Finding Lost Wife

Finding Lost Wife
FLW BAB 37 - Kenapa?



Sesaat Erzan terpaku melihat pemandangan di hadapannya. Melihat Eleanor yang langsung tenang ketika berada di gendongan Selena. Tak butuh waktu lama bahkan anak kecilnya itu pun kembali tertidur.


Padahal masih jelas diingatkan Erzan, beberapa saat lalu Eleanor yang menangis dengan histeris.


Kenapa?


Bagaimana bisa?


Erzan terus bertanya-tanya sendiri. Kedua matanya masih terus mengunci pada Selena dan Eleanor.


Dilihatnya Selena yang seolah tidak menganggap dia ada.


Wanita itu terus menatap wajah Eleanor yang tertidur, sesekali mengelus pipi baby El dengan begitu lembut.


Terkadang pundak Selena bergetar, seolah menahan tangis.


Ada pikiran yang berkecamuk dihati Erzan, terus merasa jika wanita ini adalah Arra.


Astaga, apa yang aku pikirkan.


"Baby El sudah tidur, pindahkan dia dia tempat tidurnya," ucap Erzan dingin, saat mengatakan itu dia juga bangkit lebih dulu, tidak lagi duduk di sebelah Selena.


Dan Arra yang diminta pisah dengan sang anak merasa tak tega, dia ingin menghabiskan malam ini bersama Eleanor.


"Apa telinga mu tuli? letakkan baby El di ranjang nya."


"Kaki ku sakit," jawab Arra bohong, sedari tadi kakinya memang tidak memakai alas.


Dan Erzan langsung menatap kaki itu, dilihatnya kaki Selena yang terlihat merah.


"Berikan pada ku," ucap Erzan pula, dia langsung mengambil baby El di gendongan Selena, namun baru bergerak sedikit tiba-tiba Eleanor terbangun dan kembali menangis.


"Dia tidak mau," tolak Arra, dengan gerakan cepat dia kembali membawa sang anak ke gendongannya sendiri. Arra mendekap Eleanor dengan erat, membuat anaknya kembali merasa nyaman dan tidur.


bukan hanya Erzan, Anya dan Hera pun sungguh heran melihat pemandangan itu.


Bagaimana baby El yang begitu patuh pada Selena? padahal selama ini baby El hanya dekat dengan Erzan.


Bahkan tanpa menunggu jawaban Erzan, Arra dengan segera menarik kedua kakinya naik ke atas ranjang.


Gaun malam yang digunakannya cukup membuat dia kesulitan, namun itu bukanlah penghalang. Kini Arra dan Eleanor sudah sama-sama berbaring di atas ranjang dengan Arra yang memeluk tubuh sang anak.


Arra lantas menyibak rambut panjangnya ke belakang, membuat pundaknya lebih terlihat jelas.


Erzan hanya terpaku melihat pemandangan itu, tubuh Selena begitu mirip dengan Arra ketika dilihat dari belakang.


Tubuh yang sama sebelum Arra menjadi istrinya.


Kenapa aku selalu teringat Arra ketika melihat wanita ini?


Dan kenapa Eleanor bisa tenang bersama nya?


Waktu berlalu, menit sudah berubah jadi jam.


Saat jam 11 malam, Anya dan Hera keluar dari dalam kamar ini. Menyisahkan Arra dan Eleanor yang tertidur di ranjang dan Erzan yang duduk di sofa memperhatikan keduanya.


Erzan melihat pula telapak kaki Selena yang telihat merah, ada sebuah luka kecil juga di jari kelingkingngnya. Mungkin terkena batu ketika dia menariknya masuk ke dalam rumah ini.


Bahkan dari kaki itu saja kembali membuat Erzan ingat dengan Arra.


Kenapa?


Kenapa?


Kenapa?


Disaat Erzan sibuk sendiri dengan kata tanya Kenapa, disaat itu juga Arra terus menatap lekat anaknya.


Arra tidak benar-benar tidur, meski tubuhnya berbaring namun matanya tetap terbuka. Menatap hingga puas wajah sang anak yang sangat dia rindukan.


Arra tahu, kesempatan seperti ini tidak akan dia dapatkan 2 kali.