
Perselisihan yang terjadi di antara Austin dan Selena terlihat jelas oleh Arra dan Erzan yang sedang menuruni anak tangga.
Dari atas sana dapat mereka lihat dengan jelas jika keduanya sedang saling tatap dengan tatapan yang sama-sama tajam.
Dan saat Arra mencemaskan keadaan mereka berdua Erzan justru berfikir lain.
Dia malah mendapatkan sebuah ide untuk memerintahkan Selena agar menggoda Austin. Menjerat pria menyebalkan itu dalam cinta dan membawanya keluar dari rumah ini. Menyadari itu Erzan tersenyumnya menyeringai.
"Abang," panggil Arra, saat mereka sudah cukup dekat.
Austin sontak menoleh ke belakang sementara Eleanor yang berada di gendongannya langsung mengarahkan kedua tangan meminta digendong oleh sang ayah.
Erzan menyambut itu, dengan bibir yang terus tersenyum lebar kini dia menggendong baby El.
"Selamat pagi Nyonya Arra, Tuan Erzan," sapa Selena pula dengan sangat ramah, dia pun menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Nona Selena, tidak perlu sungkan seperti itu, mari duduk," sahut Arra pula.
Austin yang mendengar itu sungguh merasa tak suka, karena dia ingin wanita menyebalkan itu keluar dari rumah ini. Apalagi saat dia melirik Selena dan wanita itu malah mengedipkan mata, menggoda dan meledek sekaligus.
Kurang ajar, batin Austin.
"Kamu mengenal dia?" tanya Austin pada sang adik. sebelum mereka semua sempat duduk di kursi.
"Iya Abang, kami sudah saling mengenal sejak lama."
"Dia teman mu?"
"Iya."
"Dia pernah datang ke rumah dan bertemu denganku, menangis ingin bertemu dengan kamu. Tapi tadi dia bersikap sombong sekali, seolah tidak pernah bertemu denganku." Adu Austin, ingin Arra tahu jika wanita ini memilki dua kepribadian yang tidak baik.
Tipe-tipe pencari muka.
Namun mendengar ucapan itu, malah Arra yang jadi cemas sendiri. Dia sedikit menunduk dan menghindari tatapan semua orang.
"Nanti saja ku jelaskan, ayo duduk dulu." cicit Arra, seraya menarik sang kakak dan Erzan sekaligus untuk duduk.
Sementara Selena pun langsung mengikuti.
"Mie goyeng."
"Iya sayang," sahut Erzan saat sang anak menyebutkan kata-kata itu seraya menunjukkan arah Selena.
"Dari tadi Eleanor terus saja menyebut mie goreng dan menuju wanita itu, memangnya dia sudah mengenalnya?"
Arra mengangguk.
"Memangnya dia siapa?"
"Dia seorang artis namanya kamu tidak tahu?" tanya Erzan pula, gemas melihat kebingungan Austin dia jadi ikut buka suara.
"Artis? Lalu bagaimana kalian bisa saling mengenal?" tanya Austin lagi, saat ini dia benar-benar tidak memahami situasi saat ini.
"Karena dia adalah wanita yang dulu wajahnya aku pinjam untuk menghindari Erzan," jawab Arra dengan pelan, percuma juga menutupi semuanya dari sang kakak kebenaran ini suatu saat memang harus diungkapkan sepenuhnya.
Mendengar itu tentu saja membuat Austin merasa sangat terkejut, Dia yang cerewet pun mendadak jadi pendiam seribu bahasa.
Terlebih saat Arra menjelaskan bahwa yang menemuinya dulu bukanlah Selena melainkan dia.
Kemudian Erzan pun ikut bicara, bahwa saat dia membiarkan wanita berwajah Selena tinggal di rumah ini dia sudah tahu bahwa itu adalah Arra.
Dan kali ini bukan hanya Austin yang merasa terkejut, namun Arra juga.
"Benarkah?" tanya Arra dengan tatapan penuh tanya, dilihatnya Erzan mengangguk kecil.
"Sejak aku mencium mu pertama kali, sejak saat itu aku tau bahwa kamu adalah Mommy nya Eleanor."