Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.10



* Ketika tiba saatnya bagi jiwa untuk bertemu, tidak ada apapun dibumi yang dapat mencegah mereka untuk bertemu, dimanapun masing masing berada*.


*


*


*


*


*


Grepp!!.


Tiara melemparkan tas yang sedari tadi dibawanya dengan terpaksa pada sang empunya. "Ini yang terakhir, kalau sekali lagi kau seenaknya padaku, akan kusayat tangan tak bergunamu itu" ancam Tiara serius pada Erik yang sudah duduk manis didalam mobilnya.


Tapi bukannya merasa ngeri, pria itu malah terkikik geli. Tiara memutar bola matanya jengah. "Dumm" umpat wanita itu dalam bahasa Jerman yang berarti bodoh.


Tiara baru saja ingin berbalik pergi dengan rasa kesal dihati namun tarikan sekali hentakan dari Erik membuat tubuh mungilnya sukses masuk kedalam mobil dan terbaring tepat dipangkuan pria itu membuatnya sedikit terkejut.


Erik mendekatkan wajah tampannya, menatap mata Tiara yang melotot padanya. "Kamu mengataiku bodoh dengan bahasa Jerman barusan?" tanya pria itu dengan senyum smirknya.


"Kurasa telingamu masih berfungsi dengan benar" balas Tiara belum beranjak dari posisinya. Merasa nyaman atau tak sadar, entahlah.


Erik melengos menatap tajam Tiara lalu mengeratkan pelukannya pada pinggang wanita itu. Membuat Tiara sadar akan posisinya, ia mulai berontak. "Lepaskan!".


"Tidak akan".


"Jalan" lanjut Erik menyuruh supirnya menjalankan mobil Van yang dinaikinya kemanapun ia pergi itu. Setelah menutup pintu mobil belakang dengan otomatis pun sang supir mematuhi perintah tuannya.


"Ich werde dich für das bezahlen lassen, was du gerade gesagt hast" ucap Erik menyeringai tanpa memindahkan tubuh mungil Tiara yang berbaring dipangkuannya.


"Jangan bersembunyi dibalik bahasamu, sialan?!" bentak Tiara. Tubuhnya tak mampu ia gerakkan akibat kungkungan kuat Artis terkenal yang ternyata b*r*n*s*k ini.


Erik menaikkan sebelah alisnya, lagi lagi ia diumpat. "Kau benar benar memancingku" bisiknya tepat disebelah telinga Tiara.


"Bajingan!!!".


*****


Seorang gadis berkaki mungil berjalan gontai didepan jejeran toko toko pinggiran jalan kota wisata yang ia kunjungi. Kesibukan sang kakak yang mulai padat membuatnya harus menikmati indahnya malam kota sendirian.


"Hahhhhh". Sisil mendesah lelah, berjalan sendirian begini nggak ada seru serunya sama sekali, pikirnya. Paling nggak kalau ada Erik kan ada yang bawain belanjaannya dan ada yang dia porotin uangnya.


Ya mau gimana lagi karena dikota yang akan ditinggalinya untuk beberapa tahun kedepan ini, ia tak punya teman sama sekali. Daftar lanjut kuliah juga baru baru ini.


Asik berjalan sambil menoleh kekanan kiri tanpa Sisil sadari ia sampai dipersimpangan sebuah gang kecil. Yang terang saja seperti didrama tv manapun, sudah pasti gang itu sarangnya preman.


"Wah ada gadis kecil, mau kemana cantik?" goda seorang dari beberapa preman itu mendekati Sisil.


Gadis itu reflek memegang kuat tali tas selempangnya sangking takutnya. "Ma..., mau pulang" jawabnya terbata.


"Aish, nggak usah pulang disini aja sama Om kita seru seruan". Preman lainnya mendekat bahkan mulai mencolek colek lengan dan pipi Sisil.


Alhasil tubuh gadis itu bergetar dengan keringat mengucur di dahinya. "Nggak aku mau pulang" tolaknya menepis tangan preman itu.


"Disini aja sama kita". Preman itu menarik kasar lengan Sisil masuk kedalam gang kecil agar tak ada orang yang mendengar jika korban mereka berteriak.


"Lepas, lepasin aku!!" pekik Sisil ketakutan, berusaha berontak dari cengkraman empat preman mesum disekelilingnya.


"Ayolah sayang, kita menikmati surga dunia".


"Nggak, lepasin, tolong, hiks hiks hiks". Sisil tak tahan lagi ia menangis histeris kala semua preman itu membuatnya berada ditengah tengah mereka. Sisil terduduk ditanah dengan badan gemetarnya.


Sampai seseorang datang menyelamatkannya pun Sisil tak menyadarinya, ada rasa ketakutan yang sangat besar bersarang dihati dan otaknya saat ini.


Bruk!!!.


"Preman, keparat!!!" umpat seorang pria menendang salah satu preman tadi.


Perkelahian pun terjadi tanpa ada yang melerai atau membantu pria tersebut. Namun dengan keahlian bela dirinya juga tubuhnya yang tegap membantunya mengalahkan empat preman tak tahu diri itu. Hingga mereka semua pergi ketakutan dengan luka lebam dibadan.


"Hey, kamu nggak papa?" tanya pria itu memegang kedua bahu Sisil. Gadis itu meringkuk menutupi wajahnya dibalik kedua lutut dan lengannya.


"Pergi, pergi!!!" pekik Sisil histeris.


"Maaf tapi aku ingin menolongmu, tenanglah para bajingan itu sudah pergi" terang pria itu lembut.


Perlahan Sisil pun mendongak dengan mata sembabnya, bibirnya masih bergetar dengan sesekali senggukan keluar dari sana. "A.., aku takut" rintihnya tanpa bisa melihat dengan jelas sosok pria penolongnya. Karena terhalang air mata.


Sedang pria penolong itu malah melongo menatapnya. "Tenanglah ada aku disini, sekarang ayo kita pergi" ucapnya membantu Sisil berdiri. Namun saat akan melangkah tubuh lemah itu terjatuh tak berdaya.


"Sisil!!!".


*****


Beberapa jam lalu didalam mobil penyanyi tampan itu, Tiara sudah duduk dikursinya sendiri karena pemberontakannya yang sukses. Apalagi dia menggigit kuat lengan Erik. Tapi sudah begitupun Erik tak melepaskan genggaman tangannya ditangan Tiara. Pria itu seolah takut ia kabur dan tak kembali lagi.


Saat itulah Erik menerima telfon yang membuatnya memerintah sang supir berbalik arah menuju salah satu rumah sakit. Wajahnya pun berubah panik.


Sampai disalah satu kamar rawat kelas VIP Erik membuka pintunya kasar. Pria itu menghela napas lega saat melihat seorang gadis terbaring diranjang dalam kamar itu. Begitulah yang ditangkap pandangan Tiara. Tapi ada seseorang disana yang membuat Tiara menaikkan sebelah alisnya.


"Gimana keadaannya?". Erik mendekat membelai lembut kepala Sisil.


"Nggak papa, dia cuman syok dan ketakutan" jawab Ridan sang pria penolong.


"Syukurlah" Erik mengecup kening sang adik yang tertidur karena reaksi obat.


Sedang Tiara bukannya salah fokus dari sikap Erik pada wanita yang ia tak tahu siapa, ia malah fokus pada Ridan. "Ridan, ngapain kamu disini?".


Bukannya menjawab yang ditanya malah melirikkan mata pada pria disampingnya, lalu menggaruk belakang kepalanya salah tingkah. Situasi ini terlalu aneh untuknya. Erik dan Tiara datang bersama bagaimana bisa, sambil pegangan tangan pula.


"Eh itu, aku.....".


"Dia nolongin adikku yang diganggu preman" sela Erik.


Tiara melengos. "Aku nggak nanya sama kamu!" tukasnya ketus. "Dan ngomong ngomong lepasin tanganku" Tiara menarik paksa tangannya hingga terlepas yang anehnya ia baru sadar kenapa nggak dari tadi dia begitu, bego.


"Ah, maaf khilaf" ucap Erik tak bersalah. Tiara mendesah sedang Ridan menahan tawa.


*****


"Kamu kenal sama penyanyi gila itu?" tanya Tiara yang sudah berada didalam mobil Ridan.


Tiara ikut pulang bersama Ridan karena tak ingin berlama lama dengan penyanyi gila bernama Waren alias Erika itu, dia lebih cocok dipanggil begitu kayanya kesal Tiara.


Yah, walau mereka harus bertengkar dikoridor dulu hingga menganggu pasien lainnya. Tau sendiri kan Tiara bukan wanita lemah seperti biasanya, dia akan terus memaksa dan keras kepala sebelum yang diinginkannya tercapai.


Oke, kita kembali ke penghuni mobil Honda civic type R berwarna abu metalic tadi. Ridan terkekeh mendengar pertanyaan Tiara, entah karena panggilan wanita itu untuk sang sahabat atau miris karena Erik sudah dilupakan pujaan hatinya.


"Penyanyi gila?" Beonya.


Tiara cepat mengangguk. "Bukan cuma gila, tapi mesum juga".


"Dia sahabatku, Aril dan Joker, kami bersahabat sejak kecil, bahkan kita satu SMA dulu". Ridan coba memancing ingatan Tiara.


Tiara menautkan alisnya. "Emang iya, berarti dulu dia cuman bayangan aku nggak ingat soalnya, nggak tau juga kalau ada cowok super aneh itu disekolah".


Ridan tertawa tak kuasa lagi. Dia sudah tak aneh lagi dengan sikap Tiara, wanita itu memang bukan seperti wanita lainnya. Sebelum atau setelah ingatannya tentang Erik menghilang dia masih tetap orang yang sama.


"Kamu hati hati aja deket sama dia" pesannya pada Tiara yang menatapnya serius.


"Kenapa?".


Ridan menepikan mobilnya tepat didepan gedung Apartemen Tiara. Turun dari benda kesayangannya itu lalu membukakan pintunya untuk Tiara yang turun dengan wajah penasarannya.


"Apa sih?".


Ridan tersenyum misterius lalu mendekat sambil berbisik. "Entar jatuh cinta".


Tiara membulatkan mata, lalu bergaya mual dan muntah muntah. "Idih amit amit cabang bayi" ucapnya bergidik.


"Hahahaha, udah udah aku capek ketawa mulu, masuk sana udah malem besok kerja". Ridan mendorong tubuh mungil Tiara. "Iya iya, ckck, bye".


Ridan pun berbalik badan setelah Tiara benar benar masuk kedalam loby apartemennya. "Selamat sampai tujuan, puas lo" tukasnya pada Erik disebrang sambungan telfon yang sedari tadi terus terhubung.


Ridan masuk kedalam mobilnya. Terdengar kekehan kecil Erik dari speaker ponselnya. "Thanks bro".


Ridan berdecih. "Hari gini cuman bilang makasih, bayar woy nggak ada yang gratis, gue udah nyelametin adek adekan lo juga, mana kenyang makan makasih".


"Ya udah mau berapa dolar lo?".


"One milion dolar".


"Ngerampok lo, pemilik mall besar dikota ngerampok pengamen, yang bener aja lo".


"Cih, pengamen, pengamen internasional maksud lo?".


"Hahaha, iya itu itu, udah pulang gih dah malem oia jangan ati ati, ngebut aja sekalian balapan liar".


"Kampret lo!".


Ridan memaki Erik yang sudah memutus panggilannya yang tertawa bahagia dibalkon kamar rawat Sisil. Entah bahagia karena bisa menggoda sahabatnya atau karena bisa mendekati Tiara. Yang jelas dia bahagia telah kembali dan bisa berjuang lagi.