Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.20



_Aku, dirimu dan masa lalu. Apa sebenarnya yang tersembunyi?_.


*


*


*


Tiara mengedarkan pandang, dari ujung depan sampai keujung belakang, dari ujung kanan hingga kiri. Seketika membuatnya sadar ternyata seorang Waren Royse benar benar tenar sekali. Aula ini dipadati populasi manusia.


Wanita berwajah manis padahal bak singa salju itupun menatap kearah panggung. Terlihat sangat megah namun masih terkesan maskulin dengan segala pernak perniknya.


Melihat Tiara tampak takjub Aril terkekeh kecil. Ia mendekatkan kepalanya berbisik pada sahabat kekasihnya itu. "Kenapa, baru pertama kali nonton konser yah?".


Tiara mendelik menatapnya. "Iya, masalah buatmu". Jawaban jujur dari seorang wanita yang sibuk bekerja.


Aril terpaku lalu tertawa. "Ah iya aku lupa kamu itu kan wanita karir abadi".


"Mala tadi dirumah, kenapa kamu nggak ajak dia kemari?" tanya Tiara pada Aril yang langsung berubah ekpresinya.


"Dia mana suka nonton konser ginian, kalau oppa oppa korea baru tuh dia paling depan" sangkal Aril yang disetujui Tiara. Sahabat satu satunya itu memang paling suka dengan idol negri gingseng tersebut.


"Selamat datang di acara Konser Mini Waren Royse, bla bla bla bla".


Pemandu acara mulai menunjukkan skil publik spiking nya mengawali acara konser ini, mengakhiri percakapan Tiara dan Aril yang sedari tadi sesekali dilirik oleh Sisil.


Melihat wajah Tiara pertama kali ini membuatnya bertanya dalam hati. Wajah manis yang tampak familiar tapi dimana pernah dilihatnya, ia lupa.


"Kenapa, sebentar lagi Erik tampil" tanya Ridan yang duduk disampingnya.


Sisil terhenyak kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Nggak papa".


"Baiklah tak perlu basa basi lagi dan demi kalian yang sudah tak sabar lagi, kita panggilkan WAREN ROYSE......" seru sang pemandu acara.


Para penonton langsung berteriak histeris saat Erik muncul dari bawah panggung dengan melambaikan tangan dengan sedikit senyuman. Ya begitulah memang Erik, walaupun dia seorang publik figur yang disukai banyak kaum hawa. Tapi dia tak mudah menebar senyum untuk sekedar menyenangkan penggemar atau agar nampak bagus di kamera.


Namun Erik tak pernah mengabaikan penggemarnya, terbukti dengan seringnya ia menerima ajakan foto bersama dan memberikan tanda tangan pada mereka yang meminta. Ia juga tak sombong, akan ada jawaban dari sekian banyak pertanyaan jika ia sedang jumpa fans meskipun pertanyaan itu hal kecil sekalipun.


Bisa dibilang dibalik nama Waren Royse itupun Erik tetap berpegang pada sikap aslinya. Dan hal itu menjadi daya tariknya sebagai penyanyi baru beberapa tahun yang lalu hingga menjadi seterkenal ini. Sudah menjadi seorang pria matang berumur genap kepala tiga, tapi masih seperti


"Wah wah wah, ternyata penggemar Waren di negara kita ini nggak kalah bersemangat dari pada negara lain yah" ucap pemandu acara berumur kepala tiga itu.


Penonton pun berseru sedang Erik lagi lagi menunjukkan sedikit senyumnya. Pria itu sudah berdiri disamping pemandu acara, sebelum ia menyanyikan sebuah lagu sebagai pembuka Konser mereka akan menjalani sesi tanya jawab dulu.


"Sebelum kita tanya jawab, saya harus menggunakan bahasa apa yah jujur saja bahasa Jerman sungguh sulit diucapkan". Semua orang tertawa ikut merasakan kesulitan itu.


"Bahasa indo saja, meskipun aku terkenal disana dan negara itu tempat ibuku lahir tapi aku tetaplah warga negara indonesia, tempat dimana aku lahir dan dibesarkan" jawab Erik dengan suara beratnya.


"Wah, beruntung sekali kita punya idola yang masih mengingat negara sendiri, jaman sekarang kan banyak yang lupa dengan asal mereka". Sang pemandu mulai salut.


"Nah sekarang sedikit kemasalah pribadi yah, dan menurut gosip yang beredar apa benar anda kembali ke negri pertiwi untuk seorang wanita?" tambahnya bertanya.


Erik terkekeh kecil. "Gosip disini cepat sekali beredar yah" jawabnya. "Mungkin itulah salah satunya" tambahnya yang membuat semua orang penasaran sedangkan yang dibicarakan malah sibuk mengotak atik ponselnya.


Sang pemandu acara menganggukan kepala dengan senyum jahilnya. "Emmm mungkin yah, jadi bisa iya bisa tidak, kalau begitu apa wanita itu ada disini?".


Erik pun melirik kearah Tiara diujung sana yang tak sama sekali menatapnya, ia jadi kecewa. Bayangkan saja dia bintangnya disini, semua orang menatapnya tapi Tiara malah berfokus pada ponselnya.


"Aku tak ingin menjawabnya, jika ada kalian pasti akan tau itu siapa".


"Hoho, baiklah baiklah, sepertinya penyanyi kita mulai bosan dengan sesi tanya jawab ini, kalau begitu kita langsung saja mendengarkan sebuah lagu darinya, bagaimana kalian setuju?". Semua orang pun berseru setuju.


"Tapi tunggu dulu kira kira lagu apa yang akan anda bawakan untuk pertama kali?".


"Satu lagu yang selalu ada disetiap albumku".


"Ah, sepertinya itu satu lagu yang sangat berarti karena ada disetiap album".


"Hmmmm".


Sesaat panggung nampak gelap setelah ditinggalkan kedua pria itu. Dan tak lama satu lampu mulai menyorot satu orang pria yang duduk tertunduk sambil memegang penyanggah mic didepannya.


"Lagu ini sebenarnya kuciptakan untuk mengenang seseorang, kenapa ada disetiap album?, karena aku ingin ia bisa mendengar isi hatiku tapi sepertinya sampai detik ini dia tak juga tau". Seorang Waren Royse pertama kali mengungkap tentang masalah pribadinya.


(Anggap aja lagunya dia yang nyiptain yah, namanya juga novel hasil haluan author๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚).


Lantunan musik mulai terdengar dibarengi dengan munculnya satu persatu cahaya layar ponsel penonton yang diangkat keatas.


What do you mean?


When you nod your head yes


But you wanna say no


What do you mean?


When you don't want to me move


But you tell me to go


What do you mean?


What do you mean?


Said we're running out of time


What do you mean?


What do you mean?


Better make up your mind


What do you mean?


Tiara terpaku saat mendengar sepenggal lirik itu, seperti dituju untuknya. Apalagi sesekali lirikan mata Erik mengarah padanya. Salahkah dirinya yang menganggap lagu spesial ini dikenang Erik untuknya?.


You're so indesicive of what I'm saying


Trying to catch the beat, make up your heart


Don't know if you're happy, or complaining


Don't want us to end, where do i start?


First yo wanna go to left end you want to turn right


"Gue kira tu kampret lipsing, ternyata beneran enak suaranya" ucap Joker.


"Rugi deh beli botol aqua sekarung tadi, nggak jadi lemparin lah, takut bonyok sama pendukungnya, kalah pasukan kita" sambung Aril.


"Gampang entar minta ganti duit lo pada ma tu anak, bayarannya pasti banyak tiketnya aja mahal banget" sambar Ridan.


Tiga pria tampan itu kemudian saling mengobrol sedangkan dua wanita yang mengapit mereka malah terdiam dengan pikiran masing masing.


"Ternyata lagu ini untuknya?". Sisil melirikkan mata kearah Tiara yang serius menatap Erik didepan sana.


"Ini bukannya lagu yang pernah membuatku menangis, ternyata ini lagunya, dan jangan bilang lagu ini memang benar untukku, tapi apakah kami pernah sedekat itu saat aku tak mengingat apapun tentangnya dimasa lalu". Tiara membatin.


Ya, sebuah lagu yang beberapa tahun lalu pernah ia dengar di salah satu cafe terkenal. Pertama kali mendengarnya Tiara cukup tertarik dan saat menghayati tanpa terasa ia menitikan air mata. Entah karena suara merdu penyanyinya, makna lagunya, dan sebagainya. Yang jelas hatinya terasa teriris saat itu, dan tak berniat mencari tahu apa judul lagunya dan siapa penyanyinya. Cukup sampai disitu.


Penonton berseru takjub seolah ikut merasakan apa isi lagu yang dibawakan Erik tersebut. Saat sang empunya suara menyudahi nyanyiannya dan lagi lagi pandangan terakhirnya tertuju pada Tiara yang berdebar sendiri jadinya.


Setelah lagu pertama Erik terus tampil diselingi beberapa penyanyi lainnya, bahkan ada yang berduet dengannya. Sesekali juga sesi tanya jawab dan beberapa kuis kecil diadakan diatas panggung. Semua penonton yang hadir menikmati tak terkecuali Tiara yang mulai kecanduan dengan suara berat pria itu.


"Tuh kan bener aku nggak salah, kalau kubilang aku pernah liat yang pernah liat, Mas sih nggak percaya" tukas Tiara. Wanita yang tinggal dirumah lama milik Hendriwan.


"Iya ya, Mas juga baru sadar kalau dia terlalu tampan kalau cuman jadi cowok yang salah alamat, dia ternyata penyanyi internasional, nyesel Mas nggak minta tanda tangannya waktu itu". Seorang suami yang menyesal pernah menuduh pria tampan itu sebagai mantan istrinya.


"Makanya jangan curigaan, kalau kejadian kan repot entar" sangkal sang istri kesal.


Perseteruan sepasang suami istri itupun terjadi kembali, dihiruk pikuknya penonton konser yang berdiri. Berseru dan ikut bernyanyi bersama sang idola.