Finding Lost Wife

Finding Lost Wife
FLW BAB 73 - Panggilan Selena



Pagi datang.


Arra bangun lebih dulu dan merasakan tubuhnya yang sakit semua, semalaman Erzan terus memeluknya erat. Tidak memberi kesempatan dia untuk bergerak.


Arra pikir saat malam Eleanor bangun dia bisa terbebas dari pria aneh itu, tapi ternyata tidak. Saat mereka kembali tidur, Erzan kembali menarik dan memeluknya.


Sumpah, malam ini Arra tidurnya tidak nyenyak. Sempit, rasanya lebih nyaman tidur sendiri.


"Bangun!" kesal Arra yang hingga kini pun masih berada di dekapan Erzan. Arra juga mengganggu wajah Erzan agar pria ini bangun.


Sementara Erzan yang tidurnya benar-benar nyenyak pun rasanya sungguh malas untuk bangun. meski sebenarnya dia sudah sadar tapi Erzan enggan membuka mata, dia malah menarik Arra agar lebih tinggi, lalu mencium kening wanita ini.


"Jangan mengganggu ku, aku masih mau tidur."


"Enak saja tidur, aku tidak bisa tidur gara-gara kamu."


"Diam."


"Erzaaan, badan ku capek semua."


"Benarkah?" Erzan membuka mata, langsung menatap Arra yang sedari tadi melihat ke arahnya.


"Sakit semua!" kesal Arra dengan wajah masam.


"Nanti aku pijit."


"Bukan itu mau ku."


"Lalu?"


"Lepaskan, aku mau bangun dan mandi."


Erzan melirik jam dinding di kamar ini, jam setengah 6 pagi.


"Baiklah, mandi lah mengunakan air hangat."


Arra tidak menjawab, hanya bibirnya yang terus mencebik. Akhirnya Erzan benar-benar melepaskan dia.


Arra dengan segera masuk ke dalam kamar mandi. Mengguyur tubuhnya yang terasa sakit semua. Selesai mandi Arra segera keluar dan alangkah terkejutnya dia saat masih melihat Erzan di atas ranjang. Padahal Arra kira pria itu sudah kembali ke kamarnya sendiri.


Mandi juga dan menghargai privasinya.


Tapi ternyata pria itu benar-benar mesyum.


Kulit itu bahkan terlihat sekali masih basah.


Dengan penampilan seperti itu dia mendekati Erzan dengan tatapan tajam dan rahang mengeras. Dia ingin memekik tapi baby El masih tidur, jadi Arra hanya bicara dengan suaranya yang penuh penekanan...


"Pergilah," ucap Arra, 1 kata usir yang Arra yakin Erzan paham maksudnya, dia butuh privasi.


"Gantilah baju mu, nanti dingin."


"Arght! Erzan!" Arra mengacak rambutnya frustasi, terlihat sangat menggemaskan di mata Erzan. Membuat pria ini menarik pinggang Arra hingga istrinya jatuh dia atas pangkuan dia.


"Lepas."


"Diam dulu."


"Lepas!"


"Tenang."


Arra menutup mata sejenak, juga menarik dan membuang nafasnya pelan. Mencoba sabar menghadapi pria menyebalkan ini. Pria dingin dan kaku yang mendadak berubah jadi pria mesyum dan banyak bicara.


"Selena, kenapa sekarang kamu jadi sering marah-marah?" tanya Erzan, kedua tangannya memeluk pinggang Arra. Aroma harum tubuh istrinya mampu dia hirup dengan jelas. Membuat Erzan ingin mencium pundak wanitanya ini, tapi dia tahan.


"Bukan aku yang jadi suka marah-marah, tapi kenapa kamu yang berubah. Jadilah dingin dan kaku seperti kemarin, jangan mesyum seperti ini."


"Aku masih yang kemarin, tidak akan tergoda pada mu, Selena."


Arra memutar bola matanya malas, ucapan Erzan selalu mampu membuatnya kesal. Tidak peka dan menyebalkan.


Dan kini entah kenapa Arra jadi benci sekali tiap mendengar Erzan memanggilnya Selena, seolah Erzan sedang memberi tahunya bahwa dia adalah wanita malam.


His! menyebalkan.


"Keluarlah, aku mau ganti baju," ucap Arra, kini dia coba bicara pelan. Ingin Erzan bisa mengerti.


"Ganti baju lah, aku akan tetap disini."


Huh! Arra membuang nafasnya kasar.


"Baiklah," jawab Arra akhirnya, dia segera menuju lemari ganti dan Erzan terus mengamati dengan bibir mengulum senyum.