Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.58



_I don't need a PERFECT ONE....., I just need someone who can make me feel that i'm the ONLY ONE_


*


*


*


Erik membuka pintu dengan rasa lelah juga tubuh yang hampir remuk karena pekerjaan yang menumpuk. Sudah sampai selarut ini pun pekerjaannya belum selesai juga, kata Roy mungkin butuh dua hari lagi seperti ini agar rencana yang sudah disusun sedari awal dapat terpenuhi. Dan Erik hanya bisa menuruti tanpa bantahan sedikitpun karena itu memang resikonya.


Saat masuk dan membuka sepatunya Erik mengernyit kenapa semua lampu masih menyala, biasanya Tiara akan mematikan semua lampu jika dia akan tidur.


Erik melirik pada jam tangannya, pukul dua dini hari. Apa Tiara masih terjaga, pikirnya karena jika banyak pekerjaan wanita itu rela begadang demi menyelesaikannya. Tapi jika memang begitu kenapa Tiara tak tahu dia datang bahkan tak menyambutnya.


Dia pun berjalan masuk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, takutnya Tiara sudah tidur hanya saja lupa mematikan lampu.


Tapi saat melewati ruang santai Erik memaku, dilihatnya Tv masih menyala walau tanpa suara dan tubuh mungil Tiara terbaring lelah disofa dengan semangkuk makanan yang ditutupi juga beberapa obat diatas meja.


Melihat itu semua, Erik cepat membuka ponselnya. Ia menghela napas panjang melihat banyaknya panggilan tak terjawab juga pesan singkat yang dikirimkan Tiara. Wanitanya itu menghawatirkannya karena hanya membawa sedikit obat saja.


Erik akhirnya duduk lesehan didepan meja itu setelah membuka jaketnya untuk ia selimutkan ketubuh mungil Tiara. Wanita itu masih terlelap dengan damainya, mungkin dia juga cukup lelah hari ini pikir Erik.


Pria itu memilih lebih dulu memakan sup yang pasti dibuat Tiara untuk makan malam mereka. Walaupun sudah dingin tak masalah karena dia tak mau menyia nyiakan apa yang sudah dibuat Tiara untuknya.


Setelah selesai memakan sup yang sangat pas dilidahnya itu, Erik meminum obatnya yang juga sudah disiapkan Tiara. Mematikan Tv, Erik berbalik memandangi wajah damai menenangkan sang kekasih.


Perlahan ia membelai lembut kepala Tiara. "Sayang, Tiara" panggilnya.


Merasa ada panggilan dan sentuhan lembut seseorang Tiara pun terbangun, beberapa kali mengerjap melihat siapa yang ada didepannya.


Melihat Erik tersenyum dihadapannya ikut membuat kedua sudut bibir Tiara terangkat juga. Tiara mencoba bangkit dari tidurnya, Erik duduk disampingnya.


"Kamu sudah pulang, jam berapa ini?" tanyanya dengan suara yang masih serak khas orang bangun tidur. Tangannya juga masih mengucek mata, menggemaskan sekali dimata Erik.


"Jam dua lewat" jawab Erik.


Tiara melirik jam dinding dan benar saja sudah hampir pagi Erik baru pulang. "Kenapa terlambat sekali kamu pulang?" tanyanya lagi.


"Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan" jawab Erik. "Kamu sendiri kenapa tidur disini, kenapa nggak kekamar hmmm" tanyanya sambil membelai pipi Tiara.


"Niatnya nunggu kamu pulang, aku sudah siapkan sup dan obatmu juga, tapi kayanya malah ketiduran" jawab Tiara.


Seketika ia tersentak. "Oia sup mu, aku hangatkan dulu sebentar" ucapnya sigap berdiri tapi Erik menahannya kembali mendudukkannya.


"Aku sudah makan sup nya, aku juga sudah minum obatnya, lihat itu" ucap Erik menunjuk sisa makannya diatas meja.


Tiara melihatnya. "Tapi sup nya pasti sudah dingin nggak enak lagi, kenapa kamu malah langsung makan nggak bangunin aku dulu".


"Sudahlah, makanannya juga sudah masuk perutku, apalagi" sanggah Erik.


"Sekarang kita kekamar lanjutkan tidurmu saja" tambah Erik yang hanya bisa diangguki lemah Tiara. Sebenarnya dia juga masih sangat mengantuk.


Didalam kamar Erik yang sudah selesai bersih bersih dan memakai piyamanya tersenyum melihat Tiara yang sudah dengan pulasnya kembali tidur diatas kasur king size miliknya.


Tanpa ritual apapun lagi juga dengan rasa kantuk berlebih, Erik pun ikut berbaring dikasur empuk itu. Direngkuhnya tubuh mungil Tiara untuk didekapnya lalu ikut terlelap masuk kedalam mimpinya.


*****


"Kumohon kak lepaskan aku" rengek seorang gadis mungil dengan mata yang sudah bengkak.


"Melepaskanmu enak saja, kau itu sudah jadi incaranku".


"Tidak kak, kumohon jangan!!!!!".


"Kak Tiara!!!!".


Tiara langsung bangun terduduk dari tidurnya, dengan nafas terengah juga keringat yang membasahi seluruh wajahnya. Erik yang tadinya masih tertidur pun sampai terbangun karena pergerakan refleknya.


Pria itu jadi panik melihat wajah pucat penuh peluh Tiara dan tatapannya yang kosong, bukannya tadi wanita itu tidur dengan pulasnya. Terlebih lagi nafas Tiara seperti tak beraturan bahkan terdengar sesak.


"Sayang ada apa?" tanya Erik.


Erik sempat tak mengerti apa yang diinginkan Tiara dengan ucapan tak jelas juga tangan yang menunjuk nakas. Pikirnya Tiara bermimpi buruk saja dan terbawa sampai kealam nyata, ngigau istilahnya.


"Ambilkan obatku!!!" sentak Tiara membuat Erik melenyapkan rasa kantuk dan lelahnya.


Dengan otaknya yang cerdas ia pun mengikuti arah tangan Tiara. Membuka laci nakas disamping ranjangnya, benar saja disana tersedia sebotol obat yang tak dikenalinya.


Erik langsung mengambil obat itu mengeluarkan isinya dan mengambil segelas air diatas nakas. Diberikannya pada Tiara yang nafasnya sudah satu dua dengan mata memerah.


Setelah meminum obatnya Tiara berangsur angsur tenang nafasnya juga sudah mulai normal. Erik membantu dengan mengelap keringat dinginnya sambil terus menggenggam tangannya, tanpa bertanya sedikitpun.


Hanya dalam pikirannya kenapa Tiara tiba tiba histeris padahal tadi dia tidur dan kenapa harus menggunakan obat agar dia kembali tenang. Apakah penyakit lamanya kambuh tapi setaunya sejak ada dirinya, Tiara sendiri berucap jika dia tak pernah kambuh lagi.


Lagi pula bukannya biasanya jika ia kambuh Tiara akan menangis, tapi ini malah seperti ketakutan.


Tiara menoleh menatap Erik yang selalu setia disampingnya, tanpa aba aba ia menghambur kepelukan pria tampan itu.


Erik yang semula kebingungan itu hanya bisa menghela nafas, ia mengelus kepala Tiara sayang. "Ada apa, mimpi buruk hmmm?" tanyanya.


"Apa itu mimpi buruk?, tapi bagiku seperti nyata" jawab Tiara pelan dalam pelukan Erik.


"Tidak itu hanya mimpi buruk tenanglah tak apa" ucap Erik menenangkan.


Tiara mendongak menatap wajah Erik untuk meyakinkan dirinya jika dia hanya bermimpi buruk saja. Ketika pria yang memeluknya itu tersenyum, ia pun mulai percaya.


Tiara kembali menikmati pelukan juga elusan lembut dikepalanya mencari keamanan didalamnya. Dan bekerja, ia mulai tenang tapi entah mengapa hati kecilnya merasa dipenuhi penyesalan, kemarahan, kekecewaan juga kesedihan.


Mimpi tadi itu sepertinya bukan hanya sekedar mimpi tapi pernah ia alami, hanya saja seperti sosok Erik baginya mimpi itu adalah peristiwa yang ia lupakan. Atau memaksa melupakannya.


Entahlah, tapi dia akan mencoba mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya antara ingatannya, Erik, masa lalu dan mimpi itu karena ini sudah yang ketiga kalinya.


Merasa Tiara sudah tenang Erik kembali menidurkannya dengan posisi sebelumnya dalam dekapannya. "Sekarang tidurlah lagi, aku akan menjagamu jangan takut" ucapnya sembari terus membelai kepala Tiara.


*****


Keesokan paginya saat Tiara sarapan bubur karena merasa perutnya tak nyaman, ia hanya mengaduk ngaduk isi mangkuknya. Tatapannya kosong kedepan dengan dahi mengernyit.


Sedari bangun tadi pagi Tiara tak henti memikirkan apa maksud dari mimpi yang menyebabkannya seperti trauma. Bahkan sampai harus meminum obat untuk menenangkan diri, sama seperti saat dia kambuh.


Tapi semenjak ada Erik Tiara sama sekali tak pernah kambuh seolah pria itu adalah obat abadi untuknya. Namun mimpi itu menjadi pengganti atas rasa itu.


Baru Tiara menyuapkan sesendok bubur kemulutnya ia tertegun nyaris terdiam dalam beberapa menit.


Rupanya Erik yang sudah rapi dan tampan ketika ingin mendekatinya, melihat rambutnya yang panjang tergerai hampir menyentuh mangkuk bubur, pria itupun berinisiatif berbalik kekamar. Setelah itu kembali lagi untuk mengikat dan langsung mengikat rambut Tiara.


"Apa enak makan bubur bertoping rambut?" tanya Erik saat sudah duduk berhadapan dengan Tiara. Lalu ikut menikmati bubur yang sudah disiapkan wanita itu.


Sedang Tiara termenung menatap Erik dengan ekspresi tak terbaca, hanya matanya yang sesekali mengerjap menggemaskan.


Menyadari tak ada tanggapan atau pergerakan dari Tiara, Erik mendongak menaikkan sebelah alisnya. "Hey, sayang kamu kenapa?" tanyanya.


"Kamu...., apa kamu sering melakukannya?" Tiara malah balik bertanya.


Erik sedikit tertawa. "Apa?, makan bubur?".


"Mengikat rambutku" jawab Tiara.


Erik menghentikkan gerakan tangannya lalu menatap Tiara dalam. "Sering, bisa dibilang mengikat rambutmu adalah modusku dulu untuk mengambil hatimu" jawabnya sungguh sungguh.


Tiara sesaat terdiam namun tak lama tergelak karenanya, Erik sampai kebingungan dibuatnya. "Kenapa malah tertawa" ucapnya.


"Biasanya modus lelaki itu minta nomer hp, berkenalan atau cara pasaran lainnya, kamu malah mengikat rambut" sindirnya.


Erik mendengus dengan sindiran Tiara. "Karena aku berbeda aku bukan lelaki biasanya, yang aku modusi pun bukan wanita biasa, tapi yang nyata dengan modus itu aku akhirnya mendapatkanmu kan dulu dan sekarang hatimu tetap untukku". Jelas Erik panjang lebar dengan tersirat rayuan gombal didalamnya.


Dengan kalimat itu pula wajah Tiara memerah bak kepiting rebus, mulutnya berdecak tapi hatinya berbunga juga.


Tapi dengan perlakuan Erik hari ini semakin membuatnya penasaran dengan masa lalu yang dilupakannya. Bayangan teramat jelas terlintas jelas, adegan mengikat rambut itu membuatnya teringat akan satu kenangan lama yang dia yakin ada Erik, Mala bahkan Aditya disana.