
Tengah malam, Arra dan Erzan akhirnya menyudahi permainan mereka. Keduanya berbaring saling memeluk erat, namun sama-sama belum memejamkan mata.
Arra masih terus mengulum senyum, tidak menyangka jika dia telah menyerahkan semuanya pada Erzan. Bahkan seperti hilang kendali dia juga menari di atas tubuh suaminya ini.
Kembali teringat akan hal itu membuat Arra semakin malu, dia memeluk erat tubuh Erzan dan menyembunyikan wajahnya di pelukan Erzan.
"Aku menyukai saat kamu menjadi liar," ucap Erzan, membuat Arra langsung memukul dadanya pelan.
"Jangan menggoda ku."
"Tidak, kamu lah yang menggoda ku Mom."
"Zaann."
"Lihatlah, kamu kembali memanggil nama ku dengan manja. Itu artinya kamu ingin di hukum lagi."
Arra tak bisa berkata-kata, jadi dia akhirnya membalas ucapan itu dengan cubitan ringan di perut suaminya.
Dan Erzan langsung menahan tangan Arra, menggenggam nya erat dengan jemari yang saling bertaut.
"Dad."
"Hem."
"Kata mu kemarin Leo menjemput Arra, apa itu hanya akal-akalan Daddy untuk menakut-nakuti aku?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Sebenarnya Leo bukan menjemput Arra, tapi menjemput Selena Maiden yang asli."
"Ha? benarkah?" tanya Arra dengan keterkejutan yang dia rasa. Arra bahkan langsung bangkit dan menindih setengah tubuh Erzan. Tidak sadar jika dengan ulahnya itu membuat kedua dadanya terekspos sempurna. Bahkan menggantung tepat di depan Erzan.
Membuat sesuatu yang dibawah sana menggeliat mengalami perubahan bentuk, jadi lebih besar.
Dan Erzan pun langsung meletakan kedua tangannya memeluk pinggang sang istri.
"Hem, benar. Leo menjemput Selena Maiden dan aku menemuinya."
"Kamu tidak bohong?"
"Untuk apa aku bohong, yang pembohong itu kamu."
"Daaddd, kenapa dia bangun lagi."
"Kamu yang membangunkan nya."
"Tapi aku sudah lelah."
"Satu kali lagi."
Arra menggeleng, ingin menolak. Namun saat Erzan memberinya sedikit rangsaangan di kedua dadanya, Arra langsung menggeliat tanpa jeda. Bahkan menggerakkan pinggulnya pula, saling menggesek hingga basah.
Dan selanjutnya Erzan yang menang, karena akhirnya dia berhasil membuat Arra kembali menari di atas tubuhnya. Desahaan itu kembali bersahut, sampai akhirnya sama-sama ambruk.
"Jahat," keluh Arra diantara kesadarannya yang mulai menipis. Matanya terpejam dan nafasnya terengah. Dia bahkan tidak punya tenaga lagi, meski hanya untuk menarik diri.
Sampai akhirnya Arra terlelap diatas tubuh Erzan.
"Oh Mom, kamu yang jahat jika seperti ini," ucap Erzan, karena Arra tidak melepaskan penyatuan mereka. Tapi Arra sudah tidak mendengar, dia sudah terlelap.
Dengan rasa tidak rela, akhirnya Erzan membaringkan Arra di atas ranjang dan membuat penyatuan mereka terlepas.
Erzan pun menghidupkan lampu kamar ini dan memperhatikan sang istri. Meski wajahnya adalah milik Selena, namun dimatanya tetap tergambar sebagai Arra.
Dia kecup lagi bibir istrinya dan kemudian ikut tidur pula.
Pagi datang.
Erzan bangun lebih dulu dan membiarkan sang istri tetap terlelap.
Dia sudah menyiapkan baju ganti untuk Arra dan juga memesan sarapan untuk mereka.
Saat hendak membangunkan sang istri, langkah Erzan terhenti karena mendengar suara ponselnya yang bergetar di atas nakas.
Jadi Erzan lebih dulu mengambil ponsel itu dan melihat ada panggilan masuk dari Leo.
Erzan pun langsung menjawabnya.
"Maaf Tuan mengganggu waktu Anda."
"Katakan."
"Tuan Austin mengembalikan semua aset miliknya kepada anda dan dia juga menunggu anda untuk mengembalikan nyonya Arra."