
*Apa yang paling aneh dari rindu? Mereka membuatmu tersiksa satu kali. Saat mencoba menuntaskannya, siksaan itu malah makin berlipat ganda. Pertemuan itu bukan obat tapi hanya pereda*.
*
*
*
*
*
Dua hari ini Tiara sudah sering mendengar suara di samping markasnya, bukan seperti markas mafia atau pun penjual narkoba. Tapi markas untuk sejenak berdiam diri menenangkan hati dari segala kelebihan atau bisa dibilang keanehan dalam dirinya ini. Di rooftop gedung tak terpakai itu Tiara bisa menenangkan diri sembari melihat luasnya kota ini.
Awalnya Tiara mengabaikan suara suara itu, pikirnya mungkin beberapa anak nakal sedang menggelar pesta, tapi semakin lama semakin mencurigakan saja apalagi sesekali terdengar suara tangis dari sana.
Tak ingin penasaran lagi kali ini Tiara akhirnya bangkit dari duduknya di pinggir pembatas rooftop. Gadis yang kala itu masih berumur belasan tahun itu berjalan kearah gedung sebelah dengan hati hati.
Gedung biasa sama tak terpakainya dengan markasnya, hanya saja tempat ini terlalu kotor untuk ditempati berpesta. Lebih cocok dipakai uji nyali saja.
Tiara terus berjalan mencari asal suara yang menjadi niat datangnya ketempat ini. Dan akhirnya setelah menyusuri beberapa ruangan dengan mengendap endap, Tiara mendengar suara itu lagi. Tapi kali ini suara itu terdengar membentak namun lirih.
"Kabur, cepat kabur dari sini!!".
"Nggak, kalau aku pergi kakak sendiri disini".
"Tenanglah aku nggak papa, sekarang kamu pergi cari bantuan".
"Tapi...."
"Cepatlah pergi Sil, cuman itu satu satunya cara kita bisa pergi dari sini".
Tiara menyatukan kening melihat interaksi dua gadis yang sepertinya kakak adik itu dari balik pintu. Gadis yang lebih tua terlihat terikat tangan dan kakinya, pakaiannya sobek sana sini. Sedangkan yang lebih muda terlihat ketakutan ditubuhnya terdapat banyak lebam.
Tak lama Tiara melihat gadis kecil itupun pergi dari pintu lainnya meninggalkan sang kakak sendirian disana. "Apa mereka diculik?" pikir Tiara.
Tapi berada disitu dan melihat adegan barusan tak membuat seorang Tiara berpikir untuk membantu, saat itu jiwa masa bodoh dan cueknya sembilan puluh persen lebih banyak dari rasa kemanusiaannya.
Tiara hanya terus melihat Erina yang menangis sambil meringis sepertinya gadis itu tengah menahan sakit. Melihat gadis itu hati Tiara tak elak sedikit terenyuh juga, hendak melangkahkan kaki tapi otaknya tak mengizinkan. Alhasil dia pun ingin berbalik pergi tapi mendengar suara dobrakan pintu, Tiara kembali melihat keadaan gadis itu.
"Hey!!!, Kenapa kamu sendirian kemana adik kecilmu pergi hah??!!!".
Tiara melihat dua orang pemuda masuk kedalam ruangan tersebut, salah satunya mendekat dan membentak Erina sambil mencengkram kuat pipi gadis itu.
"Sial, gadis kecil itu kabur" ucap pemuda satunya lagi memegang seutas tali yang terpotong asal.
Pemuda yang mencengkram Erina semakin kesal mendengarnya, dan plak!!!. Melampiaskan kemarahannya pada gadis itu, ia menamparnya kuat hingga Erina terjatuh dilantai. Dan saat itupun Tiara masih biasa saja melihatnya.
"Kemana adikmu itu kabur hah??!!!, Jawab!!!" bentak pemuda itu emosi.
Tapi Erina diam saja, bahkan untuk menangis dan berkspresi kesakitan akibat tamparan itupun tidak. Wajahnya datar sedatar datarnya.
Tiara mengernyit dibuatnya, bukankah tadi gadis itu menangis. Tiara langsung menghela napas sadar. "Gadis itu......., pasrah." gumamnya.
"Bagaimana ini kalau gadis itu berhasil kabur dan melapor, kita bisa tamat" ucap pemuda yang memegang tali tadi. Membuat kawannya pun tak ayal prustasi, namun kemudian tertawa iblis.
"Biarkan saja, toh gadis itu lemah akan butuh waktu untuk itu, saat ini kita bersenang senang dulu" ucap pemuda satunya mengarahkan tatapan menjijikan pada Erina.
"Tapi kita sudah berkali kali memakainya, apa dia tidak akan mati nantinya" imbuh sang kawan. Dan entah mengapa mendengar percakapan itu Tiara sudah mengepalkan tangannya.
"Biar saja dia mati, itu bukan urusan kita lagi, yang penting kita puas".
Tanpa rasa belas kasih dan ternyata Erina sudah di lecehkan berkali kali, bergiliran pula oleh mereka. Hal itu membuat Tiara naik pitam matanya sudah memerah tapi belum bertindak, sampai kedua pemuda itu mulai meraba tubuh Erina yang diam saja bagai boneka.
Brak!!!!!.
Tiara tak tahan melihat adegan selanjutnya, membanting pintu dengan keras hingga kedua pemuda itu terkejut, Erina pun sama dia menolehkan kepala namun masih dengan ekspresi datarnya.
"Hey, kalian pemuda ba**ng*n!!!" teriak Tiara kesal.
Kedua pria itupun bangkit dari tubuh Erina, berdiri menantang kearah Tiara. "Siapa kau kenapa bisa ada disini dan mengganggu kesenangan kami?" tanya salah satu pemuda itu.
"Aku?" beo Tiara. "Aku malaikat maut kalian" tambahnya dingin.
"Apa kau bilang, malaikat maut kami atau pemuas nafsu kami?".
"Gadis lemah sepertimu ingin menghabisi kami, dalam mimpimu sepertinya, yang ada kami yang akan menikmati tubuhmu, hahahaha" keduanya tertawa puas. Sedang Erina diam saja pikirnya seorang gadis bertubuh mungil seperti Tiara bisa apa.
Tapi Tiara tak kalah tertawa meremehkan. "Kalian sudah keterlaluan, begini saja lepaskan gadis itu kalau kalian tak ingin tersayat pisau kesayanganku" ucap Tiara mengeluarkan benda mungil kesayangannya dari kantung jaketnya, pisau bermata amat tajam.
"Mencoba menakuti kami Nona, sayangnya kami tidak takut".
Kedua pemuda itu mendekati Tiara yang bersikap santai dan malah memperhatikan Erina, mata keduanya bertemu.
Krak!!!!.
"Argghhhhhhh.......".
Salah satu pemuda yang mencoba menyentuh pundak Tiara berteriak kesakitan, saat gadis itu memelintir tangannya hingga terdengar bunyi patah pada tulangnya. Membuat pemuda lainnya terkejut.
Setelah melakukan itu Tiara berjalan kearah Erina, meninggalkan kedua pemuda yang sibuk dengan sebelah tangan yang bengkok seketika.
"Tenanglah aku akan menyelamatkanmu" ucap
Tiara berlutut didepan Erina, melepaskan jaketnya dan dipakaikannya ketubuh gadis tersebut.
"Aku tak bisa lagi diselamatkan aku sudah hancur, kau pergilah tak usah melawan mereka" jawab Erina.
Tiara ingin menjawab kembali Erina tapi salah satu pemuda yang belum mendapatkan hadiah darinya mendekat, mencoba memukulnya dari belakang.
"Awas!!!" pekik Erina.
Srett!!!.
Tiara lebih cepat, darah segar seketika mengucur dari pinggang pemuda itu. Pisau kecil Tiara benar benar tajam, Erina sampai terbelalak dan berpikir siapa sebenarnya Tiara. Kenapa gadis mungil ini bisa menggunakan pisau sebaik itu dan pandai berkelahi.
Tiara berdiri menantang kedua pemuda itu sambil memutar santai pisau ditangannya. "Ayo coba lagi, bukankah aku ini gadis lemah, ayo kemari berdua sekaligus, ayo" tantangnya.
Kedua pemuda yang emosi itupun mendekat kearahnya bersamaan, mengindahkan rasa sakit ditubuh mereka. Melancarkan pukulan juga tendangan pada gadis itu, tapi Tiara sigap mengelak dan membalas dengan sikut dan tendangan yang cukup keras tak lupa sayatan pisau kesayangannya selalu tepat pada sasarannya.
"Sialan!!!" geram salah satu pemuda itu.
Trang!!!.
Tiara sempat lengah dan tak sempat menghindar saat satu pemuda menendang tangannya dan pisau kecilnya terjatuh kelantai. "Kau!!!" gemertak gigi Tiara menandakan ia emosi, pisau kesayangannya tak pernah lepas dari tangannya saat beraksi entah melawan orang jahat atau ketika persycopatannya tengah mode on.
Berkelahi habis habisan dengan pemuda itu membuat Tiara teralihkan, sampai ia sadar pemuda lainnya sudah mengambil pisaunya dan menusuk Erina.
"Tidak!!!".
Tiara menarik tubuh pemuda itu dan melemparkannya. Memang tubuh Tiara tak sesuai dengan kekuatannya saat iblis betina tengah mengambil alih kesadarannya.
Erina sudah mengeluarkan darah segar dari perut dan bibirnya. "Tidak, maaf maafkan aku membuatmu bisa terluka begini, harusnya aku menolongmu" sesalnya tak tau harus berbuat apa.
Tiara memegang pisau yang masih tertancap diperut Erina mencoba menariknya, tapi gadis itu menahannya. Tiara mendongak menatapnya. "Tidak biarkan saja, aku lebih rela mati seperti ini, dari pada harus kembali dengan keadaan kotor dan rusak" ucapnya lemah.
"Tidak, tidak boleh" elak Tiara menggelengkan kepala.
Erina tersenyum amat manis menurut Tiara, bahkan dikeadaan yang menyedihkan itu. "Terima kasih sudah berusaha menyelamatkanku" ucap gadis itu sebelum terbatuk darah.
"Tidak, tidak". Tiara menggelengkan kepala tak percaya.
"Siapa namamu, aku akan mengingatmu walau tak didunia ini lagi" Erina tersenyum bertanya disisa nafas terakhirnya, sorot matanya yang teduh membuat Tiara tak sadar meneteskan air mata.
"Tiara, namaku Tiara" jawabnya terisak.
"Cantik" imbuh Erina. "Namaku Erina, senang bisa mengenalmu" tambahnya sembari mendorong tangan Tiara untuk menancapkan lebih dalam lagi pisau diperutnya. Tiara terkejut setengah mati bersamaan dengan nafas terakhir Erina, gadis itu berteriak tak rela. Baru kali ini Tiara tak senang melihat seseorang menghembuskan nafas terakhir didepannya, dia sedih sesedih sedihnya. Perlahan dia menarik pisau dari perut Erina yang sudah menutup mata damai.
Sedang kedua pemuda yang sedari tadi menyaksikan kematian Erina dengan senyum bangga, seketika gemetar saat Tiara berbalik badan dengan kepala tertunduk berjalan kearah keduanya dengan hawa iblis yang menguar.
"Takkan ku beri ampun kalian".
Dan sudah bisa dibayangkan Tiara menghabisi keduanya dengan mudah, mencabik cabik sesuka hatinya dengan tawa menggelegar bukan tawa bahagia tapi tawa penyesalan penuh luka.
Yang tanpa disadari semuanya, seorang gadis kecil melihat semua adegan tanpa berkedip mungkin, sampai ikut tak sadarkan diri.