Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.23



_Disaat waktu bukanlah lagi sebuah alasan, tapi kemantapan hati yang menjadi pilihan_


*


*


*


Tiara membalikkan badan kekanan dan kiri karena gelisah tak bisa menyenyakkan diri. Matanya tak bisa terpejam sejak tadi karena terpikirkan perkataan Erik beberapa jam yang lalu.


"Arrggghhh" Tiara kesal dan akhirnya terduduk.


"Kenapa aku kepikiran dia terus sih, memangnya siapa dia berani beraninya membuatku jadi begini!" ucapnya kesal.


"Hey Anita, kamu juga kenapa mengabaikanku begini sih".


"Apa?!" ucap Anita menggeretak sampai Tiara sedikit terkejut karena tiba tiba mulutnya bicara sendiri. Aneh juga dirinya bisa membentak diri sendiri. Ya begitulah alter ego.


"Kamu kemana aja, aku lagi ada masalah kamu nggak pernah muncul".


"Cih, kamu yang punya masalah kenapa aku yang harus memecahkannya, pikir saja sendiri badan badanmu biarkan aku tidur" jawab Anita.


"Hey Anita, Anita" panggil Tiara kesal, ia tahu Anita mulai kembali tertidur. "Apanya yang berbeda, sikap wanita itu malah lebih parah dari pada aku" jengkel Tiara pada sisi lainnya itu.


Akhirnya dari pada kembali berbaring Tiara memilih pergi kebalkon kamar Aditya. Yang katanya pria itu sedang lembur dikantornya karena banyak pekerjaan.


Sambil mengeratkan mantel hangatnya, Tiara larut dalam pikirannya sendiri. Tapi sesaat kemudian ia keheranan. "Benar juga" gumamnya.


Tiara berpikir karena kehadiran pria yang mengacaukan kedamaian hari harinya itu, tangis yang selalu terjadi padanya beberapa tahun ini jadi berkurang. Rasa rindu dan kehilangan serta penyesalan pun seperti terangkat sedikit demi sedikit dari dirinya. Apalagi jika sendiri melamun seperti sekarang, biasanya dia akan menangis tak karuan.


"Kalau semua itu memang karenanya, lalu apa alasanku melupakannya?".


*****


Beberapa hari kemudian.


Rumah besar Prakasa malam ini dikunjungi calon besan mereka, acara makan malam spesial pun digelar untuk memperingati pertemuan pertama kali dua keluarga setelah orang tua Aril menetap diluar negri dua tahun yang lalu.


Tiara sudah kembali ke Apartemennya sejak dua hari yang lalu. Karena merasa tak enak hati merepotkan Mama Aditya, juga pria itu sendiri jadi bolak balik mengecek keadaannya.


"Jadi mau dibawa kemana hubungan kalian ini, Mama sudah pengen gendong cucu ni" goda Nurul ibu Aril.


"Iya kalian ini sudah lama sekali bertunangan, apa nggak mau kejenjang selanjutnya?" tambah Rianti Mama Mala.


Pertanyaan dari kedua wanita yang masih cantik diusia menjelang tuanya itupun membuat sepasang sejoli yang menjadi sasaran pertanyaan jadi berbeda ekpresinya. Mala tersipu malu sedang Aril nampak gundah gulana.


"Nggak perlu mikirin bajet dan tempat, Papa sudah siapkan semuanya, surat suratnya juga" ujar Jaya Papa Mala.


Ditambahkan pernyataan sang mertua Aril jadi semakin dilema dan sang Ayah menyadarinya. "Kenapa Ril, kamu belum siap?".


Jawaban Aril semakin membuat raut wajah gembira para orang tua meredup. Ada yang tak beres dengan anak mereka.


"Ada apa ini La?" tanya sang Papa.


Wajah Mala langsung pias ditatap beberapa pasang mata yang mengharapkan jawaban jujur darinya. "Anu..., Itu".


"Anu, itu, apa La?" sambar sang Mama tak sabar.


"Maaf tapi dalam dua tahun ini kayanya Mala nggak bisa mewujudkan keinginan kalian, karena aku ada kontrak kerjaan" jawab Mala pelan pelan.


Aril sudah tak fokus lagi dengan pembicaraan ini, pikirannya kalut seperti benang kusut.


"Ya jalanin aja, memang apa masalahnya?" tanya Rianti sedang kedua besannya lebih banyak diam mendengarkan.


"Kontraknya mengharuskan Mala tetap single selama dua tahun kedepan Ma" jawab Mala sesal. Dia juga baru tahu saat sudah mendatangani kontrak seminggu lalu, salahnya tak membaca kontrak itu dengan teliti.


"Kamu sudah tau ini Nak?" tanya Nurul pada sang putra yang tertunduk lesu. Aril mendongak sesaat lalu mengangguk mengiyakan.


"Tapi, umur kalian sudah cukup matang untuk melakukan pernikahan tahun ini, kalian juga sudah lama bertunangan. Apa kata orang kalau kalian masih belum ada kepastian dimasa depan, Ayah sudah tak muda lagi harus menunggu sampai kapan pria tua ini". Keluh kesah dari seorang William yang sedari tadi diam hanya memperhatikan keadaan. Dengan wataknya yang keras kepala dan tak ingin dibantah Ayah Aril itu mengungkap isi hatinya dengan nada meninggi di akhir kalimat.


"Kita bicarakan masalah ini lain kali, kalian pergilah kami para orang tua akan bicara" putus Jaya melihat raut kesedihan terpancar jelas diwajah besannya, yang disebabkan oleh putrinya sendiri.


Atas perintah Jaya, sang putri dan Aril pun meninggalkan meja makan menuju taman samping rumah keluarga Prakasa. Disana keduanya saling terdiam dan tak saling menatap wajah masing masing. Seperti yang biasa dilakukan mereka.


Mendengar kabar gembira namun hanya untuk Mala itu membuat rencana Aril hancur seketika. Rencana yang ia susun sedemikian rupa untuk melamar sang kekasih diwaktu orang tuanya kembali ke Indonesia, musnah. Restoran yang sudah dibokingnya, sepasang cincin yang sudah dipesannya dan lamaran mewah yang diaturnya tak berarti dalam sekejap.


Tanpa bicara dulu dengannya Mala menandatangi sebuah kontrak yang mengharuskannya single untuk dua tahun kedepan.


Tapi tanpa mengungkapkan rasa kecewanya, Aril dengan bodohnya malah tersenyum saja saat Mala bercerita dengan senangnya. Hanya saja dalam beberapa hari ini dia malas menghadapinya, bahkan menelpon pun jarang jadinya.


Dan kini melihat ekpresinya tadi Mala akhirnya menyadari apa yang menyebabkan perubahan sikap sang calon suami.


"Maaf" ucap Mala.


"Untuk apa?".


"Maaf karena sudah menunda pernikahan kita, lagi" jawab Mala bernada pelan diakhir kalimatnya.


Ya, memang bukan hanya sekali ini Mala menunda pernikahan mereka. Tapi sudah untuk kesekian kalinya dalam tiga tahun ini, ada saja alasan yang digunakan Mala untuk menunda pernikahan mereka.


"Nggak papa, sudah biasa" tanggap Aril sekenanya. Mau berkata apa lagi, percuma. Karena Mala pasti memilih karirnya, apalagi kontrak itu yang diidamkannya selama ini.


Mala mendekat memeluk sebelah lengan Aril. "Aku tau kamu marah, maaf".


Tapi Aril melepas tangannya pelan tapi membuat hati Mala berdenyut sakit. "Maafmu sudah untuk yang kesekian kali, dan aku memaafkan untuk yang kesekian kalinya juga. Sudah biarlah waktu yang menentukan".


Setelah mengucapkan kalimat panjang lebar, Aril meninggalkan Mala sendiri. Pria itu sempat berpamitan pada orang tua yang tengah berwajah serius diruang keluarga, dengan alasan ada pekerjaan. Ia pun pergi dengan rasa sesak dihati. Sedang Mala sudah berlari kekamarnya menangis meratapi keputusan yang terlalu gegabah diambilnya.