Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.35



_Saat kau mendapatkan sesuatu harus ada yang kau lepaskan. Karena sejatinya apa yang kau dapatkan adalah tebusan dari sebuah kehilangan_.


*


*


*


"Ra" panggil Erik. Tiara yang tengah menyusun bahan makanan dilemari pendingin pun menoleh.


"Aku sudah menyusun pakaianmu dilemari juga barang barangmu yang lain, jadi setelah ini kamu bisa langsung bersih bersih".


Tiara pun mengangguk mengerti sambil kembali sibuk dengan kegiatannya. Tak ada lagi penyelaan atau pengelakan darinya, beberapa hari tinggal bersama membuat Tiara mulai terbiasa. Tapi beberapa detik kemudian Tiara membulatkan matanya.


Wanita itu berdiri seketika menatap Erik tajam. "Semua pakaianku?" tanyanya memastikan.


Erik meneguk segelas air yang diambilnya barusan dari dispenser, lalu menoleh dan mengangguk. "Semuanya termasuk....".


"Pakaian dalammu" sela Erik memperjelas. Tiara memainkan matanya tapi ada sorot berharap disana. "Iya itu juga sudah kutata serapi mungkin" tambah Erik.


Tiara sesaat tercengang, kemudian berlari dan langsung memukuli lengan Erik. "Arggghhhh" erangnya kesal sekaligus malu.


Erik yang kebingungan seketika diserang pun menangkap tangan Tiara dan menarik tubuh mungil itu mendekat kedada bidangnya. "Kenapa kamu memukuliku?" tanyanya mengeratkan pelukan dengan memeluk pinggang Tiara.


Tiara mendongak dengan tatapan kesal. "Masih bertanya?".


"Memang apa salahku?".


Tiara menghentakkkan kakinya frustasi. "Kau, ishhhhh".


"Hahaha, iya iya aku tau kamu malu kan, tapi untuk apa malu denganku, toh aku juga yang akan jadi suamimu nanti, jadi aku harus membiasakan diri" sela Erik percaya diri.


"Ckck, kamu terlalu tenggelam dalam mimpimu Tuan, siapa juga yang mau menikah denganmu" elak Tiara.


"Tentu saja kamu, aku yakin suatu hari nanti kamu akan menjadi istriku".


"Jangan terlalu percaya diri Tuan Pengamen".


Erik terdiam. Tiara hanya menganggap ucapannya sebagai candaan padahal dalam hatinya ia amat serius. Melihat Erik terdiam menatapnya Tiara pun ikut terdiam, mencoba membaca apa yang sedang dipikirkan pria didepannya.


Dan entah sejak kapan tatapan keduanya menjadi dalam. Tatapan Erik pun berpindah dari netra kelam Tiara menuju bibir tipis berwarna pink alami itu.


Di jarak sedekat itu, Erik tak tahan jika tak mengecup bibir ranum tersebut. Perlahan ia memajukan kepalanya tangannya yang semula berada dipinggang Tiara, salah satunya kini mulai berpindah ketengkuk wanita itu. Dengan ibu jarinya yang mengelus telinga Tiara, Erik semakin mendekatkan wajah mereka.


Erik tersenyum saat dilihatnya Tiara menutup matanya, lampu hijau sudah diberikan wanita itu untuknya. Tanpa basa basi lagi Erik menyatukan bibir mereka perlahan dengan penuh kelembutan ia mulai ******* bibir bagian bawah Tiara.


Tiara yang terbawa suasana dan kenyamanan yang diberikan Erik pun sedikit demi sedikit mulai membalas ciuman sang pria.


Tak ada penuntutan, paksaan atau nafsu dalam ciuman Erik yang menjadi pemimpin kegiatan romantis tersebut. Hanya ******* ******* kecil dan lembut tanpa menjelajah lebih kedalamnya.


Beberapa menit kegiatan itu berlangsung sampai Tiara mulai kehabisan nafas dan mulai menekan dada Erik. Pria itupun menghentikan gerakan bibirnya.


Wajah mereka saling menjauh. Tiara sesaat tertunduk dan ketika mendongak menatap netra abu dengan wajah tersenyum itu, ia mulai salah tingkah. Seketika ia mendorong tubuh Erik.


"A..., Aku mau bersih bersih dulu" ucapnya gagu lalu berlari kekamar meninggalkan Erik yang tersenyum penuh kemenangan.


Erik mengusap bibir sexynya dengan ibu jarinya sambil menatap kepergian Tiara. "Kamu sudah masuk dalam jerat cintaku, keongku".


*****


Didalam bathup Tiara memukul mukul kepalanya kesal. "Bego, bego, bego kenapa aku malah terbawa suasana tadi" umpatnya.


"Bisa bisanya aku membiarkannya menciumku, mana pake dibales segala lagi".


Tiara memukul pelan bibirnya. "Dasar bibir durhaka".


Tapi saat menyentuh bibirnya sendiri tiba tiba bayangan kejadian tadi terlintas kembali diingatannya. Bibir itu sentuhan itu amat lembut sampai membuat jantungnya berdebar. Bagaimana rasanya jika mereka melanjutkannya tadi.


Tiara membelalak sadar, menggeleng cepat. "Sadar sadar, kenapa dengan dirimu Tiara, dia adalah pria perusak ketenanganmu, kenapa kau mau diperdaya olehnya."


"Arhhhg......., Sial sial sial" erangnya frustasi sambil memukul mukul air dalam bathup tempatnya berendam.


Tiara menghentikan langkahnya saat keluar dari kamar mandi, dilihatnya Erik sudah duduk nyaman dikasur sambil menonton tv. "Ngapain kamu disitu?" tanyanya ketus.


Mencoba mengalihkan rasa canggung dari kejadian kisses tadi.


Erik menoleh. "Kenapa bertanya, suka sukaku lah inikan kasurku" jawabnya.


"Iya ya, kenapa aku bertanya, suka sukamu lah ya" balas Tiara.


Tiara tak malu lagi memakai kimono mandi didepan Erik, karena juga kimono miliknya hampir menutupi seluruh bagian badannya. Sudah seperti gamis saja jadi tak ada yang perlu ia takutkan. Erik juga tak mungkin berani berbuat macam macam padanya.


Ia berjalan menuju walk in closet Erik untuk berganti pakaian disana. "Ra, pakai piyama yang sudah kusiapkan ya, ada diatas meja" pesan Erik yang tak mengalihkan pandangannya dari Tv.


"Emmmm" jawab Tiara.


Sesampainya didalam wajah Tiara kembali merona saat dilihatnya diatas meja bukan hanya piyama tapi pakaian dalamnya pun sudah tersedia. "Pria ini benar benar" geramnya kesal dan malu.


Tiara menuju meja rias berniat mengeringkan rambutnya setelah memakai piyamanya. Ia mulai menyalakan hair dryer dan mengarahkan kerambut panjangnya yang masih sedikit basah.


Ia mendongak saat Erik mengambil alih hair dryernya. Pria itupun mengambil alih kegiatannya. Dan Tiara membiarkannya anggap saja ia punya pegawai salon gratis.


Tiba tiba Tiara ingat sesuatu. "Rik, apa kamu mengenal Rimba Andreas?" tanyanya.


Erik menatap Tiara lewat pantulan cermin. "Siapa itu, tinggal dihutan mana dia?".


Tiara memutar matanya. "Aku serius, apa kau tau dia?".


Erik mengernyit mencoba mengingat. "Nggak, aku nggak kenal, memangnya siapa dia?".


"Dia artis yang akan bergabung dengan program kami, tapi aku ngerasa ada yang aneh dengannya".


"Aneh gimana?".


"Nggak tau juga, tapi aku ngerasa ada yang nggak biasa dari dia, apalagi managernya aku sangat risih dengannya".


Erik menatap Tiara wajahnya berubah serius. "Kalau kamu ngerasa nggak enak, jangan dekat dekat dengannya atau minta sama bang Gilang supaya kamu nggak kerja lapangan".


"Tapi itu sudah pekerjaanku".


"Okey, tapi ingat jangan terlalu dekat mereka" .


Tiara mengangguk. "Tunggu dulu piyamamu?". Tiara baru menyadari jika piyama yang dipakainya sama dengan yang dipakai Erik. Tiara berbalik, melirik kepakaiannya lalu kembali ke Erik. "Couple" tambahnya.


Erik tersenyum. "Baguskan".


Tiara mendongak mengembangkan senyum, kemudian "Norak" ucapnya lantang dengan ekpresi datar. Ia berjalan meninggalkan Erik lalu duduk diatas kasur.


Erik melirik kepantulan cermin. "Cukup bagus menurutku".


Setelah mencabut kabel hair dryer dan meletakkannya diatas meja rias, Erik menghampiri Tiara. Tapi wanita itu memicing padanya saat dirinya sudah dekat.


"Mau apa kamu?".


"Tidur, apalagi memangnya" jawab Erik sekenanya. Naik keatas kasur dan berbaring disebelah Tiara seenaknya.


"Kenapa harus tidur disini?".


"Ini kamarku, kasurku, kenapa masih bertanya?"


Tiara mendesah tak percaya. "Tapi disini ada aku".


Erik berbaring miring menopang kepala dengan tangan yang ditumpukannya pada bantal. Menatap Tiara yang masih duduk bersandar dikepala ranjang. "Memangnya kenapa, kita bisa tidur bersama disinikan".


Tiara memutar bola matanya jengah. "Aku nggak mau tidue denganmu, jadi bisa kau menyingkir atau kekamar lain mungkin".


Erik menggeleng. "Kamar lain nggak ada kasurnya".


Tiara menunjuk sofa dengan dagunya. "Disana kan bisa".


Erik melirik sebentar kearah sofa. "Sempit nanti aku jatuh".


"Diruang tamu aja, yang penting jangan disini bisakan" ucap Tiara mulai kesal.


"Aku bisa sakit kalau tidur diluar, lagian juga aku nggak bakal ngapa ngapain kamu, kalau itu yang kamu takutkan, kamu bisa memberi pembatas ditengah kasur ini kalau kamu nggak percaya sama aku" jelas Erik panjang lebar.


Tiara mendesah pasrah. "Terpaksa" ucapnya menyusun guling dan bantal ditengah tengah kasur.


"Ingat kalau kamu melewati batas ini, akan kusayat tubuhmu!!" ancam Tiara.


Erik tersenyum. "Kalau ternyata kamu yang melewati batas?" tanyanya.


"Ckck, nggak bakal".


"Aku nggak yakin" ucap Erik tertawa remeh. "Gini aja kalau kamu melewati batas yang kamu buat sendiri, kamu akan menuruti semua permintaanku selama tiga hari gimana?".


Tiara sesaat berfikir, menerima atau tidak tapi kalau tidak Erik akan memandang remeh padanya. "Berani nggak, kalau nggak jangan pake pembatas sekalian deh" tambah Erik.


"Oke deal" jawab Tiara dan Erik menganggukkan kepala. Dalam hatinya ia tertawa penuh kemenangan.


Setelah sebentar menonton acara Tv, keduanya pun tertidur diwilayah masing masing. Entah siapa yang tertidur lebih dulu. Selama beberapa jam hanya keheningan ditemani detik jam yang berputar, tak lama pagi menjelang.


Menampilkan indahnya cahaya mentari pagi yang menyusup dari balik gorden kamar Erik. Yang membuat mata Erik mengerjap pelan karena merasa bias cahay menyilaukan matanya.


Erik berdehem menetralkan tenggorokannya yang terasa kering, karena terlalu nyenyak tidur dia sampai tak bangun sebentar untuk minum seperti kebiasannya dulu.


Saat ia mencoba untuk bangun Erik melirik kekanan tubuhnya, seketika senyum pun terbit diwajahnya secerah mentari pagi ini.


Ternyata Tiara tertidur nyenyak disampingnya dengan menjadikan lengannya sebagai bantal. Pantas saja lengannya terasa berat dan kebas. Tubuh mungil itu juga dengan nyaman menyusup kedalam pelukan Erik. Jangan tanyakan pembatas yang wanita itu buat semalam, tentu saja sudah berantakan kemana mana.


Erik tersenyum menang karenanya. Sebab tubuhnya tak bergerak kemana mana tetap ditempatnya seperti semalam. Tiara lah yang berpindah tempat bahkan menyembunyikan tubuh mungilnya dari dinginya pendingin ruangan kedalam pelukannya.


Dan jelas bukan siapa yang kalah sekarang.