Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.34



_Ketika rasa terganggu dan risih berubah menjadi rasa aman dan nyaman. Aku ingin kau selalu berada disisiku_.


*


*


*


Erik dan Tiara masih asyik berjalan ditengah keramaian Mall malam itu. Dengan Tiara masih setia berada dalam rangkulan Erik, sampai pria itu membawanya masuk kedalam sebuah toko pakaian.


"Untuk apa kita kemari?" tanya Tiara lagi dan lagi.


"Aku sudah bilang kita akan belanja dan pertama kita akan membeli pakaian untukmu" jawab Erik.


"Tapi untuk apa, pakaianku ada banyak diApartemen" tolak Tiara.


"Tapi dipenthouse ku hanya beberapa lembar, sudah jangan banyak alasan lagi, cepat pilih yang kamu suka, semuanya juga boleh, atau kita beli semuanya saja ya" sebuah tawaran yang membuat Tiara melayangkan pukulan kelengan Erik.


"Dasar gila, oke aku akan pilih beberapa" putus Tiara mengalah karena takut jika pengamen sultan itu akan benar benar membeli semua pakaian ditoko ini.


Seorang pegawai toko pun menghampiri keduanya. "Silahkan Tuan dan Nona, ingin mencari pakaian seperti apa, bisa saya bantu".


"Carikan pakaian yang cocok dengannya" jawab Erik mendahului Tiara yang baru akan membuka mulutnya.


Mendengar suara Erik, pegawai toko itu sempat terdiam seperti mengingat pernah mendengar suara berat itu tapi dimana ia lupa.


"Kamu pilihlah, aku juga akan melihat lihat" ucap Erik melepas rangkulannya pada Tiara, berjalan meninggalkan wanita yang mendumel itu.


"Bukan Ceo tapi ngebossy banget, apalagi kalau beneran Ceo, tiap hari merintah aja kerjanya".


"Ayo Nona saya akan menunjukkan pakaian yang cocok untuk anda" ajak pegawai toko itu pada Tiara yang hanya mengangguk saja tanpa senyum sedikitpun.


Dalam toko dengan beberapa pengunjungnya itu tak ada yang menyadari jika seorang Waren Royse berada didekat mereka. Semuanya sibuk dengan kegiatan masing masing, hingga Erik sedikit merasa lega. Karena satu oramg saja yang tahu jika itu dirinya, akan membuat satu mall ini menjadi ricuh nantinya. Yang akan menganggu acara berbelanjanya.


Saat Tiara sibuk memilih pakaian, Erik juga sibuk melihat lihat seperti yang dikatakannya tadi. Beberapa jejak langkah ia layangkan, matanya tak sengaja melihat kaos couple berdasar warna hitam. Sesuai dengan kepribadian keduanya, gelap tapi tersimpan pelangi didalamnya.


Erik mengambil salah satu kaos itu, bibirnya mengembangkan senyum. "Aku ambil ini" ucapnya lalu seorang pegawai yang juga mengikutinya memasukkan pakaian pilihannya kedalam satu kantong belanja.


Erik kembali tersenyum saat melihat piyama couple yang amat lucu dimatanya. "Itu juga" tunjukknya.


Sampai bertemu dengan Tiara, Erik mendekat membelai sayang kepala sang wanita. "Sudah?" tanyanya.


Tiara menganggukkan kepala. Erik melirik kearah kantong belanja milik wanita itu. "Hanya segitu?" tanyanya.


Tiara melirik ke arah belanjaannya. "Iya".


Erik mengedar pandang. "Bungkus, itu, itu, itu, itu dan satu rak pakaian disudut sana, carikan yang sesuai ukuran wanitaku ini, oia beberapa pakaian dalam juga" ucapnya tanpa beban.


Mendengar ucapan Erik mata Tiara membelalak tak percaya. Bukan karena banyaknya pakaian yang ia beli, tapi pakaian dalam?. Erik berfikir sampai kesitu sedang dia saja melupakannya.


Tiara mencubit pinggang Erik cukup keras hingga pria itu mendesis perih. "Otak mesum" geramnya.


"Mesum bagaimana?" tanya Erik tak merasa salah.


"Nggak usah kau bilang aku akan memilih pakaian dalamku sendiri" bisik Tiara kesal.


Erik terkekeh. "Sekalian saja, aku juga tak keberatan". Tiara mendelik.


Setelah Erik membayar pakaian yang mereka beli, keduanya meninggalkan toko tersebut beralih menuju lantai bawah lagi kearah supermarket.


"Kita membeli perlengkapanmu dulu juga beberapa bahan makanan" ucap Erik yang tak lagi ditolak Tiara dia hanya mengikutinya saja.


Tak seperti ditoko sebelumnya kali ini Tiara tak sungkan memilih perlengkapan pribadinya, karena dia juga benar benar butuh semua barang itu. Berpisah dengan Erik yang entah ingin membeli apa diarah yang berlawanan.


Sampai dideretan rak pembersih wajah, Tiara mulai mengangkat sebelah tangannya. Barang yang diinginkannya memang cukup tinggi tempatnya, tak lupakan jika Tiara adalah sosok wanita bertubuh mungil menggemaskan.


Tiara sudah mengangkat tangannya, bahkan berjinjit agar dapat mengambil barangnya tapi tak sampai sampaijuga. Ia pun mencoba mencari akal, tak ada yang bisa dimintai tolong karena lorong ini cukup sepi. Tapi mata Tiara menangkap satu kursi kecil yang mungkin memang ditujukan untuk orang bertubuh pendek sepertinya.


Tiara pun mengambil kursi itu, dipijaknya lah benda itu. Tapi tak juga sampai Tiara mencoba berjinjit lagi, dan akhirnya benda yang diinginkannya pun tergapai.


Namun Tiara mengernyit saat dirasanya pijakannya mulai bergoyang, dan.....


Grep.


Tiara menutup rapat matanya karena ia tahu akan jatuh menempel pada lantai secara menyakitkan. Tapi kenapa ini empuk dan nyaman.


"E..., Erik" ucap Tiara gagap. Entah mengapa hatinya terasa berdebar dengan tatapan tajam bak elang itu.


Erik membangunkan tubuh Tiara. Lalu..., "Kamu ini punya mulut atau tidak, kenapa nggak minta bantuan orang lain, kenapa tak memanggilku, kau hampir membuat dirimu sendiri celaka, kau tahu itu!!!" bentaknya.


Dia sungguh panik saat melihat Tiara hampir terjatuh tadi dengan cepat ia berlari agar bisa menangkap tubuh wanita itu, sampai barang yang dipegangnya terjatuh semua.


Tiara tersadar saat suara bentakan Erik terdengar ditelinganya. "Kamu tidak lihat disini tidak ada orang, lagi pula aku tidak tau kamu kemana, aku hanya mencoba berusaha sendiri".


Erik berkacak pinggang. "Berusaha sendiri boleh tapi kalau nggak bisa berharaplah dari bantuan orang lain, apalagi ada aku kenapa harus menyulitkan dirimu sendiri, kalau kamu terluka tadi bagaimana jadinya, aku panik melihatmu seperti tadi kau tahu!!".


Tiara terdiam, ia sadar ada ekspresi kepanikan juga kekhawatiran dari Erik. Ada rasa bersalah dalam dirinya saat melihat hal itu, ia pun melembutkan suaranya. "Iya maaf, lagian aku juga nggak papa kan, sudah jangan marah begitu".


Erik menatap Tiara yang kini menunjukkan sedikit senyumnya. Ia lalu menarik tubuh mungil itu dalam pelukannya mendekapnya erat. "Jangan seperti itu lagi, panggil aku jika perlu sesuatu, jangan membuatku panik lagi, mengerti".


Erik membelai rambut panjang Tiara saat wanita itu dengan patuhnya mengangguk dalam pelukannya walau tak membalas sekalipun.


"Apalagi yang kamu perlukan?" tanya Erik ketika melepas pelukannya.


"Sudah semua" jawab Tiara yakin.


"Oke, kalau begitu kita bayar lalu pulang".


*****


Sesampainya di depan loby apartemen, Erik memberikan kunci mobilnya pada petugas parkir disana seperti biasanya. Sedang Tiara sibuk dengan tas belanja ditangannya.


"Ayo" ajak Erik berjalan kedepan membuat Tiara yang kewalahan berdecak sebal.


"Katanya sayang, cinta, tapi akunya dibiarin bawa segini banyaknya belanjaan" kesal Tiara dalam hati. "Omong aja besar, bukti nggak ada".


Tiara terus mengikuti langkah besar Erik dengan kaki mungil dan tas belanja yang menumpuk dikedua tangannya. Memasuki loby Erik berbalik dengan senyum miringnya.


"Kenapa capek, berat?" tanyanya tanpa rasa bersalah.


Tiara memutar bola matanya jengah. "Kamu pikir aja sendiri!" jawabnya ketus.


Erik terkikik mendekat kearah Tiara. "Kan sudah kubilang, minta bantuanku, tapi dari tadi aku tunggu kamu nggak ngebuka bibir tipismu itu, jadi kubiarkan saja kamu menderita sebentar" ucapnya mencubit gemas hidung Tiara.


"Ckck, harusnya kamu peka dong jadi cowok" elaknya.


"Nggak kebalik, kamu yang udah banyak dikodein tapi nggak peka peka juga" balas Erik.


"Udah nggak usah debat disini, jadi mau bantuin aku nggak nih?".


Erik tersenyum dan tanpa menjawab ia langsung menggendong Tiara sampai wanita itu memekik seketika. "Apa ini?" tanyanya.


Erik menguatkan pelukannya. "Tadi katanya minta bantu?".


Tiara menaikkan matanya. "Yah, nggak gini juga bantunya, bawain tasnya aja, kenapa harus digendong gini, malu diliatin orang" sanggahnya.


"Tapi aku malas membawa barang belanjaan, kalau menggendongmu aku nggak keberatan".


Sepanjang jalan sampai menaiki lift, Tiara terus menyembunyikan wajahnya didada bidang Erik. Malu dengan banyaknya mata yang menatapnya, tak tahu saja dia jika keadaan mereka membuat yang melihat iri. Apalagi para jomblo.


Didalam lift juga beberapa wanita berbisik sambil tertawa kecil melihat keromantisan keduanya. Membuat Tiara mengeratkan pegangan tangannya pada leher Erik.


Dan untuk identitas pria itu sendiri tak ada yang tahu, kecuali manager dan pemilik gedung itu. Sebab Erik selama ini terus menyembunyikan wajahnya dengan masker dan kacamata.


Erik keluar dari lift masih dengan menggendong tubuh mungil Tiara tanpa sedikitpun rasa lelah diwajahnya. Dilantai dengan hanya satu pintu kamar itu, Erik berjalan kearah benda persegi panjang tersebut.


"Buka pintunya" ucap Erik.


Tiara melirik. "Gimana caranya tanganku penuh dengan belanjaan".


"Dan aku masih menggendongmu" tambah Erik.


"Makanya turunkan aku" elak Tiara. "Tidak, kamu saja yang buka terserah bagaimana caranya" balas Erik tersenyum licik.


Tapi Tiara tak kalah licik, dengan santainya dia menggantungkan tas belanjanya keleher Erik yang tertegun. Lalu menekan tombol pasword pintu penthouse Erik, alhasil terbukalah pintu itu.


Tiara melirik kearah wajah Erik. "Tunggu apalagi, ayo masuk" ucapnya menang. Erik melengos sebal masuk kedalam penthousenya.