
*Banyak alasan untuk melakukannya, namun keadaan meminta bahwa diam jauh lebih baik*
*
*
*
*
*
"Sedang apa kalian disini?".
Sisil dan kedua orang tuanya gelapan berbalik dan ingin pergi tapi malah berbalik lagi, jadi pusing sendiri. Dan Erik malah terkikik geli.
Wijaya berdehem pelan, Sisil berkata. "Itu tadi mau nangkep curut".
"Awww, Ibu" jerit gadis itu tiba tiba saat Santi sang Ibu bukannya mengiyakan alasannya malah mencubit pinggangnya.
Mana ada sih curut dimansion besar Wijaya, yang ada paling curut sultan.
"Yah, aku mau keluar sebentar, ada perlu dengan Roy" ucap Erik mengabaikan sang Ibu dan adik sambungnya yang berdebat sendiri.
"Pake supir?" tanya Wijaya sedikit khawatir sepertinya jika sang putra keluar rumah.
Wajar saja, karena sebelumnya Erik nampak tak baik baik saja dan sekarang menunjukkan perbedaan yang drastis setelah kedatangan Hendri tempo hari. Takut jika pria itu akan minum minum lagi merusak dirinya sendiri.
Erik tersenyum. "Kali ini aku mau bertemu Roy bukan ke bar Ayah, tenanglah" jawab pria itu.
"Baiklah, hati hati".
Setelah kepergian Erik yang sudah berpamitan itu Wijaya, istri dan anaknya berlari mendekat kearah tangga. Menengok kebawah melihat Erik yang berjalan gagah tegap seperti biasa mana wangi pula.
"Ini baru kak Erik yang kukenal" Sisil nampak girang.
"Putraku" ucap Wijaya haru.
"Putra kita" jawab Santi menanggapi.
*****
"Masuk" ucap Roy saat terdengar bunyi ketukan dipintu ruangannya.
Hari ini dia sibuk sekali menandatangani dan membaca kontrak kerja artis yang ia naungi diagensi nya bersama putra Wijaya. Terlebih lagi dia harus mengundur jadwal kerja Erik, sampai pria itu sadar dari depresinya.
"Ada apa, aku sibuk sekali" ucap Roy tanpa melihat siapa yang masuk keruangannya.
"Ternyata kau tak makan gajih buta, tak sia sia aku menggajihmu".
Roy seketika mendongak melihat Erik berdiri dengan gagah didepannya, pria itu reflek berdiri. Menghampiri dan langsung memeluk sepupunya itu.
"Kau sudah sehat?" tanyanya dengan wajah senang.
Erik berdecih. "Kapan aku sakit" elaknya.
"Ckck, terserah kau".
"Bagaimana keadaan disini?". Erik duduk disofa samping kiri, membuka satu majalah yang ada di meja depannya.
Roy mengikuti. "Tak terlalu baik juga tak terlalu buruk" jawabnya.
Erik mengangguk dua kali sembari membuka beberapa lembar majalah lagi. "Apa jadwalku besok?".
"Bertemu dengan produser, pemotretan majalah model dan jumpa fans untuk klarifikasi hiatusmu beberapa hari" jawab Roy cepat.
Erik terkikik. "Hapal sekali".
"Aku sudah menanti hari ini, gimana aku tidak hapal" jawab Roy gemas.
"Dimana Jeje, apa kau mengirimnya kembali ke Jerman?".
"Kukirim dia ke antartika, karena kukira kau takkan sadar juga".
Erik terdiam sesaat raut wajahnya berubah datar. Roy sadar dan langsung berdehem tak enak hati.
"Jeje mengurus beberapa artis baru, tenang saja jika kau butuh dia, dia akan selalu ada".
Erik menepuk pundak Roy. "Aku akan bekerja besok kau atur semuanya" lalu berdiri.
"Mau kemana lagi kau?".
Erik yang sudah berjalan mendekati pintu berbalik. "Melanjutkan rencanaku" jawabnya kemudian menghilang dibalik pintu meninggalkan Roy yang tak mengerti arti jawaban pria tersebut.
*****
Nurmi terus menggosok tangannya tak karuan, kakinya yang sebentar maju sebentar mundur menandakan wanita itu tengah ragu. Ragu untuk bertanya pada sang putri yang tengah duduk menonton tv itu.
"Kenapa Ma, mau ngomong sama Anita, sini" panggil Anita yang menyadari sosok sang Mama ada di belakangnya dari pantulan kaca tv.
Nurmi terhenyak tersenyum tipis lalu mendekat dan duduk disamping putrinya. "Mama kenapa?" tanya Anita tadi.
"I..., Itu Mama mau nanya?" ucap Nurmi. Entah kenapa bicara pada putrinya yang satu ini dia teramat hati hati.
Anita mengangguk dua kali. "Kenapa Aditya tak kemari, ini sudah dua hari, apa kalian bertengkar?" lanjut sang Mama.
Anita tersenyum. "Mungkin dia sibuk Ma, lagi pula untuk apa dia kemari, aku bukan Tiara setidaknya sampai saudaraku itu bangun mungkin Aditya takkan kemari".
"Tapi kalian nggak berantem kan?".
"Nggak Ma".
*****
Sedangkan Aditya terdiam duduk disofa wajahnya nampak kacau dengan pikiran kemana mana. Dan ucapan Anita tempo hari selalu terngiang dikepalanya.
Kau tak mencintainya.
Tiara hanya targetmu.
Kau tak benar benar mencintainya.
"Tidak" tolak keras Aditya nafasnya memburu.
"Aku mencintai Tiara, aku mencintainya" ucapnya yakin takkan terkecoh karena ucapan Anita.
Tapi ingatan ingatan ketika dirinya kecil membuatnya kembali ragu.
"Nggak, ini punyaku".
"Punyaku".
"Ini punyaku".
"Aditya....". Aditya kecil berlari kearah sang Oma yang memanggil namanya, bocah itu langsung saja menangis dipelukan Omanya.
"Cucu Oma kenapa?".
Aditya menunjuk temannya yang tadi mereka tengah berebut pesawat mainan. "Gandi, nggak mau minjamin pesawatnya Oma" adunya.
"Aku mau main sama sama, tapi Gandi nggak mau minjamin".
Sedangkan Gandi sudah menggelengkan kepalanya, bukan itu yang terjadi. Tadi Aditya ingin mengambil mainannya secara paksa dan mengaku benda itu miliknya.
Tapi sang Oma bukannya bertanya malah langsung memarahi Gandi. "Gandi kenapa nggak mau main sama Adit, dasar anak pelit".
Oma mengelus kepala cucu tersayangnya. "Jangan menangis, nanti kita beli pesawat mainan yang banyak, yang mahal, itu pesawat murah nggak bagus buat Adit, kita beli ya" bujuknya.
Aditya mengganggu dengan wajah menggemaskan polosnya. Dan saat sang Oma berbalik membawanya, Adit menatap Gandi sambil menjulurkan lidahnya.
"Arggghhhh, tidak tidak!!!!".
*Terkadang kita bisa menuliskan semua huruf dengan benar, terkadang juga salah merangkainya. Memang kita tak selamanya benar*.
*Dalam menjalani kehidupan ini, kita memang berusaha melakukan sesuatu dengan benar. Namun sebagai manusia memang kita jauh dari sempurna, karena ada kalanya kita pasti berbuat kesalahan*.
*****
Ting, tong, ting, tong.
"Biar aku aja Ma".
Anita segera berlari kecil kearah pintu, sebelum sang Mama. Dan ketika membuka benda itu, "Hay, apa kabar?".
Anita yang berwajah cerah sebelumnya tiba tiba terdiam, tercengang dan sorot matanya berubah. Sesaat wanita itu memejamkan mata tak percaya.
"Bagaimana kabarmu?".
Grep.
"Anita!!!".
Nurmi yang ingin tahu siapa tamunya terkejut saat melihat Anita sudah jatuh pingsan kepelukan pria dihadapannya.