
Belum sempat Arra membantu Miya untuk berdiri, Erzan sudah lebih dulu menarik tubuhnya hingga berdiri.
Kedua tangannya yang sedang menyentuh Miya pun terlepas begitu saja.
"Tidak perlu membantu mereka," ucap Erzan, namun Arra menggelengkan kepalanya pelan. Arra akui dia pernah mengatakan kepada Erzan jika dia tidak bisa memaafkan Argus dan Miya, tapi itu hanya emosinya sesaat saja. Nyatanya kini dia tidak sanggup melihat Miya dan Argus yang tengah terpuruk.
Arra ingin mereka menyudahi pertengkaran ini.
"Tapi Zan_"
"Kalian pergilah! aku tidak ingin kalian ada di rumah ini. Pergi dan bawa mata-mata kalian sekaligus, sebelum aku membunuhnya menggunakan tanganku sendiri," ucap Erzan, dia memotong pembicaraan Arra. Satu tangannya pun mencekal pergelangan tangan Arra dengan kuat.
Dan Argus tidak mampu menjawab apapun, tatapan Erzan tidak main-main saat mengatakan. Amarah itu masih terlalu banyak menguasai sang anak.
"Arra," lirih Miya, suaranya hanya terdengar seperti hembusan angin. Arra memang tidak mampu mendengar panggilan itu, namun dia bisa melihat pergerakan bibir ibu mertuanya.
Miya yang memanggil namanya dan mengucapkan kata maaf.
Namun belum sempat Miya memperjelas ucapannya, Erzan sudah lebih dulu menarik Arra untuk pergi dari sana.
Erzan menarik Arra menaiki anak tangga meninggalkan Argus dan Miya.
Dan Arra tak bisa berontak, dia kalah tenaga. Apalagi kini Erzan tengah marah.
"Zan!" pekik Arra, kini mereka di depan pintu kamar Erzan, di dalam sana sudah ada Eleanor ditemani Anya. Arra tidak ingin baby El melihat pertengkaran mereka.
"Jangan seperti ini! aku benci melihat kamu yang suka marah-marah!" kesal Arra, kini suaranya meninggi, menatap Erzan tak kalah tajam.
Sementara Erzan terdiam, hatinya yang bergemuruh mendadak tenang. Sungguh, dia tidak ingin membuat Arra takut.
Apalagi sampai membuat Arra ingat kejadian buruk di masa lalu.
"Aku tidak suka melihat kamu bersikap kasar pada kedua orang tua mu!" kesal Arra lagi.
"Kamu sekarang sudah jadi orang tua juga, kalau kamu berbuat salah dan Eleanor tidak memaafkan mu bagaimana rasanya!"
"Maafkan Aku, aku hanya_"
"Hanya apa?! mama mu sudah sampai jatuh seperti itu tapi kamu tetap saja keras kepala!"
Erzan terdiam.
Untuk pertama kalinya dia tidak bisa menjawab kata-kata orang lain. Seolah di depan Arra dia tidak punya kuasa.
"Aku juga lelah selalu bertengkar seperti ini terus Zan, ayo kita akhiri. Jika mereka meminta maaf, ayo kita maafkan," ucap Arra lirih, pelan sekali menandakan dia juga lelah.
Dan sebenarnya kata ini lah yang ingin Erzan dengar dari sang istri. Selama ini Erzan tahu jika ayah dan ibunya sudah menyesali semua kesalahan.
Bukan hanya mencari Arra dengan sungguh-sungguh. Selama ini Argus dan Miya pun selalu mengawasi baby El melalui mata-matanya di rumah ini.
Erzan sebenarnya tidak tega memisahkan Argus dan Miya dengan Eleanor, namun dia selalu merasa bersalah saat Arra masih belum ditemukan.
Dan ketika Eudora di bersarang di penjara, Argus dan Miya pun tidak ikut campur tangan, mereka berdua menyerahkan semuanya kepada Erzan.
Dia juga ingin mengakhiri pertengkarannya dengan Argus dan Miya, namun Erzan malah mendengar jika Arra tidak bisa memaafkan mereka.
Karena itulah Erzan memancing Argus dan Miya untuk datang ke rumah ini.
Dan ternyata hati Arra terlalu lembut untuk menyimpan dendam, disaat dia membentak Argus dan Miya, Arra malah ikut terluka.
Pelan, Erzan menarik pinggang Arra dan memeluknya erat.
Dia sangat mencintai wanita ini.
"Maafkan aku, ayo kita akhiri pertengkaran ini," balas Erzan, dia juga mencium puncak kepala sang istri dengan sayang.
Kemudian Arra menganggukkan kepalanya kecil.
Disaat dia siap memaafkan, ternyata hatinya terasa lebih tenang.