pasal Roy punya sebuah Agensi dia memang sudah tahu dari Erik. Hanya saja dia tak tahu jika presdir di Agensi itu adalah si penyanyi Waren Royse alias Erik. Dia hanya tau Roy lah yang menjalankan Agensi itu, bertemu disini pun membuatnya sedikit terkejut. Terus terang saja ia lupa lupa ingat wajah Roy.


Roy tertawa. "Ah tidak tidak, dia wanita yang baik dan manis kok".


Tiara tersenyum getir. "Baik, manis, Cih manisan juga anjingnya V Bts" dalam hati Tiara berkata. "Dih kenapa aku jadi ikut ikutan si Mala sih apaan Bts" tambahnya sadar.


Keduanya asik bicara sedangkan Gabriela memaki dakam hati kenapa bisa Roy dan Tiara akrab begini. Pakai menawarkannya ikut program itu lagi, padahal ia malas ikut ikut program jelek begitu.


"Sial, jika bukan karena Waren aku nggak mau berada di Agensi ini!!!!" umpatnya dalam hati.


"Ah kalau begitu kami pergi dulu, untuk pembicaraan selanjutnya kuharap kau bisa datang bersama dia kekantor besok" ucap Tiara melirik pada Gabriela.


"Oke, besok akan kuberi kabar, nomermu masih tetap sama kan?" tanya Roy.


Tiara mengangguk. "Kalau susah menghubungiku, lewat Waren saja karena aku bersamanya" jawabnya. Mendengar ucapan Tiara, Gabriela tercengang.


"Oke baiklah" jawab Roy.


Setelah berpamitan kemudian Tiara dan Faris pergi, rasa penasaran juga benci menghinggapi Gabriela. Dia langsung bertanya pada Roy.


"Kak Roy, emmmmmm, wanita tadi siapanya Waren ya?".


Roy tersenyum. "Dia calon istrinya Waren" jawabnya lalu berlalu karena panggilan seorang temannya. Dan Gabriela sudah mengepalkan tangan sambil memaki dalam hatinya.


Brengsek!!!!!.