Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.27



_Kunci sebuah ikatan itu adalah kepercayaan dan keterbukaan. Jika tak memilikinya jangan sekalipun mencoba menjalin ikatan_.


*


*


*


Tombol enter segera ditekan Tiara sedikit lebih keras, wanita itu kemudian menyandarkan punggung kesandaran kursi kerjanya sambil menghela napas lega. Rekan kerjanya berada dilokasi syuting untuk episode perdana program mereka dengan artis lainnya setelah Erik tentu saja. Berhubung Tiara masih kurang enak badan jadi dia bekerja dikantor saja.


Sudah sekitar tiga jam dia didepan komputer berkutat dengan pekerjaan yang biasanya ia kerjakan. Tapi baru hari ini Tiara yang dikenal teliti berbuat kesalahan. Untung saja dia membaca ulang laporannya jika tidak, Gilang akan memarahinya.


Semua karena Erik. Ya, pria itulah yang menjadi penyebab kekacauan pada otak dan fokusnya hari ini. Setelah melihat rekaman cctv dikamar Erik membuat Tiara terus berfikir, ada apa dengan dirinya. Kenapa dia seperti kucing penurut didepan Erik. Pria itu selalu bisa membuatnya tak berkutik.


Kalau seandainya benar semua yang dikatakan Erik, jika dia adalah orang spesial dihatinya. Tiara semakin dibuat penasaran bukan karena kenapa pria itu baru muncul sekarang, tapi alasan ia melupakan pria itu selupa lupanya.


Dan apakah bayangan bayangan kilas kejadian yang selama ini terlintas dipikirannya adalah masa lalu mereka, Tiara akan mencari tahu semuanya.


"Tiara?" panggil Aditya.


Tiara terhenyak dari pikirannya, dia mendongak melihat Aditya berdiri didepannya. "Eh maaf Pak Adit saya melamun, ada perlu apa?" tanya Tiara formal.


Dalam kantor dan jika masih di jam kerja Tiara memang akan bicara formal pada Aditya, sikap profesional ia tunjukkan.


Aditya tersenyum simpul. "Tidak apa apa, kata Gilang laporan yang akan kita bahas masih kamu kerjakan apa sudah selesai?".


Tiara melirik sesaat pada layar komputer didepannya, mengangguk kemudian kembali menatap Aditya. "Sudah Pak, tinggal di print" jawabnya.


"Oke bagus, dalam rapat nanti tolong bawa laporannya ya".


"Baik pak". Tiara kembali berkutat dengan komputernya dengan Aditya yang masih setia ditempatnya, memperhatikannya tanpa rasa bosan.


Setelah Tiara menjepit tumpukan kertas yang baru selesai diprintnya, Aditya berkata."Kalau sudah selesai bisa ikut aku sebentar?". Tiara sesaat mengernyit lalu mengangguk dan mengikuti Aditya, berhubung ini juga sudah mulai masuk jam makan siang. Rapat dilaksanakan setelahnya.


Bukan direstoran mewah atau di restoran bawah kantor mereka, Aditya malah membawa Tiara kerooftop gedung empat puluh lima lantai itu. Setelah sempat mampir sebentar keruangannya untuk mengambil bekal makan siang, mereka berdua duduk menikmati cerahnya sinar matahari walau udara masih terasa dingin.


"Ini makan, buatan Mama untuk kamu" ucap Aditya memberikan tas berisikan kotak bekal pada Tiara.


"Buat aku?, kenapa Mama repot repot begini sih?" tanya Tiara tak enak hati.


"Kamu tau sendiri Mama gimana, dia takut kalau kamu jajan sembarang terus sakit lagi".


Tiara tersenyum getir, membuka kotak bekal yang isinya adalah makanan kesukaannya. Nasi uduk dengan lauk ayam goreng. Seketika mata wanita itu berbinar senang, menyendok lalu menyuapkan sesuap penuh kedalam mulutnya.


Terasa ada yang aneh ia melirik pada Aditya yang masih menatap lurus kedepan. "Kak Adit, nggak makan?" tanyanya susah payah karena mulutnya yang penuh.


Aditya menoleh kemudian tertawa melihat wanita disampingnya. "Makan dulu baru ngomong, belepotan kan jadinya". Pria itu membersihkan butir nasi disudut bibir Tiara dengan ibu jarinya.


Jika Tiara adalah wanita pada umumnya sudah pasti baper jadinya, tapi bukan Tiara jika seperti itu. Dia malah tertawa kemudian kembali menyendok penuh nasi dan memakannya.


"Itu bekal dibuat Mama cuman buat kamu, lagian kakak masih kenyang, kamu aja yang makan".


Aditya tersenyum senang saat Tiara menikmati dengan lahap makanan yang dibawanya. "Enak?". Tiara mengangguk. "Habiskan biar cepat tinggi" ucapnya mengacak puncak kepala Tiara.


"Kakak ngeledek aku?!" wajah garang ditunjukkan Tiara, ia merajuk. "Dikit" jawab Aditya yang langsung tertawa saat Tiara memberikan pukulan pedas kelengannya.


Setelah lima menit Tiara selesai dengan makanannya dan berdiam diri sesaat ia pun bertanya. "Tadi katanya Kak Adit mau ngomong, ngomong apa?".


Aditya mengernyit. "Emang aku ngomong gituh perasaan nggak".


Tiara mendelik. "Terus kesini cuman karena ngasih bekal doang dan nyuruh aku makan sendirian gituh?".


"Persis" jawab Aditya sekenanya yang sukses membuat Tiara memutar bola matanya kesal.


"Kamu disana baik baik aja kan, Erik menjagamu dengan benar kan?" tanya Aditya serius, nada bicara terdengar dingin terselip penyesalan.


Tiara membulatkan mata. "Kakak tau aku semalam nginap dirumah si gila itu?".


Aditya menganggukkan kepalanya. "Dia sudah minta ijin sama kakak, dan kakak ijinin".


Tiara mendadak pusing. "Aishhh, kenapa diijinin sih".


"Yah terus kakak harus gimana, lagian kamu juga diapartemen sendirian, kakak sibuk, dirumah juga ada ortunya Aril, kalau bukan kesana kamu mau kemana, keadaanmu juga lemah kemarin kan" jawab Aditya panjang lebar tak ingin disalahkan walau nyatanya dia sudah merutuk dirinya sendiri tanpa ampun.


Tiara mengangguk lemah. "Tapi aneh kak" ucapnya yang membuat Aditya sempat dilanda kekhawatiran. "Aneh kenapa?".


"Selama ini aku ngerasa didepannya aku kadang berubah jadi orang lain, aku seolah merasa dekat dan nyaman didekatnya padahal aku baru mengenalnya".


Mendengar keluhan Tiara, Aditya termenung. "Aku nggak ngerti, kakak juga pernah bilang kalau si gila itu satu SMA dengan kita tapi aku nggak ngerasa dia ada, sebenarnya dia siapa?" tambah Tiara mengungkapkan isi hati yang selama ini ia pendam.


"Apa kamu mencintainya?". Tiara menoleh seketika, mendapat pertanyaan tak tertuga dari Aditya wanita itu tertawa. "Ka Adit bercanda?".


Aditya menoleh menatap Tiara dengan sorot teduhnya. "Aku serius". Tanpa sadar Tiara meneguk kasar salivanya, pertanyaan ini sungguh mudah dijawabnya tapi entah mengapa lidahnya terasa sangat kelu untuk mengatakan kata, TIDAK.


Selama beberapa menit keduanya saling menatap, Aditya mencari jawaban dimata Tiara. Sedangkan wanita itu sendiri mencari jawaban didalam hatinya, kenapa lidahnya sulit berkata. Anita kah penyebabnya?.


Tiara seketika mengerjap saat Aditya tertawa tanpa alasan. "Aku bercanda, kenapa serius banget sih?" ucap pria itu tanpa dosa.


"Kak Adit!!!!" bentak Tiara kesal.


"Iya maaf maaf". Aditya menyeka air yang keluar diekor matanya, sangking gelinya atau karena sakit dihatinya terlalu menyakitkan.


"Tapi aku punya satu pertanyaan" ucapnya kembali berwajah serius. "Seandainya kami mempunyai posisi yang sama didalam hatimu, kamu memilih siapa dikala harus satu saja yang menempatinya?".


Tiara mengernyit bingung, pertanyaan macam apa ini pikirnya. "Jelas aja Kak Adit, kenapa juga aku harus memilih pria gila itu, udah lah jangan ngomong aneh aneh Kak".


Aditya kembali tertawa mengacak poni tipis Tiara gemas. "Terima kasih sudah memilih kakak, maaf kalau kakak dari tadi ngelantur, mungkin karena semalam kurang tidur". Aditya mengecek jam ditangannya. "Sebentar lagi rapat dimulai, kakak balik duluan ya".


Aditya berdiri meninggalkan Tiara yang masih duduk tenang ditempatnya, namun tak lama pria itu berbalik. "Oia untuk jawaban pertanyaanmu, cuman kamu yang tau dan hanya kamu". Setelah mengucapkan kalimat aneh itu, Aditya pun melangkah pergi.


Tiara mengerang kesal ditempatnya. "Aish, kenapa semua orang menyuruhku berfikir sendiri saat aku nggak tau jawaban dari pertanyaan yang kubuat, arrgghhhh menyebalkan!!!".


Aditya terpundur bersandar pada dinding lift dibelakangnya, tubuh tegapnya tiba tiba saja limbung lemah tak berdaya. Tubuh itu melorot kebawah bersamaan dengan kristal bening yang jatuh mengenang kepipinya.


Aditya menempelkan telapak tangan kekeningnya. "Aku kalah, jelas jelas aku kalah" isaknya.


*****


Tiara tengah berdiri diteras gedung kantornya dengan wajah kesal juga bibir tipis berwarna pink yang terus mengomel tanpa henti. Sudah lebih dari tiga puluh menit dengan penurutnya ia menunggu Erik yang mengirim pesan untuk menjemputnya.


Tapi Tiara bukan mengomel karena Erik yang tak kunjung datang, tapi mengomeli dirinya sendiri yang tak bisa membantah kemauan pria itu.


Pertama, untuk tinggal dirumah pria itu.


Kedua, diantar dan dijemput ketika bekerja.


Dan sekarang, memintanya menunggu sebentar karena masih ada yang perlu dibicarakan dengan produsernya.


Mana Tiara yang selama ini dingin dan kejam, mana Tiara yang dulu. Singa betina itu telah berubah menjadi kucing penurut jika berhadapan dengan Erik.


"Aishhh, sialan!!" umpat Tiara dan Anita hanya terdengar tertawa dalam dirinya.


"Kan sudah pernah aku katakan, kau itu punya pawang, nggak percaya lihat kan sekarang" sindir Anita.


"Diam kau!!!" bentak Tiara amat kesal. Sampai orang orang yang melihatnya terjingkit kaget dengan sikapnya. Tapi Tiara masa bodoh lah.


Sebuah mobil sport berwarna maroon berhenti tepat didepan Tiara, ia menaikkan sebelah alis. Ni orang ganti mobil lagi, pikirnya. Dia memastikan jika itu adalah Erik, siapa coba yang punya mobil mahal ini dikantornya jelas nggak ada.


Tapi mengingat mobil yang dipakai Erik tadi pagi berwarna metalic sedang ini maroon, membuatnya berpikir. Enak banget ni bocah gonta ganti mobil.


Tiara membelalakkan mata heran saat yang keluar dari mobil bukannya Erik, melainkan Mala dengan pakaian yang. Wow, sexy pikir para pria yang melihat adik Aditya itu keluar dari mobil.


Secepat kilat Tiara melepas jaketnya, lalu menghampiri dan menutupi lekukan tubuh sang sahabat yang sedikit terekspos. "Hay, Ra" sapa Mala dengan senyuman.


Dan, plak!!!. "Aucchhhh".


####


Terimakasih untuk kalian yang sudah setia menunggu kisah cinta segitiga ini. Makasih juga udah masukin cerita ini dirak buku kalian. Juga like dan komenan kalian.


Supaya akyu bisa lebih semangat lagi buat lanjutin ceritanya, banyakin like dan komennya yah. Yang mau kasih ide cerita juga boleh.


Dan jangan lupa share cerita ini keteman teman kalian, sosmed juga boleh. Saya bakal sangat berterimakasih.


Sekian dulu yah, enjoy reading.