Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.38



_Aku bahagia jika kau bahagia walau bukan denganku, bulshit!!!!. Nyatanya hampir putus nafasku melihat kau dengannya, walau bibirku terus tersenyum dengan lebarnya_.


*


*


*


Setelah lelah seharian bekerja akhirnya Tiara bisa meluruskan tubuhnya yang sudah seperti remuk tak bertulang lagi. Wanita itu melemparkan tubuhnya asal keatas kasur empuk dalam kamar Erik itu.


"Hahhhhhhhhhh" desahnya lelah. Sesaat memejamkan mata untuk merasakan kenyamanan.


Merasa terlalu sunyi dan senyap Tiara membuka matanya pelan. Beranjak duduk ia melihat kesekitar. "Perasaan sepi banget, kosong kenapa ya?" gumamnya.


Seperti orang bodoh Tiara tertegun seakan baru menyadari dia kembali kepenthouse Erik, padahal niatnya ingin kembali ke Apartemennya. Tapi entah karena lelah atau alam sadarnya tengah tak mematuhinya, dia malah kembali ketempat ini.


Dan perasaan sunyi kosong ini, "Apa karena dia tak ada disini?" tanyanya dalam hati.


Tak lama ia terkikik sendiri. "Mustahil banget aku kesepian tanpa dia" Tiara menggelengkan kepalanya.


Ia pun berdiri memilih untuk membersihkan diri setelah itu pergi kealam mimpi. Tapi sudah beberapa kali berbalik kanan dan kiri, tengkurap dan terlentang matanya masih juga tak bisa tertutup. Tiara bahkan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sampai kekepalanya.


"Haishhhhh". Tiara terduduk sambil meremas rambutnya kasar.


Ia langsung melirik tajam kearah depan seakan ingin membunuh apa yang ada dihadapannya. Wanita itu menunjuk dengan garangnya. "Kau, jauh jauh dari pikiranku, pergi!!!" usirnya pada sebuah gambar besar yang terpampang nyata dalam kamar itu. Satu foto Erik yang nampak apik.


"Hahahaha, kamu sudah nggak waras ha". Tiara bicara sendiri lalu berdecih sendiri.


"Jangan menambah ketidakwarasanku, diam jangan mengajakku bicara" kesal Tiara menjawab jati diri lain dalam dirinya. Siapa lagi jika bukan Anita.


Tiara beranjak dari kasurnya memilih menuju balkon menikmati semilir angin malam yang menusuk tulang. Tak lupa ia memakai baju hangat dari lemarinya, juga segelas coklat panas ditangannya.


"Haaahhhhhhhhhhh" desahnya.


"Ta, kamu sadar nggak akhir akhir ini kita tampak aneh?". Setelah beberapa menit terdiam Tiara mengeluarkan suaranya. "Ta," panggilnya lagi saat tak menerima jawaban dari dirinya yang kedua. "ANITA!!!".


"Nggak usah ngegas, tadi katanya nggak mau diajak bicara" sindir Anita.


"Ckckck, sejak kapan kamu menuruti ucapanku?" balas Tiara. "Jadi apa jawabanmu?" tanyanya lagi.


"Menurutku........., Bukan kita yang aneh tapi hanya kamu, aku sih biasa aja".


Tiara mengernyit. "Aku, sendiri?". Kepala Tiara mengangguk.


"Kali ini aku yang bertanya, apa yang menurutmu berbeda, apa yang selalu kamu tanyakan dipikiranmu?" tanya balik Anita.


"Kamu tak tau?".


"Kita memang punya satu tubuh, tapi pikiran kita tetap berbeda, walau terkadang aku mengetahui apa yang kamu rasakan tapi itu hanya tebakanku bodoh!" jawab Anita kesal.


Tiara terkikik geli karenanya, tidak dengan tangannya yang bersidekap dada. Itu adalah ekpresi kekesalan Anita. Kalau dilihat lihat wanita itu memang sudah seperti orang gila saja.


"Kamu taukan, biasanya kalau aku sendiri begini apa yang akan terjadi?" ucap Tiara. "Aku akan menangis sejadi jadinya tanpa sebab, merasakan sakit yang amat sangat didadaku, tapi semenjak........" Tiara terdiam.


"Sejak apa?" tanya Anita pura pura bertanya padahal ia sudah tahu semuanya.


Tiara memainkan bola matanya. "Semenjak ada dia dalam hidupku, perlahan keanehan itu hilang, tapi berganti dengan perasaan seolah olah aku tak ingin jauh darinya, semakin aku membencinya semakin aku ingin selalu didekatnya".


"Semakin aku menyakitinya, semakin aku merasa bersalah, dan dari semua yang sudah terjadi apa memang dia ada hubungannya dengan semua apa yang kualami selama ini?" tambah Tiara.


Tiara ternganga sambil bertepuk tangan. "Wah, aku nggak nyangka ternyata kamu bisa ngomong panjang lebar juga ya".


Tiara menepuk keras keningnya sendiri. "Bodoh, aku lagi serius bisa bisanya kamu berjanda".


"Bercanda, pe'a" ucap Anita kesal karena nyatanya Tiara juga ikut bercanda.


"Yaitulah, beda satu huruf doang".


"Harusnya kamu sadar, selama ini nggak pernah ada pria yang bisa meluluhkanmu sekalipun itu Aditya walau kalian dekat seperti pasangan romansa, bahkan Aditya pun nggak bisa mengobati rasa sakit yang kamu rasakan, hanya Erik yang bisa pria gila itu".


Tiara terdiam meresap apa yang dikatakan Anita. "Ra ingat ucapanku ini" ucap Anita, Tiara mendengarkan dengan seksama.


"Rasa, Ingat, satukan dan percaya, kamu pasti akan mendapatkan jawaban dari semua pertanyaanmu, tapi jika jawabannya mengecewakan jangan berlari ataupun bersembunyi, cobalah hadapi aku yakin kamu pasti bisa".


Dan dari kalimat panjang dari Anita yang diharapkan untuk didengarnya baik baik membuat Tiara jadi semakin tak dapat memejamkan mata, hingga pagi menjelang dan sampai ia sudah bekerja seperti ini.


Seharian Tiara hanya seperti mayat hidup, terdiam sambil sesekali mengecek ponsel yang ada ditangannya. Beberapa kali mondar mandir hanya untuk mengecek pekerjaan kru nya agar tak terlihat dia makan gajih buta.


Saat syuting sudah selesai.


Bruk.


Tiara menunduk meminta maaf, tapi dengan acuhnya ia kembali berjalan tanpa melihat siapa yang ditabraknya. Tiara baru tertegun saat pergelangan tangannya dicekal seseorang. Ia pun menoleh kebelakang, matanya langsung terbelalak terkejut.


"Maafkan aku, tapi kamu sudah menumpahkan minumanmu kebajuku" ucap Rimba lembut, melirik bajunya yang basah terkena tumpahan jus dari cup yang memang dibawa Tiara tadi.


Tiara kembali berwajah datar. Melepaskan tangan Rimba lalu mengambil dua lembar ratusan dari tas punggungnya. "Maaf, ini untuk biaya laundri nya".


Setelah memberikan uang itu ditangan Rimba, Tiara bermaksud pergi. Tapi pria itu lagi lagi mencekal tangannya dan mengembalikan uangnya.


"Aku tak meminta uangmu".


"Baguslah, kalau begitu" ucap Tiara sekenanya hendak pergi tapi dicekal lagi. "Apa lagi?!" tanyanya sedikit kesal menepis tangan Rimba.


Rimba menganggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Bisa kamu mengantarku penthouse ku, kebetulan manager dan asistenku sudah pergi lebih dulu dan aku tak membawa kendaraan" pinta Rimba dengan wajah memelas.


Tiara memutar bola matanya jengah. "Bisa bisanya mereka meninggalkan Artis sepertimu, lagipula aku juga tidak punya kendaraan".


"Jadi kamu kembali dengan apa?" tanya Rimba.


"Bus" jawab Tiara sekenanya, Rimba terdiam. "Atau kau ku pesankan taxi online saja" tawar Tiara.


Rimba mengangguk. "Tapi harus denganmu".


"Kenapa?".


"Kamu tau sendiri aku siapa, dan karena hanya kamu yang kukenal juga atas...," Rimba melirik bajunya. "Kamu harus bertanggung jawab padaku".


Tiara sedikit berfikir, benar juga Rimba itukan artis walaupun ia tak tahu setenar apa pria itu. Melebihi Erik atau tidak. Erik?.


Tiara menggelengkan kepalanya cepat, kenapa jadi pria gila itu lagi sih. "Oke, hanya sampai penthouse mu sekarang cepat pakai masker dan topimu!". Rimba tersenyum senang mengikuti titah wanita didepannya.


Didalam taxi online yang dipesan Tiara keduanya tak banyak bicara karena setiap Rimba bertanya Tiara hanya menjawab seadanya tanpa mau membalik pertanyaan. Hingga tiba didepan salah satu gedung bertingkat tak kalah mewah dengan kediaman Erik.


Rimba melirik kearah Tiara yang terdiam. "Kamu nggak turun?" tanyanya.


Tiara menoleh menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa, kamu kan sudah sampai tanggung jawabku sudah selesai, aku juga harus pulang ini sudah malam".


"Belum selesai, kamu harus mengantarku sampai depan pintu penthouse ku".


"Tidak mau!".


"Oh ayolah disini banyak orang kalau tak ada yang menjagaku, bisa bisa aku dikeroyok fansku disini".


Dan mau tak mau Tiara turun dari mobil setelah berpesan pada sang supir untuk menunggunya sebentar. Tapi ia tak tahu saat tengah menunggu Rimba diluar mobil, pria itu membisikkan sesuatu pada sang supir lalu memberinya uang.


"Woy, turun lelet banget si" ucap Tiara kesal karena Rimba tak turun juga dari dalam mobilnya.


"Jangan suka marah marah nanti cantiknya hilang" gombal Rimba. Tiara berdecih.


Terpaksa Tiara pun mengantar Rimba masuk kedalam gedung menuju lantai dua puluh. Didalam lift tiba tiba ponsel Tiara bergetar, ia pun mengeceknya. Wanita itu reflek berdecih setelah membaca pesan diponselnya.


Lagi apa keongku maaf aku baru sempat menghubungimu, kau sudah tidur, aku merindukanmu.


Tiara mengabaikan pesan itu walau dalam hatinya sedikit lega juga ternyata pria itu masih mengingatnya disela kesibukannya. Sangkanya tidak.


Ting. Lift berbunyi menandakan jika mereka sudah sampai dilantai yang dituju. Tiara dan Rimba pun keluar dari kotak besi tersebut.


Sampai didepan pintu bertuliskan 22.A. Rimba menekan kode sandi pintunya. "Aku pergi" ucap Tiara tanpa basa basi.


"Kau tak ingin mampir sebentar?" tanya Rimba.


"Tidak". Tiara berbalik namun Rimba tanpa segan memegang tangan Tiara menariknya masuk kedalam penthousenya.


"Apa apan kau?!!" gertak Tiara hilang kesabaran. Ia terkejut mendapati ada orang lain didalam penthouse Rimba itu. Tiara mengenalinya, pria itu manager Rimba.


Tiara menepis tangan Rimba yang sudah tersenyum iblis berbeda dengan senyuman tampannya beberapa jam lalu. Dilihatnya juga pria itu mengunci pintu, pria yang satu lagi sudah mendekat kearahnya.


"Habis sudah".