
"Dimana Arra?" tanya Austin.
Erzan belum duduk tapi Austin sudah lebih dulu bertanya tentang Arra. Jujur saja dia merasa sangat kecewa saat melihat Erzan datang seorang diri.
Padahal Austin sangat berharap, pagi ini dia bisa menentu Arra.
"Aku akan mengatur pertemuan kalian, tapi tidak sekarang."
"Apa Arra masih hidup? kamu tidak membunuhnya kan?" tanya Austin dengan keputusasaan yang luar biasa. Dia tidak peduli jika di rumah Erzan ada wanita lain selain adiknya, selama mengawasi rumah Erzan dia sering kali melihat Selena Maiden disana.
Tapi Austin tidak memperdulikan itu, yang dia cemaskan hanyalah keadaan sang adik.
Dimana Arra?
Dan mendengar pertanyaan Austin itu membuat Erzan terdiam sesaat. Bukan ini pula maunya, semuanya terjadi di luar kendali.
Inginnya Erzan hanyalah anaknya bisa lahir, maka segala cara dia lakukan. Sampai tidak sadar jika dia telah melukai banyak orang.
Erzan lantas mengambil ponselnya di saku jas bagian dalam, mengambil ponsel dan membukanya. Lalu menunjukkan sebuah foto pada Austin, foto Arra dari arah belakang saat sedang menggendong baby Eleanor.
"Arra dan anaknya baik-baik saja. Aku akan mempertemukan kalian 1 bulan lagi."
Dan kini giliran Austin yang tidak mampu berkata-kata, ia hanya mampu menangis menatap nanar ponsel Erzan yang menyala, menunjukkan sebuah foto.
"Apa benar wanita itu adalah Arra?" tanya Austin dengan suaranya yang bergetar, tapi kini dia tidak ingin langsung percaya.
"Aku bersumpah," jawab Erzan yakin.
Dan disalah satu sudut cafe ini, Arra tiba-tiba berlari keluar lebih dulu. Dia tidak sanggup melihat itu semua, tak kuasa melihat sang kakak yang seolah hilang arah tujuan hidup, sama seperti dia saat pertama kali memutuskan kabur dari Erzan.
Dan larinya Arra itu tidak lepas dari perhatian Erzan. Dia pun segera pamit pada Austin untuk pergi lebih dulu.
Sementara Austin tidak menanggapi apa-apa, karena kini sekali lagi dia coba percaya pada Erzan.
Di dalam mobil, Erzan melihat Arra yang menangis. Dia langsung menarik tubuh istrinya dan memeluknya erat.
Dan Arra terus menangis, dia pun membalas pelukan Erzan tak kalah tenang.
Mobil sudah melaju, tapi tangis Arra masih juga belum reda. Sampai akhirnya saat mobil itu berhenti di lampu merah, Arra berusaha kasar menyudahi tangisnya.
Erzan juga membantu Arra untuk menghapus air mata di wajah istrinya Ini.
"Zan."
"Iya sayang."
"Aku mau secepatnya melakukan operasi wajah lagi." pinta Arra, diantara isi kepalanya yang sudah buntu, hanya itu yang terpikirkan olehnya kini.
Arra sungguh-sungguh ingin menyudahi semuanya, memutus semua kesedihan di masa lalu dan coba memulai hidup yang baru.
Dan Erzan tidak mampu menjawab dengan kata-kata, dia hanya menganggukkan kepalanya kecil.
Operasi wajah juga bukanlah hal yang mudah bagi sang istri. Arra akan kembali mengulang sakit yang dia rasakan demi mendapatkan wajah Selena.
Yang bisa Erzan lakukan kini hanyalah memeluk istrinya erat, memberi cinta dan dukungan sebanyak-banyak nya.
Hari itu juga Arra dan Erzan mendatangi rumah sakit Royal Dude.
Disana mereka bertemu dengan Bella.
Pertemuan itu awalnya terjadi dengan sengit, karena Bella pun menaruh benci pada pria dari keluarga Harold ini.
Namun Bella tidak tutup telinga, dia mendengarkan semua cerita bukan hanya dari sisi Arra, tapi juga Erzan.
Sampai akhirnya Bella coba mengerti semuanya dan menyetujui jika Arra kembali melakukan operasi wajah untuk kembali ke wajahnya semula.
"Semuanya akan baik-baik saja,"ucap Erzan, sebelum Arra masuk ke ruang pemeriksaan, Erzan lebih dulu mengecup bibir istrinya sekilas.