Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.50



_Mencintaimu adalah bahagia dan sedih. Bahagia karena hati ini selalu untukmu, sedih karena tak bisa memilikimu_.


*


*


*


"Ssshhhhhh, aw aw sakit La , sakit" ringis Tiara saat Mala menjewer telinganya.


Mungkin selain Erik hanya Mala yang berani melakukan hal itu pada Tiara. Mala memang sudah seperti mama pengganti untuk memarahi setiap sikap nakalnya selama ini, mungkin dia sudah dapat wejangan dari Mama Tiara sendiri.


Mala melepaskan jewerannya sedikit keras lalu bersidekap dada, menatap Tiara yang mengelus telinganya garang. Sedang para pria tercengang melihat keduanya.


"Sangar calon bini lu, bro" bisik Joker pada Aril yang sudah menelan kasar salivanya. Bagaimanakah nasibnya saat sudah menikah nanti.


"Kenapa pergi sendiri, ninggalin kami gitu aja hah!!!, aku tau Erik penting bagimu tapi nggak gitu juga dong Ra!!!" omel Mala.


"Maaf" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Tiara saat ini, kepalanya juga tertunduk.


Mala terus saja mengomel membeberkan bagaimana pembangkangnya Tiara yang tak mau dirawat. Panjang ayatnya sudah bagai buku setebal lima puluh halaman.


Tak ada yang berani membela Tiara saat ini, walaupun seisi kamar itu didominasi laki laki. Bahkan Erik sekalipun sebenarnya ia tak tega melihat Tiara diomeli tapi dia memilih diam mendengarkan apa saja yang dilakukan Tiara saat ia tak sadarkan diri.


Menambah cerita dari panjangnya kisah wanita itu saat ia diruang operasi dari Ridan saat ia sadarkan diri subuh tadi.


"Bener apa yang dibilang Mala?" tanya Erik akhirnya membuka suara pada Tiara yang masih setia duduk disampingnya dengan kepala tertunduk.


Tiara mendongak menatap Erik tajam tapi melihat yang ditatap sudah berbeda sorotnya, Tiara melunak. "Iya" gumamnya.


"Sekarang kembali kekamarmu, kamu harus diperiksa kalau keadaanmu belum betul betul sehat jangan berani kemari" tegas Erik. Ini adalah satu satu cara agar Tiara mau menjalani perawatannya dengan benar.


Karena dia tahu disini bukan hanya dia korbannya tapi juga Tiara, wanita itu adalah korban utama pada kebakaran kemarin. Untuk kembali membahas perasaan itu bisa nanti, yang terpenting sekarang adalah kesehatan mereka juga menentukan dalang peristiwa itu.


Tanpa membantah Tiara pun segera berdiri dan pergi dengan langkah gontai, Aditya yang melihat sampai tercengang. Si keras kepala bisa menurut juga hanya dalam sekali ucapan saja, padahal sedari tadi Mala memarahinya tapi dia tak bergeming sedikitpun.


"Kamu temani Tiara, kakak disini dulu" ucap Aditya pada Mala yang mengikuti Tiara.


"Hmmm".


Sepeninggalan kedua wanita berbeda jauh tinggi tubuhnya itu, wajah kelima pria dalam kamar VIP itu berubah serius. Bahkan Ridan dan Joker yang tadi sempat memerah wajahnya menahan tawa karena sikap si syco Tiara yang bagai kucing diinjak ekornya.


"Kalian sudah mendapatkan apa?" tanya Aditya datar.


Joker beranjak mengambil laptop diatas meja memperlihatkan rekaman disana pada Aditya dan Erik yang belum mengetahui apapun karena Tiara keburu datang saat keadaannya baru benar benar membaik.


Mata Erik dan Aditya sama sama menyalang saat melihat sosok pria berpakaian hitam dalam video. Tangan keduanya mengepal kuat sangking emosinya.


"Lo udah tau siapa bajingan itu?" tanya Erik pada Joker.


Joker menggeleng pelan. "Gue baru ngirim video ini sama Gerald, kita tunggu kabar dari dia" jawabnya.


"Kira kira siapa dia, setau gue Tiara tak punya musuh" ucap Aditya heran.


Keempat pria yang lain berfikir mengenai pertanyaan Aditya. "Ada dua orang yang gue curigai tapi kalau memang mereka, berarti Tiara sudah tak aman berkeliaran sendirian" ucap Erik.


*****


Hati Erik kini tengah bahagia, amat bahagia tak pernah dirasakannya kebahagiaan seperti ini. Mulutnya terus saja mengunyah sambil menatap wanita manis didepannya.


Saat ini Tiara tengah menyuapinya makan siang. Sejak Tiara dinyatakan sudah sehat, wanita itu setia merawatnya. Sudah dua hari dan seperti sekarang contohnya menyuapi makan dirinya.


Setelah selesai menyuapi Erik, Tiara memberikan segelas minuman untuk diminumnya. Lalu ia membuka kaplet obat, ada tiga dan harus diminum bergantian. Erik menerima obat yang diberikan Tiara lalu meminumnya dan kembali duduk bersandar dikepala ranjang.


Tiara celingak celinguk mendapati kamar ini lengang dan sepi membuat mulutnya gatal jika tak bertanya, sebenarnya sudah dari kemarin ingin dilakukannya.


"Rik" panggilnya. "Hmmmm".


"Ortumu nggak ada yang jenguk kamu atau mereka nggak tau kamu dirumah sakit?" tanyanya penasaran karena selama Erik dirawat ia tak melihat sepasang pasutri ada disini, hanya Sisil yang datang sesekali.


"Sengaja nggak dikasih tau" jawab Erik santai sembari mengecek tabletnya. Ada banyak berkas yang dikirim Roy dan harus diperiksanya.


"Kenapa?".


"Hubungan kami nggak terlalu baik" jawab Erik lemah. Sesaat kemudian menatap Tiara yang wajahnya nampak heran. "Padahal dulu kamu tau kenapa hubunganku dan Ayahku itu buruk" tambahnya.


Tiara menaikkan sebelah alisnya, berpikir mungkin atau mengingat. "Ah, iyakah maaf aku lupa".


"Sudah biasa" jawab Erik sekenanya.


Plak!!!!!.


"Ssshhhhh, kenapa kamu memukulku?" ringis Erik mengelus lengannya karena mendapat pukulan mendadak dari Tiara.


"Karena kamu nyebelin!!!" jawab Tiara kesal.


Erik mengernyit. "Nyebelin kenapa, salahku apa?".


Tiara terdiam bola matanya bergerak gerak. "Ini semua karena aku yang tak mengingat tentangmu sedikitpun, sampai kamu mulai terbiasa, maaf" ucapnya sesal.


Entahlah sejak Erik rela mengorbankan nyawa demi dirinya dan pria itu terluka karena melindunginya, Tiara jadi menyalahkan dirinya atas segalanya. Wanita berwatak keras dan acuh sepertinya bisa melow begini dihadapan seorang pria, Erik orangnya hanya pria ini yang bisa membuatnya berubah.


Tiara mendongak saat Erik menarik tangannya untuk pria itu genggam, mereka saling tatap penuh isyarat. "Dengar, aku nggak masalah kamu mengingatku atau tidak, yang terpenting adalah kamu tak pernah melupakan cintamu padaku hanya itu modalku untuk kembali mendapatkanmu dan akhirnya aku berhasil kan".


"Berhasil?" beo Tiara.


Erik mengangguk. "Bukannya aku sudah mendapat jawabannya waktu itu" godanya.


Tiara melirik keatas. "Kapan yah, aku nggak pernah bilang apa apa tuh".


Erik melengos. "Apa aku harus benar benar sekarat supaya kamu mengakuinya?" tanyanya mode serius.


Tentu saja membuat Tiara kalang kabut. "Jangan!".


Erik tersenyum jahil. "Jadi benar kan kamu menerimaku kan, kamu juga mencintaiku kan, yakan?" goda pria itu tanpa henti.


Tapi Tiara juga mengelak tanpa henti, hingga sebal Erik mengeluarkan jurus gelitikkannya. Sangking kegeliannya Tiara sampai terjatuh kepelukan Erik, hening.


Erik tak melepas dekapannya sedang Tiara tampak nyaman didalamnya. Erik tercengang saat Tiara balas memeluknya, melingkarkan lengannya keleher pria itu. Menghirup aroma maskulin yang masih menempel ditubuhnya walau ia tengah dirumah sakit.


"Jangan lakukan hal itu lagi, aku sungguh takut bahkan hanya untuk membayangkanmu pergi".


Erik tersenyum membelai lembut rambut panjang Tiara. "Iya aku janji, aku takkan pergi darimu lagi" jawabnya.


Keduanya pun berpelukan melepaskan perasaan yang selama ini dipendam, cinta dan rindu saling bertukar peranan. Cinta dihati Tiara dan rindu dihati Erik, tapi ada juga rasa lain pada saat itu. Rasa hancur berkeping keping pada hati seseorang yang melihat hubungan keduanya semakin berkembang.


Ya, Aditya melihat semuanya. Melihat dari balik pintu kamar Vip itu, bagaimana rapuhnya seorang Tiara dihadapan orang yang dicintainya.


"Berbahagialah kalian" gumam Aditya tersenyum pahit, lalu berbalik dan pergi menyisakan abu hati yang habis terbakar.