
"Kamu merasa cantik? bagaimana jika aku merusak wajahmu?" tanya Eudora, bertanya dengan bibirnya yang tersenyum seperti iblis.
Dia akui bersanding dengan para wanita milik Erzan membuatnya merasa tersaingi dan Eudora merasa tak suka dengan itu.
Selamanya dia ingin terlihat yang paling cantik, yang paling sempurna.
Sementara Arra langsung menggelengkan kepalanya kuat. Dia tidak ingin wajahnya kembali rusak. Sudah banyak hal yang dia lalui untuk mendapatkan wajah ini.
Arra terus menggelengkan kepalanya, dia juga coba melawan dengan mendorong tubuh Eudora.
"Lepaskan aku!" pekik Arra, kedua tangannya berusaha menjangkau kepala Eudora dan menjambak pula rambutnya.
"Argh! wanita sialan! lepaskan bodoh!" pekik Eudora pula. Arra menarik rambutnya kuat sekali.
Mereka terus saling bertengkar, memberi rasa sakit yang setimpal. Sampai akhirnya mereka sama-sama ambruk di atas lantai.
Arra merasakan sakit luar biasa di kepala dan tubuhnya, sesaat dia bahkan abai dengan sekitar.
Namun tidak dengan Eudora. Sakit di tubuhnya tidak lagi dia rasa, kalah oleh benci yang sudah memenuhi hati.
Saat terjatuh Eudora segera bangkit, bergerak cepat mengambil botol parfum yang terjatuh di atas lantai dan memecahkannya di pinggiran meja rias.
Pyar! ujung botol itu berhasil pecah, menyisahkan ujung yang sangat tajam.
Sedangkan Arra yang melihat itu seketika lemas, dia coba berlari namun Eudora menangkapnya dengan cepat, menarik tubuhnya kuat hingga kembali jatuh. Arra menangis, air matanya terus mengalir tanpa permisi.
"Jangan lakukan Eudora, jangan lakukan ini pada ku." Mohon Arra dengan suaranya yang bergetar, dia merangkak mundur coba menghindar.
"Aku sudah peringatkan kamu, aku bisa melakukan lebih!" geram Eudora, hal yang paling membuatnya benci adalah saat Selena menghabiskan malam bersama Erzan.
Hanya membayangkannya saja sudah berhasil membuat dadanya sesak.
Selena tidak akan bisa menjadi artis lagi.
"Jangan lakukan Eudora, aku mohon," ucap Arra lirih.
Tapi mendengar itu bibir Eudora malah tersenyum miring, tanpa banyak kata dan belas kasih, dia langsung menggores wajah Selena.
"Argh!" pekik Arra, dia menyentuh wajahnya yang terluka, darah mulai keluar tanpa jeda.
"Rasakan! seperti itulah rasa sakit yang aku alami!" bentak Eudora.
Dia terus berucap banyak hal, tentang kebenciannya pada Karina, Arra dan kini Selena.
Diantara mereka, dialah yang paling berhak untuk bersanding bersama Erzan.
Saat itu bahkan Eudora mengatakan jika Arra telah mengambil kesempatan yang sudah dibuat nya untuk bersama Erzan. Di malam pesta Harold kingdom, Eudora sudah mencampurkan obat di minuman pria pujaannya.
Tapi malam itu Erzan malah menghabiskan malam bersama Arra. Tiap ingat itu, Eudora benci sekali.
"Harusnya aku yang mengandung anak Erzan! Aku!!"
"Dan kamu dengan lancangnya menjatuhkan diri diatas ranjang Erzan juga! dasar wanita sialan!" Eudora mendorong tubuh Selena hingga terjerembab.
Sementara Arra tak mampu melawan, rasa sakit di wajahnya tak mampu membuatnya melakukan apapun, termasuk sebuah perlawanan.
Bahkan cerita tentang masa lalu itu pun tidak pula ia perhatikan, tentang pesta Harold Kingdom yang telah mengikatnya pada Erzan.
"Kalian bertiga akan bernasib sama." Ancam Eudora lagi. Jiwanya benar-benar sudah tidak tenang.
Puas menyiksa Selena, Eudora pun pergi dari sana. Tidak peduli pada Selena yang terkapar di atas lantai.