
*Tidak ada yang bisa menyembuhkan kesedihan kecuali kesabaran untuk tetap bertahan*
*
*
*
*
*
Kita hanya dipertemukan tapi tak bisa disatukan.
Mungkin kalimat itulah yang sedang dihadapi Erik dan Tiara saat ini. Sadar jika menjalin hubungan tak cukup dengan hanya kata mencintai keduanya pun sakit hati.
Tak ingin jujur kepada Erik tentang kejadian beberapa tahun silam mengenai meninggalnya adik pria itu membuat Tiara harus mengorbankan perasaanya. Sebenarnya bukan berniat bohong atau menyembunyikan kebenaran, tapi dia berpikir sekalipun pria itu tahu kebenarannya takkan ada yang berubah. Erina tetap mati dengan pisau yang dipegangnya dan Erik akan menganggap dia pembunuhnya. Saat melihat pria itu membuat Tiara terus terbayang kejadian tersebut dan merasa bersalah telah mencintainya.
Sedangkan seorang Erik wijaya malah tengah bertarung dengan perasaan cinta dan balas dendamnya. Bilang saja dia ikhlas atas kepergian adiknya dengan pelaku pembunuhnya Tiara dan masih tetap akan mencintai wanita itu seperti sebelumnya. Tapi bayang bayang wajah penuh memar sang adik terus membayangi membuat rasa bersalah terus menghantui. Rasa bersalah telah mencintai pembunuh sang adik. Hingga pada akhirnya ia melepaskan Tiara tapi membuat rasa sakit dihatinya malah berlipat ganda.
Jadi tolong katakan apa yang harus dilakukan keduanya, dalam rasa bersalah dan cinta yang sama besarnya?.
Dan seorang Aditya, bilang saja dia egois memanfaatkan keadaan keduanya dengan bersedia menjadi pelarian Tiara walau dia tau perasaan wanita itu padanya takkan pernah bisa sama dengannya.
Lalu apakah pria itu akan tetap pada keegoisannya atau menyusun rencana untuk melepaskan Tiara juga?.
*****
Sisil tengah duduk dibalkon kamarnya memikirkan entah apa saat dilihatnya sang kakak sambung masuk kegerbang rumahnya dengan berjalan kaki. Ia mengernyit.
Bukannya Erik sedari pagi ada dikamarnya dia bahkan sempat memberikan makan siang untuknya dan pria itu masih ada dikamarnya. Sisil beralih melihat keparkiran mobil dan disana masih terparkir apik kendaraan pria itu.
"Dari mana dia?" tanyanya entah pada siapa.
Sisil segera berlari kecil keluar dari kamar berniat menghampiri sang kakak, bertanya dari mana dirinya malam malam begini.
Begitu bertemu diruang keluarga gadis itu langsung saja menyambar lengan kakak sambungnya. "Kak Erik dari mana malam malam gini?" tanyanya.
Tapi bukannya menjawab yang ditanyai malah diam seribu bahasa hanya matanya yang berkaca kaca, ekpresinya tak terbaca. Sisil menunduk menghadap wajah pria tersebut, lalu mendesah berat.
Dia sudah tahu hanya dengan melihat wajah pria itu yang pasti dari acara pertunangan Tiara dan Aditya. Sisil melepas rangkulannya dilengan Erik lalu berkata.
"Bisakah kakak tak percaya dengan cerita kak Tiara, karena mungkin bukan itu cerita sebenarnya" ucapnya lemah nyaris tak terdengar.
Tapi Erik yang masih melangkah dengan pikiran kalut sepertinya sedikit mendengar kalimat sang adik, dia berbalik. "Apa kamu bilang?" tanyanya memastikan, jika tak salah telinganya tadi mendengar kata Tiara dan cerita sebenarnya.
Sisil langsung mendongak panik. "Nggak bukan apa apa, bukan" jawabnya.
Wajah Erik kembali sendu mengangguk dua kali lalu berbalik lagi, menaiki tangga untuk masuk kekamarnya. Dan kali ini Sisil hanya memperhatikan dari bawah saja.
*****
Aditya masih setia duduk disamping ranjangnya dimana Tiara terbaring disana setia menutup mata walau sudah beberapa jam dari ia pingsan sebelumnya. Bahkan berbagai cara sudah dilakukannya untuk membangunkan wanita itu tapi tak kunjung ada yang membantu.
Pria itu memperbaiki helai poni depan Tiara. "Kapan kamu mau bangun, Tiara? tanyanya pelan.
"Tolong jangan lari lagi dari kenyataan ini, kamu bisa menghadapinya aku yakin kamu kuat Ra" tambahnya menyemangati.
"Belum bangun?" tanya Hendri yang datang dengan membawa jarum dan kantong infus yang berisi penuh.
Setelah acara pertunangan Hendri meminta untuk mereka tinggal di apartemen Tiara, kebetulan sang penyewa sudah menyelesaikan kontraknya. Jadilah mereka bertiga tinggal disana dan Aditya menyetujui pikirnya akan ada yang menjaga sang kekasih.
Aditya sekilas melirik kearah calon Papa mertuanya lalu kembali menatap wajah damai Tiara. "Belum" jawabnya mendesah panjang.
Hendri sempat melakukan hal yang sama, lalu berdiri disamping Aditya duduk kemudian mulai memasangkan infus yang dibawanya kepunggung tangan sang putri. "Dia sudah lebih dari lima jam pingsan, om takut dia dehidrasi". terangnya sebelum Aditya bertanya apa yang dilakukannya. Aditya mengangguk saja.
"Apakah Tiara tidak apa apa, atau kita bawa dia kerumah sakit saja" usul Aditya. Dia amat khawatir melihat Tiara yang pingsan dalam waktu lama itu.
Hendri yang selesai menggantungkan infus tersenyum tipis, menepuk pundak Aditya sembari duduk disampingnya. "Putriku ini baik baik saja Nak, ini hanyalah bentuk pertahanannya dari rasa sedih, kecewa dan terluka yang amat dalam" jawabnya.
"Kau lupa kalau putri Om ini istimewa?" tambahnya bertanya sedikit tertawa.
Aditya pun ikut tertawa namun miris. "Benar, dia sangat istimewa untukku" imbuhnya. Hendri takjub.
Sesaat keduanya terdiam hanya memandang wajah Tiara yang benar benar tenang, keadaannya saat ini lebih kepada orang mati daripada tertidur panjang. Sampai Hendri mengeluarkan sebuah pertanyaan.
"Aditya" panggilnya tenang dan lembut, membuat pria yang berumur setengah darinya itu menoleh. "Apa kamu benar benar mencintai putri Om Tiara" tanyanya.
Aditya sempat tercengang mendapatkan pertanyaan yang awalnya ia sudah bersiap dengan itu, tapi secara langsung begini jujur dia membisu.
"Seandainya ada dua wanita, wanita pertama memiliki uang 50ribu dan memberikanmu setengah uangnya itu, sedangkan wanita kedua memiliki uang dengan nilai yang sama tapi tak memberikanmu sedikitpun juga, wanita mana yang kamu pilih?". Hendri malah kembali memberikan pertanyaan kedua melihat tunangan putrinya yang tak bisa menjawab pertanyaan pertama.
Dan seorang Aditya malah semakin pusing saja dibuatnya, pria itu kembali terdiam sepertinya mencerna pertanyaan yang dilontarkan sang calon mertua.
"Wanita pertama" jawabnya setelah berpikir beberapa menit lamanya.
Hendri tersenyum. "Alasannya?".
"Pake alasan juga Om?".
"Uang itu diibaratkan hati wanita yang aku suka, wanita pertama masih mau memberikan hatinya untukku walau setengah saja setengahnya lagi mungkin akan dia beri seiring berjalannya hubungan kami, sedang wanita kedua sama sekali tak memberikan hatinya untukku, takkan ada harapan kami bersatu" jawab Aditya. "Jadi aku memilih wanita pertama" tambahnya setelah kembali menarik nafas. Dia percaya diri dengan jawabannya sendiri alasannya pun kuat sekali.
Hendri tersenyum lebar membuat mata Aditya berbinar kemungkinan jawabannya benar. Tapi saat pria itu menyebutkan nilai atas jawaban Aditya pria itu tercengang.
"Eh".