
Jam 8 malam Miya sadarkan diri, dia kembali menangis saat melihat ada Arra bersamanya disini, makin menangis saat melihat Argus menggendong Eleanor dan duduk di tepi ranjang.
Erzan juga ada disana, meski anaknya itu hanya duduk di sofa dengan wajahnya yang dingin.
Tangis haru Arra kembali pecah saat Miya memeluknya erat dan terus mengucapkan kata maaf.
Hingga saat jam 9 malam barulah kamar itu terlepas dari suara tangis.
Kini baby El pun sudah terlelap di samping sang nenek. Argus pun terus mendampingi, menebus semua rindu yang selama ini tak terbalas.
Sementara Arra sudah duduk di sofa panjang ruangan itu bersanding dengan sang suami yang wajahnya terlihat semakin dingin.
Dengan bibir tersenyum dan mata sembab, Arra memeluk lengan Erzan.
"Zan, kenapa wajahmu seperti Ini?" tanya Arra, satu tangannya pun menusuk pipi Erzan. Menyentuh wajah suaminya yang datar.
Harusnya kan merasa bahagia karena kini semuanya sudah baik-baik saja. Bahkan Arra pun sudah memanggil Argus dan Miya dengan sebutan papa dan mama.
"Ayo kita pulang," ajak Erzan, dia menoleh dan menatap istrinya dengan tatapannya yang biasa, terlihat dingin tanpa minat.
"Ish kok pulang, malam ini kita menginap di rumah sakit."
"Malam ini harusnya kita tidur berdua."
Arra langsung mencubit perut suaminya, membuat Erzan akhirnya gaduh kesakitan.
"Aw! ini sakit sayang."
"Sstt! jangan berisik." bisik Arra, setelahnya dia memeluk erat lengan sang suami.
Sementara Erzan kembali memasang wajahnya yang datar. Dia sedang kesal karena waktunya bersama Arra malam ini akan kembali tertunda.
"Arra."
"Apa?"
"Setelah ini kamu harus menebusnya berkali-kali lipat."
"Menebus apa sih?"
"Melayani suami mu."
"Ayo pulang," rengek Erzan lagi.
"Biarkan saja baby El disini, kita minta Anya dan Hera yang menemani," usul Erzan, dia masih belum menyerah.
"Tapi jangan pulang, bagaimana kalau kita menginap di hotel saja."
"Setuju." balas Erzan cepat.
Arra yang melihatnya sampai malu sendiri, mereka berdua seolah sama-sama sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu berdua, bercinta mengulang kenangan indah satu malam mereka beberapa tahun lalu.
Hanya malam itulah yang terasa indah bagi Arra dan Erzan, karena setelahnya hanya ada luka dan air mata.
Tanpa banyak kata lagi, Erzan segera bangkit dan menarik Arra untuk mengikuti langkahnya. Erzan pamit pada Argus untuk menginap di hotel terdekat.
Argus tentu mengizinkan, dia sangat bahagia karena Arra dan Erzan mempercayakan baby El padanya dan Miya.
"Anya dan Hera akan segera kemari."
"Iya, kalian pergilah. Jangan cemaskan Eleanor," jawab Argus.
Dan Erzan hanya menjawab dengan anggukan kepala kecil.
Setelahnya dia membawa sang istri untuk pergi dari sana. Tidak butuh waktu lama mereka tiba di salah satu hotel terdekat. Hotel bintang 5 dan Erzan memesan kamar Presidential Suite untuk malamnya bersama Arra.
"Zan, aku sudah lama tidak melihat Leo. Dia dimana?" tanya Arra, kini mereka berada di dalam lift, saling menggenggam erat.
"Dia terlalu banyak pekerjaan. Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa, biasanya kan dia selalu berkeliaran di rumah."
"Jangan tanyakan lagi tentang Leo, aku cemburu."
"Astaga." balas Arra dengan wajah cemberut.
Tapi Erzan tidak peduli, saat pintu lift itu terbuka dia segera menarik sang istri.
Masuk ke dalam kamar mereka dan menguncinya rapat.