
Arra menatap wajah Erzan yang terlihat lelah, tatapan matanya nampak sayu.
Sesaat hanya ada hening diantara mereka, seolah hanya tatapan itu yang saling bicara.
Siang tadi Erzan pergi meninggalkan Arra di pusat perbelanjaan, pergi entah kemana karena Erzan tidak menjelaskan.
Dan saat pulang Arra dibuat bingung ketika sang supir membawanya ke tempat asing. Bukan ke rumah yang selama ini dia tinggali, tapi ke rumah Erzan yang lain.
Tuan akan datang kesini saat malam hari.
Hanya satu kalimat itu yang supir ucapkan sebelum pergi meninggalkan dia di rumah ini bersama Eleanor dan Anya.
Tapi Arra kira tidak semalam ini. Dia ingin bertanya apa yang terjadi, tapi entah kenapa kata-kata itu tertahan di ujung lidahnya.
Merasa tidak berhak tahu dengan apa pun yang di lakukan oleh Erzan di luar sana.
"Tidurlah lagi," ucap Erzan. Melihat tatapan Arra, dia tahu istrinya masih betah menjadi Selena.
Membuatnya sungguh merasa kecewa.
"Besok kita kembali ke rumah," terang Erzan lagi, setelahnya dia bangkit, lalu pindah posisi ke sisi lain ranjang dan mencium pipi baby El. 2 kali ciuman dia berikan pada anak gadisnya itu.
Sebelum akhirnya dia keluar dari dalam kamar ini setelah pamit pada Arra.
Dan seketika di dalam hati Arra merasa kosong setelah Erzan pergi. Menutup pintu itu dan meninggalkannya sama kesunyian.
Arra membuang nafasnya pelan, merasakan dadanya yang tiba-tiba sesak.
Dia coba kembali membaringkan tubuhnya, menutup mata dan coba tidur lagi.
Pagi datang.
Setelah sarapan mereka semua pulang ke rumah utama milik Erzan.
Tapi selama itu pula Erzan terus terdiam. Pria ini seolah kembali menjadi dingin seperti dulu. Tidak ada lagi ucapan lembut yang keluar dari mulutnya.
Membuat Arra berpikir, mungkinkah Erzan mengambil jarak dari nya.
"Anya," panggil Arra, kini dia, Anya dan Eleanor sudah berada di kamar baby El. Mereka juga sudah bertemu dengan Hera.
"Apa kamu merasa Erzan jadi berubah? lebih dingin," ucap Arra, tidak ingin bingung sendirian jadi dia bertanya pada Anya.
Dan perubahan Erzan itu di rasakan pula oleh Anya, tapi belum sempat dia menjawab, Hera sudah lebih dulu buka suara.
"Kemarin ada kejadian genting disini Nona, karena itu lah tuan Erzan jadi mengerikan seperti itu," terang Hera.
Mendengar cerita itu Arra sedikit melebarkan mata. Setelahnya Hera menceritakan semua.
Bahwa kemarin ada sebuah pertengkaran hebat antara Eudora dan seorang wanita.
Awalnya Hera kira wanita itu adalah Selena sungguhan, ternyata bukan.
Setelah ada kekacauan di rumah ini, Leo menjelaskan semuanya pada para pelayan.
Mengatakan semuanya baik-baik saja dan kembali mengingatkan pada para pelayan bahwa apapun yang terjadi di rumah ini tidak ada yang boleh tersebar hingga keluar.
Arra makin terperangah, seolah masih tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Hera.
"Jadi ada seorang wanita yang datang kesini berwajah sama seperti ku?" tanya Arra dan Hera mengangguk.
"Lalu Eudora menyiksa wanita itu dan melukai wajahnya, dan kini Eudora berada di penjara?" tanya Arra lagi dan Hera mengangguk lagi.
"Erzan sendiri yang membawa Eudora ke penjara?"
"Iya Nona, iyaa. Saat itu bahkan tuan Erzan mencekik nona Eudora. Ya ampun aku takut sekali kemarin."
Disaat Hera masih antusias menceritakan semuanya, disaat itu pula Arra jadi gamang.
Dia ingin bahagia, namun tidak bisa ketika mengingat wajah Erzan yang nampak sendu.