
"Sini," pinta Erzan, dia ingin Arra mendekat ke arahnya. Tapi Arra malah menggelengkan kepalanya kuat ...
"Tidak mau, aku mau keluar saja."
"Ada yang ingin aku katakan."
"Ya sudah katakan saja."
Melihat sikap Arra, membuat Erzan harus melakukan rencana kedua.
"Besok Leo akan membawa Arra ke rumah ini." terang Erzan, seketika membuat Arra mendelik dan hatinya tiba-tiba berdenyut.
Bagaimana bisa? itulah pertanyaan yang paling mendominasi di kepala Arra.
Sementara Erzan terpaksa menggunakan cara ini agar istrinya itu mau mengakui semuanya.
Erzan sadar, selama ini dia terlalu banyak memiliki salah pada sang istri. Dia hanya memikirkan Eleanor sampai mengabaikan perasaan Arra.
Bahkan dengan mudahnya mempercayakan orang lain untuk mendampingi sang istri, padahal seharusnya itu adalah tanggung jawabnya sendiri.
Erzan makin merana kala mengetahui jika Arra pun mengalami trauma, bahkan istrinya itu membutuhkan banyak waktu untuk sembuh.
Daddy El sebenarnya berada di dua persimpangan, antara kembali mendapatkan Arra atau membebaskannya untuk pergi.
"A-apa maksudmu? Arra akan ke rumah ini?" tanya Arra dan dilihatnya Erzan yang mengangguk kecil.
"Tapi bagaimana bisa Zan, akulah A_" ucapan Arra yang menggebu terpotong, mendadak dia gamang dengan semuanya.
Sampai di lihat nya Erzan yang berdiri, berjalan mendekat ke arah dia.
"Kenapa? kenapa tidak bisa?" tanya Erzan lembut, kini dia sudah berdiri persis di hadapan Arra. Melihat wajah Arra yang terlihat pias, gugup dan bingung.
Andai hari ini Arra tidak mengakuinya juga, Erzan akan meminta Selena untuk datang ke rumah ini menggunakan wajah Arra yang asli.
Erzan akan tahu, Arra ingin hidup sebagai siapa? Jika Arra melihat Selena menggantikan posisinya dan dia diam saja, Erzan akan menyerah.
Dia tidak akan lagi memaksakan kehendak. Dan tentang tes DNA itu cukuplah dia yang tau.
Erzan menatap Arra, namun wanita yang digarap malah menurunkan pandangannya.
Arra merasa sangat bingung.
"Saat Arra kembali ke rumah ini, kamu bisa pergi," ucap Erzan lagi, dia akan terus mengintimidasi.
Dulu dia begitu kukuh ingin kabur dari Erzan, tapi setelah semua yang terjadi entah kenapa kini membuatnya lemah.
Tiba-tiba dia ingin merengkuh semuanya kembali.
Tapi benarkah Erzan bisa dia percaya? benarkah Erzan akan menerimanya? bukan hanya karena baby El, tapi karena mereka berdua sendiri, karena cinta, benarkah bisa seperti itu?
Terlalu banyak pertanyaan di kepala membuat Arra bingung untuk mengutarakannya.
"Zan." panggil Arra dengan suaranya yang bergetar.
"Hem."
"A-apa benar Leo menemukan Arra dan akan membawanya kemari?"
Erzan mengangguk.
"Apa kamu sudah memastikannya sendiri jika wanita itu adalah Arra? kamu sudah melakukan tes DNA dengan Eleanor?"
Erzan mengangguk kecil lagi.
Membuat Arra mendelik dan nyeri hatinya.
"Bagaimana bisa? hasilnya pasti negatif, tidak mungkin dia Arra."
"Kenapa?"
"Karena aku adalah ARRA!" ucap Arra dengan suaranya yang tinggi, dia butuh banyak keberanian untuk mengatakan sebuah pengakuan.
Dan kalimat itulah yang selama ini ingin Erzan dengar. Arra yang kembali atas kemauannya sendiri, meski dia harus sedikit menyudutkan.
"Kamu adalah Selena Maiden," ucap Erzan, hatinya sudah berbunya-bunga namun tetap ingin menggoda istrinya.
"Aku bukan Selena Maiden, aku adalah Arra."
"Jangan jadi pembohong."
Arra mulai menangis, dia tahu semuanya tidak akan semudah itu. Dia harus kembali meyakinkan Erzan jika dia benar-benar Arra.
"Aku adalah Arra, Zan. Tidak mungkin ada Arra lain di dunia ini selain aku. Aku akan buktikan pada mu Zan, ayo kita lakukan tes DNA. Ayo kita temui Bella. Bantu aku untuk cari Selena Maiden yang asli," jelas Arra diantara suara tangisnya, sesekali bahkan tangannya bergerak menghapus air bening itu.
Tapi Erzan tidak menjawab apapun, dia menarik pinggang Arra pelan dan memeluknya erat.