Finding Lost Wife

Finding Lost Wife
FLW BAB 57 - Omong Kosong



Eudora akhirnya pergi dari kamar baby El, dia benar-benar tak suka saat orang lain menganggapnya tidak ada.


Erzan bahkan tidak sedikitpun melihat ke arahnya yang berdiri tak jauh dari dia.


Akhirnya Eudora keluar, dengan sejuta rencana di dalam kepala nya untuk Selena.


Dan Setelah Eudora keluar, Arra tetap duduk disana, tetap memegangi piring milik Erzan. Dia akan menunggu pria ini makan baru setelahnya pergi.


Saat makan begini orang tidak boleh di marah-marah.


"Minum," ucap Erzan dan Arra langsung mengambil kan segelas air putih di atas meja, menyerahkannya pada pria dingin ini.


"Sudah," ucap Erzan, dia meletakan sendoknya di piring.


"Sudah selesai semua kan? sekarang aku tanya, baby El mau kamu yang pegang atau aku?" tanya Arra, kini suaranya kembali terdengar ketus. Sudah tidak ada Eudora disini membuatnya tidak perlu bersandirwara lagi.


Tapi perubahan sikap itu selalu terlihat aneh di mata Erzan. Namun pria ini tak ingin ambil pusing. Karena pikirannya pun sudah terkuras untuk sang istri.


"Biar bersama ku," jawab Erzan singkat dan wajah datar.


Wajahnya itu konsisten sekali, seperti itu terus. Ku pikir hanya saat sedang bersama ku saja. Tapi ternyata dengan orang lain juga seperti itu. Batin Arra.


Dia membuang nafasnya pelan, setelah mengetahui sedikit fakta dari Karina membuat Arra mulai menyadari 1 hal. Bisa saja selama ini Erzan benar-benar tidak tahu sikap Eudora, sikap kasarnya selama ini memang hanya untuk membuatnya tidak menggugurkan baby El.


Entahlah, aku juga masih belum bisa memastikan itu. Batin Arra lagi, kini dia jadi lebih banyak membatin.


Tapi kalo ini Arra lebih berani untuk bersuara pula.


"Erzan."


"Hem," jawab Erzan singkat.


"Kenapa Arra pergi meninggalkan rumah ini? padahal dia memiliki bayi yang lucu seperti baby El," tanya Arra, kini suaranya kembali melembut.


Lama-lama Arra terlihat seperti memiliki 2 kepribadian, tiba-tiba marah, tiba-tiba baik.


"Aku tidak menceritakan masalah rumah tanggaku pada orang lain."


Arra mencebik, sudah dia duga Erzan tidak akan langsung menjawab. Pria ini begitu kaku dan tertutup. Menyebalkan.


Aku akan bertanya pada Leo! kesal Arra di dalam hati.


"Nomor nya ada di buku telepon," balas Erzan, dia yakin Leo akan menjawab hal yang sama seperti dia.


Menyadari itu entah bagaimana tiba-tiba hatinya sedikit merasa bahagia. Perasaan yang sudah lama tidak pernah Erzan rasa.


Membuat Selena kesal dan mengerjainya ternyata cukup menyenangkan.


Tapi lagi-lagi perasaan bahagia itu tidak berlangsung lama, kala dia mengingat Arra dan baby El yang terpisah. Bahkan kini Erzan tidak tahu, apakah Arra hidup baik-baik saja.


Akhirnya Erzan hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar, juga senyum kecil yang kecut.


Arra. panggilnya di dalam hati.


Dan setelah mendapatkan jawaban Erzan itu, akhirnya Arra pergi. Dia benar-benar mencari nama Leo di daftar buku telepon dan mendapatkannya.


Bahkan dari sana dia pun langsung menghubungi.


"Leo, ini aku Selena!" ucap Arra dengan suaranya yang tinggi, tidak terdengar seperti sedang memperkenalkan diri.


"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu," jawab Leo yang baru saja keluar dari rumah sakit Medistra. Menemui dokter yang melakukan tes DNA untuk sampelnya.


"Kenapa Arra pergi meninggalkan rumah ini? Aku mau tanya itu."


"Karena nyonya tengah salah paham pada semua yang terjadi," jelas Leo. Tidak seperti tebakan Erzan, kini Leo malah menjawab semua pertanyaan Selena.


Leo sangat yakin jika Selena adalah nyonya nya. Karena itulah dia ingin Selena tau semua.


"Salah paham?"


"Selama ini Tuan Erzan selalu bersikap kasar pada beliau. Nyonya Miya dan tuan Argus pun selalu memberi tekanan pada beliau disaat tengah mengandung baby El."


Arra terpaku, membenarkan semua itu.


"Tapi sekarang semuanya sudah berbeda, nyonya Miya dan tuan Argus sudah mengakui kesalahannya dan tuan Erzan pun ingin sekali menemukan istrinya."


"Untuk apa? mau disiksa lagi?"


"Tidak Nona, tuan Erzan ingin mereka berkumpul bersama, sebagai keluarga."


Deg! jantung Arra berdesir, namun otaknya masih saja menganggap jika ini semua adalah omong kosong.