
Di dalam pelukan Erzan, Arra menemukan kedamaian. Namun hanya sesaat, sampai akhirnya dia kembali ingat jika Erzan harus mendengar semua penjelasannya.
Tentang jati dirinya yang sebenarnya adalah Arra.
"Zan, aku belum selesai bicara," ucap Arra, dia meletakkan kedua tangannya di depan dada Erzan dan mendorongnya pelan, membuat pelukan erat diantara mereka terlepas.
"Tidak perlu bicara."
"Kenapa? Aku tidak bohong Zan, aku benar-benar Arra. Aku akan membuktikannya pada mu."
"Tidak perlu buktikan apapun."
"Kenapa?!" suara Arra kembali meninggi, air matanya sudah tidak mengalir lagi. Kini dia harus menjelaskan semuanya dengan rinci.
"Karena aku sudah tahu jika kamu adalah Arra, istriku."
Arra terpaku, kedua matanya pun sedikit melebar mendengar ucapan Erzan itu.
"Sudah tahu?"
Erzan mengangguk.
"Bagaimana bis_ Empt." Belum selesai Arra bicara, Erzan sudah lebih dulu membungkam mulutnya. Erzan tak kuasa lagi untuk mengulur waktu, dia sangat merindukan Arra. Merindukan sentuhan ini.
Sentuhan yang mereka lakukan ketika sama-sama sudah mengetahui semua kebenarannya.
Dan ciuman Erzan yang buru-buru membuat Arra sulit untuk mengimbangi. Nafasnya terkadang tersengal, dia bahkan kesulitan untuk membalas. Bibir Erzan bergerak terlalu liar menguasai bibirnya.
Arra bahkan memukul pelan dada Erzan, ingin suaminya ini pelan-pelan.
"Hah, astaga Erzan! kamu hampir membunuh ku," ucap Arra saat Erzan mengambil jeda, memberi kesempatan sang istri untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Dilihatnya Arra yang nafasnya terengah, kedua bibirnya terbuka, sangat menggoda.
Dan disaat Arra sedang mengatur nafas, Erzan kembali merengkuh pinggang sang istri. Memeluknya erat, sementara dia bersandar di meja kerja.
"Arra," panggil Erzan. Sudah sejak lama dia ingin memanggil istrinya dengan nama ini. Bukan nama Selena.
Di panggil seperti itu membuat jantung Arra bergemuruh, hatinya berdebar. Seolah ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Maafkan aku," ucap Erzan lagi, disaat Arra ingin menunduk, dia menahan dagunya, membuat tatapan mereka terus bertemu.
"Maafkan aku atas semua yang terjadi ..."
"Tentang sikap kasar ku, tentang kedua orang tuaku dan juga tentang Eudora." Terang Erzan, dia ingin kesalah pahaman ini segera usai.
Ingin memperbaiki semuanya dari awal. Dia akan menjelaskan semua nya pada Arra, bicara sebanyak-banyaknya.
"Kamu tahu, aku hanya ingin Eleanor hidup."
"Zan, maafkan aku. Aku juga salah," balas Arra cepat, sejak awal Arra memang ingin menggugurkan kandungannya. Andai Erzan tidak bersikap kasar dan mengancam, Arra yakin tidak akan ada Eleanor diantara mereka.
Kedua mata Arra mulai berkaca-kaca ketika ingat kesalahannya itu, dan Erzan yang tak kuasa melihatnya kembali mengecup sekilas bibir sang istri.
"Jadi selama ini mama, papa dan Eudora selalu menekan kamu?" tanya Erzan dan Arra mengangguk kecil, kenangan buruk itu bahkan masih dia ingat dengan jelas.
Hera dan Anya juga mengatakan jika Erzan sudah melarang Argus dan Miya untuk menyentuh anak mereka. Mengetahui itu membuat Arra merasa bahagia.
Seperti jahat memang, namun memang begitulah yang dia rasa.
Dulu Argus dan Miya tidak mengakui anaknya sebagai anak Erzan, selalu mengatai dia wanita murahan. Membuka kaki lebar hanya untuk merayu Erzan.
Arra masih ingat dengan jelas dan dia belum bisa lupa. Tidak peduli jika mereka berdua adalah kedua orang tua Erzan.
"Aku tidak bisa memaafkan mereka," ucap Arra lirih, mulai kini dia akan ungkapkan semua yang ada di hati.
Jika Erzan tidak bisa menerimanya, mereka bisa mengakhiri ini.
Arra mendorong dada Erzan pelan, tapi Erzan malah memeluk pinggangnya erat.
"Mau kemana?" tanya Erzan, seketika membuat Arra terdiam.
"Aku sudah mendapatkan kamu, tidak akan ku biarkan kabur lagi," terang Erzan.
Setelahnya dia kembali mengikis jarak, mencium bibir arra dengan buru-buru. Tanpa melepaskan pagutan itu, Erzan memutar tubuh mereka dan mendudukkan Arra di meja kerja. Ciuman Erzan semakin liar, Arra sungguh kesulitan untuk mengimbangi.